Sunday, December 2, 2018

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 1 Part 4

    Sumber: tvN


    Entah sudah yang keberapa. Woo Jin sampai di parkiran dan yang paling menegangkan adalah saat Prajurit melompat diatas sebuah mobil sampai semua kacanya pecah.

    Yang Ju: Kau melihatnya? Mereka gunakan latar nyata.

    Sun Ho: Ini gila. Bagaimana bisa?


    Tapi akhirnya Woo Jin lagi-lagi berhasil dikalahkan.


    Woo Jin mendapat tatapan aneh dari orang yang tak sengaja melihatnya disana. Tapi orang itu menganggap Woo Jin hanya mabuk.


    Woo Jin kembali ke bar, namun bar nya sudah tutup. Pelayan disana hafal banget sama Woo Jin. 

    Pelayan itu membukakan pintu untuk Woo Jin, tapi mereka bilang Woo Jin harus mencari toilet lain. Woo Jin mengeluarkan beberapa lembar uang, ia meminta bar dibuka 1 jam lagi.


    Woo Jin masih terus main saat matahari sudah terang. Ia guling-gulingan sendirian, jadi orang-orang menganggapnya aneh. 


    Tapi Woo Jin tidak menghiraukan mereka, ia terus menyerang sampai akhirnya berhasil menyerang Prajurit itu.

    Di kantor, Sun Woo dan Yang Ju bersorak, Akhirnya!


    Sama seperti Woo Jin. Keduanya di kantor juga diangap aneh oleh yang lain. 


    Woo Jin sangat bertekad menang kali ini. Ia berusaha keras dan akhirnya ia bisa membunuh Prajurit. 


    Woo Jin sukses memasuki level 2. Sorakan Sun Hoo dan Yang Ju semakin kencang. 

    Woo Jin juga bersorak sendiri. 


    Woo Jin diberitahu untuk mengambil hadiah, kunci prajurit. Kunci itu gunanya untuk mencari sejata di level 2.


    Woo Jin puas dengan pencapaiannya, tapi tubuhnya lelah, jadi ia berbaring disana.


    Sun Ho: Yoo Daepyo, aku tak bisa temukan cela gim ini selain terlalu adiktif. Jika New Word merebutnya...

    Woo Jin: Bateraiku lemah, kita bicara nanti.

    Sun Ho: Baik!


    Woo Jin memejamkan matanya sambil mengatur nafas.

    "Aku bisa membayangkan masa depan. Masa depan saat ini akan menjadi gim di seluruh dunia. Seoul, Beijing, New York, dan bahkan di Paris. Alih-alih Alhambra menjadi daya tarik Granada, kota ini akan dikenal atas sihirnya. Kota ini akan menjadi kiblat semua pengguna. Sama seperti toko pertama waralaba menjadi terkenal."


    "Pikiran itu membuatku sangat cemas akan kehilangan gim ini kepada orang lain."


    Woo Jin kembali saat Hee Joo juga baru kembali dari belanja. Hee Joo menyapa duluan, menanyakan apa Woo Jin habis jalan-jalan? 

    "Ya."

    "Akan kuminta lantai enam dibersihkan awal."

    "Senang mendengarnya."


    Woo Jin langsung naik ke atas. 

    "Dia minta bertemu di Granada dan mengirimiku alamat hostel ini, katanya sering menginap di sini. Apa dia akan datang? Bagaimana jika dia sudah teken kontrak dengan Hyeong Seok?"


    Woo Jin akan mengecas ponselnya lagi, tapi colokannya kembali tidak bisa digunakan, ia pun terpaksa turun. 


    Di dapur ada yang sedang memasak, seorang pelajar sepertinya. Pelajar itu menyapa Woo Jin lalu minta tolong Woo Jin mengawasi masakannya sebentar karena ia harus ke toilet. Woo Jin mengiyakan. 


    Pria yang dimintai tolong Woo Jin menelfon, mengabari kalau Hyeong Seok membatalkan semua rencananya sejak kemarin saat jadwalnya penuh.

    "Lalu di mana dia sekarang?"

    "Aku masih mencari."

    "Bagaimana jika dia teken kontrak?"


    "Kurasa tidak. Aku sudah mencari orang yang meneleponmu. Kau temukan sesuatu?"

    "Ya, beberapa hal. Aku melakukan tindak kriminal dengan meretas akun surelnya."

    "Lalu?"

    Orang itu mengetahui nama Se Joo. Usia 17 tahun, masih di bawah umur.


    Tiba-tiba ada suara nyaring alaram. Woo Jin menengok kebelakang dan itu suara alaram kebakaran. Woo Jin lupa akan masakan pelajar tadi, jadinya asap mengepul dan terdeteksi sensor pemadam api sehingga alaram bahaya berbunyi.

    Woo Jin segera mematikan kompor dan membuka jendela agar asapnya keluar.


