Sunday, January 13, 2019

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 13 Part 1

    Sumber: tvN



    Kilas Balik.. Siangnya sebelum Jin Woo ketemu Hee Joo.

    Yang Ju diminta Jin Woo bertemu di luar, tapi Yang Ju cemas banget dan terus melihat selitar. Jin Woo menyadari itu, ia tanya, kenapa? Gak boleh ketemu dengannya ya?

    "Ini terlalu dekat kantor."

    "Kau akan diawasi jika kita terlihat bersama? Itu yang terjadi saat ini?"

    "Bukan begitu. Aku hanya waspada. Kenapa Anda kemari?"



    Jin Woo ingin minta bantuan, buatkan senjata baru, juga butuh item, pokoknya apapun yang bisa Yang Ju beri. 

    "Untuk apa? Servernya masih dimatikan."

    "Kau akan menyalakannya untuk pameran."

    "Anda ingin bermain dalam situasi begini? Anda tak sibuk rapat dengan pengacaramu? Anda masuk di semua berita."

    "Kapan akan siap?"



    "Daepyonim. Aku tak ada waktu kerjakan hal lain karena pameran. Dan jika Anda kuberi akses untuk bermain, aku dipecat. Juga, Direktur Park... Maksudku, Park Daepyonim. Dia membuatku takut. Dia sangat histeris."

    "Tak bisa lakukan ini demi persahabatan? Ini masalah hidup dan mati bagiku."

    "Astaga, yang benar saja. Bagaimana bisa? Jangan berlebihan."

    "Aku tak berlebihan. Aku sungguh tak ingin mati."

    "Astaga."

    Akhirnya Yang Ju bilang akan mencoba membuatkan seseuatu, tapi Jin Woo harus bertanggungjawab jika ia dipecat. Jin Woo haru membuat perusahaan baru dan jadikan ia direktur eksekutif.

    "Tentu. Jika aku berhasil hidup."


    Hee Joo menelfon, Jin Woo mengangkatnya dan bilang akan menelfon lagi nanti. Jin Woo lalu menutup telfonnya dan meletakkannya kembali di meja. Yang Ju melihat layarnya, membaca nama Jung Hee Joo.



    Yang Ju pun bertanya, apa hubungan Jin Woo dengan Hee Joo? Hee Joo bahakan sendirian di kamar hotel Jin WOo waktu itu, apa mereka pacaran?

    "Apa harus kujawab?"



    Yang Ju menunjukkan wajah kekecewaan. Jin Woo heran, kenapa? Ynag Ju menjelaskan, Emma adalah karakter favoritnya.

    "Lalu?" Heran Jin Woo.

    "Melihat Emma satu-satunya hal yang mencerahkan hariku."

    "Lalu kenapa? Apa aku berutang maaf? Kau masih belum menghapusnya? Aku sudah bilang hapus."

    Yang Ju gak menjawab, ia hanya terus makan. 



    Usai makan, Yang Ju terus saja menghela nafas. Jin Woo berkomentar, Yang Ju beneran bakalan disangka orang sudah dicampakkan. 

    "Aku merasa ada lubang besar di hatiku."

    "Kau harus kembali bekerja. Nanti kuhubungi." Kata Jin Woo sambil memberikan bungkusan sandwich untuk dibagikan dengan yang lain. "Semua baik-baik saja?"

    "Ya, semua baik-baik saja. Kami selalu membicarakanmu."

    "Aku pergi."



    Yang Ju kelupaan sesuatu, ia lupa memberitahukan kalau fungsi istimewa diprogram ke dalam Emma.

    Kilas Balik..



    Yang Ju bicara dengan Emma pagi ini, menyapa selamat pagi. 

    "Kau terlihat menakjubkan hari ini." Sanjung Yang Ju.

    "Terima kasih. Kau juga tampak luar biasa." Balas Emma.

    Dan secara otomatis Yang Ju mendapat pemulihan poin. 

    "Kukira dia hanya memulihkanmu jika diajak bicara."



    Lalu muncullah dua karyawan yang sedang bermain, mereka saling menyerang. Yang Ju membentak mereka, menyuruhnya main diluar. 




    Mata Emma menyala dan tibatiba pedang kedua karyawan itu tiba-tiba menghilang. Mereka menuduh Yang Ju telah melakukan sesuatu. 

    Game memberi peringatan kalau disana zona bebas duel, jadi duel mereka dibatalkan. 



    Saat itulah Yang Ju menyadari sesuatu, ia langsung menatap Emma.



    Yang Ju: Namun, duel tak bisa berlangsung dalam radius 20 meter di dekat Emma. Semua senjata menghilang. Kafe Alcazaba tempat pemain berkumpul. Emma di sana untuk menjaga perdamaian. Di sana duel tak bisa berlangsung. Masuk akal. Katamu Hee Joo-ssi kakaknya. Dia pasti banyak memikirkannya karena dia modelnya. Tampaknya Emma adalah simbol perdamaian.


    Kembali saat Jin Woo ketemu Hee Joo, di mobil, Jin Woo menanyakan apa hubungan Emma dengan Alcazaba?

    "Alcazaba? Maksudmu Alcazaba di Alhambra?" Tanya Hee Joo.

    "Kafe Alcazaba. Churros mereka terkenal."

    "Maksudmu kafe itu? Tentu saja."




    Hee Joo di ALzazaba bekerja sebagai pelayan, ia juga bermain gitar disana. 

    "Aku bekerja paruh waktu di sana sebelum berganti pemilik. Pemiliknya dekat denganku. Kadang aku bermain gitar malam hari di sana. Itu sebelum aku menyerah bermain gitar."



    Hee Joo balik nanya, kenapa Jin Woo menanyakan Kafe Alcazaba?

    "Se Joo juga pasti tahu."

    "Tentu saja dia tahu. Dia biasanya mampir untuk minta uang saku. Kenapa?"

    "Hanya penasaran."

    "Kenapa kau keluar? Kau tak ada rapat dengan pengacaramu?"

    "Kenapa repot? Ini hanya penyelidikan tak berarti. Rumor itu tak benar."

    "Tapi bukankah kau seharusnya bersiap?"

    "Aku persiapkan sebisaku."


    Nah, Jin Woo mulai berpikir, saat ia sampai pertama kali ke kafe Alcazaba

    "Kafe Alcazaba. Sejak awal, aku bisa menebak erornya mungkin dimulai di sini. Tempat ada hujan dan petir tiap hari.."



    "...dan "Memories of the Alhambra" dimainkan. Lebih khusus lagi, erornya bisa saja dimulai dari Emma."



    Kafe Alcazaba juga merupakan tempat pertemuan Marco dan Se Joo. Se Joo meminta bagian 70 persen dari penjualan game-nya, itu baru bisa disebut adil, ia mengatakannya dengan takut-takut.

    Marco marah, ia langsung mebanting gelas. "Hei! Kuingatkan kau untuk tak pernah lontarkan omong kosong lagi. Sebut sekali lagi, ini akan jadi yang ke-100 kali. Kau pikir apa yang akan terjadi nanti? Astaga, kau sungguh..."



    Marco menyuruh Se Joo pergi karena Hyeong Seok akan datang sebentar lagi. Marco lalu meninggalkan Se Joo.



    Tenyata Marco hanya ke toilet, Se Joo mengikutinya, masih dengan takut-takut, ia berkata, mungkin ia tak mau menjual game-nya.

    "Aigoo..."

    "Aku pantas dapat 70 persen. Aku yang membuat semuanya. Jika tak kujual, kau tak akan dapat uang."

    "Berengsek kau."

    "Biar kutemui Cha Hyeong Seok."

    "Untuk apa?"

    "Mari temui bersama. Sebaiknya temui bersama."

    "Baiklah, tak apa."

    "Baik."



    Marco memojokkan Se Joo.

    "Ayo. Aku mengerti. Silakan temui dia. Gagaplah sesukamu seperti orang bodoh di depan pria kaya. Aku tak peduli. Kau senang?"

    Se Joo terdiam dipojokkan.


    Maka Se Joo kembali duduk di mejanya, tapi Hyeong Seok tak kunjung datang. Marco menghampiri lagi, tanya, apa Hyeong Seok belum juga datang? Se Joo mengangguk.

    "Kenapa kira-kira?" Tanya Marco.




    Marco lalu mengeluarkan ponsel dan pisau, ia menggunakan pisau itu untuk menusuk perut Se Joo tiba-tiba. Se Joo meringis kesakitan. Marco memperingati.

    "Sudah jelas aku memperingatkanmu untuk patuh. Bukankah kau seharusnya bersyukur? Kenapa bertingkah?"

    Mereka mulai menarik perhatian pengunjung lain. Marco kembali mengancam, tutup mulut atau ia bunuh di depan kakaknya.


    Emma menatap mereka.

    "Saat dia menikam Se Joo dengan pisau sungguhan di depan Emma.."




    Tiba-tiba game-nya macet. Marco lengah, Se Joo menggunkan kesempatan itu untuk lari, tapi Marco mengikutinya.




    Se Joo menuju gang sepi, Marco mereiakinya, MAU KEMANA?

    "Apa? Mau"

    "Kalau begitu jangan bertingkah lagi. Kau paham?"

    Se Joo ketakutan, ditambah sakit yang ia rasakan di perutnya. Marco terus meminta Se Joo mendekat, tapi Se JOo tidak mau. 





    Marco yang mendekati Se Joo, dan membuat Se Joo semakin panik, akhirnya Se Joo meletuskan tembakan. Marco tertembak dan meringis kesakitan. 

    Marco mengumpat sambil kesakitan, "Berengsek! Kau gila? Kau menembakku dengan pistol sungguhan."

    "Tidak, ini... Ini bukan..."


    Itu bukan pistol sungguhan, Se Joo meletakkan pistolnya lalu hilang. 


    Se Joo lari, tapi Marco terus mengejarnya, Marco juga mengeluarkan senjatanya, pistol. 




    Hyeong Seok sampai di kafe, tapi tidak ada yang muncul. Sekretarisnya memberitahu kalau Marco tidak mengangkat telfon.

    "Mungkin hanya Emma yang menyaksikan. Orang terakhir yang menyaksikan keduanya musnah dari dunia ini."



    Lalu saat Hee Joo melihat Emma di Kamar Hotel Jin Woo. 



    Sebelumnya, Jin Woo meminta bantuan Hee Joo untuk datang ke hotelnya dan menemui seseorang. Hee Joo bertanya, siapa? Jin Woo menjawab, Emma.

    0 komentar

    Post a Comment