Saturday, December 1, 2018

Sinopsis He Hymn of Death Episode 1 Part 1

    Sumber: SBS

    Drama ini berdasarkan kisah nyata Kim Woo Jin dan Yun Sim Deok.

    [4 Agustus 1926, Jam 4 pagi Kapal Feri Deoksuhwan]


    Seorang awak kapan menyusur lorong. Ia mendengar suara musik dari salah satu Kabin. Ia mendekati kabin itu dan mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban da pintunya pun hanya tertutup sebagian.


    Orang itu pun membuka pintu, tapi tidak ada orang di dalam. Suara musiknya dari sebuah piringan. Ada foto yang dipajang di meja. Ditengah-tengan kedua foto ada pena, uang dan jam tangan. 


    Orang itu mengedarkan pandangan lagi dengan senternya dan menemukan sebuah surat di atas koper. Suratnya dalam bahsa jepang. 

    "Maafkan aku, tapi tolong kirim koperku kembali ke rumah."

    Orang itu berpikir setelah membacanya dan tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang cukup besar tercebur dalam air. 


    Orang itu segera menuju ke geladak untuk mencari tahu dan ia hanya menemukan dua pasang sepatu disana, sepatu wanita dan pria.


    Orang itu lalu melihat ke bawah, ke air laut tapi tidak melihat apapun. Ia langsung meniup peluit tanda bahaya agar yang lainnya mendengar.


    -=EPISODE 1=-

    [Tokyo, 1921]


    Sekelompok mahasiswa sedang berlatih dialog pementasan drama.

    "Entah dunia menyiksamu atau tidak, nilailah dirimu sendiri dan cintailah orang-orang. Semua manusia itu sama. Kita semua disiksa oleh takdir yang sama. Kita semua memiliki ketidakberuntungan."


    Penulis naskah (Joo Myung Hee) bertanya pada mahasiswa yang membacanya tadi (Kim Woo Jin), "Menurutmu bagaimana? Apa kita bisa menggunakannya selama tur kita di Joseon?"


    Judul naskah itu adalah "Kematian Kim Young-il". Woo Jin berencana menggunakan naskah itu untuk penampilan pertama mereka.

    Semuanya senang bahkan Joo Myung Hee dan Hong Hae Sung sampai berpelukan. 


    Hong Nan Pa: Kalau orang-orang dengar, mereka berpikir negara ini telah merdeka. Sesenang itukah karyamu akan dipentaskan?

    Hae Sung: Ini lebih berarti lagi karena Woo Jin mengakui karya itu.


    Selanjutnya Woo Jin merapati anggota yang lain. 

    Woo Jin: Dengan ini, tiga karya baru yang akan kita gunakan untuk tur telah diputuskan. Aku percaya pertunjukan ini bukan cuma membantu menggalang dana untuk asosiasi kita, tapi juga akan sangat membantu dalam pelestarian seni Joseon. Selanjutnya, penyajian drama dan musik baru akan memotivasi rakyat Joseon untuk merasa bangga oleh seni negara mereka.


    Hae Sung mengerti, seni itu hebat, ia juga ada rasa bangga. Tapi ia protes saat mendapatkan peran sebagai wanita.

    Myung Hee: Lalu apa yang bisa kita lakukan? Kau yang terbaik dalam meniru wanita.

    Hae Sung: Aku? Di sana duduk wanita sungguhan, jadi kenapa malah aku?

    Myung Hee: Kau juga lihat tadi, akting Gi Ju-ssi sebelumnya?


    Gi Ju agak malu juga dengan aktingnya. Ia cuma mahir memainkan piano saja. Nan Pan punya solusi, ia mengenal seseorang yang bisa memerankan peran Hae Sung.

    Hae Sung sangat penasaran, SIAPA DIA?!


    Sementara itu, seorang mahasiswa musik sedang melakukan latihan menyanyi Sopran. 

    Penyanyi: Yun Sim Deok
    Pengajar: Profesor Ueno
    Pemain piano: Belum tahu namanya.


    Profesor Ueno menghentikan Sim Deok untuk memberi pengarahan, "Dalami maknanya dan tafsirkan lirik terakhir.

