Sunday, December 9, 2018

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 3 Part 3

    Sumber: tvN




    Jin Woo pun menyusul ke toilet. Dan ia dikejutkan dengan robohny pintu bersama dengan Hee Joo dan teriakannya. 




    Hee Joo pingsan, Jin Woo mendekatinya, mencoba membangunkannya. 

    Jung Hoon masuk, panik melihat Hee Joo. Jin Woo menyuruhnya memanggil bantuan.  

    "Baiklah. Tapi.. Kenapa pintunya?"

    "Mana kutahu? Cepat.!!"

    "Baiklah."

    Jung Hoon pun segera keluar untuk memanggil bantuan.




    Jin Woo membangunkan Hee Joo. Sesaat setelah membuka matanya, Hee Joo menanyakan pukul berapa saat ini.  

    "Pukul berapa sekarang?"

    "Pukul 10.13. Kau tak apa-apa? Kenapa kau mendobrak pintu?"

    "Apa ini berarti aku kehilangan tujuh miliar won karena 73 menit telah berlalu? Tak bisa dipercaya."

    "Kepalamu baik-baik saja? Kau bisa bangun?"

    "Bisa kau abaikan tiga menit?"

    "Apa?"



    Hee Joo memelas.

    "Hanya tiga menit. Aku tak bisa keluar karena pintunya terkunci. Kau bisa lebih lunak? Kau sangat kaya. Dasar pelit."

    "Kau mau terima jika kutarik tiga menit?"

    "Ya. Terima kasih."


    Hee Joo pingsan lagi. Jin Woo memanggil-manggilnya tapi Hee Joo sudah tidak merespon.



    Saat membuka matanya lagi, Hee Joo sudah ada di sebuah klinik dan disana cuma ada Jung Hoon. Jung Hoon menjelaskan kalau Jin Woo harus pergi karena ada urusan penting. 

    "Kudengar kau setuju tanda tangan kontrak saat di kamar mandi." Lanjut Jung Hoon. 

    "Benar."

    "Kau mau periksa kontraknya sebelum tanda tangan? Ah.. Aku kembali nanti jika kau masih pusing."

    "Tak apa. Aku baik-baik saja."






    Hee Joo langsung bangun untuk memeriksa kontraknya. Pertama yang ia lihat adalah nominal harganya. Ternyata Jin Woo menulis sepuluh miliar. 

    Jung Hoon: Kau tak sengaja terkunci, jadi, dia tak mengurangi apa pun.

    Jung Hoon langsung meminta Hee Joon menandatanganinya. Hee Joo langsung setuju. 



    Jung Hoon memberikan salinan kontraknya untuk Hee Joo dan ia menyelamati atas kekayaan Hee Joo. 

    Jung Hoon: Kau sudah baca ketentuannya? Kau diberi waktu enam bulan, cukup waktu untuk mencari tempat tinggal baru.

    Hee Joo: Benar.

    Jung Hoon: Kau harus beristirahat. Dokter bilang ada pembengkakan kecil di otakmu. Aku harus mengirimkan ini.

    Hee Joo: Tentu.

    Jung Hoon: Aku juga perbaiki ponselmu. Sekarang sudah berfungsi.

    Hee Joo: Terima kasih.


    Jung Hoon keluar dan Hee Joo masih terus saja gemetar.



    Lalu nenek menelfon. Nenek khawatir karena Hee Joo mematikan telfon setelah menelfonnya. 

    "Nenek, nanti kuberi tahu."

    "Kenapa? Ada masalah?"

    "Nanti. Setelah aku menerima..."



    Hee Joo mendengar suara pesan masuk, ia memeriksanya dan benar saja, ia mendapat pemberitahuan kalau ia menadapat transfer uang sebesar 10 miliar won. 


    Hee Joo langsung berlari keluar. Perawat memberitahunya kalau ia tidak boleh keluar, nanti dokter akan mencarinya. Tapi Hee Joo tidak berhenti, ia berkata akan kembali nanti. 




    Hee Joo menelfon neneknya dengan gembira, berkata akan segera menunjukkannya agar nenek percaya.

    Nenek terkejut mendengar semuanya.

    "Nenek. Kita kaya sekarang. Aku tak bercanda. Kita sungguh kaya. Kita tak hanya kaya, tapi sangat kaya. Kita tak perlu khawatir soal uang lagi. Kita sungguh kaya!"

    Hee Joo menangis, tapi juga tertawa bahagia disaat bersamaan.


    "Sejak pindah ke Granada, selama 12 tahun, tak ada hal baik yang terjadi pada Hee Joo. Akhirnya, untuk kali pertama, hidupnya tersentuh keajaiban. Dan..."



    Hee Joo menatap Jin Woo yang bengong di dalam Kafe Alcazaba. 




    Jin Woo sebenarnya sedang menatap Emma yang sedang main gitar. Tapi Emma tidak boleh bicara dengan Jin Woo karena level Jin Woo masih rendah, minimal level 5 yang boleh bicara dengan Emma.



    Hee Joo tersenyum menatap Jin Woo.



    Emma menghilang dan Hee Joo memanggilnya.

    "Aku melihatmu saat lewat. Kenapa kau kemari?" Tanya Hee Joo.

    "Bagaimana dahimu?"

    "Aku baik-baik saja. Tak sakit sama sekali. Juga, aku baru lihat. Aku sudah menerima uangnya."

    "Baiklah. Selamat."

    "Aku sungguh berterima kasih. Terima kasih banyak. Saat pertama kau tawarkan, kukira kau bercanda. Tapi ternyata tidak. Entah bagaimana berterima kasih. Entah apa aku pantas mendapatkannya."

    "Kau mau kelonggaran. Kau bilang aku pelit."

    "Aku bilang begitu karena putus asa. Aku tak menyangkanya."

    "Tak perlu terima kasih. Aku hanya membayar harga yang pantas. Bisnis tak pernah membuang uang untuk kemurahan hati."

    "Jangan konyol. Ini lebih dari kemurahan hati. Kenapa membayar sebanyak itu untuk rumahku?"

    "Omong-omong, kau bisa main gitar, Hee Joo-ssi?"



    Hee Joo tak mengerti, ia diam saja dengan tatapan penuh tanya. Jin Woo melanjutkan bukannya Hee Joo mahir bermain gitar klasik?

    "Bagaimana kau tahu? Aku sudah berhenti sejak lama."

    "Kenapa berhenti? Kau berbakat."

    "Kau pernah mendengarku bermain? Di mana?"

    Jin Woo tak bisa menjelaskannya, ia melihat ada pemian lain lewat di luar jafe. 

    Jin Woo: Sudah kuberi tahu, 'kan? Kota ini terkenal sebagai kota sihir. Kau punya uang sekarang, kenapa tak bermain lagi? Jujur saja, kau jauh lebih menarik saat memainkan gitar. Aku harus pergi karena ada urusan.




    Sebelum Jin Woo pergi, Hee Joo bilang ingin mentraktir Jin Woo makan malam, "Aku tak menerima penolakan. Kau punya waktu?"

    "Kuhubungi jika bisa selesai cepat. Ada orang yang harus kukalahkan hari ini."

    "Apa? Mengalahkan seseorang?"

    "Kuhubungi saat mengalahkannya."



    Jin Woo mengeluarkan pedangnya sambil jalan mengikuti musuhnya.



    Hee Joo menatap punggung Jin Woo. 


    "Uang bukan satu-satunya keajaiban yang Hee Joo alami hari itu."




    Su Jin melamun di beranda kamar hotelnya. Ia lalu masuk, tapi Hyeong Seok tidak ada di kamar. Ia pun ke luar dan menemukan Hyeong Seok sedang minum.

    Su Jin: Ada masalah? Kau menjadi pendiam.

    Hyeong Seok: Tidak ada. Aku hanya menunggu telepon. Aku menunggu kabar.

    Su Jin: Ada apa? Ada masalah pekerjaan?

    Hyeong Seok: Kenapa tak tidur awal? Perjalanan keretanya pasti melelahkan.

    Su Jin: Ya, aku kurang tidur. Su-gyeong sudah tidur.

    Hyeong Seok: Tepat sekali. Istirahatlah.

    Su Jin: Aku tidur duluan.



    Tiba-tiba Hyeong Seok menyinggung soal pertemuannya dengan Jin Woo. Su Jin heran, bagaimana Hyeong Seok bisa tahu? 

    "Aku lupa menanyakannya tadi. Di mana kalian bertemu?"

    "Pagi ini di stasiun kereta. Bagaimana kau tahu?"

    "Dia bilang apa?"


    "Sebenarnya tak bilang apa pun. Su-gyeong melihatnya, jadi, kami saling menyapa. Dia bilang sedang ada urusan bisnis. Keretanya datang, jadi, kami segera masuk."

    "Dia mengatakan hal lain selain sapaan biasa?"

    "Hal lain?"

    "Ya. Dia mengatakan hal lain?"

    "Seperti apa? Kenapa kau bertanya? Kami hanya berpapasan. Kami hanya menyapa. Memangnya bicarakan apa?!"



    Su Jin tiba-tiba emosi. Hyeog Seok langsung mendekatinya.

    "Su Jin. Kurasa kau salah paham. Bukan itu maksudku. Hanya saja aku akan berhadapan dengan J One lagi. Itu sebabnya. Ada orang lain bersamanya?"

    "Tidak."

    "Kau tahu kenapa dia di sana?"

    "Aku tak menanyakannya."




    Ponsel Hyeong Seok berdering, ia lalu menyuruh Su Jin tidur. 

    "Baik. Kalau begitu tidurlah."

    Hyeong Seok mendapat kabar dari orang-orangnya yang ia tugaskan mencari Se Joo di rumahnya, tapi rumah Se Joo kosong. 

    "Kami membobol masuk tapi dia tak ada. Ponselnya mati dan dia sudah cukup lama tak pulang. Kurasa ada pengkhianat."

    "Perjelas, Berengsek. Siapa yang kau maksud? Siapa yang dikhianati? Kita atau Marco?"

    "Aku tak yakin, Pak. Kami hanya berurusan dengan Marco dan tak ada informasi soal orang lain."

    "Apa ada yang kau ketahui?"



    Jin Woo menelfon. Hyeong Seok pun menyudahi panggilannya.

    Hyeong Seok menelfon balik Jin Woo. Jin Woo menantang Hyeong Seok, ia sudah siap sekarang.



    Su Jin sadar suaminya pergi. Ia pun menelfon. Hyeong Seok melarangnya menunggu, ia hanya mau bertemu seseorang.  

    "Siapa?" Tanya Su Jin. 

    "Kau tak perlu tahu."


    Hyeong Seok mematikan telfon. Ia menatap Su Jin yang melihatnya dari beranda lalu lanjut jalan lagi.

    0 komentar

    Post a Comment