Monday, December 24, 2018

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 8 Part 2

    Sumber: tvN



    Hee Joo kedinginan di dalam mobil.  Supir Jin Woo pengertian, ia menyalakan penghangat. Jin Woo juga meminta handuk. Supir memberikan tapi Hee Joo menolaknya.

    "Kau bisa sakit." kata Jin Woo. 

    "Kubilang tak butuh."

    Jin Woo pun tak memaksanya lagi. 



    Hee Joo menanyakan kemana tujuan mereka.

    "Tempat yang tenang. Tak bisa bicara di tengah hujan. Seharusnya aku yang tulis e-mail. Jika begitu, mungkin kau tak akan tahu."

    "Apa itu lelucon? Kenapa berkata begitu padaku? Sudah setahun adikku menghilang, tapi kau hanya berbohong padaku. Kau tak punya perasaan?"

    "Hidupku terlalu kacau untuk punya perasaan saat ini. Putus asa membuatku mengabaikan perasaan orang lain. Maaf, tapi begitulah hidupku sejauh ini."



    Jin Woo lalu meawari Hee Joo minuman alkohol, itu bisa menghangatkan tubuh Hee Joo, tapi Hee Joo hanya menatapnya dengan tatapan tidak kesal.

    "Kau tak mau?" Lalu Jin Woo meminumnya sendiri. Hee Joo masih terus saja menangis.



    Sun Ho menyuruh Jung Hoon jujur, ia tidak akan diam saja jika Jung Hoon ters berbohong demi Jin Woo

    "Aku tidak bohong. Aku sungguh... Aku melihat Cha Daepyo. Dia bersimbah darah dan memegang pedang. Dia memakai pakaian hari kematiannya. Kini aku tahu betapa takut Daepyonim sendirian."

    "Kau pasti bercanda. Kapan ini terjadi?"

    "Sebulan lalu. Terjadi saat kami membentuk aliansi."

    "Aliansi?"

    Kilas Balik..



    Saat masih di rumah sakit LA. Jung Hoon memergoki Jin Woo tidak ada di kamarnya. Ia melihat sekitar dan menemukan Jin Woo tak sadarkan diri di bawah ranjang. Jung Hoon langsung memanggil bantuan. 

    "Kondisinya memburuk di Amerika. Aku sungguh menduga dia akan mati. Karena itu aku tak mencegahnya saat ingin kembali ke Seoul.Aku merasa tak akan bisa menangani jika keadaan memburuk."





    "Selama beberapa bulan, dia bermain game sepanjang hari. Aku biarkan karena dia tampak lebih baik daripada di rumah sakit."


    "Namun berjaga seharian dan tak melakukan apa pun mulai membuatku bosan. Itu sebabnya..."



    Jung Hoon menghubungi Yang Ju untuk membuatkannya akun. Ia mau ikut bermain. 



    Jung Hoon masuk dengan akun "City Hunter". Tapi ia selalu kalh dalam level pertama.

    "Itulah saat pertama aku main gamenya."




    Semantara itu, Jin Woo sudah mencapai level 49.

    Jung Hoon pun mengajak Jin Woo untuk membuat aliansi. Ia meminta Jin Woo membantunya naik level, soalnya terlalu lama jika ia lakukan sendiri. Ia masih di level empat.

    "Bisa bantu aku naik level?"

    "Aku saja hampir tak bisa menjaga diri, bagaimana aku membantumu?" Kesal Jin Woo. 

    "Bisa lakukan saja? Siapa tahu aku justru bisa membantumu nanti."


    Jin Woo pun menerima ajakan membantuk aliansi. 

    ALIANSI DAPAT MELAWAN MUSUH YANG SAMA
    POIN PENGALAMAN YANG DIDAPAT BERSAMA AKAN DIBAGI RATA
    ALIANSI DAPAT BERTUKAR SENJATA DAN BARANG




    Jung Hoon meminta pedang pada Jin Woo dan Jin Woo memberikannya. Mereka bertarung bersama, tapi tidap kali membunuh musuh Jung Hoon ngeri sendiri, ia masih ketakutan.

    "Aku cepat naik level hanya dengan mengikutinya."

    Jung Hoon pun memutuskan untuk istirahat selagi Jin Woo menghabisi para musuh.



    Jung Hon: Lalu... Itu saat pertama aku melihat Cha Daepyo. Dia persis separti yang dikatakan Daepyonim.



    Jung Hoon mencoba menyelamatkan Jin Woo dari Hyeong Seok, ia menebas punggung Hyeong Seok. 




