Thursday, February 7, 2019

Siniopsis Babel Episode 2 Part 2

    Sumber: TV Chosun



    Polisi langsung ke TKP untuk menyelidiki mengenai kematian Min Ho. 




    Dokter forensik mengatakan pada Jang Timjang bahwa kematian Min Ho sekitar jam 2 pagi. seki 

    "Korban langsung tewas? Sekali serang?" Tanya Jang Timjang.

    "Ya. Serangannya mematikan. Langsung menikam jantung."




    Jang Timjang melihat ada yang aneh, "Kenapa ada jejak kaki atlet profesional? Pembunuh harusnya panik, kan?"

    "Negara menggajimu untuk memecahkannya. Kau yang digaji." Bentak Dokter forensik.




    Jung Won melihat jenazah Min Ho di ruang mayat. Ia tidak menangis, hanya berkaca-kaca.


    Namun saat keluar, Jung Won hampir saja roboh. Asistennya menahannya.



    Jang Timjang mendekat, ia tahu pasti sangat berat bagi Jung Won, tapi ia harus bertanya untuk penyelidikan.

    Supir Yang menjawab kalau masalah ini akan ditangani Pengacaa mereka. 

    Jang Timjang memaksa, cuma sebentar kok, tapi Seupir Yang tetap tidak mengijinkan.


    Jung Won melangkah melewati Jang Timjang, tapi ia mendadak pingsan. 




    Woo Hyuk mendatangi TKP, ia melihat brankas yang kosong.

    Bawahannya mendekat. Woo Hyuk bertanya, apa isi brankas itu sebelumnya. Bawahannya menjawab itu kosong sejak awal.  



    "Kamera pengawas?" Tanya Woo Hyuk lagi.

    "Di lantai kantor pribadi Ketua Tae tak dipasangi kamera pengawas. Pagi ini dari pukul dua sampai empat pagi seluruh data kamera pengawas dicuri. Kenapa bisa terjadi di gedung berkeamanan ketat?"

    "Yang pertama melaporkan adalah kepala keamanan?"

    "Ya."

    "Sekarang dia di mana?"



    Pak Shin melaporkan pada Nyonya Shin bahwa "dia" kemungkinan dalam pesawat sekarang. Tidak disebutkan "dia" itu siapa. Pak Shin menanyakan keadaan Soo Ho. 

    "Tadi dia bilas lambung. Beberapa jam lagi akan siuman." Jawab Nyonya Shin sambilmenatap Soo Ho yang berbaring di ranjang.

    "Bagaimana ini? Ganti ke rencana kedua?"

    "Tunggu, sampai kuperintahkan, jangan lakukan apapun."



    Soo Ho seperti kejang begitu. Nyonya Shin dan Pak Shin nampak khawatir.



    Jung Won sudah siuman, ia lalu keluar untuk menemui Jang Timjang dan anak buahnya. Hal pertama yang ia katakan adalah bagaimana ia bisa membantu. 

    Jang Timjang: Anda di mana pukul dua pagi ini? Jangan berpikiran aneh. Saya bertanya karena harus.

    Jung Won: Saya di rumah.



    Woo Hyuk mendadak masuk ke mobil Jang Timjang, ia meminta penjelasan, tapi sambil jalan saja karena gak ada waktu.

    Jang Timjang: Kenapa Anda mengerjakan kasus ini?

    Woo Hyuk: Diberi perintah, harus dilaksanakan. Tak ada alasan khusus.

    Jang Timjang: Memangnya kau samsak semua orang?


    Woo Hyuk bertanya, apa Detektif Lee sudah menemukan lokasi kepala keamanan?

    "Ya. Mengenai hal itu, pukul sepuluh pagi ini dia sudah terbang ke Filipina." Jawab Detektif Lee.

    "Kabari INTERPOL agar membantu penyelidikan."

    "Ya."

    Oh.. jadi yang dimaksud "dia" oleh Pak Shin tadi adalah Kepala Keamanan.



    Woo Hyuk lalu menanyakan siapa saksi terakhir. Detektif menjawab Han Jung Won dan memuji kecantikannya. Jang Timjang memukulnya agar sadar.

    Jang Timjang: Tapi sikapnya aneh. Bagaimana mengatakannya? Dia kelihatan sedih, berusaha menahan kesedihannya, tapi kelihatan seperti sandiwara.

    Woo Hyuk: Kenapa?

    Jang Timjang: Dia tak minta kami agar menangkap pelakunya, tapi tanya bagaimana bisa membantu.



    Ricky mendatangi sebuah toko kecil di pinggiran kita. Di ambang pintu ia mendengar suara orang bertengkar. 

    Ia melangkah masuk dan melihat di dalam seorang pria memukuli wanita karena sedang mabuk.




    Ricky mencari senjata dan ia menemukan palu, tapi wanita itu keluar saat ia akan masuk. 

    "Minggir!" Kata Ricky.

    "Kau mau apa?"

    "Minggir."

    "Kenapa? Melihatku hidup seperti ini, hatimu sakit?"

    "Aku akan membunuhnya!"

    "Aku tak tahu pendapatmu, tapi aku bersyukur padanya. Dia menikahkan dua anak yang bukan anak kandungnya. Membesarkan mereka dengan baik... Mereka bahkan tak berhubungan darah."



    Sontak Ricky melepaskan palu yang dipegangnya. Wanita itu tiba-tiba mengambil kunci dibalik jam dinding dan memberikannya pada Ricky.

    "Bawa ini. Aku tahu kau datang karena ini."

    "Young Shin-ah."

    "Pergi."

    Ricky pun melangkah pergi.



    Dan setelah mobil Ricky menjauh, Young Shin melihat ada tas yang ditinggalkan di bangku luar. Ia membukanya, isisnya uang.




    Ricky mendatangi tempat penyimpanan abu. Ia memberi hormat sebelum membukanya. Disana tertulis nama Park Mi Ja.

    Ricky mengambil sesuatu yang dibungkus kain bernida darah dari dalam guci. Pisau kah?






    Woo Hyuk, Jang Timjang dan Detektif Lee mendatangi Dokter Forensik. Jang Timjang dan Detektif Lee heran, siapa mayat itu? Dimana Min Ho?

    Woo Hyuk: Dia kapten helikopter?

    Dokter: Sudah kuduga, Jaksa Cha.

    Jang Timjang: Kenapa tiba-tiba menunjukkan ini?

    Dokter: Penyebab kematian syok alergi. Lebih tepatnya, syok anafilaktik.

    Jang Timjang: Siapa?

    Dokter: Siapa bagaimana? Kapten helikopter tentunya.

    Woo Hyuk: Trauma atau tenggelam?

    Dokter: Tidak. Sebelum helikopter jatuh, kapten sudah tewas akibat serangan jantung.

    Detektif Lee: Maksudmu syok alergi menyebabkan kecelakaan?

    Dokter: Ya.

    Woo Hyuk: Sebelum terbang, apa dia makan sesuatu yang dapat memicu syok?

    Dokter: Anehnya tak ada pertanda dia makan sebelum kecelakaan.

    Jang Timjang: Lalu kenapa mengalami syok?

    Dokter: Kalian kupanggil untuk mencari jawabannya!




    Saatnya makan siang. Jang Timjang mengatakan kalau hasil autopsi Tae Min Ho akan keluar besok.

    Woo Hyuk: Detektif Lee, periksa semua temuan dari kecelakaan helikopter.

    Detektif Lee: Baik. Tapi itu apa kaitannya dengan kematian Tae Min Ho?

    Jang Timjang: Intuisimu payah... Ayahnya hampir tewas dalam kecelakaan helikopter. Keesokan harinya anaknya tewas ditikam. Kelihatannya mencurigakan. Bukan begitu, Jaksa Cha?

    Woo Hyuk: Jang Timjang, selidiki pergerakan Tae Min Ho kemarin aku ingin lihat rekaman kamera pengawasnya.

    Jang Timjang: Baik.


    Min Ho datang ke rumah kediaman keluarga Tae.



    Sementara itu, Jang Timjang melihat rekaman CCTV di parkiran saat Min Ho menarik Jung Won ke titik buta.

    Jang Timjang merasa ada yang aneh, ia langsung meminta salinannya. 



    Nyonya Shin meminta maaf pada Woo Hyuk karena terus menyusahkannya. 

    "Tak perlu." Jawab Woo Hyuk.

    "Apa sudah ada informasi?"

    "Belum ada yang menjanjikan. Kita bisa mendapat informasi lebih detail setelah hasil autopsinya keluar."



    Woo Hyuk memulai penyidikan, ia menanyakan pertanyaan rutin. Pertama untuk Nyonya Shin, apa Nyonya Shin merasa ada yang aneh dengan Min Ho? 

    "Sama sekali tak ada." Jawab Nyonya Shin sambil menggeleng. 

    "Kalian juga sama?"


