Monday, December 3, 2018

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 2 Part 3

    Sumber: tvN



    Jin Woo mengajak Su Gyeong berjabat tangan, sementara Su Jin mendekati mereka.   

    Su Gyeong: Ini sungguh kejutan. Aku tak percaya kita bertemu. Di Seoul, mustahil.

    Jin Woo: Benar.


    Jin Woo lalu beralih pada Su Jin, "Lama tak bertemu."

    "Ya, sudah lama. Sedang apa kau di sini?"

    "Urusan pekerjaan."

    Jin Woo melihat perut Su Jin yang membesar.

    Su Jin: Kandungannya membesar, ya? Apa terlihat jelas?

    Jin Woo: Aku tak tahu apa pun hingga sekarang.

    Su Jin: Sungguh? Kukira kau sudah tahu.

    Jin Woo: Tak ada yang memberitahuku. Kapan lahirnya?

    Su Jin: Desember.

    Jin Woo: Baik. Selamat.


    Su Gyeong: Sudah kubilang sebaiknya kita naik mobil, tapi Eonni bersikeras ingin naik kereta. Dia wanita hamil yang cerewet.

    Jin Woo: Kalian mau ke mana?

    Su Gyeong: Sevilla. Sekitar dua jam dari sini dengan kereta. Kami akan kembali malam ini.

    Jin Woo: Kau bersama saudarimu?



    Su Jin: Tidak, aku menemani suami urusan bisnis. Tapi dia tiba-tiba harus datang ke Granada.

    Su Gyeong: Kami tak punya rencana kemari. Awalnya kami berniat tinggal di Barcelona. Tapi kami ikut karena belum pernah ke Granada.

    Jin Woo: Kapan kalian sampai?

    Su Gyeong: Kemarin pagi.

    Su Jin: Omong-omong, kau baik-baik saja?

    Jin Woo: Apa maksudmu?

    Su Jin: Aku sungguh terkejut setelah membaca berita.

    Jin Woo: Maka aku sukses. Tujuanku mengejutkan orang lain. Perceraian pertama yang terberat. Yang kedua mudah. Bertahan setahun. Cukup. Makin lama bosan. Bukankah kau juga begitu?

    Su Gyeong menyela mereka dengan berkata kalau kereta mereka sudah datang.

    Jin Woo: Baik, silakan. Senang bertemu kalian. Hati-hati.

    Su Gyeong: Terima kasih. Kapan kembali?

    Jin Woo: Belum tahu. Aku masih ada pekerjaan.

    Su Gyeong: Mari bertemu di Korea.

    Lalu Su Gyeong mengajak Su Jin masuk.



    Su Gyeong sangat terkejut bertemu Jin Woo disana. Mereka sudah tiga tahun tidak bertemu. Tapi Jin Woo sama sekali tak berubah. Su Gyeong memanggil Jin Woo kakak ipar.

    Su Jin sepertinya masih memikirkan Jin Woo. 





    Jin Woo memakai lensa kontaknya, ia mau bermain. Sun Ho tak mengerti, harusnya kan Jin Woo mencari Se Joo, kenapa malah bermain gim?




    Jin Woo memasuki Level 2. Perintahnya adalah mengambil senjata dengan kunci prajurit. Petunjuknya, memperhatikan sekeliling desa.

    Tiba-tiba ada yang aneh, pemain baru masuk. Yang Ju menebak pasti ada yang mengakses server. Sun Ho tanya, siapa? 




    Sementara Sun Ho melacaknya, Jin Woo mulai bergerak. Ia melacak lokasi pemain baru melalui menu gim-nya. 



    Yang Ju: Apa itu Jung Se Joo? Pasti begitu.

    Sun Ho: Kenapa dia tak pulang jika sudah tiba di Granada?

    Yang Ju: Insting pemrogram adalah mencoba gimnya. Gim sudah seperti anaknya, jadi, dia akan periksa apakah ada masalah, atau dia punya ide baru untuk gimnya.




    Jin Woo berkendara sesuai navigasi gim dan ia tiba di sebuah halaman rumah. Disana ia melihat penjaga tergeletak. Namanya Penjaga Argon.

    Sun Ho: Sial, aku tak menduganya.


    Jin Woo melanjutkan perjalanannya dan ia juga melihat penja-penjaga lain mati.




    Jin Woo sampai di lokasi, ia turun dari mobil dan mendengar perkelahian. Ternyata Hyeong Seok lah pemain yang barusan masuk itu.


    Jin Woo mendekat. Ia mengambil pedangnya. 


    Hyeong Seok sudah level 4 ternyata dan bisa mengalahkan semua musuhnya. 


    Mereka akhirnya bertemu. 

    "Bajingan ini Cha Hyeong Seok. Sahabat dan sesama pendiri perusahaanku. Kini, dia bukan keduanya."

