Monday, December 3, 2018

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 2 Part 1

    Sumber: tvN




    Pemilik Ramyeon dataang ke dapur usai dri toilet dan ia agak kesal karena Jin Woo membiarkannya hangus. 

    Jin Woo, "Apa kubiarkan hangus saat kau minta kuawasi? Lalu alarm asapnya mati? Aku murka lalu teriak dan mengeluh berisik? Tak mungkin. Makanya kau menangis, karena teriakanku? Aku tak pernah begitu. Jika benar, aku bukanlah manusia. Tak mungkin. Tak mungkin. Maksudku, aku mungkin... Aku menderita hilang ingatan singkat."


    Hee Joo terus memelototinya. Jin Woo gagal dengan candaannya itu. Ia pun keluar sambil membawa ponselnya.


    Jin Woo tak habis pikir dengan Se Joo, jika disana tempat tinggalnya, seharusnya dia beri tahu.

    Kilas Balik...




    Di Barcelona digelar acara Mobile World Congress, salah satu pameran IT terbesar di dunia. Lensa kontak perusahaan Jin Woo yang paling menarik banyak perhatian.

    "Kemudahan yang belum pernah ada, dengan definisi ultra, yang menyerupai mata manusia, menjadikannya perangkat sempurna untuk mewujudkan realitas tertambah."





    Se Joo sedang berkemas dan ia mendengarkan berita itu.

    "Yoo Jin-woo, Direktur J ONE Korea, membeberkan detail rencana perusahaan, juga bilang lensa pintar ini jadi perangkat pertama yang berhasil mengomersialkan teknologi realitas tertambah."

    Seseorang menjelaskan tentang Se Joo, "Namanya Jung Se Joo. Dia lulusan D3, tapi kini menganggur. Dua bulan lagi usianya 18 tahun."



    Se Joo pergi saat semuanya sedang memasak. Nenek berpesan agar Se Joo coba berteman dan sering-seringlah menelfon mereka. Tapi Se Joo diam saja. 




    Hee Joo mengejarnya keluar, ia berpesan agar Se Joo hatii-hati dan selalu angkat telfonnya.  

    "Kapan kau kembali?" Tanya Hee Joo.

    "Belum tahu."

    "Setaknya kirim pesan sesekali."

    Tapi Se Joo tidak menanggapi.

    Kilss Balik Selesai...



    Orang itu lah yang menjelaskan tentang Se Joo tadi. Se Joo pamit ke Barcelona untuk menemui teman, tapi dia belum kembali.

    "Sudah berapa lama dia pergi?"

    "Seminggu."

    "Keluarganya tak cemas?"

    "Dia sudah lulus, dan dia anak lelaki. Dari E-mail nya, sepertinya keluarga sudah menyerah padanya."



    Ada seseorang yang datang ke Hostel. Jin Woo memperhatikannya. Hee Joo keluar untuk menemui tamunya. Jin Woo enggan terlihat, jadi ia menutupi wajahnya.





    Jin Woo menanyakan soal Hee Joo pada orang itu.

    "Tak ada banyak info, tapi aku tahu dia kelola hostel sejak orang tuanya meninggal. Dia urus banyak hal. Jual makanan di hostel."



    "Dia seorang pemandu wisata."


    "Dia juga penerjemah."


    "Dia juga kerja di toko instrumen."



    Jin Woo tak mengerti, kenapa mengerjakan banyak hal begitu?

    "Mereka mungkin tak kaya. Mungkin dia tulang punggung keluarga. Dia punya nenek dan adik kecil."

    Akhirnya Hee Joo dan tamunya masuk juga. Jin Woo bisa duduk biasa lagi akhirnya.

    Jin Woo: Bagaimana dengan Hyeong Seok? Dia belum mengontak keluarganya?

    Orang itu: Kurasa Pak Cha belum tahu dia masih remaja. Kurasa tak bilang.

    Jin Woo: Dia tak mau diremehkan. Aku pun tak diberi tahu. Ada info lain?

    Orang itu: Hanya itu saat ini. Aku akan cari tahu lagi.

    Jin Woo: Terima kasih. Aku akan kembali dan lihat situasi.



    Jin Woo mengendap masuk ke dalam, ia memperhatikan Hee Joo. 



    Ia pun ikut bergabung untuk sarapan bersama. Nenek menanyakan siapa dirinya. Jin Woo mengenalkan diri beserta kamar yang ia tempati.



    Nenek lalu menawari Jin Woo sarapan. Jin Woo tentu saja meniyakannya dan bilang aan bayar nanti. Nenek tak mempermasalahkannya. Jin Woo mencoba bersikap ramah pada nenek. 

    "Ada menunya?" Tanya Jin Woo.

    "Tak ada. Makan saja yang kami buatkan."

    "Begitu. Aku suka tak perlu memilih. Memilih bisa melelahkan."

    "Kami hanya punya satu menu karena orang sepertimu."

    "Terima kasih. Aku terkadang ragu."




    Hee Joo nyengir mendengar sikap ramah Jin Woo itu. Meskipun begitu, ia tetap menyajikan makanan untuk Jin Woo.

    Jin Woo melihat menunya, sup rumput laut dan kerang. Pasti lezat. Nenek menjelaskan kalau itu masakan khas Hee Joo. Jin Woo pun berterimakasih pada Hee Joo, tapi Hee Joo nya cuek bebek.


    Dua orang yang ada disana merasa tak asing dengan Jin Woo. Mereka menanyakan asal Jin Woo. Jin Woo menjawab ia dari Barcelona.



    Nenek menyuruh Hee Joo duduk. Jin Woo lalu menarik satu kursi yang kosong untuk Hee Joo, tapi Hee Joo tidak mau duduk disana karena dekat dengan Jin Woo. 


    Cewek yang duduk disamping Hee Joo bertanya bagaimana Barcelona pada Jin Woo, soalnya mereka akan ke sana lusa.

    Jin Woo: Aku ke sana berbisnis, tak tahu apa-apa.

    Cowok: Kemari naik kereta?

    Jin Woo: Pesawat.

    Si cewek lalu mengajak cowok naik pesawat juga tapi cowoknya gak mau karena mahal. 



    Nenek dan Hee Joo membicarakan Se Joo. Jin Woo menguping. Se Joo ponselnya rusak dan kemarin mengabari Hee Joo lewat telfon umum. 



    Nenek: Astaga, bagaimana ponselnya bisa rusak? Kapan dia akan kembali?

    Hee Joo: Hari ini. Dia bilang naik kereta semalam. Dia melarangku menjemputnya.

    Nenek: Kapan keretanya akan tiba?

    Hee Joo: Pukul 08.00.




    Jin Woo langsung melihat jam, sekarang pukul 07:20. Jin Woo langsung menyudaho makannya. Nenek heran, padahal Jin Woo belum makan apapun. Jin Woo beralasan harus menemui seseorang dan ia langsung membayar sarapannya.

    Hee Joo: Kurasa kau tak menyukainya.

    Jin Woo: Bukan begitu. Ini lezat, tapi aku akan terlambat. Sayang sekali. Selamat menikmati sarapan, aku pergi.

    Jin Woo pergi, ia meninggalkan uangnya di meja.

    0 komentar

    Post a Comment