Monday, January 7, 2019

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 12 Part 1

    Sumber: tvN



    Nenek menunggu Hee Joo pulang sambil nonton TV, tapi ia ketiduran, tapi terbangun saat Hee Joo datang. 

    "Astaga, kenapa lama sekali? Katamu akan pulang beberapa jam lalu."

    "Kubilang Nenek tidur saja."

    "Kami menunggu berjam-jam untuk memotong keik ulang tahunmu. Min Joo menyerah lalu tidur. Kau bersama siapa?"

    "Hanya teman-temanku."

    "Teman yang mana? Bahkan Sang Beom tadi mencarimu."

    "Teman-teman sekolahku. Sang Beom Oppa tak kenal mereka."

    Nenek baru menyadari kalau Hee Joo basah kuyup, tadi kehujanan ya? Nenek makin heran habis dari mana Hee Joo hingga kehujanan begitu. Hee Joo menyuruh nenek tidur saja.


    Nenek tanya lagi, bagaimana dengan kuenya Hee Joo. Hee Joo bilang besok pagi saja motongnya karena Min Joo juga udah tidur. Nenek pun memasukkan kuenya ke dalam kulkas.


    Sebelum mandi, Hee Joo mengirim pesan untuk Jin Woo, "Kabari jika sudah tiba di hotel."

    Tapi setelah ia selesai mandi belum juga ada balasan dari Jin Woo, Hee Joo terus menunggu, sampai ia pun harus mengirim pesan lagi

    "Kau sudah sampai di hotel? Kau sudah tidur?"



    Masih tidak ada balasan lag. Hee Joo sampai mengantuk menunggu, sudah satu jam.

    Akhirnya Hee Joo menelfon, tapi tidak ada jawaban, ponsel Jin Woo ada di hotel.


    Hee Joo tidak bisa diam, ia menyambar cardigan dan kunci mobilnya lalu berlari keluar.




    Tapi.. Mobil Jin Woo masih ada disana. Hee Joo pun mendekat. Jin WOo bertanya, kenapa keluar? Mau kemana selarut ini?

    "Hotelmu. Aku tak bisa menghubungimu, jadi, aku ingin periksa. Sedang apa di sini?"

    "Hanya bersantai."

    "Apa maksudmu?"

    "Aku hanya bersantai di sini."

    "Kukira kau sudah lama pergi."

    "Aku tak ingin kembali sendirian. Aku tak ingin kembali ke hotel malam ini."

    "Karena itu kau kemari? Seharusnya telepon aku."

    "Aku pergi."

    "Tidur di sini."

    "Apa katamu?"

    "Tidur di sini saja. Kau bisa tidur di bengkel."

    "Menurutmu ini tak terlalu cepat? Hubungan kita baru beberapa jam."

    "Aku cemas, tak bisa biarkan kau pergi sendiri."

    "Apa aku anak-anak?"

    "Lebih mudah jika begitu. Aku bisa menghukummu."

    "Masuklah. Kau sudah keluar, jadi, mari bersantai 10 menit. Di sini dingin. Masuk ke mobil."



    Hee Joo memang masuk ke dalam mobil, tai ia duduk di belakang. Tujuannya cuma mengambil kunci mobil Jin Woo, lalu keluar lagi. Jin Woo nya bingung, ada apa?

    "Jangan pergi sendirian. Jika kau pergi seperti ini, aku tak akan bisa tidur. Dengarkan aku. Kau mentraktir murah dan tak memberiku hadiah ulang tahun, jadi, setidaknya dengarkan aku jika kau punya hati."



    Hee Joo gak bisa tidur, ia memutuskan keluar menuju bengkel gitarnya.



    Ternyata Jin Woo ada disana dan sama seperti Hee Joo, ia juga tidak bisa tidur. Jin Woo pun menyuruh Hee Joo masuk.

    Hee Joo duduk disamping Jin Woo, ia tahu pasti sofanya gak nyaman.  

    "Ya, benar."

    "Ini terlalu keras."

    "Di sini juga agak berdebu."

    "Semua ini dari amplas kayu."

    "Tenggorokanku sudah sakit."

    "Maaf jika tak nyaman di sini."

    "Lebih nyaman tidur di dalam mobil. Kau harus ambil kunci mobilku agar aku tidur di sini? Menjadi pacarmu agak merepotkan."



    Hee Joo cemberut dan Jin Woo masih sempetnya nanya, marah ya?

    "Tak bisakah bilang ini tak apa dan kau nyaman di sini? Haruskah bilang yang tadi?"

    "Tenggorokanku sakit dan punggungku nyeri tapi aku tak beranjak dari sofa karena aku pacarmu. Bukankah itu yang penting?"

    "Daepyonim. Harus kukatakan, kau sangat aneh."

    "Kubilang aku bukan Daepyo lagi. Panggil yang lain saja."

    "Seperti apa?"

    "Apa saja boleh."



    Hee Joo memutuskan memanggil Jin Woo "Ahjussi". Menurutnya panggilan itu sempurna untuk Jin Woo yang sudah tua. 

    "Kurasa kau suka. Aku panggil "Ahjussi" mulai sekarang."

    "Baru beberapa jam dan kau sudah ingin kendali. Astaga, aku mencemaskan masa depanku."

