Friday, February 15, 2019

Sinopsis Touch Your Heart Episode 4 Part 1

    Sumber: tvN









    Yoon Seo ingin mendengar pujian dari Jung Rok sekali lagi. Jung Rok mengatakannya sambil memakaikan syal Yoon Seo yang jatuh tertiup angin.

    "Kerja bagus. Kerja bagus, Oh Jin Sim-ssi."

    Lalu Jung Rok mengajak mereka kembali.




    Sampai di kantor, Sekretaris Yang bertanya pada Yoon Seo mengenai sidang ksusu Yoon Ha. Tapi ia menunggu sampai Jung Rok benar-benar masuk ke ruangannya. 

    "Kudengar dia membantah kliennya tak bersalah. Apa itu benar?"

    "Ya."



    Hae Young ikutan komentar, "Daebak! Ketika pengacara membalikan keadaan pada saat terakhir, kurasa itu seksi. Kalau dipikir-pikir, Kwon Byeonhosa-nim benar-benar kompeten, dan dia wajahnya juga tampan. Bukankah dia sedikit menarik?"

    Yoon Seo cuek saja, "Entah, aku tak tahu itu."

    Lalu Yoon Seo permisi.




    Tapi saat di ruangannya, ia terus terus manatap Jung Rok sambil senyum, "Menarik apanya?"

    Jung Rok menoleh padanya tiba-tiba. Yoon Seo langsung kelabakan, ia gak mau ketahuan.

    Jung Rok melihat jam, sudah waktunya pulang, ia pun bersiap.





    Tapi saat keluar, ia melihat Yoon Seo masih belajar. 

    "Apa yang kau baca?"

    "Sudah kubilang, aku beli hukum sehingga bisa mempelajari hukum lagi."

    "Sudah waktunya pulang."

    "Oh.. Sudah waktunya pulang, kah?"

    "Selamat menikmati akhir pekanmu. Sampai jumpa hari senin."



    Yoon Seo tiba-tiba terpikir sesuatu, ia menyinggung soal pujian Jung Rok tadi. 

    "Hanya itu?" Tanya Yoon Seo. 

    "Ya?"

    "Hanya itu yang kudapat? Beri imbalan."

    "Imbalan?"

    "Aku ingin kau mengajariku. Aku jadi sangat ingin belajar, jadi kubeli semua buku ini. Tapi tak mudah. Juga sulit dimengerti karena belajar sendiri. Jadi bisakah kau mengajariku besok? Sebagai imbalan."

    "Baik. Kau memang pantas mendapatkan imbalan atas apa yang sudah kau raih. Kalau begitu, sampai ketemu besok."



    Yoon Seo ketawa ngikik, tapi kemudian sadar, apa yang sudah dilakukannya tadi? 




    Sampai di rumah, Hyuk Joon bilang akan mengganti lampu di ruang ganti Yoon Seo. 

    "Kenapa aku melakukan itu?" Gumam Yoon Seo keras sampai Hyuk Joon mengira Yoon Seo bicara padanya.

    "Melakukan apa?" Tanya Hyuk Joon. 

    "Apa? Tidak, bukan apa-apa."



    Jung Rok mengirim pesan, "Besok pagi aku berencana akan mengunjungi profesorku. Bagaimana kalau kita belajar di ruang kelas yang kosong? Daripada perpus yang banyak orang, sepertinya itu lebih baik."

    Yoon Seo tersenyum, "Kenapa tiba-tiba perhatian?"


    Lagi-lagi Hyuk Joon mengira ucapan itu ditujukan padanya, "Aish, sudahlah! Hanya ganti lampu. Tak usah sampai segitunya... Aigoo, Yoon Seoku. Karena Oppa berinisiatif mengganti lampumu hatimu tersentuh?"

    "Ya, benar. Sangat menyentuh." Yoon Seo menyetujuinya saja daripada menjelaskan. 



    "Nah, bagaimana ini... Hari ini kau dalam masalah besar. Ada satu hal lagi yang kulakukan untukmu. Aku sudah buat reservasi dengan Kwon Baksa (Doktor)-nim besok."

    "Besok?"

    "Ya. Akhir-akhir ini kesulitan tidur, kan? Mari berkonsultasi dan mendapatkan resep obat."

    "Oh, bagaimana ini... Besok tak bisa. Aku harus belajar."



    Hyuk Joon terkejut, harus apa katamu?

    "Belajar. Anu itu, aku kerja di firma hukum, jadi kupikir, setidaknya harus belajar dasar-dasar istilah hukum. Jadi aku janji bertemu Kwon Byeonhosa-nim dan belajar dengannya besok." Yoon Seo menjelaskan.

    "Bersama pengacara itu?"

    "Ya."

    "Kau akan bertemu dengannya di akhir pekan? Yoon Seo, apa kau mungkin..."

    "Apa?"

    "Kau..."

    "Ya?"



    "Kau.. sungguh keluar dengan pengacara itu! Itu sebabnya kau memanggilnya pada akhir pekan untuk menyiksanya. Balas dendammu sungguh bagus! Kerja bagus, Yoon Seo. Asal tahu, berada didekatmu itu sungguh melelahkan. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan sekarang akhir pekan juga. Astaga, pengacara itu, bagaimana ini... hahaha.. Bagaimana ini..."

    Yoon Seo jelas kesal. Hyuk Joon langsung kabur untuk mengganti lampu. 


    Yoon Seo membalas pesan Jung Rok, "Ya. Baiklah."


    Besoknya, Yoon Seo dandan maksimal.


    Mencoba baju terbaiknya juga.

    Baju pertama, "Ini terlalu cantik. Dia mungkin salah paham, aku berusaha cantik untuknya."


    Baju kedua, "Ini, aku terlalu elegan."


    Baju ketiga, "Ini, aku cantik dengan cara merakyat."


    Baju keempat, "Ini, aku seperti malaikat polos mengenakan ini. Astaga, semuanya terlihat cantik."

    Tak terasa sudah waktunya. Yoon Seo memilih untuk mengenakan baju yang pertama. 




    Yoon Seo datang duluan. Tak lama kemudian Jung Rok datang dan Yoon Seo terpesona dengan tampilan Jung Rok yang tanpa setelah jas.



    "Kau datang lebih awal." Sapa Jung Rok. 

    "Lalu lintas tak seburuk yang kupikir. Terima kasih sudah meluangkan sebagian waktumu hari ini."

    "Bukan apa-apa. Kelasnya ke arah sana. Ayo pergi."


    Jung Rok memimpin jalan, itu memberi kesempatan Yoon Seo untuk memandangnya..

    "Apa in? Dia terlihat berbeda saat tak mengenakan jas. Tapi ini, terasa seperti kencan di kampus. Mungkinkah ini yang dia pikirkan saat ini?" Batin Yoon Seo.






    Yoon Seo memikirkan mereka akan belajar sambil duduk berdampingan dan ada saat Jung Rok membantunya menyibak rambut. Romantis deh pokonya.


    Yoon Seo tersipu, "dasar pria memang sama.".



    Tapi itu salah kaprah. Jung Rok mengejar seperti dosen mengajari mahasiswa, bahkan oengucapannya cepet banget dan langsung menuju poin-poin selanjutnya. 



    Yoon Seo jelas tambah sulit mengerti karena itu tidak seperti bayangannya, ia juga gak punya kesempatan untuk menyela.



    "Kau paham?" Akhirnya Jung Rok memberi Yoon Seo kesempatan bicara.

    "Kurasa begitu."

    "Benar."

    "Kwon Byeonhosa-nim. Kau bisa mengajariku semua ini sambil duduk. Tidak, lebih baik dengan papan tulis. Ayo kita beralih ke bab selanjutnya. Pasal 747 KUHP..."

    "Sebentar. Bisakah kita belajar di tempat lain?"

    "Tapi tak akan ada papan."



    Yoon Seo mengajak Jung Rok nonton film. 

    "Kupikir kau ingin belajar. Kenapa kemari?" Heran Jung Rok. 

    "Siapa bilang belajar harus dilakukan dengan papan dan buku sementara siswa menghafal setiap barisnya? Film hukum baru saja dirilis, sebagai gantinya kita bisa belajar sambil nonton film."



    "Kau pernah ke Theater Drive-in sebelumnya? Bioskop biasa, tak nyaman bagiku, jadi aku biasanya ke sini." Jelas Yoon Seo.

    "Ini pertama kalinya ke Theater Drive-in bagiku. Sudah lama tak menonton film juga."

    "Sudah berapa lama?"

    "Film terakhir yang kutonton adalah "Avatar" pada tahun 2009."

    "Heol! "Avatar"?"



    "Ya, film dengan pribumi berkulit biru yang menghuni Pandora."

    "Maka ini, film pertamamu dalam 10 tahun?"

    "Aku sibuk belajar dan tak tertarik dengan film. Aku hanya menonton "Avatar" karena Yeo Reum memohon padaku."

    "Yeo Reum?"

    "Teman kuliah."





    Giliran mereka masuk. Kalimat pertama yang keluar dari mulut Yeon Seo adalah, "sangat keren~" setelah film nya dimulai.

    "Kukira begitu karena pengacara berusaha untuk melayani keadilan." Tanggapan Jung Rok.

    "Bukan itu maksudku. Pakaiannya. Lihatlah betapa mencolok pakaian sekretarisnya. Aku pun punya banyak yang seperti itu."



    Yoon Seo kemudian meminta ijin Jung Rok untuk memakai pakaian warna-warni. 

    "Aku tak pernah bilang tak boleh."

    "Kau menyuruhku menggantinya. Kau bilang, aku tak mengenakan pakaian yang pantas."

    "Itu karena kau terlihat tak nyaman memakainya. Warna bukan masalahnya."

    "Sungguh? Lalu, bolehkah kupakai yang warna pink?"

    "Boleh."

    "Yes!"



    Jung Rok berpikir mereka kesana untuk belajar film. Tapi bukankah Yoon Seo bisa menontonnya sendiri? Kenapa harus bersamanya?

    "Oh itu..." Yoon Seo memikirkan alasannya. "Yah, aku ingin bertanya padamu jika ada sesuatu yang tak kutahu."

    "Oh."

    "Seperti ini, misalnya. Bagaimana dengan yang barusan? Apa melanggar hukum bagi atasan kantor untuk memberi tahu karyawan secara berlebihan mengenai apa yang tak boleh dipakai?" Yoon Seo mengatakannya terbata-bata, sebenarnya ia cuma mengarangnya. 

    "Menurut UU Standar Perburuhan, diizinkan jika mempengaruhi kinerja. Tapi harus masuk akal. Jika tidak, akan menjadi pelanggaran hak kebahagiaan dan kebebasan." Sementara Jung Rok menjawabnya dengan serius.



    "Begitu rupanya. Lihat? Aku tak bisa bertanya jika kau tak ada di sini."

    "Benar juga. Tanyakan lagi padaku apa pun yang ingin kau ketahui."

    "Lagi?"



    Jung Rok mengangguk dan itu membuat Yoon Seo berpikir keras.






    Disaat Yoon Seo memikirkan pertanyaan selanjutnya, ia tak sengaja memegang tangan Jung Rok. Yoon Seo pun buru-buru menjelaskannya sambil mengangkat tangannya. 

    "Aku tak bermaksud memegang tanganmu. Jangan salah paham. Aku bukan tipe wanita yang mengambil keuntungan dari kegelapan."

    "Ya, aku tak salah paham. Jangan khawatir."

    "Ya."



    Kejadian itu memberi Yoon Seo ide untuk menanyakan sesuatu. 

    "Oh, ada hal lain yang ingin kuketahui. Sama seperti sekarang, aku ingin menyenderkan tangan ke armset kau juga ingin, itu sebabnya kau bersandar duluan. Bagaimana jika ini terjadi di teater? Siapa yang berhak atas sandaran tangan ini?"

    "Hukum tak bisa mendefinisikan semua aturan masyarakat. Itu sebabnya kita memiliki itikad baik dan aturan sosial yang normal. Itu memberitahu kita untuk bertindak sesuai dengan akal sehat."

    "Begitu rupanya."



    Yoon Seo menyadar sesuatu, kelihatannya tak ada yang tidak Jung Rok ketahui tentang hukum. 

    "Karena aku pengacara." Jawab Jung Rok simpel.

    "Benar. Kau pengacara."



    Jung Rok akan meletakkan tangannya seperti tadi, tapi gak jadi. Ia memilih menyilangkannya saja.

    Yoon Seo mengawasi Jung Rok yang sedang membelikan camilan untuk mereka. Tentunya sambil senyum. 


    Ada seorang wanita yang mendekati Jung Rok, mereka berboncang. Yoon Seo penasaran. 

    "Kenapa..." Gumam Yoon Seo.



    Setelah di mobil, Yoon Seo menanyakan apa yang mereka bicarakan tadi. Apa dia menanyakan arah?

    "Bukan itu, dia meminta nomorku."

    "Lalu? Kau memberikannya?"

    "Tidak kuberi."

    "Untuk sesuatu yang seharusnya singkat, kalian berbicara cukup lama."

    "Kutolak, jadi dia bertanya apa aku punya pacar. Kubilang tak punya pacar, jadi dia bertanya kenapa aku tak bisa memberikan nomorku padanya. Kujelaskan padanya, aku tak punya pacar dan tak memberinya nomorku tidak memiliki korelasi sama sekali. Itu sebabnya butuh waktu lama."


    Penjelasan itu membuat Yoon Seo ketawa. 

    "Kenapa tertawa?"

    "Kau sepertinya punya dinding tebal terhadap wanita."





    Yoon Seo akan minum habis ketawa, tapi ia lupa membuka tutupnya. Giliran Jung Rok yang tersenyum. 

    "Aku belum pernah melihatmu tersenyum secerah itu." Kata Yoon Seo setelah menatap Jung Rok.



    Jung Rok langsung memasang wajah serius lagi.

    "Kenapa terlihat sangat serius lagi? Tersenyumlah seperti tadi. Sangat bagus senyummu barusan."

    "Aku akan tersenyum ketika ingin."

    Tapi saat Yoon Seo tidak melihatnya, Jung Rok tersenyum akhirnya.



    Jung Rok mengantar Yoon Seo sampai di depan gerbang rumahnya. 

    "Terima kasih tumpangannya."

    "Bukan apa-apa. Sampai jumpa hari senin."

    Dan mereka berpisah.

    0 komentar

    Post a Comment