Thursday, February 14, 2019

Sinopsis Touch Your Heart Episode 3 Part 3

    Sumber: tvN



    Datanglah Yoon Hyuk untuk mengabulkan keinginan Yoon Seo. 

    "Astaga, kaget!" Reaksi Yoon Seo saat Yoon Hyuk tiba-tiba muncul. 

    "Yoon Seo-ssi, siapa yang kau telepon saat ada kebakaran?"

    "Maaf? Oh, yah, petugas pemadam kebakaran."

    "Bagaimana jika kecurian?"

    "Polisi."

    "Lalu bagaimana ketika ada sesuatu yang benar-benar kau inginkan?"

    "Yah... Apa?"




    "Aku! Kau dapat meneleponku ketika itu terjadi. Kebetulan aku ada sidang hari ini. Kasus pro bono. Dengan kata lain, ini adalah kasus yang diberikan kepadaku oleh pemerintah."

    "Bonobono?"

    "Pro bono. Ini semacam pekerjaan sukarela di mana aku membela orang yang tak punya cukup uang untuk menyewa pengacara secara gratis. Kau bisa menyebutnya "Noblesse oblige"."



    Yoon Seo dan Yoon Hyuk masuk ke ruang sidang, tapi Yoon Seo diminta melepas kacamatanya oleh petugas.

    Yoon Hyuk minta maaf, ia lupa memberitahu kalau menyembunyikan wajah di pengadilan adalah ilegal.

    "Aturannya ketat, kan? Mungkin itulah sebabnya orang jadi gugup ketika berada di pengadilan."

    "Aku lebih bersemangat daripada gugup."

    "Bersemangat? Ah.. Kukira itu karena aku duduk di sebelahmu."

    "Tidak, bukan itu sebabnya. Masalahnya, aku nonton drama "Courtroom" kemarin. Dan sangat keren. Jadi aku sangat senang bisa menontonya dalam kehidupan nyata."

    Yoon Hyuk memberikan jempolnya.





    Sidang dimulai, jaksa menjelaskan kasusnya, "Terdakwa bertengkar dengan korban selagi dia memarkir mobilnya. Dan ketika dia marah, dia terus menerus meninju wajah dan dada korban yang akhirnya membuat korban dirawat di rumah sakit selama delapan minggu."

    "Apa pendapatmu mengenai tuduhan yang diajukan terhadapmu?" Tanya Hakim. 

    "Aku benar-benar merasa kecewa tentang ini. Orang itu memukulku lebih dulu."

    "Meski begitu, kau membuatnya dirawat di rumah sakit selama delapan minggu. Kau tak dapat menghindari hukum."




    Kasus selanjutnya adalah dengan terdakwa seorang anak sekolah, namanya Kim Yoon Ha. 

    Jaksa: Terdakwa Kim Yoon Ha, memberi tahu para korban bahwa dia adalah teman dekat Ji Hong, bintang idola terkenal dan anggota X-Teen. Kemudian dia berbohong kepada mereka yang katanya akan memberikan mereka tanda tangan dan menerima 530.000 won sebagai imbalan atas janji untuk melakukannya.

    Hakim: Terdakwa, kau mengakui semua tuduhan?

    Yoon Ha: Ya, aku mengakui tuduhan itu.

    Hakim: Jika kau tak menyelesaikan dengan para korban, kau tak akan dapat menerima hukuman ringan.

    Yoon Ha: Sudah kuselesaikan.

    Hakim: Benar, kah? Tapi dokumen untuk membuktikannya tak ada. Dikatakan di sini bahwa para korban tak ingin menyelesaikan dan ingin kau menerima hukuman karena tak membayarnya kembali.

    Yoon Ha: Aku sudah membayar mereka kembali. Tapi tak membayar sepenuhnya.

    Hakim: Jadi itu berarti kau hanya membayar sebagian kecil dari jumlah total.

    Hakim: Kepada siapa dan berapa banyak uang yang kau berikan?

    Yoon Ha: Aku tak tahu, aku tak ingat.



    Yoon Seo: Apa dia berbohong kepada hakim sekarang?

    Yoon Hyuk: Benar juga. Ah.. Kualitas sidang ini berantakan. Kau harus memperhatikan yang berikutnya. Pengacara akan menginterogasi dengan wawasan yang sangat tajam.




    Giliran Yoon Hyuk akhirnya tiba. Yoon Hyuk langsung bersikap keren.

    Yoon Hyuk: Yang mulia. Terdakwa membesarkan dua anak sendirian...

    Hakim: Tunggu. Dikatakan di sini, dia tak punya anak.

    Yoon Hyuk langsung mengonfirmasinya pada Kliennya.