    "Aku tak terpikir yang lainnya. Mungkin "Daepyonim" yang terbaik."

    Hee Joo lalu menawari teh. Jin Woo senang hati menerimanya, ia sulit tidur karena sudah tak minum. Hee Joo permisi sebentar untuk membuatnya.





    Tapi ia kembali lagi sesaat setelah keluar dari pintu.

    "Omong-omong, tak peduli berapa kali memikirkannya, kurasa Direktur Park benar. Akan baik untukmu ke luar negeri sementara."

    "Aku tak akan pergi."

    "Bagaimana jika kau terbang besok dan pergi saja?"

    "Aku tak mau."

    "Tapi entah apa yang akan terjadi kepadamu."

    "Aku tak akan pergi, apa pun yang terjadi."

    Hee Joo pun tak memaksa lagi.




    Saat menuang teh, Min Joo memergokinya. Min Joo heran karena ada dua cangkir? Hee Joo lari untuk memeriksa tapi Hee Joo segera menariknya dan memastikannya untuk diam karena takut Nenek bangun.

    "Ahjussi, 'kan?"

    Hee Joo tidak mengelaknya. Min Joo tak percaya tebakannya benar, ia senang bukan main. Lalu Hee Joo membawanya naik ke lantai dua.


    Ditinggal sendirian, Jin Woo memikirkan penjelasan Sun Ho tadi.



    Lalu tiba-tiba Hyeong Seok muncul lagi beserta suara alunan gitar dan petir. 

    Jin Woo makin ingat kata-kata Sun Ho.

    "Aku sungguh tak ingin melihat nama temanku di berita sebagai tersangka pembunuhan temanku yang lain. Inikah sebab kita dirikan perusahaan?"



    Berita dibukanya kembali kasus kematian Hyeong Seok menjadi trending dan tentu saja, nama Jin Woo dibawa-bawa dalam kasus ini. 

    Sekretaris Sun Ho masuk, mengatakan kalau mobil sudah siap. 


    Setelah ditampar ayahnya sendiri di depan Jin Woo dan Sun Ho serta diusir, Hyeng Seok kesal, ia bahkan mencopot dasinya dengan kasar di lobi.




    Hyeong Seok langsung mendatangi Su Jin di rumah sakit. Hyeong Seok melamar Su Jin, ia memberikan cincin dan mengajak Su Jin menikah dengannya.

    "Sampai kapan kita rahasiakan ini?"

    "Ini terlalu mendadak."

    "Kenapa ini mendadak?"

    "Baru satu bulan."

    "Satu bulan? Kita sudah bersama 6 bulan lebih."

    "Baru sebulan sejak aku bercerai."

    "Lalu kenapa? Itu penting? Ah.. Kau tak mau orang menjelekkanmu? Atau kau cemas menyakiti Jin Woo? Lalu kenapa kau bercerai?"



    Su Jin: Kukira kau lebih memilihku. Tolong jangan buru-buru. Ada apa denganmu? Mari berpisah sementara.

    Hyeong Seok: Untuk apa?

    Su Jin: Aku merasa.. sangat bingung. Aku tak tahu apa yang kuinginkan.

    Hyeong Seok: Kau menyesal?

    Su Jin: Bukan itu maksudku. Aku butuh waktu untuk merenung.

    Hyeong Seok: Kau ingin kembali dengannya? Aku akan kehilangan semuanya... huh? Berani kau mundur sekarang?

    Su Jin: Kenapa katakan itu? Apa masalahmu hari ini?

    Kebetulan Hyeong Seok mendapat telfon, Su Jin menyuruh Hyeong Seok mengangkat telfonnya untuk menghindari percakapan ini.




    Jin Woo lah yang menelfon, mengajak Hyeong Seok minum. 

    "Kenapa? Kau mengajakku minum karena iba melihatku ditampar dan digulingkan ayahku sendiri?"

    "Mari bicara langsung."

    "Aku tak bisa sekarang. Aku sibuk."

    "Di mana kau? Kami akan menjemputmu."

    "Aku sedang kencan. Dengan calon istriku."

    "Calon istrimu? Kau pacaran dengan seseorang? Siapa?"

    "Ya, aku dengan seseorang. Namanya Lee Su Jin. Dia seorang dokter anak. Dia di sini sekarang. Kau ingin menyapa? Ah.. Kalian sudah saling kenal?"



    Jin Woo: Apa katamu barusan?

    Hyeong Seok keluar dari ruangan Su Jin sebelum menjawabnya.

    Hyeong Seok: Kau ingin mendengarnya lagi? Aku akan menikahi Su Jin. Kau memperdaya ayahku agar bisa menjatuhkanku, dan aku menggoda istrimu. Menurutku kita impas. Waktu akan menjawab siapa yang lebih sukses. Jin Woo-ya. Kalian berdua bisa minum tanpaku.

    Dan telfon terputus.



    Sun Ho bertanya, Hyeong Seok mau menikah? Dengan siapa? Jin WOo diam saja.



    Su Jin keluar setelah Hyeong Seok selesai menelfon. Ia marah, apa Hyeong Seok sudah hilang akal? Apa barusan itu?

    "Kau masih mau kembali kepada Yoo Jin Woo? Sial. Dia tak akan menerimamu lagi."

    Hyeong Seok menyeringai.

    0 komentar

    Post a Comment