Sunday, December 23, 2018

Sinopsis Encounter Episode 8 Part 3

    Sumber: tvN




    Dae Chan mencuci bajunya pada hari H dan jelas mendapat protes dari Jin Myung. Jin Myung mengajak membeli baju baru saja, jujur baju Dae Chan gak ada yang cocok.

    "Karena aku tampan, tidak penting baju yang kupakai." Jawab Dae Chan. 

    "Astaga."

    "Bagaimana jika dia jatuh cinta pada pandangan pertama? Membosankan."

    "Kenapa kamu sangat sombong? Setidaknya cukurlah kumismu."

    "Jin Myung-ah. Kurasa tempat pertemuan yang dia inginkan terlalu mahal. Bagaimana kalau kami bertemu dan aku tidak suka? Buang-buang uang saja. Aku bisa membeli beberapa mangkuk siput bulan dengan uang itu."

    "Kamu memang pelit. Anggap saja investasi."




    Dae Chan menununggu di tempat janjian, lalu datanglah Mi Jin. Mereka sama-sama gak mau lihat satu sama lain. Akhirnya Mi Jin menghubungi teman kencannya, barulah mereka tahu sekarang nama masing-masing.



    Mi Jin duduk di depan Dae Chan dan mereka sama-sama menyalahkan aplikasi kencan buta itu. 

    "Kenapa aku tidak terpikirkan Siput Bulan Chan?" heran Mi Jin. 

    "Kenapa kamu terus menghina bisnisku? Aku mengabdikan hidupku mengelola bisnis itu sejak usia 23 tahun stelah menjalani wajib militer."

    "Pasti kamu memulai bisnismu sejak muda."

    "Apa kamu mulai berbisnis saat kuliah?"

    "Aku tidak pernah berkuliah."

    "Benarkah?"

    "Apa aku butuh gelar sarjana untuk menjual siput bulan?"

    "Tunggu. Kenapa kamu tidak berkuliah?"

    "Kamu sangat aneh. Apa kamu pernah menanyai orang alasan mereka berkuliah? Tidak ada yang menanyakan hal itu, jadi, kenapa menanyai orang alasan mereka tidak berkuliah? Kita semua punya jalan hidup yang berbeda, jadi, kenapa kamu hanya memikirkan satu jalan?"

    "Baik, tapi kamu juga menulis bahwa kamu presdir waralaba restoran. Kenapa berbohong di profilmu?"

    "Aku tidak bohong, aku sudah memiliki restoran dan berniat membuka cabang lain."

    "Seharusnya kamu tulis seperti itu. Presdir bukan jabatan sembarangan!"



    Mi Jin awalnya tidak mau makan, ia sudah berdiri tapi kembali lagi karena perutnya berbunyi, ia lapar.

    Mi Jin berbisik, ia melarang Dae Chan bilang pada Jin Hyeok soal pertemuan mereka hari ini. Tapi ternyata cuma mau bilang itu doang, lalu pergi.


    Akhirnya Mi Jin cuma makan sandwich. Ia sempat berpikiran kata-katanya tadi sangat kasar sih, tapi merasa masa bodoh lagi, ia mengganggap itu ganjaran karena Dae Chan sudah bohong.




    Kembali ke bar-nya, Dae Chan minum-minum dengan Hye In. Dae Chan menggunakan topi, katanya itu untuk mencegah kebotakan karena hari ini sangat melelahkan.

    Jin Myung yang mendekat langsung disemprot Dae Chan. 

    Jin Myung: Dia tampak cukup normal di foto profilnya. Dia terlihat ramah.

    Dae Chan: Kita tertipu. Semua isi profilnya bohong. Aku sudah memprotes perusahaan aplikasi itu.

    Hye In: Oppa! Masih banyak wanita baik. Kamu hanya terlalu sibuk di sini untuk bertemu wanita baik.



    Lalu Hye In menyuruh Dae Chan datang ke pesta topeng di hotel. 

    Jin Myung: Hyeong! Itu sempurna untukmu. Kecuali wajahmu, kamu benar-benar pria idaman.

    Dae Chan: Stresku makin parah.

    Hye In: Memang wajahnya Oppa kenapa? Menurutku dia menarik.

    Jin Myung: Karena kamu bersosialisasi dengan rekan kerjamu, kamu menjadi tahu cara memuji orang lain.

    Hye In: Bukan begitu. Dia hebat. Keluarga dan teman boleh ikut. Datang dan bersenang-senanglah di sana.

    Jin Myung: Kalau begitu, kita harus ke sana.

    Hye In menjelaskan ada undian berhadiahnya juga, banyak, termasuk voucer hotel gratis. Jin Myung dan Dae Chan langsung antusias.



    Jin Hyeok batuk di mobil. Soo Hyun memeriksa suhu tubuh Jin Hyeok dan merasa kalau Jin Hyeok demam. 

    "Aku baik-baik saja." Kata Jin Hyeok. 

    "Apa kubilang? Kamu terkena flu."

    "Sungguh, aku baik-baik saja."

    Tapi Jin Hyeok batuk lagi.



    Soo Hyun membawa Jin Hyeok ke rumahnya, ia memberi Jin Hyeok teh hangat setelah memberinya obat flu.



    Soo Hyun menyadari tehnya tidak akan seenak buatan Guru Lee, tapi lumayanlah karena itu teh mahal. 

    Jin Hyeok terus saja menatap Soo Hyun saat Soo Hyun menuang tehnya ke cangir. 




    Tiba-tiba Jin Hyeok mendekat dan memeluk Soo Hyun dari belakang.

    "Keserakahanku tidak ada batasnya. Aku ingin minum teh bersamamu. Tapi begitu aku melakukannya, aku ingin menyantap makanan bersamamu. Aku ingin menceritakan kisahku kepadamu. Aku ingin mengungkapkan perasaanku. Aku ingin.. menggenggam tanganmu yang halus."



    Soo Hyun menggenggam tangan Jin Hyeok. 

    Jin Hyeok: Aku ingin.. memelukmu.




    Soo Hyun pun berbalik, menatap Jin Hyeok lalu memeluknya. 



    Jin Myung heran saat sarapan bersama, soalnya ibu bertanya apa Jin Hyeok sudah mengemas semuanya? AKhirnya Jin Hyeok mengatakan kalau ia dipindahkan ke Sokcho. 

    Jin Myung: Sokcho? Tiba-tiba? Kenapa hanya kamu?

    Ibu: Perhatikan tata bahasamu.

    Jin Myung: Apa hanya Kakak?

    Jin Hyeok: Begitulah cara hotel beroperasi. Para karyawan direlokasi ke berbagai cabang.

    Jin Myung: Lalu kenapa Hye In Noona tetap di kantor pusat?

    Ibu: Dia lebih tua daripada kamu.

    Jin Myung: Aku tahu.

    Jin Hyeok: Mereka meminta karyawan untuk mengajukan diri dan aku mendaftar. Ini hotel yang baru dibuka, jadi, aku akan banyak belajar.

    Jin Myung: Kakak juga bisa belajar banyak hal di kantor pusat.

    Jin Hyeok: Karyawan pergi ke cabang untuk mempelajari kerja lapangan dan ditarik kembali ke kantor pusat. Sepertinya kamu akan menangis jika aku pindah ke luar negeri.

    Jin Myung: Sebaiknya itu tidak terjadi. Tapi jika itu terjadi, ajaklah aku.

    Jin Hyeok: Itu tergantung pada sikapmu. Kamu bekerja di tempat Dae Chan, tapi kamu juga harus membantu Ayah. Temanilah Ayah selalu setiap kali pergi ke pasar.

    Ayah: Jin Myung mengemudi dengan sembrono, jadi, dia tidak akan membantu.

