Sunday, December 23, 2018

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 7 Part 3

    Sumber: tvN




    Yang Ju protes karena Jin Woo muncul tiba-tiba sampai ia dimarahi banyak orang. Tapi Jin Woo malah menanyakan soal Emma.  Sedang apa dia di sana?

    "Maksudmu Emma? Dia karakter favoritku. Dia sangat cantik, 'kan? Aku tahu dia tipe idealku saat melihatnya. Dia sempurna. Aku sangat mengaguminya."






    Yang Ju memodifikasi Emma, ia menciptakan berbagai gaun untuk Emma. Yang Ju puas dengan semuanya. Karena Emma sangat cantik, jadi pakai gaun apapun selalu pas.

    Jin Woo: Seberapa jauh kau melakukannya?



    Yang Ju: Hanya itu. Aku juga membuat pakaian lain. Contohnya gaun dewasa. Aku baru akan diskusikan denganmu. Karena hak cipta foto, kami harus hapus semua KNP dari Granada. Namun, sedih melihat Emma pergi. Hanya dia KNP Asia dari game original, pasti populer di Seoul, Tokyo, Beijing, dan lainnya. Jika ditaruh di Seoul, pengguna lelaki akan tergila-gila padanya.

    Jin Woo: Kau gila?

    Yang Ju: Tidak, Aku serius.

    Jin Woo: Hapus dia.

    Yang Ju: Kita hanya perlu bertemu dengannya dan membayar hak cipta gambarnya. Lagi pula siapa yang menolak dibayar?

    Jin Woo: Itu tidak mungkin.

    Yang Ju: Kenapa tidak? Direktur Park bilang dia mengenalnya. Kudengar dia warga Korea di Granada. Kita mungkin bisa bicara dengannya.

    Jin Woo: Kau tak dengar? Hapus dia.

    Yang Ju: Tapi dia KNP favoritku.

    Jin Woo: Lalu?

    Maka Yang Ju dengan berat hati menghapus Emma.




    Ia lalu bertanya bagaimana Emma yang sesungguhnya? Secantik apa?

    "Entahlah."

    "Kudengar Anda juga kenal baik."

    "Sudah lama kami tak bicara."



    Sun Ho masuk buru-buru ke ruangan Jin Woo dan menemukan Jin Woo malah enak-enak minum. 

    "Lihat dirimu dan ulangi kata-katamu. Aku bertindak seenaknya? Baru datang tapi sudah minum-minum, dan kau ingin bekerja? Ini "bekerja"?"

    "Aku hanya mengeluh. Aku mendatangameu karena merasa diabaikan."

    "Tak ada yang mengabaikanmu!"



    "Kalau begitu hanya perasaanku. Aku merasa berkecil hati. Gangguan inferioritas? Benar, kurasa itu. Pasti begini perasaan Hyeong Seok saat meninggalkan perusahaan. Entah kenapa dia terus mengajak berkelahi, tapi sekarang aku paham. Tiba-tiba aku membencimu, Hyeong. Aku ingin kembali bekerja, tapi tak bisa. Bagaimana bisa aku rapat saat mabuk? Kuserahkan padamu."

    "Apa ini semacam peringatan? Kemari untuk bilang mengawasi. Auh.. Sulit dipercaya. Kudengar kau kemari bermain game. Kau, Jung Hoonn, dan Yang Ju membodohiku. Kenapa melakukan ini padaku? Apa yang kau rencanakan? Kau menyerah pada terapi fisik dan perusahaan. Kau minum, minum obat, dan bermain game. Lalu kau minum dan main lagi. Berapa lama kau akan..."

    "Aku berusaha kembalikan keseimbanganku. Bayangkan berada di medan tempur tiap hari. Aku melihat darah, tertusuk, membunuh yang lain, dan mencemaskan mati. Coba lakukan selama 365 hari. Kau juga akan butuh obat-obatan."

    "Katamu penampakannya sudah berhenti."

    "Tidak, aku masih melihatnya tiap hari. Aku tak bisa bilang pada Profesor Cha melihat anaknya bersimbah darah tiap hari. Sebenarnya, aku memikirkan soal bunuh diri beberapa kali seperti rumor yang beredar."

    Kilas Balik..





    Hyeong Seok masih saja muncul saat Jin Woo di Amerika.

    "Mengakhiri hidup dapat memberi kenyamanan. Masalahnya bukan pada server. Aku terus melihatnya walau kabur ke Amerika."

    Kilas Balik Selesai.



    Jin Woo: Aku tetap bertahan dan tak mati. Di titik ini, aku bangga pada diriku hanya karena masih hidup. Kau tahu yang kusadari setahun ini? Orang gila memiliki logika sendiri dan bahkan dunia yang gila memiliki aturan.





    Jin Woo terus saja melawan Hyeong Seok dan setiap hari ia membunuhnya.



    Jin Woo: Ini aneh, 'kan? Pikiranku kacau dan dia hanya ilusi, tapi aku mendapat poin dengan membunuhnya karena peraturan game.

    TIGA BULAN LALU



    Malam-malam Yang Ju mendapatkan telfon, ia pun harus terbangun dari tidurnya. Matanya langsung terbelalan dan tubuhnya langsung bangkit saat mendengar suara Jin Woo.