    Hyeong Seok berbalik dan balik menebas Jung Hoon. Jung Hoon meringsut ketakutan, ia memegangi lengannya yang tersayat pedang Hyeong Seok, kesakitan.





    Lalu Jin Woo membantunya dengan melemparkan pisau pada punggun Hyeong Seok. Hyeong Seok pun terbunuh. 

    Jin Woo terkejut melihat Jung Hoon juga bisa melihat Hyeong Seok. Mereka sama terkejutnya. 



    Jung Hoon mengatakan pada Sun Ho kalau rasanya sungguh nyata. Lengannya sungguh sakit, sayatannya terasa nyata, tidak seperti kebanyakan KNP.

    "Apakah setahun bersama Jin Woo membuatmu berhalusinasi?"

    "Hah.. Sudah kuduga kau akan bilang begitu. Pikirkan sesukamu. Aku juga mengira Daepyonim sudah gila. Tapi tidak lagi. Daepyonim, normal. Dia tak berubah."



    Sun Ho memikirkan kata-kata Jin Woo barusan di kantor.

    Jin Woo: Aku tak ingin bertengkar. Aku percaya padamu dan akan terus percayakan semuanya. Seperti yang kau lihat, aku tak becus dan tak punya waktu. Malah, aku ingin kau menunda peluncuran gamenya dan membatalkan pameran.

    Sun Ho: Astaga. Hei, kau tahu situasinya lebih dari yang lain. Tak masuk akal membatalkan semua saat ini.

    Jin Woo: Akan gila jika hanya aku yang mengoceh. Tapi akan beda jika kita berdua yang ajukan. Kau tak setuju game ini yang gila, dan bukan aku?



    Sun Ho mulai berpikir.



    Min Joo menunggu sampai mereka kembali. Saat ia medengar suara mobil berhenti, ia keluar tapi itu bukan kakaknya, hanya tetangga.


    Saat Min Joo membuka msuk lagi, nenek dari dalam kamar bertanya, Hee Joo kah itu?

    "Nenek, ini aku." Jawab Min Joo. 

    "Di mana Hee Joo?"

    "Eonni sudah pulang."

    "Sungguh? Kapan?"

    "Belum lama tadi. Eonni sudah tidur."

    "Ke mana dia pergi tanpa bilang apa-apa?"


    Min Joo langsung masuk ke kamarnya, ia terpaksa berbohong pada nenek agar nenek tidak cemas.

    Min Joo menghubungi Hee Joo, tapi malah Jin Woo yang mengangkatnya. 

    "Ahjussi? Kenapa kakakku tak pulang? Dia pergi denganmu."

    "Dia akan pulang. Kami akan tiba lima menit lagi. Bisa bukakan pintu?"

    Min Joo pun langsung keluar, tapi ia masih harus menunggu sebentar. 




    Min Joo langsung tersenyum lebar saat melihat Jin Woo, kecemasannya hilang. Hee Joo ternyata ketiduran di mobil. 

    "Kenapa dia?" Tanya Min Joo khawatir.

    "Dia sakit. Dia kehujanan." Jawab Jin Woo.




    Lalu Supir Jin Woo menggendong Hee Joo sampai ke kamarnya. Min Joo menyuruh pelan-palan, jangan sampai nenek tahu. 

    Jin Woo menyurul mereka. Lalu ia meminta supirnya menunggu di luar.




    Jin Woo meletakkan obat, ponsel, dan berkas di meja Hee Joo. Jin Woo menjelaskan ke Min Joo kalau Hee Joo sudah disuntik jadi tidak apa-apa sekarang. 

    "Apa nenekmu cemas?" Tanya Jin Woo. 

    "Aku tak bilang dia pergi denganmu."

    "Kenapa tidak?"

    "Karena dia membuatku malu. Aku tahu dia senang bertemu denganmu setelah cukup lama. Tapi dia mengejar mobilmu, masuk, dan tak pulang hingga larut."

    "Kakakmu akan kesal jika mendengarnya. Dia sungguh membenciku saat ini. Aku serius."

    "Mau kubangunkan Nenek?"

    "Kurasa dia akan baikan di pagi hari, tak perlu membuatnya cemas."

    "Baiklah. Dia punya obat. Perlu kubawakan air?"

    "Ya. Aku akan keluar lima menit lagi."

    "Bangunkan saja dia."

    "Tidak."

    "Kau tak mau mengatakan sesuatu padanya?"

    "Tidak."

    Min Joo lalu keluar untuk mengambil air.



    Jin Woo duduk memerhatikan Hee Joo.

    Kilas Balik...

    0 komentar

    Post a Comment