Friday, December 7, 2018

Sinopsis Encounter Episode 4 Part 4

    Sumber: tvN


    Selanjutnya, Mi Jin datang ke restorannya Dae Chan atas permintaan Jin Hyeok. Mungkin yang bisa Jin Hyeok pikirkan tempat tenang itu ya cuma di restorannya Dae Chan.

    Mi Jin: Apa dia ingin minum bersamaku di jam seperti ini?




    Mi Jin masuk ke dalam, beneran sepi banget. Lalu Dae Chan menghampiri. Mi Jin memesan kopi, tapi Dae Chan bilang mereka hanya menyajikan alkohol. 

    "Apa ada soda?" Tanya Mi Jin.

    "Ya, kami punya soda. Tapi ini bukan kafe."

    "Itulah maksudku. Kenapa dia ingin bertemu di tempat seperti ini? Ini bahkan bukan kafe."

    "Menurutmu tempat apa ini?"

    "Ah.. Makan siput di siang hari tidaklah begitu cocok."

    "Ya, kamu benar. Aku bertanya-tanya kenapa kamu datang. Aku tidak percaya kamu pelanggan pertamaku hari ini. Dengar. Keluar dari sini, belok kiri, dan melaju lurus sejauh 100 meter. Kamu akan melihat kafe bagus. Pergilah ke sana dan minum kopi. Astaga, tidak ada yang memintamu datang. Yang benar saja."

    Dae Chan kesal pada Mi Jin, ia merasa terhina.



    Lalu datanglah Jin Hyeok. Mi Jin mengatakan Jin Hyeok lah yang memintanya datang. Dae Chan berbisik pada Jin Hyeok, benar Jin Hyeok yang memintanya datang? Jin Hyeok mengangguk.

    Dae Chan jadi tidak enak karena sudah bersikap kasar pada Mi Jin.  



    Jin Hyeok minta maaf pada Mi Jin karena ia terlambat, soalnya toko ayahnya agak ramai. Jin Hyeok menyarankan pergi ke tempat lain jika Mi Jin merasa tidak nyaman. 

    "Ini tidak akan lama, jadi, mari kita bicara di sini."



    Mi Jin lalu menoleh pada Dae Chan. Dengan sebal ia meminta Da Chan segera menyajikan pesanannya, cola. Jin Hyeok juga memesan yang sama.


    Mi Jin tadi mendengar Jin Hyeok memanggil Dae Chan dengan sebutan Hyeong. Ia bertanya, apa Dae Chan kakaknya Jin Hyeok. 

    "Dia hanya teman dekat."

    "Ah.. Aku bertanya apa kita bisa bicara berdua saja."

    "Tidak masalah. Lagi pula dia tidak tertarik padaku. Tapi, kenapa kamu ingin menemuiku di akhir pekan?"



    "Aku akan bicara langsung ke intinya. Aku ingin kamu berhenti berhubungan dengan Cha Daepyonim. Ini mungkin peristiwa kecil untukmu, tapi tidak demikian bagi dia."

    "Ya, aku mengerti."

    "Cha Daepyonim mungkin terlihat tegar di luar, tapi sebenarnya tidak."

    Jin Hyeok memiliki pertanyaan, apa Cha Daepyonim sama sekali tidak punya kuasa atas hidupnya?

    "Punya." Jawab Mi Jin yang sebelumnya agak ragu. 

    "Apa perlu sekretaris Cha Daepyoin turun tangan untuk memutus hubungan dengan temannya? Tidak ada yang akan menulis artikel jika kalian memang berteman. Untuk orang seperti kita, orang yang berhubungan dengan kita hanya memengaruhi kehidupan pribadi, tapi hal itu tidak berlaku untuk Cha Daepyonim. Aku juga belum terbiasa dengan hal itu. Bahkan tabrakan mobil pun bisa menjadi masalah besar untuknya."


    Mi Jin menunjukkan postinga orang yang menabrak Soo Hyun semalam. Jadi orang itu memotret diam-diam, padahal ijinnya sama Jin Hyeok semalam cuma mau memotret kerusakan mobilnya. 

    "Kemarin aku bertabrakan dengan mobil di depanku dan pemilik mobil itu adalah Cha Soo Hyun dari Hotel Donghwa. Dia sangat cantik, tapi aku tidak bisa mendapatkan nomornya karena sekretaris prianya yang mengurus semuanya." Tulisan pria itu.



    Mi Jin menjelaskan, seperi itulah situasinya, dan ia bersyukur pria itu menyebut Jin Hyeok sebagai sekretaris pria. Jin Hyeok langsung terdiam.

    "Mungkin kamu senang karena ini pengalaman baru bagimu dan hal itu memancing rasa penasaranmu. Namun, baginya sedikit cela pun bisa berdampak besar. Aku harus sangat berhati-hati dan kuharap kamu paham." Lanjut Mi Jin.

    Mi Jin langsung pergi tanpa menunggu cola-nya siap.




    Dae Chan duduk di kursi yang tadi diduduki Mi Jin sambil membawa dua cola. 

    Dae Chan: Ada dengan wanita itu? Sepertinya dia tidak berperasaan.

    Tapi Jin Hyeok diam saja. Ia berpikir, lalu ia berlari keluar. 




    Jin Hyeok mengejar Mi Jin. 

    Jin Hyeok: Aku tidak menikmati pengalaman baru ini. Setiap hari aku terkejut. Aku sadar dunia kami sangat berbeda. Itu sangat mengejutkan. Aku tidak akan menyebabkan masalah lain dengan perasaanku, tapi.. perasaanku bukan berdasarkan rasa penasaran. Membiarkan orang.. masuk ke hati kita.. walau untuk sesaat, aku yakin hal itu.. sangatlah bermakna.

    Jin Hyeok mengucapkan selamat jalan, berpesan agar Mi Jin hati-hati. Ia lalu pamit.

    Mi Jin juga masuk mobilnya. 



    Hye In ternyata ada tak jauh dari mereka dan ia melihat semuanya. Ia berpikir.

    Sampai malam ia ada di taman. 



    Besoknya, para karyawan dihebohkan tulisan di buletin internal, "Saatnya Cha Soo Hyun Berhenti". Hye In juga membaca tulisan itu.

    "Kudengar pria yang terlihat dalam artikel terbaru sebenarnya pegawai subkontraktor Hotel Donghwa. Cha Daepyonim seharusnya tidak mengusik pegawai dengan keinginan pribadinya. Sebagai pegawai subkontraktor, dia tidak akan bisa menolak ajakan bertemu Cha Daepyonim. ia seharusnya memikirkan posisi sulit pegawai tersebut. Dia memaksa pegawai yang lemah dengan kehormatan dan kekuasaannya. Sikap itu tidak tepat sebagai presdir Hotel Donghwa. Saatnya dia kembali menjadi presdir wanita yang terhormat."


    Ia bertanya-tanya, siapa kira-kira yang menulisnya?


    Soo Hyun hanya menghela nafas mendengar kabar itu.



    Mi Jin menyampaikan kalau DIrektur Choi terus saja meminta bertemu dengan Soo Hyun. Dia bilang mereka harus membiarkan artikel itu, tapi dia ingin membahas masalah ini.

    "DIrektur Choi pasti senang. Dia harus berdiskusi dengan mantan ibu mertuaku. Aku tidak perlu membahas masalah yang begitu sepele dengannya. Sampaikan pesanku."

    "Baik." Jawab Mi Jin lalu keluar.


    Tapi sebenarnya Soo Hyun mulai resah. 




    Jin Hyeok juga membaca artikel itu, apalagi komentarnya tidak main-main. 

    "Sudah kuduga ini akan terjadi karena dia sangat cantik."
    "Apa dengan begini rumor soal dia pergi ke bar terbukti?"
    "Siapa pun orangnya, dia pasti merasa tidak nyaman."
    "Menolak berarti dipecat."

    Han Gil dan Eun Jin penasaran, siapa kira-kira yang menulisnya? 

    Hye In jelas mengkhawatirkan Jin Hyeok.



    Manajer Kim mendengar Han Gil dan Eun Jin berkomentar, ia menyuruh keduanya berhenti bergosip. 

    "Kalian mengenal Cha Daepyo. Jangan terpengaruh artikel itu."

    "Kita tidak pernah tahu pikiran orang sesungguhnya." Tanggapan Manajer Lee.

    Han Gil: Semua orang merasa iri.



    Eun Jin: Kebanyakan orang memusuhi orang yang kompeten. Kita tidak sebanding dengannya. Dia punya uang, penampilan, dan sangat kompeten. Aku tidak bisa mengalahkan dia. Tapi aku lebih muda. Itu tidak membuatku merasa lebih baik. Omong-omong, benarkah dia pergi ke bar? Dia pasti sangat kesepian jika kegiatannya hanya bekerja. Kudengar orang-orang di bidang politik bermuka dua.

    Manajer Kim: Kamu pernah melihat dia?

    Eun Jin: Apa?

    Manajer Kim: Kamu pernah melihat orang-orang di bidang politik pergi ke bar saat merasa kesepian?

    Eun Jin: Aku hanya mendengar rumor...

    Manajer Kim: Itu asumsi dan prasangka. Hal itu sangat berbahaya.

    Eun Jin: Maaf.


    Manajer Lee tampak sangat mencurigakan. 



    Orang yang kemarin menemui Hye In menemui Direktur Choi dan Manajer Lee. Direktur Choi yang mengenalkan Manajer Lee pada orang itu. Orang itu adalah Sekretarisnya Ibunya Woo Seok.

    Direktur Choi: Aku menghargai dia. Dia juga cerdas. Dia juga harus bisa menjaga rahasia.

    Manajer Lee: Serahkan kepadaku. Aku akan menunjukkan kesetiaanku kepada Taegyeong.


    Manajer Lee tersenyum puas dengan respon tulisannya itu. 



    Direktur Choi menemui ibunya Woo Seok, Ketua Kim. 

    Ketua Kim: Sayangnya aku melewatkan acara bagus di Hotel Donghwa. Situasi di sana menjadi seru, bukan?

    Direktur Choi: Kami akan segera mengumpulkan dewan dan meminta Cha So Hyun Daepyo bertanggung jawab karena mencemarkan reputasi hotel.

    Ketua Kim: Kamu juga harus bersiap. Kamu sudah terlalu lama menduduki jabatan itu. Sepertinya kamu akan segera menjadi Daepyo. 


    Ketua Kim tahu pasti putranya akan sangat kesal begitu melihat artikel itu. Cintanya tulus. Namun, dia harus tahu soal ini.



    Woo Seok meminta sekretarisnya mencaritahu siapa penulis yang memfitnah Soo Hyun itu. 

    "Saya akan menyelidikinya." Jawab Sekretaris.

    "Cari juga peretas untuk menutup situs web itu agar tidak ada orang lain yang membaca unggahan itu. Aku akan membayar sesuai keinginan mereka. Cepat cari orang."


    Benar kata Ketua Kim, Woo Seok tampak sangat kesal.




    Pembahasan di kantin, temanya masih tentang Soo Hyun, mereka menjelek-jelekan Soo Hyun. Jin Hyeok mendengarnya, ia sampai kehilangan nafsu makan. 

    Han Gil: Mereka terdengar sangat antusias. Mereka mengonsumsi banyak hal selain makanan.

    Han Gil menyinggung soal Jin Hyeok yang tidak memakan makanannya. Jin Hyeok beralasan sedang tidak sehat.

    Han Gil: Aku juga tidak berselera makan. Ayo pergi.


    Jin Hyeok kembali membaca tulisan itu sendirian, ia terus berpikir. 



    Mi Jin mengetuk pintu ruangan Soo Hyun pada pukul 18:05. Ia menyarankan Soo Hyun untuk pulang, akan ia siapakn mobil di basemen.

    "Tidak perlu. Aku tidak perlu bersembunyi."

    "Semua orang heboh. Kamu harus menghindar di waktu seperti ini."

    "Tidak apa-apa. Aku akan diremehkan jika menghindar."




    Teman-teman Jin Hyeok bersiap pulang. Tapi Jin Hyeok masih terus melamun.

    Hye In mengetuk komputer Jin Hyeok. Jin Hyeok akhirnya memandang Hye In. Hye In mengajak Jin Hyeok pulang. Jin Hyeok tersenyum mengangguk.




    Direktur Choi mencegat Soo Hyun di lobi. 

    "Aku menelepon untuk bertanya apa kita bisa berdiskusi, tapi kamu tidak merespons. Itu membuatku kesulitan."

    "Tidak ada yang perlu kita diskusikan." Jawab Soo Hyun.

    "Astaga, Daepyonim. Kamu membuat semua orang di kantor menjadi panik. Kenapa kamu bilang kita tidak perlu berdiskusi? Ucapanmu terlalu kasar."


    Pembicaraan petinggi perusahaan itu menyita perhatian semua karyawan yang hendak pulang termasuk Jin Hyeok.



    Mi Jin menyelamatkan Soo Hyun dengan mengatakan kalau Soo Hyun harus menghadiri rapat, jadi harus cepat pergi.

    Direktur Choi: Begitu rupanya. Karena kamu sibuk, katakanlah sekarang. Semua orang di sini ingin mendengar penjelasanmu.

    Soo Hyun: Tidak ada yang perlu dijelaskan.




    Keributan di lobi itu membuat Sekretaris Nam masuk. Mendengar respon Soo Hyun, semua berbisik kalau tulisan itu pasti benar.



    Soo Hyun permisi, tapi DIrektur Choi tetap mengajaknya bicara. 

    "Kamu harus mengumumkan posisimu sebagai presdir Hotel Donghwa. Soal benarkah pria itu pegawai subkontraktor atau meski aku malu mengatakan ini, benarkah dia pria dari bar sesuai dalam komentar? Aku sungguh berharap dia hanya sepupumu."



    "Pertanyaanmu tidak perlu dijawab." Soo Hyun berbalik.

    "Ada artikel dan komentar di papan buletin. Tidak sepantasnya kamu terus berlagak tidak tahu apa-apa. Reputasi perusahaan kita sangat tercemar. Sekarang, beri kami penjelasan."


    Semua karyawan semakin yakin kalau rumor itu pasti benar. Manajer Kim tampak khawatir. Jin Hyeok juga, ia bahkan sudah menggenggam tangan dengan erat.


    Sekrearis Nam terpaksa menjemput Soo Hyun, mengajaknya segera pergi. 


    Akhirnya Jin Hyeok bertindak, ia memanggil Soo Hyun dengan lantang. 

    "Daepyonim. Cha Soo Hyun Daepyonim."

    Semua orang terdiam, hening.



    Lalu Soo Hyun berbalik, menatap Jin Hyeok. Jin Hyeok tersenyum lebar. 




    Jin Hyeok berjalan mendekati Soo Hyun dengan langkah mantap.

    Jin Hyeok: Anda akan pulang sekarang?

    Batin Soo Hyun: Mulai sekarang, jalani saja hidupmu. Jangan mendekatiku lagi.

    Batin Jin Hyeok: Aku sudah memutuskan. Aku akan memasuki kehidupan yang kamu jalani seorang diri.


    Jin Hyeok: Aku punya uang. Hari ini aku yang mentraktir. Bagaimana jika kita membeli ramyeon?


    Semuanya terkejut, orang itu.. Kim Jin Hyeok? 



    Sekretaris Nam tersenyum lega. Sementara Hye In tampak khawatir. 


    Direktur Choi tampak kesal, rencananya gagal. 



    Jin Hyeok: Jalan menuju area istirahat macet. Bagaimana jika hari ini kita makan mi gelas di toserba?



    Batin Jin Hyeok: Jangan menanyaiku soal perasaan ini. Aku pun belum tahu. Saat ini, aku tidak mau membiarkanmu sendirian dan kesepian. Itu saja.


    0 komentar

    Post a Comment