Sunday, February 3, 2019

Sinopsis Romance is a Bonus Book Episode 3 Part 1

    Sumber: tvN


    Setelah ketahuan oleh Eun Ho, Dan Yi bertanya, apa sekarang Eun Ho mau mengusirnya?

    "Aku yakin kau tahu aku bercerai setahun lalu, dan aku bilang aku kehilangan rumah. Mereka akan bongkar rumah itu, aku tinggal di sana diam-diam tanpa air dan listrik. Aku mengusir pembantumu lalu mandi dan makan di sini. Lalu pembongkarannya dimulai. Jadi, aku diusir. Aku bahkan belum sepuluh hari tinggal di sini."



    "Bisanya kau tak acuh begitu?"

    "Aku harus menangis? Kau mau aku menangis? Aku tak akan diusir jika menangis? Kau akan kesal jika aku menangis. Dan jika tahu tentang kondisiku, kau akan terus kesal."

    "Tetap saja, harusnya kau bilang. Lebih baik aku melihatmu menangis di depanku."

    "Aku telah... cukup menangis setahun ini. Satu hal yang diajarkan air mata, itu adalah fakta menangis tak selesaikan apa pun."



    Setelah mengatakannya, Dan Yi hendak membawa minuman ke kamar. Eun Ho tanya, mau mium lagi? Dan Yi mengajak Eun Ho tidur saja malam ini, besok dibicarakan lagi.

    "Noona, kau harus berhenti minum. Itu bisa menjadi kebiasaan."

    Dan Yi tidak menyahut, tetap jalan menuju kamar.


    Di tangga Dan Yi mual karena minuman tadi terlalu keras untuknya. Ia menyesal sudah minum.



    Lalu ia membuang seluruh isinya ke luar jendela, tapi ia bergumam kalau ia meminum semuanya karena sangat stress, ia menggumam untuk Eun Ho.



    Dan Yi yakin kalau Eun Ho tidak bakalan mengusirnya, jad ia bisa berhenti makan secara diam-diam sekarang. 

    "Aku bisa tinggal tiga bulan sampai dapat tempat baru, 'kan? Syukurlah aku masih punya Eun Ho."

    Dan Yi pun bisa tersenyum dan mulai tidur.



    Paginya Eun Ho kaget mendapati botol minumannya sudah kosong. 

    "Dia menghabiskannya? Bagaimana jika mati?" Heran Eun Ho.



    Ternyata Dan Yi masih belum berhenti bekerja di sauna. Ia berbincang dengan sesama pekerja soal pekerjaan dan tempat tinggal barunya walaupun masih sementara.

    "Aku turut senang untukmu. Kau masih muda, terlalu baik untuk tempat ini. Kau pasti akan berhenti dari sini."

    "Tidak, aku akan datang dua kali sepekan pagi-pagi. Aku sudah bicara dengan bos. Jae Hui ingin tetap sekolah di sana."

    "Suruh saja dia kembali. Kau sanggup membiayainya?"

    "Sekolah negeri di Filipina tak mahal. Serta, aku mengirim dia ke sana karena dia tak tahan dirisak di sini. Aku tak bisa menyuruhnya kembali. Tidak apa-apa. Aku hanya harus hemat."



    "Kau masih muda dan cantik, kau harus berkencan. Kau mau merawatnya seumur hidup?"

    "Ya. Putriku adalah prioritas utamaku, pekerjaan kedua. Hanya dua itu yang kupikirkan. Aku harus kerja untuk besarkan putriku. Jadi, sebenarnya tak ada prioritas. Keduanya prioritasku. Mereka segalanya bagiku."

    "Baguslah."


    Eun Ho masak sesuatu dan kelihatan banget kalau ia gak bisa masak, ia terus saja mencicipi masakannya dan menambah ini itu biar pas rasanya, tapi tetap saja rasanya aneh. 



    Eun Ho lalu naik untuk membangunkan Dan Yi 

    "Noona, bangun. Aku membuat sup pengar. Rasanya agak aneh, tapi tak apa-apa, selama ini membuatmu sadar."



    Tapi tidak ada jawaban walau ia mengetuk beberapa kali.

    Eun Ho pun memutuskan masuk dan ia prihatin melihat tempat itu. Eun Ho menemukan buku catatan Dan Yi yang dipenuhi jadwal wawancara. Membacanya saja membuat Eun Ho sesak.


    Eun Ho kembali turun untuk bersih-bersih, tapi ia masih kepikiran tempat tidur Dan Yi yang selama ini tidur tanpa bantal. 

    Eun Ho masuk ke ruang olah raganya dan memikirkan sesuatu.


    Dan Yi ketemu Eun Ho di kantor, tapi sejenak ia lupa kalau ia bersandiwara sudah menghabiskan minuman keras itu. Sesaat setelah ia ingat, langsung deh ia bersandiwara kalau perutnya sakit karena terlalu banyak minum, tapi Eun Ho sama sekali tidak khawatir.





