Sunday, December 2, 2018

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 1 Part 3

    Sumber: tvN


    Ternyata itu semua hanya game virtual dari lensa kontak yang dipakai Woo Jin. Disana tertulis kalau Woo Jin telah dibunuh oleh Prajurit Kerajaan Nasrid.


    Woo Jin dikeluarkan dan semua kembali seperti semuala. Tadi itu cuma gim gak ada yang nyata.

    Woo Jin kelihatan puas.

    "Apa-apaan itu?" tanya Yang Joo melalui alat pendengar yang dipasang ditelinga Woo Jin. 

    "Kau melihatnya?"

    "Ya, luar biasa. Bagaimana bisa? Ini AR terbaik yang pernah ada. Aku tak bisa bedakan kenyataan. Terlihat sempurna di layar. Bagaimana rasanya?"

    Semua terjadi terlalu mendadak tadi. Woo Jin sungguh mengira sudah mati. Yang Joo yang cuma bisa melihat dari monitor iri, ia ingin mencobanya juga. 

    Yang Ju: Kenapa dia harus membuat latar di Granada? Pasti lebih menyenangkan jika di Seoul.


    Woo Jin melepas lensanya, ia menanyakan bagaimana keadaan lensanya. Yang Ju melihat di monitor yang memberikank keterangan mengenai keadaan lensa itu. 

    Yang Ju: Tak apa. Apa panas?

    Woo Jin: Sedikit.

    Yang Ju: Kurasa lensa pintarnya tak mampu mengikuti gim ini. Ini luar biasa. Ini bisa diluncurkan dalam setahun. Bagaimana menurutmu? Menurutmu dia membuat ini semua sendiri? Luar biasa. Entah dia genius atau gila. Atau mungkin keduanya. Siapa yang membuat ini?

    Woo Jin: Aku juga ingin mengetahuinya.

    "Empat Jam Lalu"


    Seseorang tak dikenal menghubungi Jin Woo saat tengah malam. Jin Woo terbangun karena bunyi ponselnya itu. Yang menelfon adalah Se Joo.

    Se Joo: Halo. Pak. Maksudku, Profesor. Sebaiknya aku panggil apa?

    Woo Jin: Terserah. Tapi siapa...

    Se Joo: Aku bertemu Pak Cha Hyeong-seok di sini. Anda kenal Pak Cha Hyeong-seok, bukan? Kalian berteman.

    Woo Jin: Ya. Lalu?

    Se Joo: Dia menawariku sepuluh miliar won.


    Woo Jin terkejut. Se Joo menjelaskan, Sepuluh miliar won terdengar hebat, tapi Pak Cha itu orang jahat. Jadi, ia tolak tawarannya. Ia berniat menghubungi Woo Jin lebih dahulu, lalu ia baca artikel soal kunjungan Jin Woo ke Barcelona.

    "Tunggu sebentar. Aku tak begitu paham. Apa tujuanmu meneleponku? Bagaimana kau bisa dapat nomorku?" Tanya Woo Jin.  

    "Aku mengirimimu e-mail. Bisakah Anda membacanya? Aku enggan menjual kepadanya, tapi harus kuputuskan besok. Ayo bertemu di Granada. Tunggulah di Hostal Bonita. Aku sering menginap di sana."


    Seperti di awal episode, Se Joo langsung meninggalkan telfon. Woo Jin masih belum mengerti siapa Se Joo, seorang programer kah? Tidak bisa ya bicara pelan-pelan? Siapa Se Jo dan apa yang sedang dikembangkannya? Tapi Se Joo sudah tidak menjawabnya.

    Woo Jin menghubungi balik, tapi nomornya sedang tidak katif.


    Woo Jin akan balik tidur tapi ia kepikiran, apalagi Se Joo bilang Cha Hyeong Seok menawarinya 10 miliar won.

    Maka Woo Jin pun mengecek e-mailnya dari ponsel. Ia membuka e-mail dari Se Joo, judulnya "Memori Alhambra". 


    Woo Jin tertarik, ia langsung melihatnya di laptop.


    Woo Jin menghubungi seseorang untuk meminta tolong, ia bertanya apa Hyeong Seok masih di Barcelona? Orang itu tidak tahu pasti karena jadwal resminya sudah berakhir dua hari lalu.


    Aku gak paham nih, tiba-tiba ada diperlihatkan orang di mobil sedang menelfon juga. 


    Woo Jin: Tolong cari tahu sedang apa dia di sini. Aku minta detail ke mana dia pergi dan yang dia temui. Aku juga ingin cek latar belakang seseorang. Dia pria pemrogram. Aku hanya tahu alamat E-mail dan dia bertemu dengan Hyeong Seok di Barcelona.

    Pria itu: Kedengarannya penting.

    Woo Jin: Kurasa 100 triliun won dipertaruhkan. Tolong cepatlah. Aku tak ingin dia jatuh ke tangan Hyeong Seok.

    Pria itu: Baik, Pak. Apa kau akan menginap di Barcelona?

    Woo Jin: Aku menuju Granada. Aku harus melihatnya sendiri.

    Kilas Balik selesai.


    Yang Ju heran, kenapa orang itu (Se Joo) tak menelepon lagi? Apa dia sudah menemui Hyeong Seok?

