Monday, December 17, 2018

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 6 Part 1

    Sumber: tvN



    Hee Joo pulang setelah dari rumah sakit, tubuhnya masih basah. Nenek lega mendengar kalau Jin Woo sudah sadar.

    "Nenek kira dia mungkin akan koma. Nenek sangat cemas. Katanya dia hanya terluka di kaki dan kepalanya baik-baik saja. Sungguh melegakan. Kau harus makan. Mau makan sekarang?"

    "Aku mandi dulu."

    "Baiklah. Omong-omong, kenapa kau basah kuyup? Kau tak bawa payung?"



    Nenek mengikuti Hee Joo yang masuk kamarnya karena heran melihat Hee Joo pulang padahal bilang mau menjawa Jin Woo. Hee Joo mengatakan sekarang ada yang menjaga Jin Woo, istrinya.

    "Istrinya? Apa maksudmu? Bukankah sudah cerai?"

    "Secara hukum, mereka belum bercerai."

    "Sungguh? Nenek kira dia sudah lama bercerai. Bagus sekarang keluarganya di sini. Mandilah."

    "Baiklah."

    Kilas Balik..



    Yu Ra kesal menunggu lama di ruangan Jin Woo. Ia memutuskan keluar, tapi kemudian Jin Woo datang digendong perawat. Yu Ra terkejut melihat keadaan Jin Woo.  



    Yu Ra keluar lagi untuk menghubungi seseorang dan saat itu Hee Joo kembali, jadi Hee Joo bisa mendengar pembicaraan Yu Ra. 

    "Kurasa tak hanya kaki yang luka. Kepalanya pasti terluka juga. Tingkahnya aneh. Dia bicara tak masuk akal. Aku harus apa jika dia sungguh gila? Haruskah kubatalkan tuntutan? Segalanya menjadi rumit. Apa? Menemaninya? Lalu bagaimana dengan jadwalku?"




    Yu Ra melihat Hee Joo, ia langsung menutup telfon. 

    Yu Ra melarang Hee Joo masuk karena Hee Joo sudah membohonginya saat pertama kita bertemu. Apa Hee Joo dibayar melakukannya? Berapa memangnya? Seo Jung Hoon yang menyuruh? Sekretaris kurang ajar itu?

    "Jangan serakah demi uang. Kau akan kena masalah. Urus saja urusanmu. Pulanglah." Lanjut Yu Ra.

    Jung Hoon keluar dan ia melihat semuanya.

    "Aku tak paham." Tanggapan Hee Joo.

    "Aku menyuruhmu pergi. Aku tahu wanita sepertimu. Jangan macam-macam denganku."


    Yu Ra sudak memulai kontak fisik, ia mendorong Hee Joo dengan ponselnya. Jung Hoon tidak bisa diam lagi, ia pun mendekat.

    Jung Hoon: Tolong tunjukkan hormat. Jangan kasar pada yang bantu...

    Tapi Yu Ra malah menendang kakinya, "Kau masalah terbesarnya."

    Yu Ra langsung masuk.



    Hee Joo khawatir, apa Jung Hoon baik-baik saja? Jung Hoon meringis kesakitan saat berdiri, tapi ia bilang kalau ia baik-baik saja.

    Jung Hoon mengatakan kalau Yu Ra memang begitu orangnya, jadi biarkan saja. Hee Joo masih gak nyangka Yu Ra bisa sekasar itu. Jung Hoon menyuruh Hee Joo pulang saja, menunggu disana hanya akan menambah masalah. Akan ia hubungi nanti.

    Kilas Balik selesai..


    Mengingat hal itu membuat Hee Joo sakit kepala. 



    Yu Ra mengawasi perawat yang sedang merawat Jin Woo. Jin Woo membuka matanya, Yu Ra langsung menyapanya, sudah lama gak ketemu, kan? 



    Jung Hoon masuk dan Jin Woo langsung meminta mengatakan kalau semua ini cuma mimpi. Maksudnya, ia hanya mimpi melihat Yu Ra disana.

    "Ini bukan mimpi." Jawab Jung Hoon setelah menatap Yu Ra.

    "Sialan."



    Yu Ra: Kau tampak baik, dari caramu bicara. Kukira kepalamu terluka parah.

    Jung Hoon: Bukankah kau harus pemotretan? Kau harus pergi. Semua sudah menunggu.

    Yu Ra: Kau mencemaskan pemotretanku?

    Jung Hoon: Aku mencemaskan krunya. Pergilah. Aku akan tinggal. Kau tak perlu cemas.

    Yu Ra: Aku cemas karena kau di sini. Kau ada di sisinya paling membuatku cemas. Berhenti bicara omong kosong.

    Jung Hoon: Pikirkan lagi siapa yang sungguh tak pantas di sisinya.

    Yu Ra: Kau membalasku seperti itu? Astaga...


    Saat keduanya berdebat, Jin Woo kembali mendengar suara petir dan suara gitar Memories of the Alhambra. Jin Woo mulai ketakutan lagi.



    Saat keduanya berdebat, Jin Woo kembali mendengar suara petir dan suara gitar Memories of the Alhambra. Jin Woo mulai ketakutan lagi.


    Hee Joo memutuskan bangun dan mengambil anggur di dapur. Saat akan meminumnya, ada yang mengetuk pintu. Hee Joo pun tidak jadi meminumnya, ia berjalan menuju pintu.


    Hee Joo bertanya siapa yang ada di luar, tapi tidak ada jawaban. 



    Hee Joo membuka pintu dan ternyata Jin Woo lah yang datang. Hee Joo tak melihat siapapun di mobil, ia terkejut, Jin Woo menyetir sendiri? 

    "Kuminta kau bertanggung jawab." Kata Jin Woo. 

    "Untuk apa?"

    "Melibatkan wanita itu. Kenapa kau meninggalkanku pulang alih-alih bertanggung jawab?"

    "Itu... Kurasa tak membantu meski aku di sana. Kau sungguh kabur karena istrimu?"

    "Bisa ambilkan barangku?"

    "Barangmu?"

    "Barangku di lantai atas, 'kan? Kotak lensaku seharusnya ada di sana. Bisa bawakan? Aku tak bisa ke atas."

    "Apa itu sebabnya kau kemari?"

    "Bisa cepat?"

    Jin Woo terus celingukan dari tadi. Hee Joo menyuruhnya menunggu di dalam selagi ia mengambil lensanya, tapi Jin Woo malah masuk ke mobilnya lagi, katanya di dalam mobil lebih aman. 



    Hee Joo pun langsung masuk ke dalam. 

    Hee Joo menghubungi Jung Hoon saat berjalan ke atas, mengatakan kalau Jin Woo ada di sana. Apa yang terjadi? tanya Hee Joo. Ternyata pihak RS beserta Jung Hoon sedang mencari Jin Woo.

    "Dia tidur, jadi, aku turun sebentar. Saat itulah dia kabur lagi. Aku mencarinya di rumah sakit. Bagaimana dia ke sana?" Tanya Jung Hoon. 

    "Dia berkemudi kemari."

    "Astaga."

    "Dia ingin barangnya. Bagaimana?"

    "Aku akan ke sana. Ikuti saja meski dia bilang hal aneh. Kata dokter dia menderita pikiran paranoid karena stres."

    "Pikiran paranoid?"



    Jung Hoon: Dia melihat dan mendengar sesuatu. Dia juga bilang ada orang mati muncul dan membawa pedang seperti hantu.

    Hee Joo: Maksudmu orang yang meninggal kemarin?

    Jung Hoon: Ya. Bahkan sebelumnya, dia mengalami serangan setelah kau pergi.





    Setelah perdebatan itu, Jung Hoon mengantar Yu Ra keluar dan membiarkan pintu terbuka. Tiba-tiba mereka mendengar syara benda jatuh dengan keras di dalam kamar. Mereka kembali dan melihat Jin Woo sudah di lantai. 

    Perawat yang ada di dalam mengatakan kalau Jin Woo tiba-tiba terjatuh. Semuanya membangunkan Jin Woo tapi tidak ada respon. Jin Woo kembali tidak sadarkan diri.



    Jung Hoon menjelaskan pada Hee Joo kalau dokter memberikan obat bius agar tenang. Jin Woo tampaknya tidur nyenyak, jadi, ia tinggalkan.

    "Lalu apa dia akan terus berhalusinasi?" Tanya Hee Joo. 

    "Entahlah. Kata dokter mungkin reda setelah istirahat beberapa hari. Maksudku, ikuti saja perkataannya meski dia tak masuk akal. Memicunya justru memperparah kondisinya."

    "Baik. Akan kulakukan."

    Jung Hoon langsung menuju ke hostel.



    Hee Joo menemukan lensa kontak yang dimaksud Jin Woo diatas meja.



    Turun hujan lagi dalam dunia game, Jin Woo mengeluarkan tangannya untuk mengecek dan tangannya tidak basah. Lalu ia diberi peringatan kalau musuhnya terlihat. Lagu itu terdengar lagi. 





    Jin Woo melihat Hyeong Seok ada di depan mobilnya. Jin Woo langsung mengunci semua pintu mobil. 





    Hee Joo buru-buru turun, tapi saat sampai di bawah dan mau masuk mobil, ia tak bisa karena Jin Woo mengunci mobilnya. Hee Joo mengetuk-ngetuk sambil memanggil-manggil Jin Woo untuk dibukakan, tapi Jin Woo tidak meresponnya.

    Jin Woo terus menatap ke depan dan ia mengisyaratkan pada Hee Joo untuk menunggu. Hee Joo pun diam san mengikuti arah pandangan Jin Woo, tapi ia tidak melihat siapapun. 



    Akhirnya waktunya habis, duel pun dibatalkan dan seperti yang sudah-sudah, Hyeong Seok menghilang, Jin Woo kembali ke dunia nyata. 

    Barulah Jin Woo membuka jendela mobilnya untuk meminta lensanya pada Hee Joo. 



    Hee Joo juga membawakan jaket karena dingin, tapi Jin Woo buru-buru memakai lensanya bahkan saat Hee Joo belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

    Jin Woo masuk kembali ke game, ia mencari lokasi. Ia menemukan lokasi toko senjata, ia langsung akan pergi ke sana, tapi Hee Joo memanggilnya lagi. Hee Joo menawarkan diri untuk mengantar Jin Woo. 

    "Aku baik-baik saja."



    Tapi Hee Joo tidak bisa membiarkan Jin Woo pergi sendirian. 

    "Tunggu sebentar. Keluar. Biar aku yang menyetir. Jangan menyetir. Aku saja. Kau tak tahu jalan."

    "Aku tahu. Selamat malam."



    "Bagaimana aku bisa tidur? Kau bercanda? Kau jelas mengusikku. Aku tak bisa tidur jika begini. Aku akan cemas. Kenapa kau tak mau mendengarkanku? Harus kukatakan, aku kasihan pada Sekretaris Seo. Pekerjaannya yang paling sulit. Kuharap dia dibayar pantas. Yang bekerja dengan bos sepertimu akan gila! Kau bilang akan menyetir meski patah kaki. Aku tak bisa tidur mengetahuinya! Kudengar kau dibius. Kau akan kecelakaan jika efeknya masih ada. Kau sadar?!"

    "Tidak. Sudah kubilang aku gila. Kau juga sakit, 'kan?"

    "Apa?"

    "Kau hanya bisa mencerocos saat marah. Kau terus melakukannya. Kau bisa jadi rapper."



    Hee Joo: Aku sangat serius sekarang. Juga, aku ingin batalkan kontrak penjualan propertinya. Aku tak butuh uang itu, jadi, ambil saja. Kenapa tiba-tiba muncul dalam hidupku dan membuatku kacau? Kau tiba-tiba memberiku sepuluh miliar won. Aku senang hanya dalam satu hari, aku sungguh terlena. Tapi apa ini sekarang? Kau jatuh terluka dari hostelku. Bagaimana kalau kau menyetir lalu mati kecelakaan? Aku tak bisa hidup jika itu terjadi. Kenapa kau menyiksaku seperti ini? Kau lihat, aku tak apa-apa tanpa uang hingga kini. Keluargaku hidup nyaman meski dengan sepersepuluh uang itu. Jadi, kumohon... batalkan perjanjian dan keluarkan beban ini dari dadaku. Lalu aku akan melepaskanmu.

    Jin Woo: Ini urusan perusahaan, jadi, aku tak bisa.

    Hee Joo: Kalau begitu buka pintunya.

    Jin Woo pun membuka pintunya, "Aku akan senang kalau kau ikut. Aku takut pergi sendiri."

    Tapi Jin Woo menyuruh Hee Joo duduk di kursi penumpang, itu lebih dari cukup.

    1 komentar:

    1. Ka, kk streaming di mna? Aku coba cari tpi eps.6 kgak ada sub indo nya? Cari di viu tapi ko kgak ada yah? Apa ada judul lain di viu? Apa itu? Thx..

      ReplyDelete