Saturday, December 1, 2018

Sinopsis He Hymn of Death Episode 1 Part 2

    Sumber: SBS


    Di hari pertama bergabung, Sim Deok menunjukkan kepiawaiannya menyanyi sopran. semua cowok melongo kagum, cuma Woo Jin yang bersikap biasa saja, hanya menoleh sedetik pada Sim Deok, lalu memunggungi lagi.

    Dari ekspresi Sim Deok sepertinya ia menantikan Woo Jin mengaguminya seperti yang lain, tapi Woo Jin malah memunggunginya dan sibuk dengan naskahnya.


    Usai menyanyi, Sim Deok mendapatkan tepuk tangan meriah dari yang lain kecuali Woo Jin. 


    Woo Jin memberikan komentarnya, "Kolaborasi dengan Gi Ju-ssi boleh-boleh saja tapi kedengarannya cukup menyedihkan. Aku lebih suka keceriaan karena kenyataannya cukup menyedihkan."

    Tak lupa Woo Jin meminta maaf pada Gi Joo atas kritiknya. Gi Ju menanggapi dengan senyuman, tidak perlu sampai minta maaf begitu, katanya. 


    Selanjuynta, Woo Jin menoleh pada Sim Deok, seperti siap berkomentar, tapi ernyata ia tisak mengatakan apapun padahal Sim Deok sudah menunggunya. 

    Woo Jin memerintah yang lain untuk mulai latihan pementasan drama. Sim Deok terlihat agak kecewa. 


    Ada seorang Jepang yang membantu mereka berlatih drama, namanya Kyosuke Tomoda.


    Aktinga Hae Sung kaku banget, Woo Jin langsung mengkritiknya. Hae Sung menyerah, ia tak bisa melakukannya.

    Woo Jin: Berhenti mengeluh, atau aku akan lakukan hal lebih buruk.

    Hae Sung takut dengan ancaman Woo Jin itu, ia pun berjanji akan memperbaiki aktingnya.


    Sim Deok keknya benci banget sama tingkah Woo Jin ini.


    Latihan hari ini selesai. Woo Jin membubakan tim dan ia cepat-cepat pergi keluar. Sim Deok juga cepat-cepat mengemasi barangnya. Nan Pa tiba-tiba mencegatnya.

    Nan Pa mengajaknya makan bareng, tapi Sim Deok menolaknya dengan alasan ada yang hars ia kerjakan.


    Di luar, Sim Deok mencari-cari Woo Jin, tapi udah gak kelihatan. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Sim Deok pun segera mencari tempat makan.


    Tanpa Sim Deok ketahui, ada yang mengintip tempat mereka itu, seorang pria.


    Sim Deok masuk rumah makan dan disana ia melihat Woo Jin ada disana. Sim Deok mencari-cari kursi kosong tapi hanya ada satu disamping Woo Jin. Mau tak mau Sim Deok pun duduk disana.


    Woo Jin memesan semangkuk mie. Sim Deok mengira itu untuknya, ia pun menyahut kalau ia tidak pernah bilang mau makan mie. 

    "Itu untukku." Jawab Woo Jin.


    Mie Sim Deok datang, ia langsung menyeruputnya, tapi karena terlalu panas, ia tidak sanggup mengunyahnya, jadinya ia mengeluarkannya lagi. Woo Jin memberikan minum untuknya.


    Setelah minum, Sim Deok tenya kenapa tadi Woo Jin buru-buru. Woo Jin menjawab, ia lapar.

    "Bagaimana kau tahu tempat ini?" Tanya Sim Deok lagi.

    "Mana ada orang Joseon di Tokyo yang tak tahu tempat ini."

    "Benar juga."


    Woo Jin menyudahi makannya saat Sim Deok baru mulai makan. Woo Jin bahkan membayari mie Sim Deok.

    Tapi Sim Deok menghentikan Woo Jin yang mau pergi. Dengan mulut penuh, Sim Deok meminta Woo Jin menunggu karena ada yang ingin ia katakan.

    Woo Jin pun berhenti dan agak gimana gitu dengan pegangan Sim Deok tadi.


    Mereka pindah ke tempat lain yang lebih sepi untuk bicara. Sim Deok merasa Woo Jin selalu meremehkannya bahkan sejak mereka pertama kali bertemu. Woo Jin bahkan membuatnya terlihat sebagai seorang rakyat yang tidak peduli dengan negaranya sendiri. 

    "Itu tidak benar." Jawab Woo Jin.

    "Pertunjukan di tanah air? Bagus juga, tapi bedanya apa? Negara kita sudah terpuruk, jadi apa gunanya pertunjukkan musik dan drama barat untuk rakyat? Mereka tak punya kekuatan."


