Sunday, December 2, 2018

Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 1 Part 1

    Sumber: tvN


    "Spanyol-Barcelona"


    Seorang pria bicara di telfon umum menggunakan bahasa Korea.

    "Aku baca artikel soal kunjunganmu ke Barcelona. Aku mengirimimu E-mail. Bisakah kau membacanya?"


    Pria itu resah banget, kentara dari nada bicaranya dan gelagatnya.

    "Aku enggan menjual kepadanya, tapi harus kuputuskan besok."

    Pria itu adalah Jung Se Joo (Chanyeol-EXO). Se Joo mengajak orang yang ditelfonnya untuk bertemu besok di Granada. Ia melihat ada seseorang yang membuntutinya kayaknya. 

    "Tunggulah di Hostal Bonita. Aku sering menginap di sana." Kata Se Joo dan langsung meninggalkan telfon lalu melesat diantara keramaian. 


    Se Joo terus berlari sambil sesekali menengok kebelakang, ia sampai harus menerobos lampu merah.

    Se Joo sampai di Stasiun Kereta Sants Barcelona.


    Tadi Se Joo tidak menutup telfon, orang yang ditelfonnya memanggil-manggil.


    Dengan masih berlari, See Joo naik salah satu gerbong kereta. Dan ia merasa aman karena orang yang membuntutinya tidak mengikutinya sampai kesana. Kereta pun berjalan.


    Kereta yang dinaiki Se Joo adalah kereta tidur, jadi ada ranjangnya. Ia masuk ke sebuah ruangan sesuai tiketnya dan disana sudah ada tiga orang asing.

    Se Joo duduk di ranjang yang kosong. Orang didepannya menanyakan tujuannya dalam bahasa Inggris. Se Joo menjawab ia mau ke Granada.

    "Bagus. Aku juga menuju ke sana. Maukah kau membangunkan jika aku tertidur?"

    Se Joo mengangguk. 

    "Terima kasih."

    Lalu orang itu tidur.


    Se Joo masih belum bisa tenang sepenuhnya, ia masih ketakutan jadi tidak bisa memejamkan matanya. Tapi ia tidur juga saat malam semakin larut.


    Petugas mengumumkan kalau kereta akan segera tiba di Stasiun Granada. Itu membuat Se Joo terbangun. Seperti janjinya, Se Joo membangunkan orang disebelahnya. Orang itu bangun sebentar tapi kemudian tidur lagi.


    Tiba-tiba saja hujan lebat turun disertai petir. Se Joo semakin takut. Ia membuka pintu, tapi sudah ada seseorang yang menunggunya. Orang itu langsung menembak. Ada percikan darah setelah suara tembakan. 


    Saat tiba di Stasiun Granada, Se Joo sudah tidak ada di ranjangnya. Orang itu baru bangun dan merasa heran karena tas Se Joo masi ada disana, 

    "Dia turun tanpa membawa tasnya?" Gumam orang itu.


    Narasi Yoo Jin Woo (Hyun Bin): Inilah saat terakhir keberadaan pria muda ini diketahui.


    Oh ya.. bercak darahnya sudah tidak ada lagi. Dan anehnya suara tembakannya keras lo tadi, masa orang asing itu gak denger?


    Di sebuah ruangan terdengar suara pembawa berita..

    "...akan memecahkan rekor dari edisi sebelumnya. Di antara yang lainnya, yang paling menarik perhatian dalah lensa kontak pintar produksi J One dari Korea Selatan. Direktur J One, Yoo Jin-woo, mempresentasikan lensa kontaknya sebagai perangkat pertama yang mendukung realitas virtual. Ditambah lagi, pengalaman inovatif beresolusi tinggi cukup membuktikan bahwa teknologi Korea makin berkembang. Direktur Yoo Jin-woo akan merilis produk ini tahun depan. Kemungkinan akan diluncurkan Desember tahun ini, memberi cukup waktu untuk menambah konten."


    Jung Hee Joo (Park Shin Hye) ketiduran saat menonton berita itu. Tapi ia terbangun karena suara bel. Ia melihat jam, sudah sangat larut, ia pun tidur lagi. Tapi suara belnya terdengar lagi. Hee Joo pun langsung bangun.


    Ia mematikan TV, lalu berjalan untuk membuka pintu luar. Yang datang adalah Jin Woo untuk menginap. 

    "Di sinilah cerita berawal. Saat aku datang ke Granada, mencari lelaki itu.. saat dia sedang mencariku."


    Hee Joo membawa Jin Woo masuk ke dalam. Jin Woo minta maaf karena sudah membangunkan Hee Joo larut malam.

    "Tidak. Kau mungkin tiba larut malam di bandara."

    "Ya, penerbanganku tertunda."

    "Dari mana kau terbang?"

    "Barcelona. Aku ada urusan bisnis di sana."

    "Baiklah. Kami jarang kedatangan tamu tanpa reservasi."

    "Ini perjalanan tak terduga."

    "Baik. Berapa lama kau berencana menginap?"

    "Tidak yakin. Aku lihat nanti. Bagaimana jika satu malam untuk saat ini? Ya. Satu malam dahulu."

    "Tentu."

    "Ada kamar empat orang dan kamar ganda. Harganya 20 dan 35 euro per malam. Tidak termasuk sarapan. Sarapan tambah 6 euro..."


    Jin WOo tiba-tiba menyela penjelasan Hee Joo. Ia menanyakan soal kamar tunggal, tidak ada kah? 

    "Tidak ada." Jawab Hee Joo. 

    "Kau tak punya kamar tunggal?"

    "Orang yang menginap di kamar tunggal biasanya datang ke hotel. Ah.. Sebenarnya ada satu di lantai enam."

    "Aku ambil kamar itu."

    "Tapi di lantai enam."

    "Tidak masalah."

    "Baiklah."


    Tidak ada lift disana, hanya ada tangga karena itu bangunan tua.

    Hee Joo: Pak... Kau membawa barang, mungkin sebaiknya ke hotel. Akan kuberi daftar hotel sekitar dengan lift.

    Jin Woo: Tidak perlu. Aku akan menginap di sini.

    Hee Joo: Mungkin kau mau di kamar asrama?

    Jin Woo: Ada di lantai dua.

    Hee Joo: Kamar asrama? Seperti apa itu?


    Hee Joo menunjukkan kamarnya, tapi super berantakan kaena itu kamar pelajar. Jin Woo gak bisa tidur disana,  ia lebih memilih naik ke lantai enam saja.


    Hee Joo menawari bantuan karena sepertinya koper Jin Woo sangat berat. Jin Woo menolaknya sambil tersenyum paksa.


    Butuh tenaga ekstra untuk membawa koper itu ke lantai enam. Jin Woo sampai harus berhenti beberapa kali. Tapi ia gak menyerah.


    Akhirnya mereka sampai juga di kamar lantai enam. Hee Joo lansgung membukakan pintu.

    Hee Joo: Kau pasti sangat menjaga kopermu.

    Jin Woo: Ah.. Ada benda berbahaya di dalamnya.

    Hee Joo: "Benda berbahaya"?

    Jin Woo: Aku membawa beberapa pistol.

    Hee Joo: Apa? Pistol?

    Jin Woo: Aku bercanda. Aku hanya tak ingin koperku tergores. Boleh aku masuk?

    Hee Joo: Ya.


    Ternyata kamar itu lebih pantas disebut gudang, debunya banyak banget dan barang-barangnya tidak beraturan. 


    "Maaf. Belum dibereskan sejak kemarin." kata Hee Joo.

    "Sejak kemarin? Kau yakin?" Tanya Jin Woo setelah melihat tebalnya debu.

    "Kamar ini biasanya kosong, jadi, aku lupa memeriksanya. Aku akan pastikan kamar ini dibersihkan besok pagi."


    Hee Joo mencoba membuka jendela tapi macet. Ia mencoba membuka jendela yang satunya tapi macet juga. Maka Hee Joo kembali menyarankan Jin Woo untuk menginap di hotel saja.

    "Kau menyuruhku turun lagi ke bawah? Dengan ini? Tidak mau."

    "Kurasa akan sulit."

    "Rasanya seperti dihukum mati."

    Hee Joo pun meninggalkan Jin Woo disana. 


    Nenek bangun dan menanyai Hee Joo soal tamu mereka. 

    "Tamu pria di lantai enam. Entah mau apa pria itu kemari. Dia membuatku tak nyaman." Jelas Hee Joo.

    "Kenapa?"

    "Dia jelas kaya, Nenek. Semua yang dimilikinya tampak sangat mahal. Jam tangan dan kopernya juga merek mewah."

    "Omong kosong. Menurutmu semuanya asli? Pasti barang palsu."

    "Begitukah?"

    "Lalu kenapa orang yang sanggup membeli barang mewah menginap di kamar itu?"

    "Nenek benar. Kenapa aku tak terpikir itu barang palsu?"

    "Masuklah. Ayo tidur."

    "Baiklah."


    Di kamarnya, Jin Woo sedikut melakukan pembersihan, tapi ia menyerah. Ia mencoba membuka jendela, tapi pegangannya-nya malah copot. 


    Saat akan memasangnya lagi, Jin WOo dikagetkan dengan datangnya tikus secara tiba-tiba. Ia menggunakan sapu tadi sebagai senjata. Namun tikus itu masuk sebuah lobang di dinding.

    "Apa-apaan ini?"


    Jin Woo menggunakan tisu toilet untuk menutup lobang itu agar tikusnya gak bisa keluar lagi.


    Jin Woo lanjut melakukan pembersihan, dengan sekali usap, lap yang ia gunakan langsung kotor.  

    "Astaga, berdebu sekali di sini."


    Selanjutnya, Jin Woo masuk kamar mandi, ia mencari tempat sampah, tapi tidak ada. Ia pun membuang tisunya di koset, lalu menyiramnya, tapi klosetnya gak menyerap tisu itu. 


    Jin Woo lalu membaca tulisan kecil di dinding.

    "Airnya sangat pelan. Jangan buang tisu ke dalam toilet. Jika tersumbat, silakan gunakan toilet di lantai dasar."

    Jin Woo aut kesssel.

    0 komentar

    Post a Comment