Wednesday, February 13, 2019

Sinopsis Item Episode 2 Part 2

    Sumber: MBC




    Da In menulis pesan pada lampion yang akan ia terbangkan.

    "Untuk ayah dan ibu. Aku bersenang-senang dengan samchon. Kalian gimana? Aku selalu merindukan kalian. Aku sayang kalian."




    "Da In baik-baik saja, jadi jangan khawatir. Tenanglah di sana."


    So Young kembali ke rumahnya naik taksi. Ia menghela nafas saat akan naik tanga menuju rumahnya di lantai atas.


    Gon menyanyikan lagu untuk Da Il dalam perjalanan pulang. 

    ~ Saat ibu ke laut... ~
    ~ menyelam mencari mutiara ~
    ~ anaknya tertidur sendirian ~
    ~ di pondok di sebuah pulau ~
    ~ Saat mendengar ~
    ~ lagu nina bobo ~



    Da In langsung tidur saat sampai di rumah. 



    Gon melihat foto keluarga mereka, tiba-tiba hujan turun. 

    Kilas Balik...



    Di siang hari yang hujan lebat, Gon mendatangi lokasi kecelakaan diantar mobil polisi, ia masih  menggunakan jubah jaksanya. 


    Kakak Gon mengalami kecelakaan mobil, ditubuhnya tertancap batang besi. Gon syok melihatnya.



    Kakaknya masih hidup, masih bisa menggenggam tangannya. 

    "Kau datang.. Geomsa-nim."

    "Hyeong."

    "Maafkan aku. Aku... merusak hari yang indah ini."

    "Jangan bilang begitu."

    "Gon. Aku minta tolong. Da In putriku..."

    "Jangan bicara apa-apa. Da In baik-baik saja. Dia baik-baik saja dan menunggumu di rumah sakit."

    "Da In... mulai sekarang... tolong rawatlah dia."

    "Hyeong bicara apa? Hyeong yang harus merawatnya."

    "Gon-ah. Aku ngantuk sekali."



    Gon: Aish, jangan bilang begitu! Jangan bilang begitu!

    Gon berteriak pada petuga untuk segera membawa kakaknya ke rumah sakit. Tapi semuanya hanya diam. Dan kakak Gon batuk darah.

    "Hyeong minta maaf, Gon. >Da In... tolong kau rawat dia. Kumohon..."



    Dan kakak Gon pergi. Gon menangis histeris.

    Kilas Balik Selesai.. 



    Dan begitulah cerita bagaimana Gon bisa tinggal dengan Da In. 



    Di rumahnya, di atap, So Young memegang ponsel jadulnya dengan haru.

    "Ibu.. Aku merindukanmu." 

    So Young lalu menyalakan ponselnya, ia membaca kembali pesan-pesan Ibunya.


    "Eomma. Yang kulakukan sekarang.. benar, 'kan?"



    Di hari pindahan, Da In malah memainkan lagu ciptaannya di kamarnya. Di luar, Gon meminta petugas pindahan untuk menunggu sebentar. 

    Gon menunggu sampai Da In menyelesaikan lagunya. 



    Da In menatap gambar di dinding, yang digunakan untuk mengukur tinggi badannya.



    Gon masuk setelah tak terdengar suara piano, "Kita berangkat sekarang?"

    Da In mengangguk. 


    Di dinding, Da In menulis pesan disetiap ia mengukur tingginya.

    "Eomma, Appa. Sekarang aku setinggi ini. Jadi jangan cemaskan aku."

    "Eomma, Appa. Sekarang aku setinggi ini. Jadi jangan cemaskan aku."

    "Di Seoul aku akan jadi anak pemberani bersama samchon. Aku mencintai kalian."




    Se Hwang mendengarkan enjelasan dokter akan kondisi ayahnya. Intinya kondisi ayahnya stabil.

    Se Hwang masuk sendiri, ia bahkan menyuruh perawat keluar, ia akan melakukannya sendiri. 


    Se Hwang menuang urin ayahnya ke wadah yang tersedia. 



    "Abeoji, ini aku. Se Hwang. Ayah baik-baik saja? Maafkan aku. Harusnya aku sering datang membesukmu. Abeoji pasti kesepian tanpa aku."

    Se Hwang menyeka keringat ayahnya sambil berbisik, "Abeoji. Abeoji masih ingat? Saat aku kecil, saat bermain di taman aku sering jatuh. Lalu abeoji membersihkanku saat aku pulang."



    Ayah Se Hwnag kejem banget. Masa musim dingin ia mengguyur Se Hwang di halaman denga air dingin. Se Hwang mohon maaf tapi ayahnya tidak bergeming. 



    "Aku akan terus menjagamu... supaya abeoji tak meninggal. Jadi, seperti sekarang ini teruslahlah jalani hidup dengan buang kotoran. Iya? Karena bagiku itu menyenangkan."



    Di sebuah pertapan, seseorang sedang membaca mantera.  

    Dari benda yang dipegang orang itu keluar cahaya dan tiba-tiba menyambuk punggungnya. Orang itu mengernyit kesakitan dan sepertinya itu bukan yang pertama melihat banyaknya luka cambuk di punggungnya. 


    Tapi orang itu gak menyerah, ia terus membaca mantera untuk mengendalikan cahaya dari benda itu.


    Gon dan Da In sampai di rumah baru mereka di Seoul. 



    Pak Penyidik menghubunginya. Gon bertanya, apa Pak Penyidik sudah menerima hasil analisa sidik jarinya?

    "Oh, iya. Iya. Namanya Go Dae Soo. Alamatnya di Seoul."

    "Di mana alamatnya?"



    Da In mengulurkan penanya, ia paham kalau pamannya butuh itu. 

    Gon menerimanya dengan senyum dan mulai mencatat alamat yang disebutkan Pak Penyidik. 

    "Gangseo-gu, Hwagok-ro, 16 Ga-gil, 27."



    Gon: Oh, dan... Kemarin tuntutan penyuapan Konstruksi Cheonghae sudah kuserahkan ke pengadilan.

    Penyidik: Aigoo, Anda serahkan saja hal itu ke geomsa yang baru.

    Gon: Harus kuselesaikan. Aku minta tolong.

    Penyidik: Iya. Aku mengerti.




    Gon tak sengaja melihat So Young dan dia sama persis dengan wanita yang ia lihat dalam mimpinya, wanita yang meloncat dari gedung. 




    Bedanya hanya di mata. Mata wabita yang digedung seperi ada lapisannya, seperti mata di film-film Zombi. 



    So Young menatap ke atas, Gon juga. Dan Gon langsung menarik So Young menghindar.



    Ternyata ada kardus yang jatuh dari atas. Gon menyelamatkan So Young.

    0 komentar

    Post a Comment