Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 12 Part 3

Sumber: tvN



Dalam perjalanan, Hee Joo bertanya, kenapa Jin Woo malah mengajaknya keluar, tidak ada rapat dengan pengacara emang?

"Kenapa repot? Ini hanya penyelidikan tak berarti. Rumor itu tak benar."

"Tapi bukankah kau seharusnya bersiap?"

"Aku persiapkan sebisaku."




Ada razia, tapi Jin Woo malah masuk secara otomatis kedalam game. 

Jin Woo tegang, sampai ia tidak sadar harus maju. Hee Joo menyadarkannya.




Polisi meminta Jin Woo menunjukkan SIM dan KTP. Sialnya, saat Jin Woo membuka dompet, ia mendapat peringatan kalau musuhnya terlihat. 

Ada suara tembakan, Jin Woo berhasil menghindar, tapi itu membuat Hee Joo dan polisinya heran. Jin Woo mencari-caei asal penembaknya, tidak ketemu, ia malah tertembak. 



Jin Woo pun tidak bisa diam, ia harus melarikan diri dari sana. Polisi tidak bisa membiarkan Jin WOo pergi, mereka mengejar. Hee Joo panik, ada apa? Mau kemana mereka?

Jin Woo diam saja, ia fokus mengemudi sambil menahan sakitnya luka tembakan dibahunya.


Ada suara tembakan lagi, kali ini menembus kaca depan. Jin Woo makin panik. Hee Joo juga sama, bedanya panik karena suara sirine polisi yang mengejar mereka.



Hee Joo menyuruh Jin Woo menghentikan mobil, tapi Jin Woo malah memacu mobilnya lebih cepat. 

"Hentikan mobilnya! Kumohon!"


Ada tembakan lagi dan itu membuat Jin Woo hampir kehilangan kendali, untungnya mobilnya cuma memutar, tidak terjadi kecelakaan, tapi mobil polisi mengepung mereka.





Server diputus, Jin Woo bisa bernafas lega. Tapi Hee Joo?

Jin Woo menoleh pada Hee Joo dan ia melihat kepala Hee Joo tersender di pintu. Jin Woo memastikan, Tidak terkuka kan? Baik-baik saja kan?

"Aku tak apa. Kenapa melakukannya?" Tanya Hee Joo.


Jin Woo hanya menghela nafas. Di luar, polisi menyuruh Jin Woo keluar. 



Jin Woo menghubungi Yang Ju, bertanya apa benar Yang Ju membuka servernya? Yang Ju membenarkan tai hanya sebentar, bagaimana Jin Woo bisa tahu?

"Tapi kau tak tahu apa boleh dibuka." Lanjut Jin Woo.

"Ya, kami membukanya untuk menguji. Bagaimana Anda bisa tahu?" Yang Ju mengulang pertanyaannya karena belum mendapat jawaban.



Sementara itu, Hee Joo yang bicara pada polisi. Polisi mengecek semuanya, lengkap dan Jin Woo pun tidak minum, tapi kenapa lari? 

"Maaf, dia keliru soal sesuatu."

"Astaga, orang yang aneh."

Polisi yang satunya mengenali Jin Woo dan ia tahu kondisi Jin Woo dari berita, mereka sadar, jadi membiarkan Hee Joo dan Jin Woo perg. Mereka menyarankan Hee Joo untuk mengemudi, Hee Joo mengerti.




Hee Joo selesai bicara dengan polisi dan Jin Woo selesai bicara dengan Yang Ju. Hee Joo lalu meminta kunci mobil, ia yang akan mengemudi sesuai perintah polisi. Jin Woo yang awalnya menolak pun memberikannya karena polisi masih mengawasi mereka.



Hee Joo merasa Jin Woo sungguh sakit setelah melihat kejadian tadi.

"Kau salah." Kata Jin Woo. 

"Kau yakin? Apa di sini mirip Granada?"

"Tidak."

Hee Joo pun diam. 



Mereka sampai di tempat makan dan Jin WOo sibuk memilih menu. Hee Joo masih memikirkan sebaiknya Jin Woo di rumah saja. 

"Investigasinya tak akan berguna." Sela Jin Woo. 

"Kau tetap butuh rencana..."

"Aku punya rencana."

"Sungguh?"

"Tentu saja. Aku hanya tak mau memainkan kartu itu."

"Kenapa tak mau?"



Jin Woo memandang Hee Joo, "Karena akan menghancurkan hatiku."

"Apa itu?"

Jin Woo hanya tersenyum dan kembali sibuk memilih menu. 


Min Joo menghubungi Hee Joo. Hee Joo menduga kalau Min Joo mungkin ingin meminta uang saku. 

"Dia tahu?" Tanya Jin Woo.

"Dia sudah tahu bahkan sebelum diberi tahu."



Hee Joo baru mengangkatnya dan ternyata Min Joo menangis sambil menanyakan keberadan Hee Joo. Hee Joo terkejut, kenapa menangis?

"Nenek tak sadarkan diri."

"Apa? Kenapa?"

"Sang Beom Oppa kemari dan memberitahunya Se Joo menghilang. Dia memberi tahu semua E-mailnya bohong. Nenek mendengarnya dan tiba-tiba pingsan. Dia cepat... memanggil paramedis."

"Dibawa ke rumah sakit mana?"



Jin Woo ikutan khawatir, ia bertanya pada He Joo apa yang terjadi. 


Mereka gak jadi makan pastinya. Jin Woo mengantar Jin Woo ke rumah sakit. Hee Joo menghubungi Sang Beom, mengatakan kalau ia dalam perjalanan, hampir sampai.



Setelahnya, ia mengatakan pada Jin Woo kalau nenek sudah mulai sadar. Jin Woo lega mendengarnya. Hee Joo menjelaskan kalau tekanan darah Nenek selalu tinggi.


Hee Joo menahan tangisnya dan Jin Woo menyadari itu. 




Hee Joo sampai, Sang Beom meyambutnya. Hee Joo menatap Sang Beom dengan kesal. Sang Beom mengatakan kalau nenek tidak apa-apa, tidak perlu khawatir.

"Berani sekali kau membocorkannya. Kau pikir siapa dirimu? Ini urusan keluarga kami..."

"Kau tak bisa sembunyikan selamanya. Tak ada pilihan."

"Aku sedang mencarinya. Aku juga mencarinya di Spanyol."

"Nenekmu juga keluarganya. Seharusnya dia tahu kabar cucunya."

"Itu terserah aku. Aku akan beri tahu di saat yang tepat. Siapa kau berani bertindak?"





Jin Woo melihat mereka dari jarak yang cukup untuk bisa mendengar percakapan mereka.

Sang Beom: Siapa kau hingga bisa memutuskan? Kau tak berpikir jernih. Kau tak tahu mereka semua tewas? Semua yang terkait Jin Woo tewas. Teman dan sekretarisnya tewas. Siapa tahu yang bisa dilakukannya dengan Se Joo? Alih-alih mencarinya, dia bisa saja menutupi jejak Se Joo. Dia bisa saja melukai Se Joo hanya agar teken kontrak! Dia orang yang paling kucurigai. Kau tahu tak ada yang percaya kepadanya? Bahkan polisi menyelidikinya. Tapi kau tetap saja memercayainya dan mencemaskannya. Itu absurd. Siapa dia? 

Hee Joo: Pergi. Aku tak ingin membicarakannya.



Sang Seom: Hei. Apa aku berbuat salah?

Sang Beom: Bukan karena aku tak tahu cara bicara. Aku diam karena tahu akan begini. Kau lebih peduli pada Nenek daripada aku? Kau peduli pada Se Joo? Kau tahu yang baru kau lakukan kepadaku? Tolong pergi.

Hee Joo meninggalkan Sang Beom untuk menemui neneknya di kamar.



Sang Beom berpapasan dengan Jin Woo. Jin Woo tidak ingin bertengkar sekarang, ia menyuruh Sang Beom terus jalan saja.



Nenek akhirnya membuka mata. Hee Joo memasang wajah gembira, Sudah baikan? Nenek mengangguk.  

"Hee Joo-ya. Nenek mendengar.. hal yang mustahil. Apa itu benar?

"Jangan cemas. Aku yakin Se Joo baik-baik saja. Kita akan menemukannya."

"Bagaimana... Nenek tak tahu selama setahun? Kenapa kau tak memberi tahu nenek?"

"Aku sendiri juga baru tahu."

"Kenapa ini bisa terjadi? Mungkinkah dia sudah mati? Dia belum muncul selama setahun. Artinya dia sudah mati."

"Nenek, kita belum tahu itu. Kita bisa menemukannya. Aku sedang mencarinya."

Nenek menangis tergugu, Hee Joo menenangkannya.



Setelah nenek tenang, Hee Joo menghubungi Min Joo, mengatakan kondisi nenek baik-baik saja dan menyuruh Min Joo tidur karena besok harus sekolah.

"Kau tak apa sendiri?" Tanya Hee Joo. 

"Tapi aku takut."

"Kau tak akan takut setelah mengunci pintu. Aku pulang besok pagi. Tidurlah."

Jin Woo mendengar percakapan mereka. 



Hee Joo daritadi baru melihat Jin Woo, ia tanya, habis dari mana? Jin WOo tadi menemui teman dokternya, ia meminta temannya itu untuk merawat Nenek dengan baik. Temannya itu Dokter Handal.

"Bagaimana keadaannya?" Tanya Jin Woo. 

"Dia tak apa-apa, tapi dokter ingin dia menginap untuk observasi."

"Apa ada yang bisa kulakukan?"

"Pergilah. Tak ada yang bisa kau lakukan di sini. Semoga berhasil besok."

Petugas memanggil Hee Joo untuk urusan administrasi. Hee Joo kembali menyuruh Jin Woo pergi, semantara ia mengikuti petugas yang memanggilnya.



Di rumah, Min Joo takut sendirian, ia menonton TV sambil menangis. Lalu ia mendengar suara bel pintu. 

Min Joo mengecek, siapa?



Lalu ia keluar untuk menemui tamunya yang ternyata adalah Jin Woo. Jin WOo datang karena tahu Min Joo butuh teman. 




Min Joo membawakan selimut dan bantal untuk Jin Woo yang akan bermalam di sofa ruang depan. Jin Woo bilang tidak membutuhkannya tapi Min Joo memaksa karena disana dingin, jadi Jin Woo harus memakainya.

"Pukul berapa kau harus bangun?" Tanya Jin Woo.

"Pukul 06.30."

"Sudah tengah malam, tidurlah. Aku akan membangunkanmu."

"Baik. Selamat malam."

"Selamat malam."



Min Joo sudah akan naik tangga tapi balik lagi, ia menanyakan Oppa-nya, apa sudah meninggal? Apa dia... sungguh meninggal?

Jin Woo diam saja, Min Joo juga tidak mengharapkan jawaban, ia langsung naik setelah menanyakannya.



Jin Woo berbaring d sofa sambil memandangi foto Se Joo. 



Hee Joo pulang pagi seperti janjinya pada Min Joo dan ia melihat ada mobil Jin Woo di depan. Hee Joo buru-buru masuk.




Di dalam, Hee Joo mendapati Jin Woo ada di dapur sambi memegang cangkir. Hee Joo nanya, ngapain di rumahnya?

"Aku menginap. Kukira Min Joo pasti ketakutan. Aku tidur di sofa. Jauh lebih nyaman."

"Min Joo sudah besar. Ini tak perlu."

"Bagaimana Nenek?"

"Dia tak apa-apa. Tapi apa yang kau lakukan?"

"Aku hanya bisa buat roti bakar. Tak bisa biarkan dia berangkat dan lapar."



Sambil mengambil susu di kulkas, Jin Woo mengeluhkan Min Joo yang susah banget dibanguninnya, pasti Hee Joo selama ini berat banget menjalani paginya.

Hee Joo hanya menatap Jin Woo, tidak mengatakan apapun. Jin Woo heran, kenapa? 

"Hanya terasa sangat aneh. Seperti bukan dirimu saja merawat orang lain."

"Kau paham yang kurasakan. Kau lapar? Aku bisa buatkan lagi."

"Tentu."

"Duduklah. Mau kopi? Americano atau latte?"

"Latte, dengan ekstra kopi."




Hee Joo khawatir, apa tak apa jika Jin Woo di rumahnya? Bukannya Jin WOo dipanggil interogasi hari ini?

"Sudah kukatakan, aku punya rencana." Jawab Jin Woo sambil membuat kopi. "Aku merasa tak boleh mundur lagi."

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 12 Part 3"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: