Sunday, December 30, 2018

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 9 Part 1

    Sumber: tvN



    Jin Woo menyuruh Hee Joo turun dari pesawat jika bisa, percuma saja Hee Joo pergi ke Granada, disana ia tidak akan menemukan Se Joo. Jin Woo menegaskan kalau haya dirinya yang bisa menemukan Se Joo. 

    Hee Joo terdiam, ia mulai ragu. Jin Woo meneruskan kalimatnya, "Sudah kubilang Se Joo masih hidup. Akan kubuktikan bila perlu."

    "Bagaimana kau tahu dia masih hidup?"

    "Karena aku mendapat pesan."

    "Dari siapa? Di mana dia?"

    "Temui aku di sini."

    "Katakan saja."

    "Aku tak bisa katakan di telepon."

    "Aku sedang di pesawat."

    "Kau tak bisa keluar?"

    "Hei, apa yang kau coba lakukan? Kau berbohong lagi? Apa ada alasan lain aku tak boleh ke Granada? Karena kau berusaha keras mencegahku membuatku berpikir aku harus ke sana."

    "Aku hanya ingin memberi tahu kau tak perlu pergi, itu saja. Hanya membuang-buang waktu dan energameu saja."



    Hee Joo tiba-tiba memutus tefon padahal Jin Woo belum selesai bicara.

    Jin Woo: Dengan tinggal di sini, kau akan lebih cepat bertemu Se Joo... Halo?


    Jin Woo lalu menghubungi sekretarisnya di luar, menyuruh Min Joo masuk.




    Min Joo masuk dan Jin Woo memberikan ponselnay sambil berterimakasih. Min Joo menanyakan soal Hee Joo. 

    "Kularang, tapi dia bersikeras."

    "Kenapa?"

    "Dia tak lagi memercayaiku. Dia akan lakukan kebalikannya."

    "Kenapa dia tak percaya?"

    "Tak apa. Aku akan mengikutinya."

    "Ahjussi juga akan ke Granada?"

    "Aku ada urusan penting."

    "Apa itu?"

    Kau tak perlu tahu."

    "Kau akan melamar Hee Joo?"



    Jin Woo langsung berhenti membuka sebuah amplop untuk menatap Min Joo.

    Min Joo: Kau sudah bercerai, jadi bisa melamarnya. Begitukah rencanamu? Kurasa begitu.

    Jin Woo: Aku sungguh ingin tahu isi kepalamu. Pikiran macam apa yang ada di kepalamu?

    Min Joo: Itu. Bukankah itu berkas cerai? Aku mengintip sedikit tadi. Aku lihat tanda tangan Go Yu Ra. Hanya perlu tanda tanganmu. Keputusan bagus. Bahkan aku pun lega. Kapan beritanya rilis? Aku mau segera melihatnya. Ada apa?

    Jin Woo: Aku tercengang.

    Min Joo: Kenapa?


    Jin Woo memanggil Sekretarisnya untuk masuk sebelum menjawab Min Joo.

    Jin Woo: Aku tak mudah tercengang, tapi kau sungguh hebat. Aku akui itu.




    Jin Woo menyuruh Sekretarisnya mengantar Min Joo ke YD karena ia sudah memberitahu pihak YD. Min Joo sangat berterimakasih. 

    Min Joo: Astaga, Ahjussi. Kau lihat, aku sudah menyukaimu. Kau sungguh tipeku.

    Jin Woo: Ini hanya rekomendasi. Kalau tarianmu jelek di sana, aku akan tampak buruk, jadi, harus bagus.

    Min Joo: Tentu saja.

    Jin Woo: Cepat. Dia orang yang sibuk.



    Sebelum meninggalkan ruangan, Min Joo kembali berterimakasih dan menyamangati Jin Woo supaya lamarannya berhasil. Jin Woo hanya ketawa. 



    Amplop itu ternyata kiriman dari Noh Yeong Jun dan ada pesan tulisan tangan disana. 

    "Kukirimkan salinan perjanjian dari tim legal. Tapi asal Anda tahu, Yu Ra tak setuju. Kukira Anda perlu waspada. Dari Noh Yeong Jun."

    Jin Woo membuka isi perjanjiannya, lalu menandatangani bagian perjanjian cerai.



    Sun Ho mengintip melalui pintu. Jin Woo menyuruhnya masuk saja. Ternyata Sun Ho cuma mau memastikan kabar kalau Jin Woo masuk kerja dan ternyata benar.

    "Ada hal yang harus kuurus." Kata Jin Woo. 

    "Ini perjalanan bisnis apa? Kudengar kau mau ke Granada. Untuk apa?"

    "Perjalanan bisnis... Kurasa bisa disebut begitu. Aku punya misi."

    "Tunggu, apa ini untuk game?"

    "Aku ada tugas penting. Aku tahu terdengar konyol, tapi ini sangat penting."

    Sun Ho hanya bisa menghela nafas.



    Jin Woo selanjutnya mendatangi Yang Ju, ia minta dibuatkan benda khusus, tapi bukan senjata. Yang Ju meminta Jin Woo lebis spesifik lagi, soalnya banyak benda khsus itu. 

    "Beri yang kau punya." Pinta Jin Woo. 

    "Untuk tugas? Apa tugasnya? Aku harus tahu tugasnya agar sesuai..."

    "Entah apa yang akan kuhadapi di sana."


    Yang Ju menunjukkan yang terbaru, "Kalau begitu, ini beberapa benda terbaru. Aku punya ini. Ini salah satu produk sponsor. Minuman kesehatan. Setelah meminumnya, kesehatan langsung meningkat. Tapi ini mahal. Harganya 1.000 koin emas."




    Benda yang kedua adalah pemantik lilin dan saat dinyalakan bisa mengeluarkan api yang sangat besar. 

    Yang Ju: Keren, 'kan?

    Jin Woo: Kumpulkan dan kirimkan padaku.

    Yang Ju: Baiklah.



    Hee Joo menghubungi Jin Woo. Jin Woo bertanya, Hee Joo sudah turun dari pesawat? Hee Joo balik bertanya, ia harus kemana? 

    Jin Woo tersenyum.


    "Aku yakin kalian ingat kisah ini dimulai saat Se Joo meneleponku. Namun, dia menghilang di kereta. Dia tertangkap kamera saat naik kereta di Barcelona. Tapi dia tak turun di stasiun mana pun."



    "Siapa yang ditakuti Se Joo? Orang yang dikirim Hyeong Seok? Atau teman gangster Marco?"



    "Aku terus memeras otak, hanya imajinasiku yang masuk akal. Imajinasi gila."




    "Dari sini, ini adalah imajinasiku. Yang kurasa terjadi kepada Se Joo pada hari itu setahun lalu."

    Dalam imajinasi Jin Woo, Se Joo mengalahkan Marco dan membuat Marco meninggal seperti ia mengalahkan Hyeong Seok. 


    Se Joo lalu mengambil kertas yang bertuliskan nama Jin Woo beserta nomor telfon dan alamat e-mail-nya.



    Jadi sebelumnya Marco pernah mengatakan rencananya, jika Hyeong Seok tetap pelit, mereka bisa menghubungi Jin Woo. Se Joo masih saja ragu.

    Marco: Astaga, sungguh. Aku bahkan punya nomor Yoo Jin Woo. Kau tahu dia dan Cha Hyeong Seok seperti musuh, 'kan? Mereka sungguh saling membenci, hubungi mereka lalu cari penawar tertinggi. Tak perlu perusahaan lain. Kita negosiasi antara mereka. Mereka akan bayar berapa pun yang diminta agar menang. Kita biarkan mereka bertengkar dan tuai keuntungan.





    Se Joo berlari keluar dari hutan itu, lalu ia pulang ke rumahnya Marco, disana ia mengirim e-mail untuk Jin Woo yang berisi game Momories of the Alhambra sambil sesekali melihat kebelakang.




    E-mail terkirim, Se Joo akan pergi, tapi tiba-tiba ada petir dan hujan turun, serta suara melodi gitar itu. Tandanya musuh muncul. Benar saja, Marco muncul dengan penampilan saat dia meninggal. 

    "Kurasa Se Joo gila sepertiku."

    Se Joo: Ada apa ini? Siapa kau? Kenapa kau terus muncul? Kau sudah mati!


    "Se Joo pasti lebih takut daripada aku. Level Marco lebih tinggi daripada Hyeong Seok. Dia punya pistol."

    Se Joo berteriak menyuruh Marco keluar. Tapi tiba-tiba terdengar suara beberaa tembakan. 



    Lalu kita melihat Se Joo keluar dengan wajah terciprat darah dan tangan memegang pistol. 


    Se Joo tidak membuang kesempatan, ia terus berlari menghindari Marco. 


    Dengan buru-buru Se Joo membeli tiket kereta ke Granada. Usai mendapatkan tiketnya, ia langsung lari menuju telfon umum.



    Se Joo menghubungi Hee Joo. 

    "Noona." Panggil Se Joo hampir menangis, tapi Hee Joo nya gak sadar. 

    "Kenapa kau tak menjawab? Aku cemas."

    "Ponselku rusak."

    "Kenapa bisa? Di mana kau sekarang?"

    "Aku akan pulang. Aku naik kereta."

    "Kereta malam? Kurasa kau akan tiba di pagi hari. Baiklah. Hati-hati."

    "Aku merindukanmu, Noona." 

    "Apa?"

    "Sudah dulu."



    Se Joo menutup telfon, ia menghapus airmatanya. Hee Joo nya bingung karena Se Joo menutup telfonnya tiba-tiba.

    Hee Joo: Kenapa dia? Apa dia makin dewasa?


    Selanjutnya, Se Joo menghubungi Jin Woo seperti diawal episode. 

    "Apa ini nomor Yoo Jin Woo-ssi?"

    "Ya, ini aku. Siapa kau?"

    "Aku enggan menjual kepadanya, tapi harus kuputuskan besok."

    "Se Joo ingin bertemu denganku untuk meminta bantuan. Dia percaya para ahli di perusahaanku bisa memecahkan masalah ini."




    Terjadi hujan petir lagi dan terdengar suara melodi gitar. Se Joo mulai panik, lalu ia melihat Marco menodongkan pistol padanya. 


    Se Joo pun segera mengakhiri telfonnya, ia mengajak Jin WOo bertemu di Granada

    Se Joo: Tunggu di Hostal Bonita. Aku sering menginap di sana.



    Se Joo langsung lari tunggang langgang di tengah keramaian kota untuk menghindari Marco. Marco terus saja mengejar sambil melepaskan tembakan. 




    Pelarian Se Joo gak mudah, ia sampai bertabrakan dengan beberapa orang sebelum akhirnya bisa naik kereta.



    Beruntunglah duel dibatalkan saat Se Joo menutup pintu kereta dan kereta pun jalan.  


    Se Joo bisa bernafas lega.

    0 komentar

    Post a Comment