    "Aku akan menunggunya dengan kepercayaanku yang teguh." Jawab Sim Deok

    "Benar. Bagian ini menceritakan tentang seorang wanita yang merindukan kekasihnya dan menunggunya. Dia bahkan tidak tahu kapan kekasihnya akan kembali. Jadi harusnya kau tak bernyanyi dengan ekspresi riang."

    "Ya, saya mengerti."

    "Sim Deok. Pernahkah kau merindukan seseorang yang kau cintai?"

    "Belum."


    "Lagu yang dibawakan tanpa adanya ketulusan penyanyinya itu palsu semata. Suatu hari nanti, kuharap kau mampu memahami dengan sebenarnya arti dari liriknya."

    Profesor Ueno meminta Sim Deok mengulangi lagi sambil membayangkan sudut pandang wanita itu berhubung Sim Deok belum mengalaminya sendiri.


    Usai latihan, Sim Deok disamperin oleh Nan Pa.


    Sambil jalan, Nan Pa menjelaskan soal asosiasinya, merupakan asosiasi pendirian murid dari Joseon yang membiayai diri mereka sendiri. Mereka diminta tampil di Joseon selama liburan musim panas mendatang.

    "Apa tujuan dari pertunjukan itu?" Tanya Sim Deok.

    "Tujuan asosiasi ini adalah menggalang dana untuk membangun aula. Tujuan kami adalah untuk mempromosikan drama baru dan musik Barat untuk membuka pandangan rakyat."


    Sim Deok tiba-tiba berhenti, ia merasa tujuan itu sedikit berbahaya. Ia belum yakin mau bergabung. Nan Pa tidak memaksa, yang penting Sim Deok datang dan lihat-lihat saja dulu, nanti Sim Deok pasti bisa memutuskan.  

    Nan Pa memberikan catatan alamat tempat perkumpulan mereka. Sim Deok menerimanya tapi cuma bisa memastikan datang untuk lihat-lihat saja. Nan Pa mengerti.


    Sim Deok mendatangi alamat yang diberikan Nan Pa. Ia sudah masuk terasnya dan saat akan membuka pintu, ia mendengar suara dari dalam.

    Ternyata Woo Jin sedang membaca buku.

    "Lihat. Lihat bagaimana cinta mengubahmu. Saat kau meremehkan cinta sebagai hal mustahil kecuali sebagai hal yang lembut, kau telah melakukan kesalahan. Cinta.. adalah sesuatu yang kau gunakan demi kesenanganmu. Mencintai berarti memberikan tanpa syarat." 


    Sim Deok mendengarkan sampai habis baru masuk dan ia langsung berkomentar. Kalimat tadi adalah miliknya Takeo Arishima. Tapi Shim Deok tidak setuju, mana bisa memberikan tanpa syarat dipahami sebagai cinta?

    "Tak bisa ditolong saat kau jatuh cinta. Cinta sejati berarti memberi memberi tanpa syarat apa pun yang terjadi." Lanjut Sim Deok.

    Tapi yang lebih menjadi pertanyaan Sim Deok adalah Woo Jin yang membaca buku Jepang dalam bahasa Korea. 


    Woo Jin mendekati Sim Deok, ia akan menjawab pertanyaan Sim Deok itu setelah Sim Deok menjelaskan kenapa dia masuk tanpa mengetuk.

    "Itu... Pintunya terbuka."

    "Pintu itu tak pernah kubiarkan terbuka. Lagipula, aku tak pernah mengizinkanmu masuk."

    "Maaf mengganggu waktu membacamu yang berharga. Aku langsung pergi saja."


    Saat Sim Deok berbalik, Nan Pa masuk. Nan Pa tak menyangka Sim Deok cepat juga sampainya. Ia bertanya, apa mereka sudah berkenalan? Mereka berdua sama -sama tidak menjawab. Nan Pa langsung tahu kalau mereka belum berkenalan, maka Nan Pa memperkenalkan mereka.

    "Namanya Yun Sim Deok, umur 25 tahun. Dia jurusan Musik Vokal di Sekolah Musik Ueno. Dan ini Kim Woo Jin, umurnya 25 tahun. Dia mengambil jurusan Sastra Inggris di Universitas Waseda. Kalau dipikir-pikir, kalian ternyata seumuran."


    Woo Jin mengulurkan tangan pada Sim Deok, "Senang berkenalan denganmu."