    Woo Jin membenarkan perkataan Sim Deok itu. Tapi, ia mencoba mempertahankan tanah airny dengan caranya sendiri. Tanah air mereka diinjak-injak, makanya ia mau menunjukkan kalau jiwa mereka belum redup dalam bentuk sebuah drama. Bukankah itu juga alasan kenapa Sim Deok bernyanyi?

    Sim Deok: Jika kau tidak meremehkanku, terus kenapa kau mengomentari pertunjukan orang lain tapi aku tidak? Itu memalukan.

    Woo Jin: Aku cuma tak bisa berkata-kata.

    Sim Deok: Apa?

    Woo Jin: Aku tidak perlu berkomentar.. karena itu sangat indah.


    Pandangan Sim Deok pada Woo Jin berubah seketika.

    Woo Jin ingat pertanyaan Sim Deok saat pertama mereka bertemu, kenapa ia membaca buku Jepang dengan Bahasa Joseon. Karena ia tidak mau lupa kalau ia ini orang Joseon.

    "Ada lagi?" Tanya Woo Jin padan Sim Deok yang mulai bengong.

    "Yah, tidak ada..."

    "Kalau begitu, Kita harus pergi."


    Saat Woo Jin membayar minuman mereka, Sin Deok melihat punggungnya sambil bergumam, 

    "kenapa Woo jin gak mengatakannya dari awal sih? Kim Woo Jin-ssi..."


    Pada latihan-latihan berikutnya Sim Deok semakin mengagumi Woo Jin dan terus memandang Woo Jin sampai ia tidak sadar Gi Ju memperhatikannya. 

    Gi Ju memanggilnya untuk mulai latihan. 

    Tapi sebelum mulai, Sim Deok menanyakan sesuatu. Darimana mereka mendapatkan dana untuk latihan seperti ini? Gi Ju menjawab Woo Jin lah yang mengurus sebagian besar urusan pertunjukkan, menggunakan uang pribadi.

    Sim Deok semakin kagum.

    Gi Ju: Benar juga yang dikatakan Nan Pa. Katanya kalau semangat Woo Jin untuk tulisan dan dramanya tidak terbatas.


    Di kamarnya, Woo Jin menulis puisi.

    "Aku tak suka dia, tapi dalam ingatanku, aku..."


    Setelah mengetahui lebih banyak tentang Woo Jin, Sim Deok terus kepikiran sampai tidak bisa tidur.


    Besoknya, hujan turun saat latihan. Semua sudah datang kecuali Woo Jin dan Hae Sung. Tapi setelah Hae Sung datang, Woo Jin masih juga belum datang. Sim Deok tampak khawatir.


    Sim Deok lalu mendekati Myung Hee untuk bertanya. BTW, Nan Pa melihat itu.

    Sim Deok menanyakan tentang Woo Jin, apa terjadi sesuatu sampai absen dua hari berturut-turut? Ia menyamarkan kehawatirannya dengan berkata khawatir soal pertunjukan karena tanpa pengarahan dari sutradara.

    Myung Hee: Ah.. Tidak perlu khawatir. Dia akan kembali dalam beberapa hari setelah dia mengatasinya.

    Sim Deok: Apa Woo Jin-ssi... sakit atau sesuatu?


    Nan Pa menyadari sesuatu akan tingkah Sim Deok itu.


    Akhirnya Sim Deok mendatangi penginapan Woo Jin, ia bahkan membawakan bekal. Ia gakpeduli sedang hujan sekalipun.


    Sim Deok mengetuk, tapi tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, masih tidak ada jawaban juga. 

    Akhirnya ia memutuskan untuk masuk saja dan ternyata Woo Jin-nya sedang tidur.


    Sim Deok melihat banyak buku Woo Jin diketakkan di lantai, ia pun mengangkatnya ke meja dan saat itu ia menemukan sebuah puisi. Ia membacanya setelah memastikan Woo Jin masih tidur.

    "Seiring berjalannya waktu, air mata mengalir turun karena luka yang tak bisa disembuhkan. Karena tidak mampu menahannya, aku menangis. Tapi kenapa terasa seolah-olah api menyambar dan membakar diriku dari dalam?"


    Diperlihatkan saat Woo Jin menulisnya.

    "Jika aku masih anak kecil, dan menangis karena kesakitan, ibuku akan memanggil dokter. Jika aku masih anak kecil, ibuku akan membawakanku air dingin untuk hatiku yang panas. Jika aku masih anak kecil dan sakit, tidur malam yang nyenyak akan menyembuhkannya."


    Sim Deok melanjutkan membacanya,

    "Tapi, karena aku bukan lagi anak kecil, luka itu terus menyebar lebih dalam. Jika saja aku masih anak kecil..."

    Di akhir puisi tertulis nama pengarangnya, Soosan. Sim Deok bertanya-tanya, siapa Soosan.

    Tiba-tiba Woo Jin terbangun dan menayakan sedang apa Sim Deok disana. Sim Deok terkejut dengan pertanyaan itu.

    0 komentar

    Post a Comment