    Soo Ho, Young EUn dan Yoo Ra hanya diam. Woo Hyuk memberikan contoj, misalnya Min Ho diancam oleh seseorang.

    Soo Ho berdecak, "Baj* itu yang mengancam, bukan tipe yang diancam."

    Nyonya Shin: Jangan bicara yang tak perlu. Kami tak tahu apa-apa. Bertahun-tahun Min Ho tinggal di bangunan terpisah. Mungkin kau bisa cepat mendapat jawaban dari istrinya.

    Woo Hyuk: Baik.





    Young Eun buka suara. Ia mengatakan kalau Min Ho dan Jung Won sebenarnya tidak akur. 

    Yoo Ra kesal, "Kenapa mengatakan itu?"

    "Bukannya di saat seperti ini apapun bisa membantu? Malam itu dia juga mencurigakan, pulang terlambat hampir fajar."

    "Sekitar pukul berapa?" Tanya Woo Hyuk. 

    "Waktu itu... Pukul empat pagi."


    Soo Ho: Pukul empat? Kenapa baru bilang sekarang?

    Young Eun: Apa ada yang tanya?

    Soo Ho: Apa yang dikerjakannya sampai sepagi itu? Kelihatannya mencurigakan.

    Yoo Ra: Oppa!

    Soo Ho: Aku... Begitu kubuka mulutku, kau langsung... (Soo Ho mulai main tangan, cuma mengayunkan doang sih)



    Yoo Ra mengantar Woo Hyuk keluar, ia tahu tadi pasti membuat Woo Hyuk canggung. Woo Hyuk bilang tidak apa-apa. 

    Woo Hyuk: Tae Min Ho-ssi dan istrinya, hubungan mereka tak akur?

    Yoo Ra: Tak usah pedulikan kata-kata Yeong Eun. Karena hanya Min Ho dan istrinya, pasangan normal di keluargaku. Saat ini yang paling menderita adalah Jung Won. Kecelakaan helikopter dan kasus Min Ho saling terkait, kan?

    Woo Hyuk: Kami masih menyelidikinya.

    Yoo Ra: Min Ho tewas sehari setelah kecelakaan. Mustahil hanya kebetulan.

    Woo Hyuk: Kami menyelidiki setiap kemungkinan. Jangan terlalu cepat menyimpulkan.

    Yoo Ra: Tak ada yang dapat kulakukan. Aku merasa tak tenang karena kami membuatmu menanggung semua  beban berat sendirian. Maaf.

    Woo hyuk: Ini pekerjaanku. Tak perlu merasa tak tenang.

    Yoo Ra: Terima kasih. Apa pun yang kau butuhkan, katakan saja.

    Woo Hyuk: Baik.


    Jang Timjang menghubungi Woo Hyuk, kemungkinan mengenai rekaman itu, ia meminta Woo Hyuk melihatnya.




    Jang Timjang menunjukkan rekaman Min Ho menarik Jung WOn ke titik buta. 

    Jang Timjang: Kurang pas, tapi area itu titik buta kamera pengawas.

    Mereka melihat sampai Jung Won dan Min Ho kembali ke mobil masing-masing.


    Woo Hyuk menyuruh Jang Timjang mengambil rekaman kotak hitam mobil putih di depan titik buta itu serta menyelidiki dimana Jung Won. 



    Dan setelah mendapatkan rekaman kotak hitam itu, Jung Won dijemput untuk diinterogasi. 



    Jang Timjang menawarkan diri untuk menginterogasi Jung Won, tapiMin Ho menolaknya, ia yang akan melakukannya sendiri. 




    Setelah berhadapan dengan Jung Won, Woo Hyuk berkata tak perlu memperkenalkan diri karena mereka sudah pernah bertemu. 

    Woo Hyuk: Bisa kau ceritakan kejadian dengan Tae Min Ho kemarin?

    Jung Won: Bukankah kau sudah tahu semuanya?

    Woo Hyuk: Sepertinya ada sesuatu yang tak kuketahui.




    Woo Hyuk menunjukkan rekaman kamera kotak hitam mobil yang menampilkan penganiayaan Min Ho terhadap Jung Won.

    Jung WOn tampak terkejut melihatnya. 

    "Kenapa Tae Min Ho-ssi... menganiayamu?"

    "Dia bukan tipe orang yang butuh alasan untuk memukul."

    "Kenapa kau tak berusaha mencari bantuan orang di sekitarmu?"

    "Karena aku tak keberatan... hanya aku yang terluka."

    0 komentar

    Post a Comment