    "Aku tidak terlalu." Jawab Sim Deok dan tidak mau menjabat tangan Woo Jin.

    "Kudengar kau berbakat dalam berakting. Aku juga dengar kau berakting dalam pementasan drama. Itu sebabnya aku mau kau tampil bersama kami."

    "Tidak, terima kasih. Aku tidak punya waktu untuk hal seperti itu. Sampai jumpa."


    Sim Deok langsung berbalik dan melangkah, tapi kata-kata Woo Jin membuatnya berhenti dan berbalik menatap Woo Jin lagi.

    Woo Jin: Jika kau orang Korea, bukankah seharusnya kau melakukan apa saja dan segalanya demi negaramu?

    Shim Deok: Itu sebabnya aku tak mau.

    Woo Jin: Apa maksudmu?

    Shim Deok: Nyaris saja aku tidak bisa datang ke sini demi belajar dengan uang pemerintah. Bagaimana jika aku gagal menjadi sopran karena acaramu? Kau mau tanggung jawab?

    Woo Jin: Kau akan mengabaikan negaramu supaya kau bisa hidup dengan baik?

    Sim Deok: Negara kita sedang kacau, jadi aku, setidaknya, harus menjalani kehidupan yang baik.

    Woo Jin: Terserah saja. Setelah mendengar tentang jurusanmu, aku malah tak bisa bayangkan kau pandai berakting. Bagainapaun, selamat menjalani hidupmu.


    Giliran Woo Jin yang pergi duluan, tapi Sim Deok yiba-tiba berkata ingin bergabung dengan dua syarat.


    Woo Jin merapatkan syarat Sim Deok itu dengan yang lain. Pertama, Sim Deok mau tampil tapi hanya akan bernyanyi saja. Kedua, jika Sim Deok mendapat masalah di tengah pementasa ia akan segera berhenti.


    Gi Ju sepertinya keberatan dengan syarat Sim Deok itu. Woo Jin menjelaskan, jika meraka menambahkan nyanyian dalam pementasan maka akan lebih memberikan keberagaman.

    Hae Sung yang tetap harus berperan sebagai wanita geleng-geleng. Ia lemas seketika, padahal sudah berharap Sim Deok akan menggantikannya.

    Woo Jin: Yun Sim Deok akan bergabung dengan kita mulai latihan berikutnya.

    Myung Hee: Menurutmu, orang seperti apa dia ini?


    Nan Pa yang menjawab pertanyaan Myung Hee untuk Woo Jin itu, "Dia orang yang baik. Dia juga blak-blakan."

    Woo Jin pun menyudahi pertemuan untuk hari ini.


    Woo Jin memikirkan, sebenarnya Sim Deok itu orangnya seperti apa? 


    Di kamarnya, Sim Deok curhat tentang Woo Jin dengan temannya. Sim Deok berkata kalau Woo Jin itu sangat menyebalkan. 

    "Lalu kenapa kau setuju melakukan pertunjukan dengan pria seperti dia? Bukannya kau bilang itu bisa berbahaya?" Tanya teman.

    "Pertunjukkan baru yang dia siapkan. Aku ingin melihat seberapa bagusnya... hingga dia meremehkanku. Dan aku akan perlihatkan padanya... seberapa handal aku bernyanyi."

    "Ah.. Begitu."


    Woo Jin kembali ke kamar penginapannya dan ia diikuti oleh pemilik rumah. Ibu itu memberikan surat yang dikirim untuk Woo Jin. 

    "Terima kasih."

    "Ayahmu mengirim surat untukmu setiap hari. Manis sekali dia."

    Woo Jin hanya tersenyum.


    Woo Jin membuka amplop suratnya dan ternyata ada uang yang cukup banyak selain surat tentunya.

    Dalam suratnya ayah melarang Woo Jin memikirkan soal uang, gunakan saja semau Woo Jin. Dan jangan membaca buku yang tidak berguna, juga jangan meletakkannya di meja.

    "Ayah mengizinkanmu belajar Sastra Inggris sesuai keinginanmu, jadi setelah kau menyelesaikan studimu dan kembali ke Joseon, jalani kehidupan sesuai keinginan Ayah. Ayah akan menghubungi lagi."


    Woo Jin tampak berpikir setelah membaca surat ayahnya itu.

    2 komentar: