Friday, December 21, 2018

Sinopsis Encounter Episode 8 Part 1

    Sumber: tvN



    Direktur Choi datang ke ruangan Soo Hyun untuk memenuhi panggilan Soo Hyun. 

    Dir. Choi: Kupikir Daepyo dijadwalkan pergi untuk perjalanan bisnis.

    Soo Hyun: Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Berkat Anda, aku mengalami banyak hal.

    Dir. Choi: Apa masalahnya?

    Soo Hyun: Apa Anda bertanya karena memang tidak tahu? Selagi aku absen, Anda menunjuk seorang pegawai tanpa seizinku dan mengkhianatiku.

    Dir. Choi: Hahaha Sulit kupercaya Donghwa Hotel Daepyo menggunakan ungkapan seperti itu. Astaga, aku sangat terkejut.

    Soo Hyun: Aku berusaha menyederhanakan ucapanku agar Anda cepat memahami maksudku. Aku belum pernah melihat penunjukan pegawai yang begitu tiba-tiba dan tidak berdasar seperti itu. Jadi, aku tidak bisa mengerti. Apa yang Anda lakukan?

    DIr. Choi: Tim Humas yang...

    Soo Hyun: Anda pikir aku akan memanggilmu kemari tanpa mencari tahu sama sekali?

    Dir. Choi: Daepyonim, mari kita saling jujur.

    Soo Hyun: Itulah yang kuinginkan.



    Dir. Choi bertanya, apa Soo Hyun pikir, ia melakukan semua ini sendirian? Ia yakin Soo Hyun sudah tahu bahwa Taegyeong mendukungnya.

    Soo Hyun tersenyum, akhirnya ia mengerti kenapa Dir. Choi selalu ada di jalur yang salah. Ia berusaha berbincang dengan Dir. Choi mengenai Hotel Donghwa, tapi Dir. Choi menyebutkan Taegyeong. Pantas saja Dir. Choi selalu tersesat. 

    "Apa Ibu sungguh berpikir Hotel Donghwa adalah perusahaan yang berdiri sendiri?"

    "Jadi, maksudmu Hotel Donghwa adalah milik Taegyeong. Apa boleh aku mengartikannya seperti itu?"

    "Aku tidak bisa menyangkalnya."

    "Aku kembali setelah membatalkan jadwalku dan memanggilmu ke ruanganku untuk memberi tahu bahwa ini yang terakhir. Jangan sampai terjadi lagi. Jika Anda melanggar batas lagi, Anda tidak akan bisa menghadapi apa yang akan terjadi nanti."

    "Apa ini ancaman? Apa Ibu berpikir Taegyeong akan tetap diam?"

    "Alasanku.. mencurahkan perasaanku di Sokcho di hadapan semua orang adalah untuk memperlihatkan aku akan melawan Taegyeong mulai sekarang. Jadi, pilihlah. Apa Anda mau terus tersesat sebagai boneka Taegyeong? Atau Anda akan bekerja sebagai direktur Hotel Donghwa dan belajar cara agar bisa dihargai?"

    Soo Hyun lalu menyuruh Dir. Choi krluar. 



    Hye In memanggil Jin Hyeok. ia mengakui kalau ia yang menghubungi Soo Hyun dan menceritakan semuanya, ia pikir Soo Hyun harus tahu. Tidak ada yang akan bisa menghentikan Jin Hyeok dan Jin Hyeok harus diusir. Jika Soo Hyun tahu setelah kembali dari perjalanan bisnisnya, ia rasa Soo Hyun akan lebih sedih.

    Jin Hyeok: Terima kasih atas perhatianmu.

    Hye In: Apa kamu tidak marah?

    Jin Hyeok: Aku akan melakukan hal yang sama jika ada di posisimu. Karena kita teman.



    Jin Hyeok menemui Mi Jin untuk meminta bertemu dengan Soo Hyun. Mi Jin bertanya, apa Jin Hyeok mengirimkan pesan darurat? Apa Jin Hyeok yang meminta bantuan Soo Hyun?

    "Apa itu penting?" Jin Hyeok balik bertanya.

    Mi Jin lalu menghubungi Soo Hyun, mengatakan kalau Jin Hyeok sudah datang. Soo Hyun menyuruhnya masuk.





    Soo Hyun meminta maaf karena sudah membuat Jin Hyeok terlibat, ia terlalu ceroboh. Jin Hyeok mengatakan ini bukan salah siapa pun, ia baik-baik saja.

    "Aku tidak baik-baik saja. Aku akan mengembalikan segalanya seperti sebelumnya, jadi, jangan khawatir." Kata Soo Hyun. 

    "Apa Ibu akan membatalkan pemindahanku?"

    "Sejak awal, ini tidak adil."

    "Daepyo-nim. Jika Ibu mengembalikan segalanya seperti sebelumnya, Ibu akan terkesan memihak."

    "Kim Jin Hyeok-ssi, masalah ini..."

    "Ibu tidak biasanya seperti ini. Saat pertama mendengar.. mengenai cara Ibu memulai hotel ini dan membangunnya, aku sungguh kagum. Membuat keputusan itu tidaklah seperti sifat Ibu. Biarkan aku pergi. Dan tunggulah saja.. bagaimana aku akan kembali."

    "Kim Jin Hyeok-ssi, kenapa..."



    Jin Hyeok mengaku ia hanya punya satu kekhawatiran. Jaraknya tidak cukup dekat baginya untuk mengunjungi Soo Hyun jika ia merasa rindu. Itulah kekhawatiran terbesarnya.

    "Ini bukan saatnya untuk bergurau."

    "Aku akan mulai bekerja di tempat yang baru besok."

    Dan Soo Hyun tidak bisa berkata apa-apa lagi.



    -=Episode 8=-




    Soo Hyun tiba-tiba mendatangi ibunya. Ibu terkejut, ada apa? 

    "Aku datang untuk memberi tahu Ibu dari awal agar Ibu tidak terkejut."

    "Apa kamu membuat masalah lagi?"

    "Ibu bisa melihatnya demikian dari sudut pandang Ibu."

    "Apa maksudmu?"

    "Saat aku lahir, Ibu adalah ibuku dan Ayah adalah ayahku."

    "Jangan berbelit-belit."

    "Aku tidaklah membencinya. Aku hidup begitu sulit sesuai dengan rencana Ibu hingga saat ini. Kupikir melakukan apa yang kuinginkan adalah sebuah kemewahan. Setelah hidup seperti itu, aku kini sudah berada di usia pertengahan 30 tahun."

    "Berkat ibulah kamu bisa menjadi menantu keluarga Taegyeong."

    "Itu pilihanku, jadi, aku tidak menyalahkan Ibu. Namun... Aku tidak akan lagi hidup seperti itu."

    "Lalu?"

    "Kurasa Taegyeong akan menuntut kita dengan dokumen perceraian itu."

    "Apa maksudmu dengan menuntut kita? Kalian berdua akan kembali bersama. Untuk apa dia menuntut kita?"

    "Tidak mungkin aku bisa kembali bersama dengannya."

    "Tentu. Ibu paham mertuamu.. tidak mudah untuk dihadapi. Ibu juga mengalami kesulitan dengan nenekmu. Tapi jika terus hidup bersama mereka..."



    "Aku tersenyum saat bercerai. Aku tanpa sadar tersenyum karena bisa bernapas lagi. Aku tidak akan kembali, jadi, Ibu harus berhenti menemui Ketua Kim. Hanya Ibu yang akan terluka."

    "Kamu pikir kamu bisa menghadapi Ketua Kim?"

    "Aku akan menemui pengacara untuk mempersiapkan tuntutannya."

    "Apa kamu sudah gila?"

    "Aku datang bukan untuk mendiskusikannya. Aku datang untuk memberi tahu keputusanku. Aku pamit."



    Ibu menyuruh Soo Hyun duduk, tapi Soo Hyun tetap berdiri. Ibu menduga semua ini pasti karena Jin Hyeok. Jin Hyeok lah yang membuat Soo Hyun bersikap seperti ini. 

    "Untuk kali pertama, aku memutuskan untuk menjadi pemilik hidupku sendiri. Ini bukan karena siapa pun atau berkat siapa pun."

    "Apa kamu tidak memedulikan ayahmu? Pemilihan akan dilakukan sebentar lagi. Ada apa denganmu?"

    "Jika tindakanku memengaruhi karier politik Ayah, maka itu bukan politik. Kesuksesan karier Ayah adalah hasil dari jerih payah Ayah sendiri. Itu bukan karena aku atau Ibu. Semua tergantung pada Ayah."

    Soo Hyun langsung pergi.




    Soo Hyun meminta mobilnya dan menginjinkan Sekretaris Nam pulang. 

    "Sekarang?"

    "Anda bisa serahkan mobil di dekat rumahmu saja."

    "Ibu mau ke mana? Aku akan mengantar Ibu."

    "Aku akan berkencan."

    "Ah.. Kalau begitu, aku turun di sini saja."




    Jin Hyeok kembali menemui Hye In, Hye In bertanya, apa semuanya sudah diselesaikan? Jin Hyeok mengiyakan. Hye In lega, jika Jin Hyeok pergi ke Sokcho...