    Setelah pintu lift terbuka, mereka berdua masuk, Dan Yi masih berakting.

    Eun Ho: Aku melihatmu berjalan saat aku berkendara kemari. Kenapa pergi pagi-pagi? Jangan bilang kau ke UGD karena mabuk.

    Dan Yi pun berhenti bersandiwara.

    Dan Yi: Kau cemas karena minumanmu habis.

    Eun Ho: Tidak. Aku tidak kaget atau cemas. Aku minta penyewaku keluar dari apartemen. Tenggat bulan depan, dan akan pindah setelah tiga bulan. Tinggal di sana setelah mereka pindah.

    Dan Yi: Aku akan cari tempat. Aku tak mau mengganggu.



    Eun Ho memutar badan untuk menatap Dan Yi, "Kau sudah sangat mengganggu. Tiga bulan aku tak punya privasi."

    "Untuk apa ada ponsel? Saat kau mau membawa wanita, kirimi aku pesan dan..."

    "Apa? Kau tidur di tempat lain?"

    "Tentu saja."

    "Astaga, bagaimana barangmu? Barangmu ada di loteng."

    "Kenapa bawa wanita ke loteng? Lakukan saja di kamarmu..."




    Suasana berubah canggung. Eun Ho gak bisa menatap Dan Yi. Dan Yi menahn ketawa.

    Dan Yi: Maksudku... Bawa saja ke kamarmu dan bersenang-senang.

    Eun Ho balik menatap ke depan lagi dan ia baru sadar kalau ia belum menekan lantai tujuan mereka. Eun Ho pun segera menekan lantai 3.


    Sampai di lantai 3, Dan Yi langsung mendapat tugas dari Song Hae Rin untuk memeriksa printer yang rusak.




    Dan Yi mengerjakan tugasnya tapi ia kelihatan bingung. Eun Ho tidak tahan melihatnya.

    Dan Yi membca pesan dari Eun Ho.

    "Kita punya langganan jasa perbaikan. Mereka lebih ahli daripada Tim Pembantu. Nomornya di dinding."



    Dan Yi pun segera menghubungi nomor itu, tapi belum selesai ia menelfon, ia sudah mendapat tugas lain untuk memesan kopi instan dan tugas-tugas yang lainnya.



    Dan Yi mengiyakan keduanya sambil menelfon. Eun Ho yang memperhatikan hanya bisa menghela nafas.


    Dan Yi menata semua tanaman yang ada disana, lalu menyiram semuanya. 


    Eun Ho terus memperhatikan, kali ini ia pura-pura mengajak ngobrol pegawai baru, Park Hoon.



    Lagi-lagi saat pekerjaan Dan Yi belum selesai, ia sudah mendapat tugas baru, kali ini disuruh mencari restaurant tongkok. 

    "Empat orang. Di Gangnam. Ruangan privat." Lanjut Bong Timjang.

    "Baik." Jawab Dan Yi dan langsung bergerak. 



    Eun Ho kembali ke mejanya, ia kembali mengirim pesan untuk Dan Yi.

    "Pesan tempat ini untuk rapat dengan Penulis Yun. Dia suka restoran ini. Salin alamatnya dan kirim kepada Bong Timjangnim."

    "Jangan khawatirkan aku. Kau sudah janji. Fokus saja bekerja. Kau hanya mempersulit."



    Dan Yi langsung laporan pada Bong Timjang kalau ia sudah memesan tempat. Bong Timjang memuji kecepatan Dan Yi dan puas dengan tempat yang Dan Yi pesan. 



    Baru saja Dan Yi mau duduk, ia sudah diminta mengerjakan tugas lain, kali ini membereskan 200 salinan buku gratis di ruang rapat. Dan Yi segera bergerak.


    Eun Ho yang melihatnya tambah gak bisa fokus kerja.



    Saat melihat semua buku itu di ruang rapat, Dan Yi menghela nafas, ia ingat kata-kata Eun Ho.

    "Pasti ada cara lain. Kenapa menyia-nyiakan ijazahmu? Kau harus mengirim paket dan menjadi pesuruh untuk rekan kerja. Itu posisi bergaji rendah."

    Tapi Dan Yi tidak mengeluh, ia segera melakukan tugasnya.



    Dan Yi baru saja mulai dan ia sudah mendapat tugas lagi. Tugas dari Go Isa untuk menyiapkan rapat 20 menit lagi.

    "Baik. Apa yang harus kusiapkan..."

    Tentu saja Go isa gak mungkin menjawabnya.


    Dan Yi mencari SOS, ia bertanya pada Park Hoon, tapi Park Hoon juga tidak tahu karena ia pegawai baru.


    Dan Yi bertemu Seo Timjang, ia tanya, tapi malah dibecandain yang dibutuhkan untuk rapat eksekutif ya para eksekutif, dan langsung ditinggal karena ada telfon.



    Terus Dan Yi ketemu Hae Rin. Hae Rin mengatakan mereka butuh Lima ELV.

    ""ELV"? Apa itu "ELV"?"

    Tapi Dan Yi ditinggal lagi karena Hae Rin sibuk.


    Dan Yi bingung harus bertanya siapa lagi sampai ia mendapat telfon dari Go Isa yang menyuruhnya mengambil kartu kredit kantor di ruangannya.


    Ibunya Ji Yul menghubungi Hae Rin.

    "Ji Yul ketiduran pagi ini. Dia pasti gugup karena ini hari pertamanya."

    "Lalu?"

    "Putriku sangat naif sampai tak tahu apa pun soal ini. Mulai kini, akan kubangunkan lebih awal. Jadi, jangan memarahinya. Aku menelepon karena cemas."




    Saat itu Ji Yul datang dengan buru-buru dan mengucapkan maaf berkali-kali karena terlambat. Tapi daru raut wajahnya ia sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. 

    Hae Rin: Aku melihat lebih dari 20 pegawai baru sejak bergabung di Gyeoroo, tapi ini kali pertama aku dapat telepon dari ibu seseorang karena dia terlambat.


    Park Hoon mengintip dari balik rak.



    Ji Yul: Itu karena aku anak tunggal, Eonni. Mengertilah.

    Hae In: Kenapa kau tak sopan padaku?

    Ji Yul: Aku hanya ingin berteman denganmu.

    Hae Rin: Kenapa kita harus berteman?

    Eun Ho, Bong Timjang dan satu anggota lain mendengar semuanya tapi mereka malah makin menunduk, pura-pura sibuk dengan pekerjaan, gak mau ikut campur.



    Hae Rin: Aku atasanmu, dan kita kolega, tak lebih. Kau memang bodoh, tapi jangan melewati batas.

    Ji Yul: Maaf.

    Hae Rin mengakhirinya dengan melemarkan buku pedoman ejaan dan naskah yang harus dikoreksi Ji Yul.



    Eun Ho protes dengan tugas sulit yang diberikan Hae Rin untuk karyawan baru. Tapi Hae Rin langsung menjawab,

    "Aku... Aku pernah melakukan yang lebih sulit saat masih pegawai baru karena atasanku benar-benar hebat."

    Eun Ho pun gak bisa protes lagi.

    Bong Timjang gak tahan duduk disana dengan suasana itu, ia pun mencari tempat lain.



    Dan Yi masih bingung, Go isa menyuruhnya mengambil kartu kredit, artinya "ELV" pasti tak ada di kantor, pasti harus dibeli. Eun Ho terus memperhatikan tngkah gelisahnya itu.

    Dan Yi menghubungi Eun Ho, tapi ia batalkan, ia tidak bisa minta bantuan Eun Ho. Dan Yi pun langsung keluar.



    Tapi Eun Ho menyusulnya, ia tahu kalau Dan Yi gak tahu apa itu ELV. 

    Eun Ho: Kau bilang aku tak perlu cemas.

    Dan Yi: Apa itu?

    Eun Ho: Itu akronim dari "Es Latte Vanila". 

    Dan Yi melongo tak percaya setelah mendengar artinya.

    Eun Ho: Bersemangat saja tak cukup. Cepat. Waktumu sepuluh menit. 

    Eun Ho mendorong Dan Yi untuk segera masuk ke dalam lift.




    Hae Rin mendekati Eun Ho yang sedang membaca padahal waktunya rapat eksekutif. Eun Ho mengatakan ada yang ingin ia periksa.

    "Kau menunjukkan bosnya kepada pegawai baru." Lanjut Eun Ho dan mngembalikan bukunya.

    "Aku belajar bahwa pegawai baru harus dilatih dengan ketat. Dari atasanku." Hae Rin menekankan kata "Dari atasanku" sambil menatap Eun Ho.

    Eun Ho meminta Hae Rin mendekat. Hae Rin memastikan tidak ada yang lihat sebelum mendekat karena tahu apa yang akan dilakukan Eun Ho itu memalukan.



    Ternyata Eun Ho menyentil dahi Hae Rin dengan jarinya, itu hukuman.

    "Astaga Seonbae!" Hae rin protes.

    "Astaga, maaf. Aku sudah lama tak lakukan itu. Sakit?"

    "Aku masih harus menerimanya?" Hae Rin mengelus dahinya sambil meringis.

    "Sekali atasan, tetap atasan. Jangan terlalu keras padanya. Atau dia akan keluar seperti seseorang dulu. Dia akan menangis."

    "Jika mau keluar, maka segeralah. Katamu, ajari orang yang akan menyerah sangat sulit."

    "Begitu. Itu sebabnya kau menangis?"

    "Lalu kau ke rumahku dan memohon agar aku kembali."




    Eun Ho "Kau cukup percaya diri setelah dipromosikan."

    Hae Rin "Aku belajar sesuatu dari sini. Aku mempelajarinya darimu. Bisa bawakan pakaianku?"

    Eun Ho "Kenapa? Kau akan mabuk dan datang lagi."

    Sudah saatnya rapat, Eun Ho pergi dulu.

    0 komentar

    Post a Comment