Sunday, December 30, 2018

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 9 Part 2

    Sumber: tvN



    Saat kereta akan sampai di stasun Granada, Marco muncul lagi. Se Joo ketakutan, ia membuka pintu dan ternyata Marco ada diluar. 






    Se Joo dan Marco sama-sama menodongkan pistol, tapi Marco berhasil menembak Se Joo duluan. Se Joo tersungkur, ia mencoba melawan, tapi akhirnya Marco menembakinya terus-terusan. 



    Saat kereta berhenti, teman sekamar Se Joo bangun dan terkejut melihat Se Joo duduk di lantai tak bergerak dengan mata terbuka. 




    "Jika Se Joo kalah di duel itu, tubuhnya akan ditemukan di kereta. Seperti Hyeong Seok dan Marco. Tapi Se Joo menghilang."




    Artinya Se Joo berhasil menghindari Marco walaupun ia sudah gak bisa jalan lurus karena tembakan pertama Marco tadi. 

    "Karena dia menghilang, artinya dia selamat dari duel itu."




    Se Joo berhasil turun, tapi ia pingsan.  




    Anehnya, Jin Woo yang mencarinya di sana tidak melihatnya. 

    "Se Joo mungkin di sana hari itu. Kami hanya tak bisa melihatnya."

    Fix, semua itu cuma khayalan "Gila" Jin Woo ya, belum tentu kebenarannya. 




    Kembali saat Jin Woo melihat Elang Citadel yang membawa pesan dari Se Joo. 

    "Butuh waktu setahun bagiku untuk membuktikan khayalan ini."




    Setelah Jin Woo mengambil pesan itu, elangnya kembalu terbang. Ternyata ada aturannya: 

    MASTER MENGIRIMKAN TUGAS RAHASIA DARI GRANADA
    KAU HANYA BISA MEMBUKA TUGASNYA DI GRANADA
    KAU HARUS SELESAIKAN TUGAS SAAT MEMBUKANYA
    KESEMPATANMU AKAN HILANG JIKA MELEBIHI BATAS WAKTU
    ELANG CITADEL AKAN MENYIMPAN TUGASNYA
    PERKAMEN ELANG 47:59:58 HINGGA TUGAS BERAKHIR

    Jin Woo hanya mendapatkan waktu 48 jam untuk menyelesaikan tugas dari Se Joo.




    Saat Se Joo sedang berpikir, datanglah Jung Hoon. Jung Hoon siap bertempur, tapi semua musuh sudah dikalahkan Jin Woo.



    Jung Hoon mendekat, "Daepyonim, Anda bergadang semalaman lagi? Ah.. Ini seperti medan pembantaian."

    "Sekarang kau level berapa?"

    "Aku? Aku level 48."





    Jin Woo langsung memberinya pistol, tapi hanya bisa digunakan untuk level 50 ketas. 

    Jin Woo: Aku ingin kau naik ke level 50. Kau harus bisa gunakan pistol dan ikut denganku.

    Jung Hoon: Apa?

    Jin Woo: Aku beri kau lima jam.

    Jung Hoon: Bagaimana naik dua level hanya dalam lima jam?

    Jin Woo: Tak ada waktu. Cepat, aku harus naik pesawat. Kita akan ke Granada hari ini.

    Jung Hoon: Untuk apa?

    Jin Woo: Mencari Jung Se Joo.



    Hee Joo pulang dan membuat Nenek heran. Nenek menanyakan kenapa Hee Joo pulang padahal Sang Beom memberitahu kalau Hee Joo sudah naik pesawat.

    "Aku turun." Jawab Hee Joo. 

    "Kenapa?"

    "Aku tak ingin pergi. Perjalanannya panjang dan aku akan lelah."

    "Apa? Omong kosong macam apa itu?"



    Di dalam, Hee Joo membersihkan bengkel gitarnya. Nenek marah-marah.

    "Uang tiketmu dikembalikan? Astaga. Astaga, kau baru memboroskan uang seakan tak berarti. Sungguh pemborosan. Seharusnya kau batalkan penerbangan jika tak ingin pergi."

    "Aku berniat pergi. Tapi aku rasa tak akan bisa selesaikan gitar ini tepat waktu. Jadi aku cemas."

    "Astaga. Astaga, terserahlah."

    Hee Joo pulang karena Jin Woo menyuruhnya menunggu di rumah. Jin Woo yang akan kesana.


    Sudah jam 2:18, tapi Jin Woo belum juga datang. Hee Joo menelfon, tapi ponselnya tidak aktif. 


    Hee Joo pun bekerja sambil menunggu, tapi ia terus saja melihat jam. Sampai jam 18:43 Jin Woo belum juga datang. Hee Joo mulai cemas.



    Ponsel Hee Joo berdering, tapi itu cuma telfon dari Min Joo. Min Joo menelfon stelah mendengar kalau Hee Joo tidak jadi pergi. Hee Joo menanyakan dimana Min Joo saat ini. Min Joo pun cerita.

    "Eonni, tadi aku bertemu direktur YD. Rekomendasi Ahjussi. Dan dia bilang aku punya potensi."

    "Kau mau dihukum? Kenapa kau mengganggunya? Siapa bilang boleh curi nomornya?"

    "Kau akan menemuinya, 'kan?"

    "Apa?"

    "Dia ke Spanyol untuk menemuimu. Apa dia ke sana sendirian?"

    "Tidak, dia bilang mau ke rumah."

    "Sungguh?"



    Hee Joo: Bagaimana kau tahu?

    Min Joo: Kau tak tahu kenapa dia mau bertemu, 'kan? Mau petunjuk?

    Hee Joo: Apa?

    Min Joo: L...

    Hee Joo: Apa?

    Min Joo: Dimulai dengan "L" dan memiliki tiga suku kata. Dah.


    Min Joo mengirim pesan setelah menutup telfon.

    "Tebaklah. Ini petunjuknya. Dimulai dengan "L" dan diakhiri dengan "N"."



    He Joo langsung menghubungi Min Joo. Min Joo bertanya, sudah tahu jawabannya? 

    "Apa maksudmu?" Nada Hee Joo menunjukkan kalau ia sedang tidak ingin bermain.

    "Kubilang, dimulai dengan "L". Ada tiga suku kata."

    "Berhenti bercanda dan sebutkan apa ini."

    "Kenapa kau marah?"


    "Aku serius. Ini bukan waktunya bercanda. Kenapa Ahjussi ingin menemuiku? Apa katanya? Kata apa yang kau bicarakan?"

    "Lamaran."

    "Apa?"

    "Dia mungkin akan melamarmu."

    "Bicara apa kau?"

    "Pura-puralah tidak tahu. Tapi dia akhirnya melajang sekarang. Sudah resmi. Kurasa karena itu dia melamar. Dia mungkin sudah membeli cincin."

    "Apa? Maksudmu dia akan kemari dengan cincin untuk melamarku?"



    Tepat setelah mengatakannya, Jin Woo muncul di pintu. Hee Joo langsug terdiam.



    Jin Woo: Apa perlu kubawa cincin? Sial. Aku tak menyangka kau mengharapkannya. Apa harus kubeli sekarang?

    Hee Joo langsung menutup telfon dan menyuruh Jin Woo masuk. 

    Jin Woo: Tidak, tunggulah. Setidaknya biar kubelikan bunga.

    Hee Joo: Cepat masuk saja.



    Jin Woo pun melangkah masuk. Hee Joo bertanya apa yang sudah Jin Woo katakan pada Min Joo sampai bicara tak masuk akal begitu. 

    "Aku tak bilang apa-apa. Mungkin sepertinya kau mengharapkan sesuatu di matanya."

    "Kau sungguh berpikir begitu?"

    "Ini hanya angan-angan."

    Maaf terlambat. Sesuatu tiba-tiba terjadi. Aku harus kejar pesawat, jadi tak bisa lama."

    "Di mana Se Joo?"

    "Aku akan ke Granada untuk menemuinya."

    "Se Joo di Granada?"

    "Aku belum tahu. Harus ke sana untuk memastikan. Dia memanggilku ke Granada, jadi, aku harus pergi."

    "Kau sungguh tahu kabarnya?"

    "Tunjukkan."

    "Aku tak bisa menunjukkannya. Ini bukan telepon atau e-mail."

    "Lalu bagaimana..."

    "Dia kirim pesan melalui game buatannya menggunakan akunnya. Dia memintaku ke Granada, aku pergi. Aku belum tahu ada apa atau di mana dia. Pasti ada sebab dia mengontakku.  Akan kuhubungi setelah bertemu Se Joo. Kau tunggu di sini."

    "Omong kosong apa... Kau bilang ingin buktikan."

    "Tak bisa di sini karena harus pakai lensa kontak. Akan kukatakan pada karyawanku agar kau bisa melihat."




    Jin Woo lalu memberikan kartu nama Yang Ju dan meminta Hee Joo menghubunginya. Hee Joo jelas kesal.

    "Apa yang kau lakukan? Kau membuatku turun dari pesawat, lalu..."

    "Aku tak ada waktu. Aku tak akan bisa bertemu Se Joo jika tak selesai dalam 48 jam. Dan 12 jam sudah berlalu."

    "Apa..."

    "Dia yang menguasai gamenya, dia akan jelaskan lebih baik..."



    Sang Beom datang dan tiba-tiba ia memukul Jin Woo. 

    Hee Joo: Sedang apa kau?

    Sang Beom: Senang bertemu denganmu di sini. Aku berniat menuntutmu. Seharusnya kuhajar kau hingga masuk berita. Aku akan masuk berita jika menghajarmu.



    Hee Joo meminta Sang Beom berhenti, tapi ia malah mendorong Hee Joo menjauh.

    Jin Woo berhasil berdiri. 

    Sang Beom: Aku tak pernah menyukaimu sejak di Granada. Hee Joo merawatmu seharian setelah kau memberinya uang.

    Hee Joo menghentikan Sang Beom lagi, tapi Sang Beom kembali mendorongnya menjauh.

    Sang Beom: Tipuan apa yang kau rencanakan agar dia kembali padamu?



    Sang Beom maju untuk memukul Jin Woo lagi, tapi Jin Woo berhasil mendorongnya menjauh dengan tongkatnya. 

    Jin Woo: Cukup. Bukan begitu cara menyapa orang. Aku tahu kau tak menyukaiku. Tapi ini cukup. Aku harus ke bandara.

    Sang Bem: Itu masalahmu.

    Jin Woo: Kubilang cukup. Kau pria aneh yang berkata sudah seperti keluarga Hee Joo.

    Sang Beom tentu saja tidak mau berhenti. AKhirnya Jin Woo bertindak, ia memukul Sang Beom dengan tongkatnya disaat Sang Beom akan menggunakan gitar yang belum jadi untuk memukulnya. Jin Woo bahkan melempar gitar itu sampai hancur karena menatao kursi.


    He Joo tercengang melihatnya. 

    Jin Woo: Selain makan, kerjaku hanya bertarung pedang. Jangan kemari. Kau akan luka. Aku tak duel di dunia nyata.




    Nenek mendekat kerena mendengar suara gaduh dan langsung terkejut melihat semuanya berantakan. 

    Nenek melihat luka di leher Jin Woo dan langsung memarahi Sang Beom. Semuanya terdiam.

    0 komentar

    Post a Comment