Sunday, February 3, 2019

Sinopsis Romance is a Bonus Book Episode 3 Part 2

    Sumber: tvN


    Di jalan sambil membawa 5 Es Latte Vanila, Dan Yi menggerutu dalam hati.

    "Kenapa tak bilang saja? Kenapa pakai akronim? Lalu apa "Latte Vanila Panas"? LVP? Astaga, yang benar saja."



    Dan Yi lega setelah sampai di ruang rapa tepat waktu. Lalu ia memeriksa stuk pembayaran.

    "Kata yang membuatku seperti orang bodoh artinya "Es Latte Vanila". Benar, dunia memang berubah."



    Dan Yi kira pekerjaannya sudah selesai tapi belum, kotak yang berisi 200 salinan buku masih ada di meja. 

    Dan Yi pun segera memindahkannya, tapi tiba-tiba pewawancara yang melemparkan tisu habis pakai ke arahnya di toilet kembali muncul diingatan Dan Yi.



    "Apa kataku? Kubilang dunia berubah saat kau jadi ibu rumah tangga. Kau pantas dapat ini. Aku tersinggung. Tahu yang kulakukan demi tetap bekerja? Beraninya kemari untuk mendapat pekerjaan yang bertahun-tahun kudapatkan?"



    Eun Ho akan masuk ruang rapat tapi berhenti tepat di depan pintu untuk memperhatikan Dan Yi. 

    Presdir Kim datang, heran melihat Eun Ho cuma berdiri bukannya langsung masuk. Presdir Kim pun mengajaknya masuk. Lalu eksekutif lain bergantian masuk selagi Dan Yi keluar membawa kardus buku itu.




    Dan Yi menatap mereka dari luar sambil membatin.

    "Aku memutuskan untuk menerima bahwa dunia berubah selagi hidupku tetap sama. Kupikir aku yang paling bekerja keras, sibuk urus anak dan rumah tangga, tapi semua orang juga bekerja keras dan melakukan yang terbaik dalam situasi mereka. Itu sebabnya aku di sini dan mereka di sana."


    Eun Ho tetap khawatir melihat Dan Yi.




    Seo Joon jalan-jalan dengan anjingnya dan ia berhenti di depan toko gaun pengantin, tempat dimana ia menolong Dan Yi. Ia kembali teringat Dan Yi. 



    Ternyata Seo Joon ini seorang desainer novel. 

    "Soal novel karya Robert Friedrich... Anda bertanya apa aku punya desain baru. "Malam Cerah Musim Panas" akan dicetak kembali? Mau ubah warna sampulnya? Warna edisi Inggris dan Prancis berbeda. Itu sebabnya kami pilih warna berbeda, biru. Ya, kali ini kita pakai warna dari edisi Inggris pertama, dan warna edisi Prancis untuk selanjutnya. Edisi kedua harus spesial agar populer. Baik."



    Presdir Kim kebetulan ada di depan Seo Joon yang sedang membaca, ia langsung merekomendasikan buku lain yang serupa.

    "Anda harus baca buku ini. Satu dari buku terbaik yang kubaca. Menawarkan pandangan hidup yang sederhana sekaligus luar biasa."

    Seo Joon tampak tidak tertarik, tapi Presdir Kim malah semakin menggebu mempromosikan bukunya.


    Eun Ho pindah ke tumpukan genre yang lain dan Presdir Kim tetap mengikutinya serta kembali merekomendasikan buku yang lain. 




    Eun Ho melihat semua itu.

    Seo Joon menyadari satu hal, semua buku yang direkomendasikan Presdir itu terbitan Gyeoroo jadi ia menduga Presdir Kim bekerja di bagian pemasaran.

    "Bukan. Aku tak paham. Gyeoroo? Itu nama penerbitnya? Astaga, kau pasti salah paham. Aku hanya pembaca yang sungguh berusaha..."



    Eun Ho tiba-tiba memanggil Presdir Kim. Otomastis Seo Joon langsung menoleh pada Presdir Kim, sekarang ia tahu jabatan Presdir Kim di Gyeoroo. Presdir Kim mematung.

    Eun Ho: Kenapa pegang buku kita? Kau bisa diusir dari sini. Kau telepon saat aku sibuk. Kini kau ada waktu untuk menjual buku? Kenapa ingin menemuiku?





    Tapi Presdir Kim kembali untuk mengambil beberapa buku dan ia mengintip judul buku yang dibaca Seo Joon. Presdir Kim belum menyerah mempromosikan buku terbitan Gyeoroo pada Seo Joon, lalu ia segera menyusul Eun Ho.



    Eon Ho memprotes cara Presdir Kim memasarkan buku yang ia kerjakan siang dan malam dengan sungguh-sungguh.

    Presdir Kim: Iklan bukumu bukanlah masalahnya sekarang. Pak Cha. 




    Presdir Kim menunjukkan buku yang sampulnya di desain oleh Seo Joon.

    "Ini. Bagaimana menurutmu? Lihat sampul buku ini. Lebih baik dari keseluruhan buku kita. Apa gunanya membaca semua naskah? Kini orang-orang membeli buku karena sampulnya."

    "Buku bukan aksesori."

    "Mereka aksesori. Orang dinilai berdasarkan buku yang mereka bawa."



    Presdir Kim mempraktekannya degan membawa buku Gyeoroo dan buku Seo Joon.

    Buku Gyeoroo (Orang Mars), "Lihat ini. Lihat betapa membosankannya ini?"

    Buku Seo Joon (Malam Cerah Musim Panas) "Aku lebih tampan?"



    Presdir Kim: Begini saja. Sampul desain Ji Seo Joon. Dia desainer terbaik. Semua buku di sini didesain olehnya. Bawa dia kepadaku. Bawa dia ke Gyeoroo.

    Seo Joon jelas mendengar percakapan mereka berdua itu.



    Eun Ho mau protes, tapi Presdir Kim tidak mengijinkannya.

    "Koneksimu paling bagus, kau juga paling kompeten. Bawa dia."


    Presdir Kim kemudian kembali mendekati para pembeli buku, tapi ia gak sadar kalau orang yang ia promosiin itu adalah orang yang sama, Seo Joon lagi.



    Presdir Kim pun kembali pada Eun Ho.

    "Kita harus menjual semua buku itu. Buku yang langsung dibeli begitu diambil. Bawa Ji Seo Joon. Dia bekerja untuk Wolmyeong. Mereka akan membarui kontrak bulan depan. Bawa dia ke Gyeoroo sebelum menandatangani kontrak. Bereskan, ya? Ingat itu."




    Eun Ho membawa semua buku yang didesain Seo Joon ke kantor. Ia bertanya pada Hae Rin apa yang membuat Hae Rin tertarik dengan desainnya.

    "Konsepnya jelas. Ini mudah dibawa dan dibaca karena ringan dan sampulnya tipis. Ini bisa dibaca di bus atau kereta. Sedangkan yang ini, bisa mudah dibawa saat kau bepergian. Ini terlalu tebal untuk dibawa. Ini juga mahal. Ini dibuat tampak berkelas agar bisa dipajang di rak buku."

    "Konten lebih penting, 'kan?"



    "Ya, tapi desain tak memengaruhi konten. Lihat ini. Ini ditujukan untuk wanita berumur 20-an sampai 30-an. Cantik, seperti aksesori. Dan buku ini tentang memulihkan hidup kita. Jadi, sampulnya sederhana dengan warna natural."



    "Benar. Desainnya bagus dan bersih. Desain sampulnya bagus. Uraiannya mudah dibaca. Dia membaca bukunya dahulu. Aku tahu. Dia tahu di mana harus menyuntingnya. Ini bukan pekerjaan penulis atau editor. Ini pekerjaan desainer buku."

    "Staf Tim Desain kita harus selangkah lebih maju. Mereka sangat santai."

    "Astaga, ini melukai harga diriku. Buku tetaplah buku. Pikirmu ini tak terlalu komersial?"

    "Astaga, kau terlalu..."

    Eun Ho menghentikan Hae Rin seperti cara Presdir Kim dan itu membat keduanya ketawa.


    Eun Ho: Aku tahu kau hanya ingin orang-orang baca buku kita. Semuanya buku yang bagus. Aku juga merasa begitu.


    Si anjing mengganggu Seo Joon saat sedang memeriksa desain barunya, ia ingin jalan-jalan, maka Seo Joon pun bersiap membawanya keluar.



    Dan Yi mencari rumah, ia dapat yang murah, tapi kondisinya buruk banget. 

    "Ada yang pernah tinggal di sini?" Tanya Dan Yi. 

    "Tentu saja. Penyewa sebelumnya memasang tirai tebal karena sinar mataharinya terlalu silau." Jawab Ahjussi pemilik.




    Saat Dan Yi keluar, ia melihat Seo Joon keluar rumah dengan anjingnya. Mereka sama-sama mengenali satu sama lain, Si payung (Seo Joon) dan Si Daun Bawang (Dan Yi).

    Dan Yi menjelaskan kalau ia sedang mencari rumah. Dan Yi menunjuk rumah yang tadi dilihatnya. Seo Joon sepertinya mau mengatakan sesuatu tapi Dan Yi mendahuluinya.

    Dan Yi: Kau pasti tinggal di lantai atas.

    Seo Joon: Tahu dari mana?



    Dan Yi: Aku bisa merasakan energi daun bawang dari sana.

    Seo Joon ketawa.

    Dan Yi: Aku melihatmu keluar setelah lampunya menyala.

    Seo Joon: Mau lihat? Ada di depan pintuku.





    Maka Dan Yi pun tidak menolak. Seo Joon menjelaskan kaau daunya cepat tubuh setelah ia potong bagian hijaunya dan ia sering memakainya untuk memasak. 

    Dan Yi: Senang mendengarnya. Aku bersyukur atas bantuanmu hari itu.

    Seo Joon: Namun, kau mau menyewa studio yang barusan kau lihat?

    Dan Yi: Entahlah. Itu hanya tiga halte dari kantorku. Dan dekat dengan rumah adikku.

    Eun Ho: Jangan di sana. Itu dulu adalah gudang. Tak ada yang tinggal di sana tiga tahun terakhir.

    Dan Yi: Ah.. Pantas saja.


    Dan Yi melihat sekitar dan berkata ingin tinggal disana namun mahal sekali. Seo Joon tanya, memangnya Dan Yi sekarang tinggal dimana? 

    "Di rumah adikku, dekat sini. Aku tinggal di sana karena tak punya rumah. Tapi aku tak mau mengganggunya."



    Tiba-tiba lampunya mati, mereka berdua berlomba meggerakkna tangan untuk menghidupkan lampunya kembali dan itu membuat kedunaya ketawa. 

    Dan Yi ingat soal payung, ia berkata akan mengembalikannya, akan ia letakkan di samping pot dibawah. Seo Joon tersenyum mengiyakan.


    "Siapa nama anjingmu?" Tanya Dan Yi sambil mendekati anjingnya.

    "Dia belum punya nama. Dia kubawa saat kita bertemu."

    Dan Yi lalu bicara pada anjingnya, "Ah.. Kurasa kau belum punya nama. Lain kali akan kupikirkan nama maskulin untukmu."

    Tapi Seo Joon ketawa. Dan Yi pun bertanya, apa anjigya betina? Seo Joon kembali tersenyum.

    0 komentar

    Post a Comment