    Gim menyarankan untuk menyapa pemian baru itu dan membangun relasi untuk meningkatkan poin pengalaman.


    Hyeong Seok tak menyangka Jin WOo orangnya, ia kira hanya ia yang tahu gim ini. 

    "Tak ada rahasia di bidang ini. Jika kau tahu, maka aku juga tahu."

    "Yoo Daepyo, menyingkirlah dari proyek ini. Gim ini sudah selesai."

    "Selesai?"

    "Ya, selesai."



    "Aku dapat telepon kemarin. Katanya dia tak mau teken kontrak denganmu. Aku tahu tawaran masih terbuka, tapi aku percaya dustamu dan kuberi tahu yang terjadi selanjutnya. Anggap kau beruntung dan beli gim ini. Kau masih akan butuh bantuanku karena aku punya lensa kontak. New Word tak akan pernah mendapatkannya karena takkan kubiarkan. Kau hanya perlu tahu triliunan won yang kau investasikan untuk gim ini akan sia-sia. Aku beri tahu lebih dulu agar tak berharap bisa bergabung denganku."

    "Kau bukan pemilik tunggal J One Holdings."

    "Aku masih punya hak veto penawaran."

    "Bukankah harusnya Daepyo memikirkan profit perusahaan?"

    "Ada pengecualian yang lebih penting daripada laba. Aku menganggapmu pengecualian. Aku yakin kau tahu ini. Kau akan selalu jadi pengecualian hingga aku mati. Jadi, berhentilah bermimpi, jangan buang uangmu, dan jaga istrimu. Seharusnya jangan biarkan istrimu yang hamil naik kereta sendirian.



    "Aku sudah melawannya enam kali seumur hidupku. Skor pertarungan kami tiga menang dan tiga kalah. Kekalahan paling menyakitkan adalah istriku dia rebut."


    Kedua pemain menolak membentu aliansi, mereka sekarang musuh jadi harus memenangkan pertarungngan jika ingin menambah poin.

    Jin Woo: ZINU LEVEL 2, SERANGAN 114, BERTAHAN 134

    Hyeong Seok: DR. CHA LEVEL 4, SERANGAN 390, BERTAHAN 400



    Hyeong Seok menantikan pengalaman ini soalnya ia belum pernah bermain dengan sesama manusia.


    Yang Ju khawatir karena level Hyeong Seok lebih tinggi dan senjatanya lebih bagus.

    Sun Ho: Bagaimana jika dia habis-habisan?



    Sun Ho menghubungi Jin Woo, menyuruhnya mundur. 

    Sun Ho: Kita tahu dia juga belum mengontak Jung Se Joo, jadi, kita aman. Kini pergilah.

    Jin Woo: Tapi dia memancingku.

    Sun Ho: Jangan bersikap kekanakan dan pergi.

    Jin Woo: "Kekanakan" itu nama tengahku.

    Sun Ho: Jin Woo-ya, lihat.

    Yang Ju: Anda tak bisa menang, Pak. Kumohon jangan.

    Jin Woo: Aku tahu dia timpang.

    Yang Ju: Gim video adalah soal benda, bukan kemampuan fisik. Pedangmu tak sebanding. Kau bisa mati dengan goresan.

    Tapi Jin Woo tidak menurut.



    Hyeong Seok sudah bersiap menyerang, tapi Jin Woo tiba-tiba keluar dari permainan. 

    "Kau sedang apa? Kau mundur?"

    "Levelmu lebih tinggi. Kau tahu itu, Berengsek. Tetaplah di sini, aku akan menghubungimu."

    Jin Woo melangkah pergi.

    "Berapa lama kau di sini? Kita harus duel, telepon aku! Aku tak akan main serius."


    Hyeong Seok juga keluar dari permainan. Ia menelfon seseorang, "Ada apa ini? Yoo Jin Woo ada di dalam gim."

    Hyeong Seok kesal karena yang ditelfon malah nanya balik. 

    Hyeong Seok: Dengar. Dia pasti mengontak Jin-woo juga, cari tahu apa ada kesepakatan.


    "Sejak tiga tahun lalu, tujuan hidupku jadi simpel. Apa pun yang diinginkan Hyeong Seok, aku akan merebutnya. Makin besar pendiriannya, makin aku bertekad mendapatkannya. Itu sebabnya.. Saat dia menyebut Hyeong Seok, tekadku menjadi bulat. Aku harus mendapatkan gim ini."



    Jin Woo akan menghubungi seseorang tapi ada telfon masuk, dari "A". A adaah inisial orang itu.

    "Halo? Kini Hyeong Seok... Paten? Aku belum memeriksanya. Sungguh?"

    "Ini pertarungan ketujuh kami, dan bagaimanapun aku harus menang. Akan kulakukan segala cara untuk menang."

    0 komentar

    Post a Comment