    Setelahnya, Woo Jin berkata pada Pria itu akan keluar dulu.

    Di kantornya, Hee Joo mendengar suara alaram itu, ia langsung ke luar dan ia berpapasan dengan Woo Jin yang akan keluar.

    "Ada apa?" Tanya Hee Joo. 

    "Alarm asap. Bereaksi pada sedikit asap."

    "Memang agak sensitif. Aku sudah pasang tanda soal itu."

    Woo Jin tetap keluar dan Hee Joo ke dapur untuk memeriksa.


    Setelah di luar, Woo Jin menyuruh pria itu melanjutkan penjelasannya. 

    "Benar, dia masih di bawah umur, untuk mengikat kontrak dengannya..."

    Tiba-tiba Woo Jin tidak mendengar apapun, ada gangguan. Woo Jin pun terpaksa masuk lagi.


    Di dapur, Hee Joo sampai harus naik meja untuk mencoba menghentikan suara alaram itu. Woo Jin kesal, ia tidak bisa mencabut chargernya pula karena bateraonya belum terisi.

    Woo Jin: Cepat matikan. Aku tak bisa dengar apa pun di telepon.

    Hee Joo: Telepon di luar saja.

    Woo Jin: Tak dengar kubilang tak bisa? Sekarang matikan benda itu! Tak bisa dipercaya.


    Woo Jin pun terpaksa bicara disana. Tapi tetap gak denger apapun.


    Hee Joo yang tadi dibentak Woo Jin menjawab, "Ini bukan salahku. Kau yang tadi di dapur."

    "Apa?"

    "Kenapa kau membentakku? Aku datang karena mendengar suara."


    Akhirnya suara alaramnya berhenti. Dan Woo Jin menutup telfon untuk bicara pada Hee Joo.


    Woo Jin: Kenapa aku membentakmu? Karena kau pemiliknya. Kau pemilik rumah busuk ini!

    Hee Joo: Apa?

    Woo Jin: Kau tak punya malu, ya? Aku juga pengusaha. Aku tak tahan dengan orang yang bekerja setengah-setengah. Cepat puas dan malas. Jika kau menerima tamu dan dibayar, sebaiknya kau buat mereka betah. Apa yang kau tawarkan? Beberapa bungkus mi instan? Toiletnya terus tersumbat, bahkan ada lubang tikus di kamar. Kamarku sesak karena jendelanya tak bisa dibuka, terlalu banyak tangga. Gedung apa yang tak punya lift sekarang ini? Seharusnya ada lebih dari satu soket. Kenapa harus ke bawah untuk mengecas? Lihat tumpukan sampah ini!


    Hee Joo takut banget sampai mau menangis, "Sudah kubilang kau ke hotel saja."

    "Dengar. Aku sedang mendiskusikan proyek 100 triliun di telepon. Aku tak bisa mengisi daya ponselku di kamar dan alarm ini menyala meski tak ada api. Jika aku kehilangan proyek ini... semua salahmu."

    "Kenapa begitu..."


    Woo Jin mengecek ponselnya lagi.

    Hee Joo: Aku minta maaf, tapi kau juga tak masuk akal. Kau tak merasa bersikap terlalu kasar?

    Woo Jin: Kenapa aku harus sopan saat kau menyiksa tamumu?


    Woo Jin menghubungi orang itu lagi. Sementara Hee Joo tidak bisa manahan tangisnya.  

    Pria itu: Pemrogram ini masih di bawah umur. Pak Cha membuatnya meneken kontrak tanpa persetujuan wali.

    Woo Jin: Siapa wali sahnya? Orang tuanya?

    Pria itu: Mereka sudah meninggal, jadi, kakaknya adalah wali sahnya. Namanya Jung Hee Joo, dia mengelola hostel Korea di Granada bernama Hostal Bonita.

    Woo Jin: Di mana?

    Pria itu: Hostal Bonita. Akan kukirimkan alamatnya.


    Woo Jin baru sadar kalau orang yang ia bentak-bentak tadi adalah kakaknya Se Joo. 

    Pria itu: Jika Anda di Granada, sebaiknya mampir ke sana. Membujuk kakaknya mungkin lebih baik. Dia pemegang kuasanya.

    Woo Jin: Kurasa kau benar.

    Pria itu: Aku memeriksa E-mail antara mereka, api kakaknya tak tahu apa pun.

    Woo Jin: Begitu?


    Woo Jin sekarang bisa tersenyum pada Hee Joo.

    "Dalam sekejap, hidup Hee-ju juga terkena sihir. Kini dia memiliki kuasa atas teknologi inovatif yang akan mengubah dunia. Seperti semua putri dalam dongeng, dia tak menyadari statusnya, tinggal di rumah kumuh, dan membuka pintu untuk serigala."

    Hee Joo tentu saja memandang Woo Jin dengan aneh, karena tadi bentak-bentak sekarang malah tersenyum lebar.

    0 komentar

    Post a Comment