    "Aku akan ke Sokcho."

    "Apa? Gila! Apa Daepyonim memintamu untuk pergi saja?"

    "Tidak, aku yang bilang akan pergi. Aku harus pergi agar Daepyonim bisa menjaga Hotel Donghwa."

    "Apa kamu tidak peduli tentang hidupmu sendiri? Apa kamu tidak ingat perjuanganmu di perusahaan ini? Jika orang baru dikirim ke Sokcho..."

    "Ini yang terbaik bagi kami. Daepyonim bisa menjaga hotel ini dan aku bisa menjaga Daepyonim."

    Jin Hyeok lalu mengajak Hye In kembali bekerja karena Manajer Kim pasti menunggu mereka.


    Jin Hyeok menerima pesan ajakan dari Soo Hyun untuk menggelar pesta perpisahan.





    Ibu membawakan ayah teh pohon kismis oriental, tapi ibu tidak mengijinkan ayah memberinya pada siapapun. 

    "Kenapa wajahmu tampak muram? Apa ada masalah?" Tanya Ayah. 

    "Tentu saja aku tidak senang. Aku tidak begitu sedih saat kita mengirim Jin Hyeok wajib militer. Kita begitu gembira saat dia diterima di perusahaan ini, tapi kini dia akan dipindahkan ke area terpencil."

    "Dia bilang memang seperti itulah bekerja di hotel."

    "Kalau begitu, kenapa Hye In tidak pindah? Ada banyak hotel di area terpencil."

    "Dia seorang wanita."

    "Mereka tidak lagi membedakan pria dan wanita. Kurasa Jin Hyeok.. membuat seseorang kesal." Ibu mulai menangis.

    "Apa maksudmu? Kamu tahu dia tidak akan pernah membuat siapa pun marah."

    "Itu benar. Karena itulah aku sedih."

    "Dia akan pergi besok. Kamu sudah membantu dia berkemas?"

    "Aku tidak bisa berkonsentrasi melakukan apa pun."

    "Masaklah makan malam yang lezat."

    "Jangan bekerja terlalu lama."

    "Baiklah. Aku akan pulang lebih awal."

    Ibu pamit ke pasar dulu. Ayah memuji rasa tehnya. Ibu menyombong kalau ia membuat itu sendiri.




    Jin Hyeok pamitan dengan Tim Humas. 

    Jin Hyeok: Meski singkat, banyak sekali yang sudah kupelajari, Manajer Kim.

    Manajer Kim: Aku agak sedih. Kamu sudah bekerja dengan baik. Kantor ini akan terasa sepi tanpamu.

    Han Gil: Kita akan menggelar pesta perpisahan, bukan?



    Manajer Kim setuju, tapi Jin Hyeok bilang ia sudah punya rencana lain. Semua yakin rencana Jin Hyeok itu bersama Soo Hyun. 

    Han Gil: Kamu dan Daepyonim akan ke mana? Pasti ke tempat yang bagus.

    Manajer Kim: Sudahlah, kenapa kamu begitu ingin tahu? Apa kamu juga cerewet saat berkencan?

    Han Gil: Aku ingin berkencan. Aku ingin tahu seperti apa diriku saat berkencan.

    Eun Jin: Jelas kamu tipe yang menyebalkan.

    Han Gil: Eun Jin-ssi, aku tidak bertanya kepadamu.



    Kebetulan Hye In dan Manajer Kim berduaan di dapur. Hye In bertanya, ia hars membuat surat permintaan maaf, bukan?

    "Begitulah persahabatan. Aku memutuskan untuk menganggapnya seperti itu." Jawab Manajer Kim.




    Jin Hyeok pulang untuk mengambil kameranya dan saat ia akan pergi lagi ibu kebetulan baru balik dari pasar.

    "Apa kamu akan pergi lagi?" Tanya Ibu.

    "Ya, aku harus menyelesaikan sesuatu di kantor."

    "Tapi besok kamu ke Sokcho. Apa pekerjaanmu masih banyak?"

    "Aku harus menyelesaikan perencanaan sebuah acara."

    "Apa Ibu membeli bahan masakan?"

    "Apa? Ya. Besok kamu pergi, jadi, ibu rasa kita harus makan enak bersama."

    "Sepertinya aku akan pulang terlambat malam ini."

    "Kalau begitu, di akhir pekan saja. Ibu akan membungkus makanan untukmu."

    "Baiklah, kalau begitu. Aku pamit."

    "Baik, pergilah."



    Jin Hyeok sudah akan pergi, tapi ia kembali untuk memeluk ibunya. Ibu memberinya semangat.

    0 komentar

    Post a Comment