Sunday, December 23, 2018

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 7 Part 1

    Sumber: tvN




    Nenek terbangun saat tengah malam, ia keluar kamar dan melihat kamar Se Joo menyala. Ia buru-buru masuk karena mengira Se Joo sudah datang, ternyata cuma Min Joo yang ada disana.

    Nenek menyuruh Min Joo tidur karena ini sudah tengah malam. Min Joo mengatakan ia hanya kabur dari dengkuran Nenek yang keras banget. Nenek berkilah, ia gak mendengkur kok. Min Joo lalu memperdengarkan rekaman diponselnya. Nenek sendiri sampai terkejut, benar itu dirinya? 

    "Bukankah ini gila? Kencang sekali, 'kan?"

    "Kau tak ada pekerjaan lain? Nenekmu mendengkur sedikit karena lelah. Kenapa kau merekamnya? Omong-omong, kenapa dia belum kembali? Sudah berapa hari berlalu?"



    Hee Joo gak bisa tidur, ia terus memandangi bunga kiriman dari Jin Woo. 



    Nenek masuk untuk memeriksa, apa Hee Joo tidur atau tidak. Hee Joo langsung bangun karena memang ia gak tidur.

    "Se Joo belum menelepon, 'kan? Dia mengucapkan selamat ulang tahun?"

    "Tidak."

    "Apa yang dikerjakannya? Kenapa dia tak bisa mengirim pesan? Dia tak boleh lupa ulang tahun kakaknya. Bocah tak bersyukur, padahal kau yang membesarkannya."

    "Aku mengirim e-mail kemarin dan dia membacanya."

    "Dia membacanya?"

    "Ya, aku yakin dia tak apa-apa. Jangan cemas."

    "Dan dia tak membalas? Saat kau bilang kita harus pindah?"

    "Astaga, anak manja itu."

    "Aku kirim e-mail lagi besok."

    "Kenapa orang itu, Yoo Jin Woo, bisa pergi kapan pun dia mau? Dia datang dan pergi kapan pun dia mau. Kenapa dia bisa pergi begitu saja? Dasar pria dingin. Apa semua orang kaya begitu? Kuharap kakinya segera sembuh."



    Hee Joo menghela nafas setelah nenek keluar. 

    Hee Joo mencoba tidur tapi ia tetep gak bisa menutup matanya. Tiba-tiba ada e-mail masuk. Hee Joo membacanya, itu adalah e-mail dari Se Joo sepertinya.

    SEOUL SETAHUN KEMUDIAN


    Game Se Joo mulai dikembangkan di Seoul, latar di Granada diubah menjadi di alun-alun kota. 

    Semuanya sama persis saat di Granada, pemain mendapatkan pedang di toilet sebuah kafe. 


    Para pemain bisa melihat satu sama lain. 



    Penjahatnya pun disesuaikan dengan sejarah Korea. 






    Di kantor, semua orang fokus mengembangkan game itu. Yang Ju menjelaskan pada Sun Ho. 

    "Semua kota akan seperti Granada. Pedang pertama didapat di kamar mandi. Duel pertama akan dimulai di tempat bersejarah, alun-alun. Untuk Seoul, di Plaza Gwanghwamun."

    Sun Ho tidak puas dengan pakaian pembunuhnya, akan lebih baik jika tidak mengenakan topi bambu. Maka Yang Ju pun menghapusnya, lalu menjadikannya mata satu san menambahkan bekas luka biar lebih seram. 





    Mereka juga membuat pembunuh yang berbeda untuk setiap kota. Saat ini ada Tokyo dan Beijing

    "Versi Tiongkok tampak paling kuat. Bukankah seharusnya sama?" Tanya Sun Ho. 

    "Kami menguji berbagai versi. Kau akan lihat."



    Seseorang menunjukkan cara kerja rekanan korporasi.

    "Saat roti lapis tertentu. pengguna akan mendapat koin emas setara dengan 10 persen harganya. Saat mereka makan, nyawa mereka akan meningkat sementara. Jadi, kita bisa naikkan penjualan. Itu hasil diskusi saat ini. Lima lokasi waralaba telah mengonfirmasi partisipasi mereka. Lokasi ini "




    Tiba-tiba seseorang datang menyela, mengingatkan SUn Ho kalau SUn Ho harus ke Gereja sekarang untuk memperingati setahun kematian Hyeong Seok. 



    Sebelum pergi, Sun Ho memastikan, mereka bisa lanjutkan game-nya, 'kan? Akan siap untuk dipamerkan, 'kan? Tak ada yang perlu dicemaskan, 'kan?

    "Sejauh ini baik." Jawab Yang Ju.

    "Baiklah."



    Dalam perjalanan ke Gereja, Sun Ho meminta pidatonya. Ia menghafalkannya.




    Sun Ho terlambat ke sana, upacara sudah dimulai.

    Sun Ho langsung duduk disebelah Profesor Cha. ADa Sujin dan putranya di barisan sebelah. 



    Setelah berdoa, Sun Ho menyampaikan pidatonya.

    "Michael Cha merupakan keluarga, teman, dan kolega kita. Setahun berlalu sejak Pak Cha Hyeong Seok meninggalkan kita. Pertama, terima kasih karena mengingatnya dan bersedia hadir. Aku ingat saat pertama bertemu dengannya. Sekitar 17 tahun lalu di kelas kampus kami. Saat istirahat antara kelas bisnis, junior jurusan teknik masuk ke kelas. Dia minta investasi pada teknologi yang dikembangkan dan memberi presentasi. Dia bilang akan beri satu miliar won 10 tahun lagi jika kami investasi 100.000 won. Karena terbujuk keberanian mahasiswa teknik ini, aku memberikan 100.000 won, yang merupakan dana daruratku. Dari semua orang di kelas, mungkin aku satu-satunya yang berinvestasi pada Hyeong Seok.




    Dan Hyeong Seok menepati janji. Butuh tepat sepuluh tahun untuk menjadikan 100.000 won itu satu miliar won. Dia punya visi akan masa depan..."

    Pidato Sun Ho terpotong oleh kedatangan seseorang. SUara tongkat orang itu menggema ke seluruh bangunan. Dia adalah Jin Woo. Semuanya terkejut, karena sejauh yang mereka tahu Jin Woo ada di Amerika. 




    Jin Woo duduk dibarisan paling belakang. Sun Ho hendak memanggil Jin Woo, tapi pastor menyuruhnya melanjutkan pidatonya. Sun Ho pun meanjutkannya. 

    "Dia punya visi akan masa depan dan bersedia mengambil risiko. Dia pemuda yang sangat berani. Dia tak pernah bersantai. Selama 17 tahun mengenalnya, dia terus berusaha mengejar tujuan tanpa henti. Percaya bahwa masa depan negara ini bergantung pada sains dan teknologi, dia bekerja dengan tanggung jawab tulus. Semangat tak terhentikannya mungkin menjadi alasan dia wafat di usia yang sangat muda."



    Sementara itu, Jin Woo berhasil menemukan sosok Su Jin. Ia menatapnya sebentar dari belakang.

    Profesor Cha mundur untuk duduk disamping Jin Woo, ia tak menyangka Jin Woo akan datang.

    "Karena aku tak bisa menghadiri pemakamannya tahun lalu, kurasa setidaknya aku harus kemari. Bagaimana keadaan Anda? Anda sehat?"



    Profesor Cha menatap Jin Woo sambil tersenyum, "Kau mencemaskanku?"

    Jin Woo balas tersenyum. Profesor Cha menanyakan keadaan Jin Woo sendiri. Jin Woo menjawab ia baik-baik saja.

    "Kudengar kau banyak minum-minum."

    "Tak perlu cemas."

    "Kau masih minum obat?"

    "Seharusnya berhenti."

    "Kau harus berusaha."

    "Aku mencobanya."




    Usai pidato, Sun Ho mendekati Jin Woo, ia heran, kapan Jin Woo sampai di Seoul. Ternata sudah 3 bulan lalu, tambah kage lah si Sun Ho.

    "Apa? Kau bicara apa? Aku bicara dengan Jung Hoon pekan lalu. Dia tak bilang. Kukira kau di Amerika."

    "Aku minta dia rahasiakan."

    "Kenapa?"

    Jin Woo hanya diam saja.





    Profesor Cha bertanya, apa Jin Woo masih berhalusinasi?

    "Tidak." 

    "Kau sudah baikan?"

    "Seharusnya begitu. Tak ada yang bisa hidup dalam halusinasi."

    "Benar. Aku senang mendengar kau membaik. Mari mengobrol nanti."

    "Aku langsung ke kantor. Sampai jumpa di sana. Mulai hari ini, aku kembali bekerja. Aku diam-diam mengawasi selama beberapa bulan, dan keadaan kacau di perusahaan selama aku tak ada. Direkturnya mengabaikan perintah dan instruksiku dan berbuat sesukanya. Dia membuat Presdir seperti orang gila bodoh yang tak mampu membuat keputusan."

    SUn Ho gak terima dituduh seperti itu. Profesor Cha menyuruh keduanya diam karena dilihatin orang-orang. Keduanya pun diam.

    Profesor Cha: Baik, kita bicara di kantor. Senang melihatmu.




    Lalu Profesor Cha kembali ke depan, Sun Ho menyusulnya. Jin Woo tetap di tempat duduknya.

    Saat duduk di depan, Profesor Cha bertanya, sungguh Sun Ho gak tahu kalau Jin Woo sudah kembali?

    "Aku sungguh tak tahu. Sekretaris Seo terus mengatakan kondisinya tak meningkat. Ah.. Bedebah itu."


    Ibunya Hyeong Seok bertanya, apa masalahnya sekarang? Taoi profesor Cha malah membentaknya, bukan urusan Ibu!



    Jin Woo menatao foto Hyeong Seok di depan. 




    Sementara itu, Su Jin menoleh ke belakang untuk menatap Jin Woo. Jin Woo juga menatap Su Jin. Profesor Cha memergoki mereka.


    Su Jin sadar Profesor Cha melihat, ia langsung mengalihkan pandangannya. 




    Jin Woo meminta anak kecil di depannya mengajari untuk membuat tanda Salib. Anak itu langsung mempraktekannya dan Jin Woo mengucapkan termakasih.


    Jin Woo pergi sebelum acara misa selesai. Ia mempraktekkan apa yang barusan ia pelajari. Ia membuat tanda salib sambil menatap foto Hyeong Seok.





    Tapi tiba-tiba Hyeong Seok muncul dengan pedangnya. Jin Woo tidak bergerak, ia menunggu Hyeong Seok menghampirinya.




    Saat jaraknya pas, Jin Woo mengeluarkan pistolnya, ia langsung membunuh Hyeong Seok dalam sekli tembak.  

    WOW.. Jin Woo sekarang sudah mencapai Level 84. Menyerang 7.800, bertahan 3.000.



    Saat Hyeong Seok tumbang, Jin Woo kembali membuat tanda salib untuknya.



    Diiringi doa dari pator untuk Hyeong Seok, Jin Woo berjalan keluar.

    Saat pintu dibuka, hanya dua orang yang tidak menoleh ke belakang, Su Jin dan Profesor Cha.

    0 komentar

    Post a Comment