    "Dia mungkin sedang di pesawat. Mari percaya dia tak akan jual kepadanya."

    Woo Jin memakai lensanya lagi lalu berdiri. Berhubung disana sudah malam, ia bisa melakukan sesuatu, "Ayo coba naik level sebelum fajar. Aku yakin pasti ada kekurangannya."

    "Baiklah."

    "Di mana Seon Hoo?"

    "Dia belum datang."

    Tapi sedetik kemudian Yang Ju melihat Sun Hoo masuk. 


    Woo Jin: Beri tahu dia detailnya. Jangan beri tahu selain dia. Tetap pantau gimnya.

    Yang Ju: Baik, Pak.

    Sun Woo tanya apa yang terjadi? Kenapa Woo Jin mendadak ke Granada? Yang Ju pun menjelaskan sesuai perintah Woo Jin.

    "Sesuatu yang luar biasa terjadi semalam. Lihat. Ini gim AR. Begitu kau melihat ini, gim AR lain akan tampak seperti sampah."


    Woo Jin masuk ke dua kali dlam gim-nya. 

    SELAMAT DATANG DI GRANADA TAHUN 1492

    PERANG ANTARA NASRID DAN ARAGON SEDANG BERLANGSUNG DI GRANADA


    Woo Jin membaca aturannya.

    TAK ADA KAWAN ATAU LAWAN KAU HARUS BERTAHAN
    KAU BISA MENANGKAN EMAS DENGAN MENYELESAIKAN MISI
    MISI DISEMBUNYIKAN DI DESA
    KAU TAK PUNYA SENJATA
    MOHON AMBIL SENJATA
    KAU AKAN DIBERI SENJATA DASAR UNTUK LEVEL SATU


    Senjatanya ada 230 m dari lokasi Woo Jin saat ini. Woo Jin pun melangkah sesuai petunjuk. 


    Petunjuk membawanya pada sebuah bar. Dan penunjuk arahnya berhenti di toilet.


    Woo Jin mencari-cari dimana senjata yang dimaksud sampai ia menemukan sesuatu yang bisa ditarik, itu ternyata cara untuk membuka jendela atas.


    Dan disanalah senjatanya berada. 


    Woo Jin mendekati pedang itu lalu mengambilnya pelan-pelan. Ia bisa menyentuhnya.

    Woo Jin mengaguminya karena penggambarannya sangat detail, mirip banget dengan pedang asli.


    Yang Ju yang melihat di monito sampai merinding. Ia menanyakan bagaimana rasa memagangnya pada Woo Jin.

    "Pegangan yang mantap." Jawab Woo Jin.

    "Luar biasa."


    Woo Jin mencoba pedangnya dengan mengayun-ayunkannya. Orang yang ada di toilet bertanya apa yang sedang Woo Jin lakukan. Orang itu melihatnya Woo Jin sedang mengayunkan tangan kosong. Tapi Woo Jin mengabaikannya.


    Woo Jin juga dianggap aneh oleh pelayan yang melihatnya mengayunkan tangan kosong.


    Siap perang nih Woo Jin dengan senjatanya. Woo Jin kembali berdiri di titik sebelumnya, dimana patung yang tadi bisa berubah menjadi manusia. Kejadiannya sama persis, bedanya Woo Jin lebih siap kali ini.


    Woo Jin menangkis pedang Prajurit itu dengan pedangnya. Yang Ju dan Sun Hoo yang menyaksikan tatapan prajurit itu ikut merinding. 

    Sun Hoo: Ini tak bisa dipercaya.


    Woo Jin berhasil dijatuhkan dan tiba-tiba prajurit itu menghilang. Yang Ju dan SUn Hoo juga mencari-cari dimana Prajurit itu.


    Mereka melihatnya di atas Woo Jin, lalu mereka segera menyuruh Woo Jin menyingkir, Bahaya!

    Tapi terlambat, Woo Jin kembali berhasil dibunuh. 


    Sekarang Woo Jin paham, ia mulai terbiasa. Ia ingin mencobanya lagi. 


    Permainan di mulai saat Prajurit menyerang. Woo Jin berhasil menghindar beberapa kali. Tapi pedangnya berhasil dipatahkan oleh Prajurit, ia pun kembali dibunuh.


    Sun Hoo berkomentar kalau Woo Jin terlalu lambat jadi Prajuritnya bisa menyerang. Bukannya Woo Jin latihan kendo ya?

    Yang Ju: Umurnya hampir 40 tahun, aktivitas fisik bisa sangat menantang.

    Woo Jin: Diam.

    Yang Ju: Seharusnya aku saja yang ke sana. Anda akan butuh setahun untuk naik level.

    Woo Jin: Sudah kubilang diam.


    Woo Jin mau mulai lagi, tapi karena senjatanya rusak, ia harus mengambil senjata lagi di bar itu. 

    Tapi gagal lagi, gagal lagi. Yang Ju dan Sun Hoo yang menyaksikan saja ikut frustasi. Tapi Woo Jin gak menyerah lo, ia tetap bolak-balik ke bar itu untuk mengambil senjatanya karena bolak-balik berhasil dibunuh juga.

    0 komentar

    Post a Comment