Monday, December 3, 2018

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 2 Part 4

    Sumber: tvN


    Jin Woo menghubungi Jung Hoon, menanyakan keberadaan Hee Joo saat ini. 

    "Dia di dapur bersama seorang teman."

    Jin Woo memerintahkan sesuatu. 



    temannya Hee Joo menanggapi cerita Hee Joo soal Jin Woo, "Berengsek. Dia meremehkanmu karena kau wanita dan masih muda. Pasti kau bergeming dan menangis."

    "Kali ini, kutumpahkan semuanya."

    "Kau bilang apa?"

    "Tadinya ingin kubiarkan, tapi tak bisa. Menyebalkan sekali. Kukembalikan uangnya lalu kuusir."

    "Sungguh?"

    "Ya, baru saja."

    "Apa yang kau katakan?"

    "Aku tak ingat. Kukatakan yang terlintas. Amarah membuatku bicara lepas."

    "Lalu apa katanya?"

    "Pelafalanku bagus."

    "Lalu?"

    "Lalu... Dia hanya mendengarku mengoceh saat kupikir dia akan marah."

    "Itu sebab orang berengsek harus mendapat balasannya. Jika tak, mereka akan menginjakmu."



    Hee Joo merasa aneh karena Jin Woo  hanya mendengarkannya saja. Ke mana rasa marahnya?

    "Dia patah semangat. Kau tak sadar? Begitu cara mengurus orang berengsek. Berhenti tersedu dan diam-diam menangis."

    "Kapan aku melakukannya?"


    Obrolan mereka terpotong oleh kedatangan Jung Hoon. Hee Joo mengira Jung Hoon mau pergi sekarang tapi Jung Hoon membantahnya.




    Jung Hoon memberikan kartu namanya, sebenarnya mau tadi sih memberikannya tapi tidak sempat. 

    Hee Joo menerima kartu nama Jung Hoon dan temannya membacanya. Temannya tahu kalau J One Holdings adalah perusahaan investasi besar. Jung Hoon lega teman Hee Joo mengetahuinya. 

    Hee Joo: Kenapa memberiku ini?

    Jung Hoon: Daepyonim kami ingin bertemu denganmu untuk berbincang.

    Hee Joo: Aku? Kenapa dia ingin bertemu? Siapa dia?

    Jung Hoon: Pria di Kamar 601. Pria dengan jam tangan palsu, sepatu palsu, dan lainnya. Dia bosku.

    Teman: Maksudmu Yoo Jin Woo Daepyo? 

    Jung Hoon: Kau kenal.

    Teman: Apa benar dia? Yoo Jin Woo Daepyo menginap di Kamar 601?

    Hee Joo melongo.


    Hee Joo dan temannya ngobrol di kafe. Sementara temannya mencari informasi soal Jin Woo, Hee Joo ngoceh.

    "Kenapa aku bilang barang palsu? Jika diam, mungkin tak masalah. Ini semua salah Nenek. Dia bilang semua barangnya palsu. Sudah kuduga. Aku mengira semuanya asli. Dugaanku sejak awal benar."

    "Tolonglah. Jangan tertinggal berita Korea. Kau tak tonton berita."

    "Aku tak akan kembali. Kenapa harus?"

    "Lihat? Aku tahu istrinya Go Yu Ra."




    Hee Joo menanyakan siapa itu Gu Yu Ra. Temannya menjelaskan klau Yu Ra tu artis yang terkenal dan sangat cantik. Tapi temannya menemukan artikel perceraian mereka.

    "Dia duda?" Tanya Hee Joo. 

    "Mereka hendak cerai. Go Yu Ra menggugat cerai. Ini nikah kedua Jin Woo. Dia cerai lagi."

    "Serius? Apa dia dari Hollywood? Sang Beom Oppa, kenapa dia mau menemuiku? Dia mau menuntut karena tersinggung? Jika begitu, dia hartawan picik."

    Sang Beom tak bisa menjawabnya.



    Jin Woo sampai disana dan ia melambai pada mereka.

    Sang Beom: Astaga. Itu benar dia. Ini tak nyata. Dia tak tampak seperti ingin menuntut.


    Jin Woo bahkan minta maaf pada Hee Joo karena ia terlambat. Jin Woo juga mengajak Hee Joo berjabat tangan untuk berbaikan. Hee Joo setuju.



    Jin Woo: Aku minta maaf soal pagi ini. Belakangan ini aku stres. Tolong jangan marah.

    Hee Joo: Tidak, aku yang harus minta maaf. Kau berhak marah.

    Jin Woo: Meski begitu, aku cukup kasar.

    Hee Joo: Tidak, aku juga tak sopan. Aku tak menonton berita. Aku tak tahu kau terkenal. Yang kukatakan sebelumnya absurd.

    Jin Woo: Jam ini bukan barang palsu.

    Hee Joo: Aku tahu. Tentu saja bukan. Terlihat berbeda dari dekat.

    Jin Woo: Kuharap kau melupakan kejadian pagi ini. Aku tak biasanya sekejam itu.

    Hee Joo: Aku juga berharap hal yang sama. Aku tak biasanya hilang kendali. Sungguh.

    Jin Woo: Bagaimana jika kita lupakan saja karena memalukan?

    Hee Joo: Ya, kumohon.

    Jin Woo: Kita pura-pura saja menderita hilang ingatan singkat.

    Hee Joo: Hilang ingatan? Cukup bagus.

    Jin Woo: Mulai sekarang, kita lupakan kejadian pagi ini.

    Hee Joo: Ada kejadian apa pagi ini?

    Jin Woo: Silakan duduk.




    Jin Woo baru sadar ada orang lain disana. Sang Beom mengenalkan dirinya. Hee Joo menambahi kalau Sang Beom teman dekatnya. Jin Woo pun mengajaknya bersalaman.

    Sang Beom: Dia tak pintar. Aku tak tahu ini soal apa, tapi aku di sini mengikuti pertemuan ini. 

    Jin Woo: Aku tak bisa izinkan.

    Sang Beom: Apa?

    Jin Woo: Pertemuan ini hanya antara kami. Tolong beri privasi.

    Sang Beom: Kau bisa bicara denganku. Aku dekat dengannya. Kami sudah seperti keluarga.

    Jin Woo: Ya, tapi secara teknis bukan. Aku tak percaya orang yang manfaatkan kata "sudah seperti". Aku tak suka. Sulit percaya bahkan pada keluarga sendiri. Sejak tahu identitasku, aku yakin kau mencari informasi tentangku. Aku sudah menikah dua kali, tapi gagal. Yang pertama gagal karena sahabat dan istriku mengkhianatiku. Yang kedua hanya bertahan setahun. Dia minta separuh asetku untuk alimentasi. Dia mata duitan. Kurasa proses hukum lebih panjang dari pernikahan kami. Mungkin terdengar kasar, tapi ini kenyataannya. Aku tak punya orang yang "sudah seperti" keluarga atau teman. Aku tak percaya itu.


    Jin Woo juga melarang Hee Joo percaya sama orang lain juga, "Yang akan kukatakan ini dapat mengubah hidupmu. Saat keadaan berubah, begitu juga hubunganmu. Khususnya terkait uang. Jadi, aku akan diskusi hanya dengan Jung Hee Joo-ssi."

    Sang Beom pun pergi. Jin Woo mengucapkan terimakasih atas pengertiannya.



    Hee Joo menanyakan urusan Jin Woo mengajaknya bertamu. 

    "Rasanya aku melewatkan beberapa hal, tapi waktu sangat penting jadi aku langsung saja. Aku yakin kini kau tahu siapa aku. Aku seorang investor. Aku beli produk hebat, tanam modal, dan jual dengan harga besar. Itu tugasku. Tahu kenapa aku di Granada sekarang? Dalam setahun, Granada akan lebih terkenal untuk hal selain Alhambra."

    "Untuk apa?"

    "Sihir."

    "Sihir?"

    "Ya, itu benar. Mulai sekarang, Granada akan terkenal sebagai kota ajaib. Terpesona sihirnya, orang akan kemari seperti kawanan lebah. Mereka akan tinggal minimal sebulan alih-alih hanya beberapa hari. Orang kaya dengan waktu dan uang untuk dihabiskan akan datang kemari alih-alih ke Mediterania. Ini alasannya. Mereka akan bersenang-senang. Uangnya dipakai untuk bersenang-senang. Jadi, aku akan beri saran sejak awal. Segera pasang lift. Tak cuma tambal lubang tikus dan perbaiki jendela. Kusarankan kau perbaiki seluruh gedung. Malah, jual saja rumah bobrok itu dan beli hotel sekalian. Ya, beli hotel bagus saja."

    "Apa?"

    "Dalam setahun, kota ini akan kacau sebab tak akan ada cukup kamar. Aku seorang ahli, jadi, saat kubilang investasi, percayalah dan lakukan. Beli hotel dan pekerjakan manajer. Lalu kau bisa lakukan apa pun. Menyenangkan, ya? Apa impianmu, Hee Joo-ssi? Adakah yang mau kau lakukan jika uang bukan masalah?"



    Hee Joo menghentikan Jin Woo, ia tak mengerti sama sekali omongan Jin Woo itu. Bagaimana bisa beli hotel? Bahkan ia tak ada uang untuk renovasi. Sekarang ia sedang cari pinjaman untuk rumah bobrok itu.

    "Uang akan datang padamu."

    "Bagaimana bisa?"

    "Seseorang akan memberikannya."

    "Siapa?"

    "Menurutmu siapa?"


    "Inilah yang terjadi pada hari pertama aku datang ke Granada."



    "Setahun berlalu."

    Jin Woo naik kereta. Petugas mengumumkan kalau pemberhentian selanjutnya adalah stasiun Granada. Jin Woo bangkit, tapi langkahnya pincang.




    Seperti yang terjadi pada Se Joo. Tiba-tiba petir menyambar dan hujan turun dengan lebatnya. 



    Jin Woo masuk ke dalam toilet, ia menyiapkan pinstolnya, lalu membuka pintu. 



    Terdengar dua kali suara tembakan. Jin WOo melangkahi seseorang yang tergeletak. 






    Jin Woo masuk ke gerbong penumpang dn tiba-tiba ia menembak, semua penumpang panik. Terjadi baku tembak antara Jin Woo dan musuhnya


    Sampai akhirnya Jin Woo tertembak. Tapi ia bisa bertahan. Lalu ia berlindung di balik kursi untuk mengganti pelurunya yang sudah habis.




    Musuh mendekat. Tapi Jin Woo lebih sigap. 



    Namun karena banyaknya musuh, ia tumbang juga. 

    "Setahun lalu, apa yang terjadi dengan masa depan yang kuramal pada Hee Joo?" 




    "Aku separuh benar."

    Jin Woo saling menodong pistol dengan musuhnya. Mereka sama-sama menembak.

    "Aku sungguh keliru untuk sebagiannya."

    1 komentar: