Sunday, December 2, 2018

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 1 Part 2

    Sumber: tvN


    Seo Jung Hoon masuk ke kamar Persdirnya tapi orangnya gak ada. Ia heran, apa yang terjadi.


    Ia pun keluar dan menghubungi Presdirnya. Ternyata presdirnya adalah Woo Jin. Jung Hoon bertanya diamana Woo Jin saat ini.

    Woo Jin yang sedang mengatasi kloset tersumbat tambah kesal. Jadi Jung Hoon baru bangun? 

    "Hehe.. Ya. Aku baru bangun dan tak melihatmu di sini. Anda sedang apa?"

    "Sedang apa? Memperbaiki toilet."

    "Apa? Memperbaiki apa?"

    "Aku berada di Granada."

    "Granada? Baiklah. Di mana itu? Sebuah kelab?"

    "Kau tak tahu Granada? Sebuah kota di selatan Spanyol."


    Jung Hoon tak menyangka Woo Jin ada di Granada itu.  Kenapa mendadak ke sana tanpa memberitahunya? Pesawat mereka ke Seoul pukul 09.00 lho! Kenapa kau pergi ke sana... Sungguh absurd.

    "Menurutmu ini absurd? Kuberi tahu kau yang lebih absurd. Aku ingin ke Granada, jadi, kubangunkan sekretarisku. Tapi sekretarisku, yang mabuk dan pingsan, tak mau bangun. Dia bahkan memakiku karena membangunkannya. Jadi, aku terpaksa membeli tiket pesawat dan pergi sendirian. Karena sekretarisku tak berguna dan tak bisa apa-apa. Menurutmu ini masuk akal?"

    "Kita sudah menyelesaikan seluruh agenda, yang tersisa hanya naik pesawat, dan ini malam terakhir, jadi..."

    "Siapa bilang kita sudah selesai? Urusanku belum selesai. Apa kau atasanku? Kau yang membuat keputusan? Kau Presdirnya? Kau pikir siapa dirimu?"

    "Aku mohon maaf, Pak."

    "Kirim surat pengunduranmu segera setelah tiba di Seoul."

    "Bapak bercanda, 'kan?"

    "Terdengar bercanda?"

    "Semoga saja."

    "Maaf. Aku serius."

    Jin Woo langsung menutup telfon. Jung Hoon khawatir dengan nasibnya.


    Tapi Woo jin tiba-tiba menelfon lagi. Woo Jin menyuruhnya naik pesawat paling pagi kesana. Jangan lupa telepon saat sampai.

    "Baik. Tidak masalah, Pak."

    Jung Hoon lega, ia terselamatkan. Tapi ia gak habis pikir, kenapa Woo Jin pergi ke Granada tengah malam?


    Woo Jin akhirnya berhasil juga mengarasi kloset yang mampet, ia pun legaaaaa.


    Woo Jin nyoba colokan listrik yang deket ranjang, tapi charger nya gak bisa masuk. Ia nyari-nyari yang lain, tapi gak ada. Kesel lagi deh..

    "Astaga, ada apa dengan tempat ini?"


    Woo Jin pun turun membawa chargernya dan ia megeluhkan tangga yang banyak banget. 

    "Kenapa ada banyak sekali tangga? Kenapa gelap sekali di sini? Bagaimana jika tamu tewas terjatuh?"


    Woo Jin mencoba colokan yang ada di lantai dasar. Kalau sampai gak bisa juga, ia bersumpah akan menutup tempat itu. Untungnya colokannya berfungsi.

    Woo Jin bertanya pada Choi Yang Ju lewat pesan, butuh berapa lama lagi? Yang Ju menjawab setengah jam.


    Woo Jin melihat-lihat sambil menunggu baterainya penuh. Ada "Peraturan Dapur Hostal Bonita". Ada daftar menu sarapan dan harga sarapannya 6 euro.

    Ada yang gratis, yaitu Ramyeon. Woo Jin pun memasaknya.


    Tiba-tiba ada seorang anak gadis. Woo Jin bertanya siapa dia. Anak itu mengatakan namanya Jung Min Ju. 

    "Kau tinggal di sini?"

    "Ya."


    "Ah.. Pemilik hostel ini pasti ibumu."

    "Jelas dia kakakku."

    "Dia kakakmu?"

    "Astaga. Kau kira dia ibuku? Umurnya baru 27 tahun."

    "Begitu. Jangan beri tahu dia, ya?"

    "Aku akan menari di sini. Tolong jangan hiraukan aku."

    "Menari?"

    "Hanya di saat ini aku bisa latihan. Aku ada audisi minggu depan."


    Maka Woo Jin pun diam saja waktu Min Ju menari. Tapi lama-lama Min Ju menggenggunya. Rambutnya mengenai kepalanya atau kaki Min Ju menabrak kursinya.

    Keseeel lagi.


    Usai makan, Woo Jin meletakkannya begitu saja. Tapi Min Ju menegur, menyuruhnya mencucinya sendiri. 

    "Aku bisa bersihkan besok."

    "Tidak bisa."

    "Kenapa?"

    "Tidak bisa."


    Maka Woo Jin mencuci panci masaknya tadi dengan kesal.


    Selesai mencuci, Woo Jin langsung memeriksa pesan dari Yang Ju.

    "Sudah selesai, Pak. Silakan diperiksa."


    Woo Jin langsung mencabut ponselnya dan keluar. 

    "Mayoritas orang datang ke Granada untuk mengunjungi Istana Alhambra."


    Woo Jin terus berjalan, sepertinya ia menuju pusat kota.

    "Namun, aku kemari untuk sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih ajaib dari Alhambra."


    Anehnya disana sepi banget. Tiba-tiba ada sesuatu dan sepertinya ada bom mengenai salah satu sudut bangunan, puing-puingnya mengenai Woo Jin.


    Woo Jin akan mengambil salah satu puing bangunan itu, tapi tiba-tiba ada prajurit berkuda mendekatinya. 

    Prajurit dan kudanya memakai pakaian besi. Ada tiga anak panah tertancap di punggung prajurit itu. 


    Woo Jin memperhatikan detail prajurit itu dan kudanya. Matanyabertemu dengan mata Prajurit itu. 


    Tiba-tiba kudanya mengangkat dua kaki depannya. Prajurit terjungkal jatuh dan tidak bergerak lagi. Kudanya lari. 


    Anehnya orang-orang tidak ada yang peduli dengan kuda yang berlarian di tengah kota bahkan di teras bangunan.


    Woo Jin mendekati prajurit itu. 

    "Sihir. Aku datang jauh-jauh kemari untuk melihat sihir."


    Woo Jin menatap patung yang ada di hadapannya. Tapi tiba-tiba patung itu terbang ke hadapannya. 

    Dengan pedangnya patung yang sudah berubah menjadi orang itu menghantam tanah, beberapa paving copot dan berhampuran.


    Woo Jin jelas ketakutan. Orang itu serem banget pula. 


    Orang itu lalu bangkit mendekati Woo Jin. Ia mengayunkan pedangnya pada Woo Jin. Woo Jin melindungi kepalanya dengan lengannya. Dan lengannya berdarah. Saat ia menengok pedang orang itu, juga menetes darahnya.

    0 komentar

    Post a Comment