Monday, December 3, 2018

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 2 Part 2

    Sumber: tvN


    Di jalan, Jin Woo berpapasan dengan pelayan bar semalam. Pelayang itu mengijinkan Jin Woo menggunakan toiletnya sepuasnya malam ini. 


    "Tidak. Aku tak di level itu lagi." Jawab Jin Woo.



    Jin Woo menyetop taksi, tapi taksinya tidak berhenti. Untunglah Jung Hoon datang dengan mobil.

    "Daepyonim! Aku datang. Aku datang sangat cepat. Aku terbang jadwal pertama. Aku bahkan tak sarapan. Aku menyewa mobil ini. Anda suka?"

    Jin Woo meminta kuncinya. Ia melarang Jung Hoon mengantarnya, ia menyuruh Jung Hoon masuk, taruh barang, lalu pesan bunga. 

    "Bunga? Ke mana harus kukirimkan?"

    "Untuk pemilik hostel tempatku menginap. Namanya Jung Hee Joo. Kasih kartu namaku."

    "Ah.. Kini aku tahu yang terjadi. Aku penasaran kenapa kau terbang kemari tengah malam."

    "Apa?"



    "Daepyonim. Kuharap anda tak lupa. Anda masih terlibat gugatan hukum. Anda belum teken berkas perceraian. Sebaiknya tahan diri ari terlibat dengan..."

    "Sialan."

    "Jangan berbuat hal yang bisa merugikanmu. Banyak orang Korea, mereka selalu memperhatikan."

    "Dia calon rekan bisnis penting. Harus pakai tampangku jika gagal."

    "Tampang? Sebaiknya kudekati dia untukmu."

    "Kau tampan?"

    "Aku lebih tampan."

    "Astaga. Jung Hoon, pikirkan ini. Jika kita harus menggodanya dengan tampang, siapa lebih pantas? Pikirkanlah. Antara kita."

    "Anda masih menikah secara hukum. Aku saja karena masih lajang dan lebih muda."

    "Lajang atau tidak, kau jelek."

    "Apa? Ibuku bilang aku paling tampan di Sanggye-dong."

    "Jung Hoon. Terlepas ras atau budaya, wajahmu tak akan pernah dianggap "tampan" dalam sejarah manusia. Tak sekali pun dalam sejarah manusia. Beri tahu ibumu. Kasih ibu tak menyangkal sejarah."

    "Itu sebabnya musuhmu banyak, Daepyonim."



    Jung Hoon mengeluarkan kopernya dan itu membuat Jin Woo senang. Kopernya gedhe banget, ia senang Jung Hoon menderita. 


    Jung Hoon gak mengerti maksud Jin Woo itu sampai ia masuk ke dalam hostel. Ia syok melihat banyaknya tangga tanpa adanya lift.



    Jin Woo ke stasiun sambil menghubungi Sun Ho, mengatakan kalau ponsel Se Joo rusak makanya belum menghubungi mereka. 

    "Kukira dia berubah pikiran dan kembali ke Hyeong Seok. Jadi dia sungguh datang." Sun Ho bersorak.

    "Aku menuju stasiun, mau bicara langsung dengannya. Diskusi di hostel bisa gawat."

    "Kenapa?"

    "Kakaknya benci aku."

    "Kenapa dia cepat membencimu? Kau belum lama tiba."

    "Dia marah karena aku memberinya beberapa saran. Dia menangis."

    " "Beberapa saran"? Saranmu itu bukan saran. Kau mengomel dengan kejam di hadapan orang! Kau mengomelinya? Kau sungguh menyebalkan."



    Yang ju yang baru datang menanyakan apa Jin Woo mau naik level hari ini? Sun Ho membentak, naik level tak penting saat ini!

    Yang Ju: Kurasa aku sudah ketagihan. Aku mau tonton lagi.

    Jin Woo: Apa aku keren kemarin?

    Yang Ju: Tak, bagian terkerennya adalah melihatmu dikalahkan. Itu pengalaman melegakan.

    Jin Woo: Jangan remehkan aku. Kini aku level dua.

    Yang Ju: Kenapa tak bermain sekarang? Anda harus cari pedang baru.

    Jin Woo: Tunggu. Harus urus Jung Se Joo dulu. Mari cari tahu kenapa dia tolak tawaran sepuluh miliar won Hyeong Seok.




    Kita kembali saat petugas mengumukan kalau kereta akan segera tiba di Granada. Se Joo terbangun dan ia membangunkan orang disebelahnya. Tapi orang itu cuma menggeliat dan balik tidur lagi.



    Tiba-tiba petir menyambar, langit berwarna hitam pekat, hujan lebat turun. Se Joo panik. 




    Tapi saat Jin Woo tiba di stasiun, semuanya baik-baik saja, cuacanyanya pun cerah. 

    Woo Jin menunggu di dalam, ada pemberitahuan kereta akan sampai satu menit lagi.



    Kereta sudah berhenti, semua orang keluar, tapi Jin Woo tidak melihat Se Joo.

    Ia lalu bertanya pada, apa ada jalan keluar lagi? Petugas itu menggeleng. Woo Jin bingung. 



    Woo Jin pun memutuskan mencarinya di kereta. Ia berpapasan dengan orang yang duduk didepan Se Joo. 


    Kereta lanjut jalan lagi, tapi Se Joo tetap tidak terlihat, tapi tasnya masih ada di dalam. 



    Sun Ho menelfon untuk menanyakan hasilnya. Jin Woo merasa ada yang sangat tak beres. Sun Ho ikutan pusing.


    Sampai di atas, Jung Hoon ngos-ngosan, tapi tugasnya belum selesai, ia mencari toko bunga diinternet. Saat itu, Hee Joo mengetuk pintu.



    Hee Joo heran melihat Jung Hoon. Jung Hoon menjelaskan kalau JIn Woo sedang keluar dan ia memperkenalkan diri sebagai teman sekamar Jin Woo yang barusan tiba.

    "Kalian akan menetap di sini?" Tanya Hee Joo.

    "Kurasa begitu. Dia tak minta check out."

    "Tak, kau harus check out."

    "Maaf?"

    "Dia hanya bayar semalam."



    Hee Joo bahkan mengembalikan uang Jin Woo pada Jung Hoon. 

    Hee Joo: Kau harus keluar pukul 11.00. Jangan terlambat.

    Jung Hoon akan bernegosiasi tapi Jin Woo menelfon. Jung Hoon pun menyuruh Hee Joo menunggu.



    Jin Woo menyuruh Jung Hoon turun ke lobi dan tanya Hee Joo dimanaya diknya yang bernama Se Joo. 

    "Dia sedang bersamaku." Kata Jung Hoon. 

    "Siapa? Jung Hee Joo-ssi di dekatmu?"

    "Tapi dia bersikeras mengembalikan uangmu."

    "Kembalikan?"



    Jung Hoon lalu memberikan ponselnya pada Hee Joo, memintanya bicara langsung dengan Jin Woo.

    Jin Woo tak butuh pengembalian uang, tapi kenapa? 

    "Tidak, aku harus kembalikan. Ada begitu banyak masalah, jadi, aku tak bisa menerima uangmu. Sudah kuberikan ke temanmu. Kau tak makan sarapan, jadi, aku juga tak bisa terima uangmu. Aku tak mau tampak tak peduli."

    "Begini..."

    "Kami perlu merenovasi kamar ini. Harus perbaiki jendela, periksa kabel, tangkap tikus, jadi, silakan keluar dari kamar ini."

    "Kau pasti masih marah. Aku minta maaf atas sikapku pagi ini. Aku sering hilang kesabaran."



    Hee Joo: Tak, aku tak marah. Semua yang kau katakan benar. Kau sangat jujur. Jadi, aku juga ingin berkata jujur. Benar rumah ini tua, tapi aku punya nurani. Rumah ini tua, tapi aku punya nurani. Tolong ingat. Karena itu kukembalikan uangmu. Sampai jumpa.

    Jin Woo: Tunggu, kumohon. Bisa beri kesempatan bicara?

    Hee Joo: Aku tak bisa bicara, kau... Kau yang tak biarkan orang bicara.

    Jin Woo: Apa?



    Hee Joo: Kau terus bicara hal di benak tanpa biarkan aku bicara. Bersikap seolah aku tak kejam dan kasar. Tapi aku punya nurani. Makanya kuminta kau ke hotel lain. Kubilang kamarnya di lantai enam. Kusuruh ke tempat lain sebab kamarnya kotor. Jelas sudah kuberi tahu. Tapi kau bersikeras tinggal. Katanya tak apa, tapi kenapa bersikap jahat? Aku tak malas. Aku mungkin lebih rajin darimu. Tahu apa soal hidupku hingga menilai begitu?

    Jin Woo: Itu...


    Hee Joo: Ambil saja uangmu kembali. Aku tahu kau butuh uangnya. Kau pakai sepatu dan jam tangan palsu dan cemas koper mahal palsumu tergores. Kau minta kamar tunggal dan pelayanan terbaik. Proyek 100 triliun won itu biasa saja! Itu membuatmu menyedihkan. Kau pun tampak tua, jadi, aku sedih melihatmu pura-pura!



    Hee Joo sampai ngos-ngosan karena bicara keras tanpa jeda. 

    Jin Woo: Aku tak tahu sebelumnya, tapi pelafalanmu bagus.

    Hee Joo: Aku juga baru tahu pelafalanku bagus.

    Jin Woo: Jam tanganku tampak palsu?

    Hee Joo: Ya, seperti jam 30 euro yang dijual di pasar jalanan.

    Jin Woo: Mengejutkan.

    Hee Joo: Aku lebih terkejut kau tak tahu.  Sampai jumpa.



    Hee Joo mengembalikan ponsel Jung Hoon dan ia tetap menyuruh Jung Hoon keluar pukul 11.00. Jung Hoon mengiyakan. Hee Joo langsung keluar dan membanting pintu.



    Jung Hoon kembali bicara pada Jin Woo, apa yang barusan terjadi? Ia terkejut. Jin Woo lebih terkejut lagi karena ia sudah membayar mahal untuk jam-nya.

    "Kurasa dia tak akan berubah pikiran."

    "Jika ke bawah, kau akan bertemu adiknya. Tanya dia saja. Dia lebih ramah."

    "Ya, aku harus tanya apa?"



    Jung Hoon langsung ke bawah dan ia bertemu adiknya Hee Joo, Min Ju. Ia pun menanyakannya.



    Lalu ia memberi laporan pada Jin Woo kalau Se Joo belum menelfon, katanya akan datang besok.

    "Keluarganya tak ada yang peduli padanya? Rupanya aku lebih peduli."

    "Kurasa dulu peduli. Dia jarang pulang dan sering tak mengabari. Kita pindah dari kamar ini?"

    "Tak, tak perlu. Aku akan ke sana."




    Seseorang menyapa Jin Woo. Wanita itu tak sendiri, seseorang memanggilnya Su Gyeong. Yang memanggil itu namanya Su Jin dan Jin Woo mengenalnya, Jin Woo sampai bengong.

    Jin Woo langsung memutus telfonnya.

    0 komentar

    Post a Comment