Thursday, December 20, 2018

Sinopsis Encounter Episode 7 Part 1

    Sumber: tvN


    Jin Hyeok bisa tersenyum setelah Soo Hyun mengakuinya di depan para reporter bahwa mereka dalam tahap pendekatan.


    Saat sedang melamunkan kebahagiaannya, Han Gil tiba-tiba memanggil untuk mengajaknya bebenah.



    Soo Hyun mendapat konsekuensi dari ucapannya, ibunya marah banget. Soo Hyun menjawab kalau ia hanya mengatakan apa adanya.

    "Baiklah, mari katakan saja kamu sempat menjadi gila. Telepon Ketua Kim sekarang. Tidak. Kamu dan ibu harus ke rumahnya sekarang juga. Mari ke sana dan meminta maaf. Katakan padanya kamu kehilangan akal sehat."

    "Aku memang harus hilang akal sehat untuk melakukannya. Orang normal tidak akan bisa menjalani hidup tidak manusiawi itu."

    "Ibu sudah memperingatkanmu untuk menjadi anak yang berguna bagi ibu."

    "Persis seperti itulah cara hidupku hingga kini. Mulai kini, aku akan menjalani hidupku sendiri."

    Dan Soo Hyun meninggalkan ibunya.


    -=Episode 7=-



    Manajer Kim bertemu Sekretaris Nam di parkiran. Manajer Kim khawatir sementara Sekretaris Nam malah tersenyum lebar. 

    "Bagaimana bisa kamu tersenyum saat ini? Aku sudah sakit kepala memikirkan apa yang akan terjadi." Kata Manajer Kim. 

    "Kenapa kamu sakit kepala? Apa salahnya menyukai seseorang?"

    "Astaga, pikiranmu begitu sederhana. Bagaimana bisa kamu begitu positif?"

    "Lalu kenapa? Kamu tidak suka?"

    "Rasanya menyenangkan."



    Mi Jin datang, saat sekretaris Nam bertanya dimana Soo Hyun, Mi Jin menjawab Soo Hyun akan segera kesana, saat ini masih bicara dengan ibunya.

    Manajer Kim: Hal seperti inilah yang membuatku sakit kepala.

    Sekretaris Nam: Ibunya sudah menjalani hidup yang membuat sakit kepala.

    Mi Jin: Bagaimana ini? Aku tidak tahu cara menangani hal ini.

    Manajer Kim pamit pulang duluan. 



    Mi Jin bertanya langkah selanjutnya pada Sekretaris Nam. Sekretaris Nam menyuruhnya pulang saja dan tidur yang cukup.

    "Bagaimana bisa aku tidur?"

    "Ya, pasti akan sulit untuk tidur. Ini sungguh mendebarkan."

    "Astaga, apa yang kuharapkan darimu?


    Manajer Kim dan anggota Tim-nya kembali ke kantor. Ia tahu semuanya lelah, tapi alahkah baiknya bebenah dulu sebelum pulang. Semuanya mengerti.


    Soo Hyun tak menyesal mengatakannya, ia malah tersenyum bahagia.



    Kayaknya Soo Hyun mau menghubungi Jin Hyeok, tapi berat banget, tapi akhirnya ia memencet tombol dial.



    Soo Hyun menanyakan keberadaan Jin Hyeok. Jin HYeok mengatakan kalau ia harus membereskan beberapa hal di kantor.

    "Kamu ingin bertemu? Aku akan turun." Tanya Soo Hyun. 

    "Seluruh Tim Humas ada di sini."

    "Mereka bekerja keras, jadi, aku ingin berterima kasih pada semua. Aku akan turun."




    Semua melongo kedatangan Soo Hyun yang mendadak. Sesuai perkataannya pada Jin Hyeok, Soo Hyun mengucapkan terimakasih karena kerja keras tim humas pembukaannya berjalan lancar lebih dari harapan.



    Manajer Kim: Kenapa Anda datang kemari? Anda pasti lelah.

    Soo Hyun: Ada hal yang harus kuurus.

    Han Gil: Kami juga bebenah.

    Manajer Kim: Jangan repot untuk bebenah. Sekarang sudah terlalu larut. Semuanya, mari pulang saja. Kita bisa bereskan nanti saja.

    Eun Jin: Tapi tadi Ibu bilang bereskan... 

    Han Gil: Kapan? Kapan dia mengatakannya? Kita semua harus pulang.




    Manajer Kim: Kenapa Anda datang kemari? Anda pasti lelah.

    Soo Hyun: Ada hal yang harus kuurus.

    Han Gil: Kami juga bebenah.

    Manajer Kim: Jangan repot untuk bebenah. Sekarang sudah terlalu larut. Semuanya, mari pulang saja. Kita bisa bereskan nanti saja.

    Eun Jin: Tapi tadi Ibu bilang bereskan... 

    Han Gil: Kapan? Kapan dia mengatakannya? Kita semua harus pulang.



    Soo Hyun: Jin Hyeok-ssi. Kenapa kamu hanya mengkhawatirkanku? Aku terbiasa mendapat banyak perhatian, tapi kamu tidak. Rasanya aku sudah membuat segalanya tidak nyaman bagimu dan hal itu sedikit menggangguku.

    Jin Hyeok: Kita berdua sibuk saling mengkhawatirkan. Aku khawatir akan fakta Ibu nanti lebih sering kesulitan.

    Soo Hyun: Dengar, aku sudah menjalani hidupku dengan identitas yang samar. Putri dari Cha Jong Hyun. Mantan menantu keluarga Grup Taegyeong. Presdir Hotel Donghwa. Tapi ini hari pertamaku. Aku bukan lagi Cha Soo Hyun yang dijual untuk Taegyeong. Aku bukan lagi Cha Soo Hyun yang gila akan hotel ini. Dan aku bukan lagi Cha Soo Hyun yang membiarkan orang yang dia sukai dikritik tanpa alasan. Untuk kali pertama dalam hidupku, aku merasa tidak terbebani. Rasanya aku sudah melayangkan tinju. Jadi, jangan khawatir.



    Jin Hyeok mengangguk. Soo Hyun berkata ia lapar, seharian ini ia tidak makan, apa JIn Hyeok sudah makan?

    Jin Hyeok menerogoh sakunya. Soo Hyun was-was, jangan bilang cumi kering lagi? 



    Jin Hyeok mengeluarkan permen coklat dari sakunya, itu dari Han Gil sama seperti cumi kering yang waktu itu. 

    "Aku sangat berterima kasih."

    "Jika begini, aku merasa Pak Park adalah penggemar Ibu, bukan aku."

    Jin Hyeok tak menyangka Soo Hyun memakan semuanya, ia kira Soo Hyun akan berbagi karena ia juga lapar. Soo Hyun tanya, haruskah ia keluarkan lagi? Jin Hyeok tersenyum lebar, gak usah lah, ia hanya bergurau. 


    Pengakuan Soo Hyun soal Jin Hyeok sangat mengusik pikiran Woo Seok. 



    Esoknya, Ketua Kim menghargai usaha Direktur Choi untuk memblokir semua artikel tentang Soo Hyun. 

    "Soal reporter yang memberikan pertanyaan bodoh itu..."

    "Apa? Ah Ya, reporter itu..."

    "Satu malam saja cukup bagiku mencari tahu siapa yang ada di baliknya."

    "Apa maksud Anda?"

    "Baiklah. Mari anggap bukan kamu orang di baliknya. Kamu tetap harus memperbaikinya. Tangani Kim Jin Hyeok. Kirim dia ke cabang lokal, lalu biarkan dia di sana sebentar sebelum mengusirnya."

    "Jika kita tiba-tiba melakukan itu, Cha Daepyo tidak akan diam saja."

    "Kamu belum membuat rencana mendetail sebelum memikirkan semua ini? Apa kamu menusukku dari belakang tanpa sebuah rencana?"

    "Ketua Kim, aku tidak akan berani melakukan itu."

    "Tepat sekali. Tidak mungkin kamu berani. Pastikanlah untuk menanganinya tanpa ada masalah."



    Semua orang memandangi Jin Hyeok yang serius bekerja. Jin Hyeok bangun dan tiba-tiba Han Gil bertanya, Mau kemana? Mau ia bantu?

    "Tidak, aku akan mengambil air." Jawab Han Gil. 

    "Aku ikut. Aku juga haus."


    Eun Jin menyuruh Han Gil duduk, lalu ia memberikan botol air untuk Jin Hyeok.

    Eun Jin: Kamu tidak perlu berterima kasih. Anggap saja ini sebagai persahabatan.

    Jin Hyeok: Terima kasih.

    Eun Jin: Aku sedih.

    Jin Hyeok: Apa?



    Eun Jin: Jangan terlalu serius jika kamu berterima kasih. Aku senior yang paling bisa kamu andalkan di Tim Humas. Akulah orangnya, Koo Eun Jin. Jangan lupa.


    Han Gil kesal dengan tingkah Eun Jin itu. Manajer Kim mengingatkan Jin Hyeok, ini bukan bekerja, Jin Hyeok sedang diteror oleh mereka berdua.

    "Materi promosi untuk acara di Sokcho ada di ruang rapat. Bisakah kamu buat daftar tamu VIP yang tidak bisa datang? Kita harus kirimkan langsung hadiah promosi pada mereka besok." Perintah Manajer Kim. 



    Han Gil akan ikut dengan Jin Hyeok, tapi Eun Jin melarangnya, ia sangat cepat jika menyangkut tugas seperti ini.

    Tapi manajer Kim menyuruh Hye In yang menemani Jin Hyeok. Han Gil dan Eun Jin pun kembali duduk.



    Han Gil: Kamu bermain licik.

    Eun Jin: Bagaimana bisa seseorang berubah drastis?


    Jin Hyeok masih agak heran, harus datang langsung mengantar semua ini?

    "Ya. Mungkin tampak tidak banyak, tapi seperti inilah tamu VIP diperlakukan. Memberi tahu mereka bahwa kita peduli pada mereka."

    "Ada banyak hal yang harus dikerjakan Tim Humas. Hanya ini daftar kita?"

    "Ya."



    Saatnya membahas masalah pribadi. Hye In memuji Soo Hyun yang sangat keren. Jin Hyeok mengaku juga terkejut. 

    "Pasti jantungmu berdebar." Tebak Hye In. "Tapi aku sedikit mengkhawatirkan sesuatu."

    "Apa?"

    "Aku bertemu orang aneh belakangan ini. Entah bagaimana pria itu dapat nomorku, tapi dia menelepon dan bertanya apakah bisa bertemu denganku. Dia bilang ada kaitannya denganmu."

    "Aku?"

    "Apakah kamu ingat ada unggahan yang memfitnah Daepyonim di papan buletin? Mereka memintaku menuliskannya dan berjanji akan memberiku promosi sebagai gantinya. Aku tidak menuliskannya. Itu aneh, bukan? Pria itu sudah tahu bahwa orang dalam artikel Daepyonim itu adalah kamu."

    "Apa? Siapa dia sebenarnya? Kenapa?"

    "Jelas mereka dari Taegyeong. Karena itulah aku khawatir. Aku tidak mau kamu terluka. Kamu harus berhati-hati. Mereka menakutkan."

    "Hye In-ah. Menurutmu, kenapa mereka memintamu untuk menuliskannya? Kamu temanku."

    "Mungkin aku terlihat tidak puas dengan perusahaan ini."



    Mi Jin masuk ke ruangan Soo Hyun, memberitahu kalau Jadwal makan malam Soo Hyun dibatalkan. Direkturnya mungkin dijadwalkan untuk pertemuan orkestra.

    "Tolong jadwalkan waktu lain." Pinta Soo Hyun. 

    "Baiklah." Jawab Mi Jin dan langsung keluar lagi.



    Soo Hyun mengirim pesan pada Jin Hyeok, mengajaknya makan malam bareng. 



    Han Gil memperhatikan reaksi Ji Hyeok saat membaca pesan itu, ia tersenyum licik. Tapi bukan Han Gil doang, Eun Jin juga.



    Sekretaris Woo Seok mendatangi Jin Hyeok di halte, mengajak Jin Hyeok bertemu bosnya. Tapi Jin Hyeok menolaknya. 

    "Tolong jadwalkan di hari lain. Aku sudah buat perjanjian."



    Lalu Woo Seok keluar dari mobil, "Ini tidak akan lama. Bukan berarti kita berkencan. Ada sesuatu yang ingin kucari tahu."

    "Katakanlah."

    "Mengenai perkataan Soo Hyun di Sokcho... Apakah itu benar?"

    "Butuh banyak hal bagi seseorang untuk mengungkapkan perasaan. Itu tidak terjadi begitu saja."

    "Maksudmu, hal itu benar."

    "Kamu sudah memeriksa apa yang kamu butuhkan?"

    "Kurasa begitu."

    "Ada juga satu hal yang ingin kucari tahu darimu. Kenapa menanyakannya padaku?"

    "Kenapa? Kecemasan seorang kakak."

    Lalu Woo Seok pergi.



    Di mobil, Woo Seok mengonfirmasi pada Sekretarisnya, "Kakak yang memperhatikan adik perempuannya sama seperti perasaan cinta, bukan?"

    "Ya, sepertinya begitu."

    0 komentar

    Post a Comment