    Jin Myung: Ayah bilang Kakak mengemudi terlalu aman, jadi, butuh waktu empat hari untuk sampai ke pasar.

    Jin Hyeok: Apa?

    Ayah mengalihkan pembicaraan dengan bertanya pada Ibu apa ibu sudah mengemas toniknya? Semuanya ketawa.




    Jin Myung membahas soal pesta akhir tahun, berarti Jin Hyeok tidak bisa datang dong? Ia lalu pamer kalau Hye In Noona mengundangnya ke sana, jadi ia akan datang.

    Jin Hyeok: Bersenang-senanglah mewakiliku.

    Jin Myung: Jika ada gadis baik di sana, aku akan minta nomor teleponnya.

    Ibu: Jangan meracau. Biarkan dia makan dengan tenang.

    Lalu semuanya membahas soal menyetir. Jin Hyeok hanya diam mendengaran sambil tersenyum.



    Ibu menyuruh Ayah untuk menghubungi Soo Hyun agar Soo Hyun mengerti. Ibu cerita kalau Soo Hyun datang tapi hanya untuk meracau, ibu menyalahkan Jin Hyeok.

    "Jangan sebut dia berandalan. Dia putra kesayangan seseorang."

    "Dia bilang dia akan bersiap untuk mengajukan gugatan. Beraninya dia mencoba menghalangimu?"

    "Kitalah yang mengganggu kehidupan putri kesayangan kita."

    "Dialah yang menyia-nyiakan keberuntungannya sendiri."

    "Kita seharusnya tidak menikahkan dia dengan keluarga itu."

    "Kini kamu akan menyalahkanku atas semuanya?"

    "Kubilang itu kesalahanku. Kamu bilang kamu mendapat pinjaman dari bank dengan jaminan rumah kita dan aku salah karena tidak memeriksa apa uang itu berasal dari Taegyeong. Aku yang salah karena kita tidak berdaya dan tidak bisa menolak saat mereka meminang putri kita. Oleh karena itu, kita masih mempermasalahkan hal ini. Dan itu semua salahku juga."

    "Apa gunanya mengatakan itu? Semuanya sudah berlalu sekarang."

    "Itu sebabnya kamu harus membiarkan Soo Hyun. Dia bilang dia ingin menjalani hidupnya."

    Ibu pun diam walaupun masih kesal.


    Woo Seok menerima undangan pesta akhir tahun Hotel Donghwa.



    Sekretarisnya masuk, memberitahu soal dipindahkannya Jin Hyeok ke Sokcho. Woo Seok heran, beneran Soo Hyun diam saja soal itu? 

    "Sepertinya begitu." Jawab sekretaris.

    "Baiklah."



    Woo Seok tiba-tiba mengunjungi Soo Hyun dengan alasan ia mau olahraga di Hotel. Soo Hyun heran, kan banyak hotel bagus di dekat kantor Woo Seok?

    "Peralatan di sini sangat bagus. Udaranya juga terasa lebih segar. Apa karena kamu memiliki pembersih udara yang bagus?"

    "Kenapa kamu di sini? Aku tidak punya banyak waktu."

    "Kudengar dia dipindahkan."

    "Ini urusan Hotel Donghwa. Kamu terlalu ikut campur."

    "Aku yakin kamu bisa membawanya kembali, jadi, kenapa tidak?"

    "Kenapa kamu ingin tahu tentang itu?"

    "Karena ini berhubungan dengan wanita yang kusuka."

    "Apa aku salah dengar?"

    "Apa pengucapanku buruk? Biarkan aku mengulanginya. Ini berhubungan dengan wanita..."

    "Tidak, Woo Seok-ssi. Jangan main-main lagi."

    "Aku tidak main-main."

    "Apa maumu?"

    "Sampai jumpa lagi."



    Sebelum pergi, Woo Seok mengatakan uneg-unegnya bahwa ia sangat merindukan Soo Hyun akhir-akhir ini. 

    0 komentar

    Post a Comment