    Jin Woo: Bukakan ruang rahasia untukku. Buat ruangan tak terlihat dari yang lain. Kuberi tahu lokasinya.



    Jin Woo menunggu di ruangan yang dimaksud sementara Yang Ju menyiapkan programnya. Setelah selesai, Yang Ju mengirim pesan untuk Jin Woo. 

    "Entah apa ini berfungsi, tapi cobalah."

    Jin Woo lalu masuk ke dalam game. Ia melihat musuh-musuhnya, lalu ia mengeluarkan pedangya dan mulai bertarung.


    Jin Woo: Karena itu aku ke Seoul. Naik level membuatku aman. Aku butuh senjata. Secara fisik, aku tak bisa lari. Pedang saja tak akan berhasil.






    Jin Woo terus bermain selama tiga bulan terakhir sampai ia mencapai level 84.

    Semakin tinggi level, semakin banyak musuh, tapi Jin Woo berhasil mengalahkan semuanya.



    Sun Ho: Jadi, maksudmu selama ini kau naik level game?

    Jin Woo: Aku tak terlalu takut karena kini punya pistol. Hanya kesal harus membunuhnya tiap hari. Seperti kataku, bahkan orang gila punya logika sendiri.



    Jin Woo memutar-mutar pistolnya tapi dimata Sun Ho, Jin Woo tidak memegang apa-apa, hanya tangan kosong. Sun Ho tampak iba.

    "Aku mungkin tampak menyedihkan, tapi aku belum menyerah. Aku menjalani hidup, tiap hari, semampuku. Jadi, jangan cemas.


    Saatnya Hyeong Seok muncul lagi. Jin Woo menunjukkan diaman Hyeong Seok tapi tentu saja Sun Ho tidak bisa melihatnya.

    Jin Woo:  Mau kuceritakan kisah aneh?





    Tiba-tiba Jung Hoon masuk dan langsung menebas Hyeong Seok.

    Jin Woo mengatakan pada Sun Ho kalau Jung Hoon juga bisa melihat Hyeong Seok. Sepertinya Sun Ho mulai percaya sekarang dengan cerita "gila" Jin Woo itu karena bukan hanya Jin Woo yang melihat Hyeong Seok. 



    Profesor Cha tetap duduk sampai semua orang pergi, sampai foto Hyeong Seok dipindahkan. 



    Sun Ho menelfon. Profesor Cha mengira ia sudah ditunggu, ia berkata akan segera kesana. Tapi Sun Ho melarangnya datang karena Jin Woo sudah pergi, Jin Woo mabuk, jadi Sun Ho suruh pulang.

    "Kukira dia membaik." Heran Profesor Cha.

    "Aku tak yakin. Sepertinya dia memburuk..."

    Jung Hoon masuk ruangan. Sun Ho langsung menutup telfon.

    Ternyata Sun Ho tetap belum percaya pada Jin Woo.



    Su Jin menghampiri Profesor Cha, mengajaknya makan malam bersama atas usulan ibu, tapi Profesor Cha menolaknya.

    "Pulanglah. Anakmu lelah." Lalu Profesor Cha pergi.


    Su Jin menatap punggung Profesor Cha dengan sedih.



    Jin Woo masih ada di jalan. Jung Hoon menelfon untuk memastikan apa Jin Woo sudah sampai rumah atau belum. Jin Woo mengatakan apa adanya, ia belum sampai rumah.

    "Direktur Park mengajakku makan malam. Apa saja yang boleh kukatakan?"

    "Terserah kau. Tapi dia akan kira kau juga gila."

    "Aku akan berhati-hati."

    "Tunggu."

    "Ya?"



    Jin Woo menanyakan keadaan Hee Joo. Jung Hoon mengatakan kalau Hee Joo mendirikan bengkel gitar dan ia rasa usahanya sukses, bahkan Hee Joo menyuruhnya mampir jika ada waktu, Jin Woo mau ikut kesana dengannya besok?

    "Kau memintaku ke Granada besok?"

    "Tidak, Ilsan. Bengkelnya ada di Ilsan."

    "Dia di Korea?"

    "Seluruh keluarganya pindah ke Korea beberapa waktu lalu. Anda tak baca e-mail?"

    "Sudah lama aku tak baca."

    "Aku bahkan memberi tahu bahwa... Anda mungkin tak ingat karena selalu mabuk."

    "Jangan cemas. Aku akan cari."




    Setelah menutup telfon, Jin Woo mengecek e-mailnya. Ia membaca e-mail dari Hee Joo.



    Sebenarnya sejak kepergian Jin Woo, ia menyuruh Jung Hoon untuk membalas E-mail dari Hee Joo mulai sekarang. Ia menyuruh Jung Hoon mengatakan sesuatu agar keluarganya tidak cemas.

    "Baik. Tapi sampai kapan?"

    "Hingga kita menemukan Jung Se Joo."

    Jadi, Jung Hoon selalu membalas e-mail Hee Joo untuk Se Joo. E-mail Se Joo dipegang Jung Hoon sekarang. Jadi Hee Joo dan keluarga menganggap Se Joo baik-baik saja selama ini dan sedang bersenang-senang.

    0 komentar

    Post a Comment