    Klien: Ah.. Maksudnya kucingku. Kuanggap mereka seperti anak-anakku.

    HAHAHAHAHA..






    Yoon Hyuk gagal terlihat keren, tapi ia belum menyerah. 

    Yoon Hyuk: Bagaimanapun, Yang Mulia. Terdakwa harus memelihara dua kucing sendirian dan juga harus mengurus ibunya pada saat yang bersamaan. Dan semua tetangganya mengagumi karena cinta kasihnya. Terdakwa yang baik hati ini hanya punya satu kesalahan...

    Klien: Tidak, aku tak melakukan kesalahan apa pun. Itu bukan salahku. Aku tak bisa mengakui tuduhan itu.

    Yoon Hyuk hancur benget, ia merengek, "Kumohon... Kumohon diam saja."

    Yoon Seo yang melihatnya gak bisa menahan tawa.




    Sidang selesai dan mereka keluar. Yoon Hyuk tidak berhasil memenangkan sidang ini.

    "Yoon Seo-ssi. Hari ini mungkin sidangku kalah, sejujurnya aku tak kalah."

    "Ya?"

    "Klienku melakukan kejahatan. Dan dia akhirnya dihukum yang berarti keadilan dimenangkan. Persidanganku mungkin kalah, tapi keadilan menang. Jadi berarti aku tak kalah."


    "Hmm... Apa sebenarnya maksudmu?"

    "Bagaimanapun, aku perlu berbicara dengan klienku."

    "Silakan segera pergi."

    "Sampai jumpa besok di firma."


    Setelah Yoon Hyuk pergi, Yoon Seo memuji Jung Rok.

    "Sepertinya tak semua pengacara kompeten dan karismatik seperti Kwon Byeonhosa-nimku.."


    Tapi Yoon Seo segera sadar.

    "Omooo... Omo... Mo... Apa yang baru saja kukatakan? "Kwon Byeonhosa-nimku"? Aku pasti sudah gila. Astaga."


    Su Cheol, manajer bar pengganti Hyuk Joon sudah sampai dan ia menelfon Yoon Seo.

    "Baik, tunggulah sebentar lagi."

    "Kau butuh kopi atau apa? Aku akan membelinya."

    "Tidak."

    Tapi saat melihat para Jaksa membawa buku, Yoon Seo langsung meminta dibelikan buku mengenai hukum, tidak masalah apa itu hukum perdata atau hukum pidana.

    "Beli aku semua buku tentang hukum yang dapat kau temukan."


    Di rumah, Yoon Seo langsung membaca semua buku itu.

    Ada pesan masuk dari Jung Rok. 

    "Sudah kuperiksa emailnya. Kerja bagus."

    Yoon Seo: Cham.. Bahkan pesannya pun dingin dan keras.



    Yoon Seo membalas, "Kwon Byeonhosa-nim, aku membeli buku untuk memoles pengetahuanku mengenai hukum. Buku senilai 128.000 won. Aku akan belajar keras menjadi sekretaris yang bisa membantumu."



    Yoon Seo bahkan mengirimkan fotonya. Jung Rok tersenyum.



    CEO Yeon memberikan kasus untuk Jung Rok. Kasusnya Yoon Ha. 

    "Siswi SMA menerima uang dari teman sebagai imbalan atas tanda tangan dari Ji Yong X-Teen. Dia mengantongi uang itu. Dia masih muda, jadi hukumannya akan keras. Bisa kau lihat ke dalam kasusnya?"

    "Ya."



    Jung Rok menugaskan Yoon Seo untuk mendapatkan petisi dari sekolah Yoon Ha karnea akan membantu mereka mendapatkan hukuman yang ringan.

    "Ketika aku pergi ke pengadilan dengan Choi Byeonhosa-nim kemarin, aku bisa melihat kasusnya juga. Dia jelas bersalah." Cerita Yoon Seo. 



    "Hakim memutuskan apa seseorang bersalah atau tidak. Pekerjaanku hanyalah mewakili klienku."

    "Meski begitu, dia melakukan penipuan dan berbohong kepada hakim. Dia orang tak jujur."

    "Kau pikir hanya mungkin mewakili yang tak bersalah?"

    "Tentu saja tidak, tapi..."

    "Aku sudah berbicara dengan Yang Biseo-nim, jadi selesaikan dulu."

    "Baik, aku mengerti."



    Sekretaris Yang menerima pesan dari putrinya, "Aku sakit kepala dan demam. Aku akan menunggumu di rumah."




    Setelah membacanya, Yoon Seo menghampiri untuk mengajaknya ke sekolahan Yoon Ha. 

    "Oh, bagaimana ini... Putriku baru saja menghubungiku. Dia meninggalkan sekolah lebih awal hari ini karena demam. Tidak ada yang mengurusnya, jadi aku akan pulang sesudah memberi tahu Daepyo-nim."

    "Kalau begitu, kau harus pergi."



    Tapi Yoon Seo mengkhawatirkan soal petisinya. Pak Lee menyahut, ia akan menggantikan Sekretaris Yang. 

    Pak Lee: Aku sering melakukannya ketika masih jadi detektif.

    Pak Lee menyuruh Sekretaris Yang segera pulang. Sekretaris Yang berterimakasih. 



    Kepala Jaksa memberikan kasus Im Yun Hee untuk Yeo Reum. 

    "Istri yang membunuh suaminya yang kejam, kau tahu kan?"

    "Bukankah ini kasus untuk Im Seonbae-nim? Apa karena organisasi perempuan?"

    "Benar, mereka sudah bilang kita sedang berburu penyihir. Yo Geomsa berpikir akan lebih baik bagi perempuan untuk memimpin, dan aku setuju."

    "Aku ditempatkan sebagai perisai."

    "Lalu, tak mau?"

    "Tidak, aku setuju. Aku tertarik dengan kasus ini."

    "Tangani kasus ini dengan benar, dan kau akan dapat bekerja di departemen pilihanmu."

    "Aku akan melakukan yang terbaik."



    Di kantin Jaksa Im marah-marah di depann yang lain pada Yeo Reum. 

    "Hei, kurang ajar. Segitunya kau ingin sukses? Seberapa serakah kau harus mengambil kasus yang diinginkan seniormu?"

    "Dari yang kutahu, dari awal kasus itu bukan milikmu."

    "Itukah sebabnya kau mengambilnya?"

    "Seperti yang kau katakan, kupikir itu akan mendorong karirku, jadi aku tak menolak."

    "Hei!"

    Jaksa yang bersama Jaksa Im mengingatkan kalau mereka dilihatin banyak orang.

    Jaksa Im: Lepaskan aku. Kau tak dengar yang baru saja dia katakan?

    Jaksa: Nanti, nanti saja dibicarakannya.



    Jaksa Im menurut, ia pun bicara lebih pelan setelah melihat orang-orang mengawasi mereka.

    Jaksa Im: Kau sebaiknya bersikap. Aku akan mengawasimu.



    Disana juga ada Se Won dan terlihat kalau Se Won mengkhawatirkan Yeo Reum.

    Orang-orang membicarakan Yeo Reum yang mereka anggap tidak sopan karena mengambil kasus senior.




    Yeo Reum kembali ke ruangannya. Staf-nya memberikan obat pencernaan. 

    "Bagaimana kau tahu?"

    "Kim Se Won Geomsa-nim memberikannya padaku."



    Yeo Reum lalu memanggil Se Won untuk bicara berdua. Se Won menemui Yeo Reum, ia mengatakan kalau waktunya tidak banyak. Yeo Reum langsung mengembalikan obat pembeian Se Won, ia tidak butuh. 



    Se Won menerimanya, "Ada yang ingin dikatakan?"

    "Jangan repot-repot dengan kemurahan hati yang tak berguna. Kita sekarang tidak dalam hubungan."

    "Lalu hubungan kita apa? Kau mungkin tak tahu karena kau egois, tapi sesama rekan kerja memperlakukan satu sama lain seperti ini. Kaulah yang salah membaca situasi."

    "Tidak, jangan khawatir."

    "Hanya itu yang ingin kau katakan?"

    "Ya."





    Dan Se Won pergi. Yeo Reum juga pergi ke arah yang berlawanan. Se Won berbalik untuk menatap Yeo Reum.




    Yoon Seo dan Pak Lee sampai disekolah. Pak Lee khawatir Yoon Seo akan dikenali, ia menyuruh Yoon Seo menunggu di mobil saja.

    "Tak apa. Akhir-akhir ini aku sering keluar, tapi tak ada yang mengenaliku." Jawab Yoon Seo dan ia mengajak Pak Lee segera mulai.


    Murid 1 :Petisi, apaan. Aku tak akan menulis hal seperti itu. Dan juga dia berbohong mengenai autograph nya.


    Murid 2: Dia bilang neneknya peramal terbaik negara kita. Sebagai kerabat darahnya, dia bilang akan segera menerima hadiah juga. Ternyata dia tak memiliki nenek.





    Murid 3: Dia bilang menderita kanker kerongkongan tahap akhir. Aku baik padanya karena kasihan, tapi semua itu bohong. Apa yang dia miliki bukanlah kanker tapi hanya mythomania. Dia sangat butuh perhatian. Dia bilang dia adalah Trainee Girl Group K-pop, tapi itu juga bohong. Walaupun dia memohon seperti ini (berlutut). Tidak mungkin kumaafkan.



    Sementara itu, Jung Rok bicara dengan Yoon Ha di ruangannya dan Yoon Seo mengupingnya.

    "Benarkah kau teman dekat Ji Yong X-Teen? Lalu kenapa kau tak mendapatkan tanda tangan?"

    "Tiada sesuatu terjadi..."

    "Kenapa menerima uang sebagai pertukaran untuk itu?"

    "Karena aku tak punya uang."

    "Tak bisakah kau minta pada orang tuamu?"

    "Aku tak punya orang tua."

    Jung Rok menunjukkan daftar hubungan keluarga Yoon Ha dan disitu dikatakan kalau Yoon Ha memiliki orang tua. 


    Yoon Seo: Dia berbohong lagi.

    Jung Rok: Mengembalikan kembali uang kepada para korban akan membantumu mendapatkan hukuman ringan.

    Yoon Ha: Sudah kuhabiskan.



    Yoon Seo tidak tahan, ia langsung masuk dan marah-marah, "Hei, kau! Kwon Byeonhosa-nim bukan rekanmu, tahu. Berhenti berbohong padanya!"

    "Ajumma, siapa dirimu..." Yoon Ha memperhatikan dan mengenali Yoon Seo.

    "Kemiripannya luar biasa, kan? Tapi bukan dia, jadi jangan berpikir yang tidak-tidak." Sanggah Yoon Seo.



    Yoon Seo:  Omong-omong, aku melihatmu di pengadilan kemarin. Kau bahkan berbohong kepada hakim! Juga, Aku sudah bertemu teman-temanmu. Mereka semua mengatakan, kau hanya menceritakan kebohongan. Siapa pun bilang kau harus dihukum. Tetap saja, Byeonhosa-nim menawarkan bantuan untuk kasusmu. Kau tak boleh memperlakukannya seperti ini.

    Yoon Ha: Menjauhlah, dasar aktris gagal.

    Yoon Seo: Gagal? Kau serius bilang itu?



    Jung Rok tidak tahan lagi, "Apa yang kau lakukan sekarang?"



    Yoon Seo mengira itu ditujukan pada Yoon Ha tapi ternyata ditujukan padanya. 

    Jung Rok: Maksudku kau, Oh Jin Sim-ssi.

    Yoon Seo: Aku? Bukan dia?


    Yoon Ha: Apa Jin Sim nama aslimu?

    Yoon Seo: Bukan Oh Jim Sim. Aku juga bukan Oh Yoon Seo!




    Jung Rok mengajak Yoon Seo bicara di atap. 

    "Kenapa kau ikut campur?"

    "Dia terus berbohong padamu."

    "Ketika pengacara dan klien bertemu untuk pertama kalinya, penting untuk menemukan cara untuk menyelesaikan kasus ini. Kenapa kau ikut campur ketika aku mencoba mencari tahu kebenarannya?"

    "Apa maksudmu ikut campur? Kau masih belum tahu? Dia tak punya niat mengatakan kebenarannya. Aku pergi untuk mendapatkan petisi, tapi tak ada yang percaya padanya. Kau tak tahu itu? Aku hanya tak berpikir kau harus membuang waktumu mendengarkan kebohongan yang tak penting seperti itu.."

    "Mengenai mengambil kasus atau tidak bukan ranahmu. Bekerja keras dan melampaui otoritasmu berbeda. Jelas kau tak memiliki otoritas dalam hal ini, berhentilah ikut campur."

    "Aku hanya berusaha membantumu. Jika kau mengatakannya seperti itu, aku sangat kesal!"



    Jung Rok maju lebih dekat pada Yoon Seo.

    "Berhentilah emosional. Sikap seperti itu tak akan membantu sama sekali."

    Setelah mengatakannya, Jung Rok langsung pergi.



    Sekretaris Yang menemani putrinya makan, ia melarang putrinya pilih-pilih makan agar cepat sembuh. 

    "Sudah kenyang. Aku akan masuk kamar untuk beristirahat."

    "Kau harus makan banyak. Ah.. Ambil obatmu."




    Sekretaris Yang lupa memberi Jin Hee air dan saat ia masuk kamar Jin Hee, ia memergoki Jin Hee membuang obatnya. 

    "Apa yang kau lakukan?" Sekretaris Yang terkejut.

    Jin Hee hanya diam.




    Yoon Seo membalas dendam pada Jung Rok dengan sengaja melebihi salinan dokumen yang dierintahkan. Jung Rok hanya memerintahkan menyalin 3 tapi Yoon Seo membuat 5 salinan. 

    "Omo. Aku minta maaf karena tak dengar dan menyalin banyak. Apa ini penyalahgunaan otoritas juga? Kedepannya aku akan memperhatikannya."

    "Sekarang, kau sedang apa?"

    "Oh benar, kau bilang kepadaku untuk tak emosional. Aku minta maaf karena sentimen dan sangat emosional."



    Yoon Seo melihat jamnya, "Sebelum kau membenciku karena tak pulang tepat waktu, aku akan pergi. Permisi."

    Yoon Seo keluar dengan kesal.



    Ketegangan dengan Jung Rok berimbas pada mood Yoon Seo untuk belajar. Ia tidak konsen membaca dan hanya memikirkan kata-kata Jung Rok. Yoon Seo masih kesal.



    Jung Rok juga tidak konsen membaca berkas kasus-kasunya, sama dengan Yoon Seo.




    Saat kumpul-kumpul, Yoon Seo dan Sekretaris Yang nampak murung. Hae Young bertanya pada Yoon Seo, apa mereka berkelahi lagi? 

    Yoon Seo: Tidak, sebenarnya bukan perkelahian...

    Yoon Hyuk: Sesuatu pasti sudah terjadi. Jangan dipendam, beri tahu kami.



    Yoon Soe: Yah, itu hanya... Kau tahu, Siswi SMA yang diajak bicara oleh Kwon Byeonhosa-nim. Dia terus berbohong padanya. Apa masuk akal untuk berbohong kepada seseorang yang mencoba membantunya? Jadi sebagai orang dewasa, dan sebagai Sekretaris Kwon Byeonhosa-nim, Aku memarahinya dan bilang kepadanya bahwa dia seharusnya tak berbohong. Tapi Kwon Byeonhosa-nim membelanya.

    Yoon Hyuk: Ya Tuhan. Aku ingin memarahi Kwon Byeon. Kau keterlaluan, Kwon Byeonhosa-nim!




    Sekretaris Yang: Apa maksudmu? Apa yang dikatakan Kwon Byeonhosa-nim benar. Mengganggu pembicaraan seorang pengacara dan klien bukan urusan sekretaris.

    Hae Young: Tapi kenapa gadis itu melakukan penipuan seperti itu?

    Moon Hee: Dia mungkin butuh uang. Diwakili oleh pembela umum, keluarganya tampaknya tak mampu.

    Yoon Seo: Yah, kudengar dia datang dengan orang tuanya hari ini. Kita akan lebih tahu tentang itu.



    Lalu terlihat Yoon Ha, tapi hanya sendirian.



    Saat Yoon Seo mengantarkan kopi. Jung Rok bertanya kenapa Yoon Ha gak dateng bareng ortunya padahal ia jelas mengatakannya kemarin kalau Yoon Ha harus dateng bareng Ortu.

    Yoon Ha: Mereka sibuk bekerja.

    Jung Rok: Berikan nomor telepon orang tuamu.

    Yoon Ha: Mereka tak punya telepon.

    Jung Rok: Lalu beri tahu aku nomor perusahaan mereka. Perusahaan pasti punya telepon.

    Yoon Ha: Oh benar... Mereka berhenti bekerja kemarin.



    Yoon Seo akan bereaksi, tapi ia bisa menahannya karena tatapan Jung Rok. Yoon Seo pun pergi dengan kesal.

    Yoon Ha: Tak ada hal lain untuk dikatakan. Aku bisa pergi, kan?



    Jung Rok mengingatkan, "Jika bertindak seperti itu di pengadilan, kau mungkin menerima hukuman tambahan. Kau juga dapat dihukum penjara."

    "Kau mencoba menakutiku sekarang? Aku tak takut dengan hal seperti itu."

    "Kau berpura-pura tangguh, terdengar seperti teriakan minta tolong padaku."

    "Apa yang kau..."



    "Pengadilan akan segera dibuka, dan orang-orang dengan hak untuk mengambil kebebasanmu akan berkumpul. Menurut keputusan mereka, kau bisa menjadi mantan narapidana. Satu-satunya orang yang dapat membantumu dalam sidang itu adalah aku. Jika kau ingin bantuanku, kau harus lebih mempercayaiku."

    "Percayai siapa? Lupakan."



    Sebelum keluar, Yoon Ha menatap Yoon Seo kesal.

    Yoon Seo menggerutu sendiri, "Kenapa dia terus berbohong sepanjang waktu? Dan kenapa dia tak menutup pintu?"

    1 komentar: