Friday, December 7, 2018

Sinopsis Encounter Episode 4 Part 3

    Sumber: tvN



    Orang yang mengajak Hye In ketemuan menyuruh Hye In menulis di papan buletin internal, tentang Kim Jin Hyuk dan Presdir Cha. Imbalannya akan dipromosikan menjadi Asisten Manajer Departemen Perencanaan hotel. Hye In jelas menolaknya, ia tidak tertarik menulis soal Cha Daepyo dan ia tidak akan melakukan apa pun yang dapat menyakiti Kim Jin Hyuk.

    Pria itu: Kamu bisa menjamin keselamatannya tergantung caramu menulisnya.

    Hye In: Dia akan menderita apa pun yang terjadi dan aku tidak bisa melakukan itu kepada temanku.



    Orang itu menunjukkan foto Jin Hyeok dan Soo Hyun di Sokcho. 

    Pria: Terlepas dari seberapa serius hubungan mereka, bukankah kamu tidak senang melihat mereka bersama?

    Hye In: Kalian kurang ajar. Jangan merusak reputasi mereka. Entah itu masuk akal atau tidak, kita tidak berhak ikut campur. Lagi pula, itu tidak benar.



    Soo Hyun meminta Jin Hyeok menghentikan mobilnya agak jauh dari rumah karena reporter masih sering datang ke rumahnya. Selain itu, ketika pengemudi lain itu menelepon, ia menyuruh Jin Hyeok menghubungi Sekretaris Jang.

    "Tunggu. Tunggu sebentar."

    "Kim Jin Hyuk-ssi, apa kamu merasa tidak sehat? Apa tubuhmu tidak bisa digerakkan?"

    "Tunggu."




    Ternyata Jin Hyeok menunggu sampai jam 12 tepat. Lalu ia mengucapkan selamat ulang tahun pada Soo Hyun. Soo Hyun agak terkejut mendengarnya. Jin Hyeok tak lupa memberikan hadiah. 




    "Aku ingin membelikan sesuatu untuk ulang tahun Daepyonim. Kudengar orang kaya menerima barang mewah cukup banyak, sedangkan aku hanya pegawai baru. Aku akan terlihat bodoh jika aku bangkrut karena mencoba membelikan barang mewah. Ada gambar model yang memakai lipstik ini, tapi aku membelinya karena aku pikir itu lebih cocok untuk Daepyonim."

    "Terima kasih sudah mengucapkan selamat ulang tahun. Aku menghargai kebaikanmu, tapi aku tidak bisa menerimanya."

    "Ini terlalu biasa, ya?"

    "Bukan begitu. Kim Jin Hyuk-ssi. Sejujurnya, aku tidak ingin menjalin hubungan denganmu lagi. Aku tidak terbiasa dengan hal ini dan itu membuatku tidak nyaman."

    "Aku pasti terlalu bersemangat. Kalau begitu, aku pamit."


    Mereka pun turun dari mobil dan Soo Hyun masuk lagi untuk mengemudi. Jin Hyeok memberi hormat sebelum pergi. 




    Soo Hyun merasa gak enak membiarkan Jin Hyeok pergi dengan kecewa. Ia lalu membunyikan klakson. 




    Jin Hyeok berbalik. Soo Hyun mengulurkan tangannya. Jin Hyeok tersenyum mendekat kembali.

    Soo Hyun: Berikan kepadaku.

    Jin Hyeok pun memberikannya. 

    Soo Hyun: Aku tidak ingin bersikap kasar.

    Jin Hyeok: Selamat ulang tahun, Cha Daepyonim.



    Soo Hyun sepertinnya menyesal menerimanya. 

    "Tidak bisa kupercaya. Hasilnya ternyata seperti ini lagi."



    Sekretaris Janga datang sebagai temannya untuk merayakan ulang tahun. Mi Jin meneuka lipstik di meja. Soo Hyun menjelaskan itu hadiah ulangtahunnya. 

    "Dari siapa? Ada yang mencurigakan."

    "Aku akan mempersingkat pestanya jika kamu terus mengeluh."

    "Semua ini membingungkan. Kapan kamu bertemu dengannya? Dalam mimpimu?"

    "Aku mengalami kecelakaan mobil."

    "Apa?"

    "Urus tagihannya ketika Kim Jin Hyuk-ssi menelepon besok."

    "Ada apa dengan kecelakaan mobil ini dan kenapa namanya disebut lagi? Sekarang aku pusing."

    "Itu baru saja terjadi. Hanya tabrakan ringan. Kim Jin Hyuk-ssi kebetulan berada di tempat kejadian. Dia memberikan kartunya ke pengemudi lain itu, hanya itu."

    "Lalu dia memberimu lipstik ini?"

    "Itu hadiah ulang tahun."

    "Apa dia penguntit?"

    Soo Hyun hanya tersenyum.


    Jin Hyeok pulang naik bis. Ia harap Soo Hyun tidak menganggapnya sebagai penguntit. Harusnya tadi ia bagaimana ia tahu ini hari ulang tahunnya.




    Mi Jin membahas soal Sekretaris Nam yang mengakui sudah mengajak Jin Hyeok ke Sokcho. 

    "Apa dia mengaku?" Tanya Soo Hyun.

    "Aku menginterogasinya."

    "Dia hanya ingin membuatmu bahagia. Dia tidak peduli dengan konsekuensinya."

    "Aku sangat aneh belakangan ini, bukan?"

    "Entahlah."

    "Aku aneh."

    "Belakangan ini, sepertinya kamu sudah kembali menjadi dirimu sebelum ayahmu mulai terjun ke bidang politik."

    "Apa maksudmu?"

    "Maksudku kamu kembali menjadi orang gila yang cerdas seperti dahulu."

    "Apa kamu memanggilku orang gila?"

    "Baiklah. Katakanlah kamu sedikit eksentrik."

    "Itu sama saja."



    Dan mereka mulai membicarakan masa lalu. 

    Mi Jin: Hei, ketika aku bolos sekolah dan pergi ke konser, kamu menyelamatkanku dari hukuman wali kelas kita. Apa kamu tidak ingat? Siapa yang akan membayangkan bahwa Cha Soo Hyun, siswa terbaik, akan membolos untuk pergi ke konser? Mereka membiarkannya demi kamu.

    Soo Hyun: Benarkah? Itu bukan sesuatu yang biasanya kulakukan. Sungguh tidak biasa.



    Mi Jin dengan berat hati meminta Soo Hyun berhenti. Ternyata Soo Hyun sudah memikirkan itu sejak di Kuba, tapi ia terus bertemu dengannya.

    "Apa aku perlu mengembalikan lipstik ini untukmu? Aku bahkan mengembalikan hadiah Woo Suk-ssi mewakilimu. Mari kita kembalikan, ya?"

    Tapi Soo Hyun diam saja. 

    "Apa yang terjadi? Kenapa matamu berkedut?"

    "Mataku tidak berkedut."

    Soo Hyun mengambil lipstik itu dar tangan Mi Jin, ia tidak mau mengembalikannya.



    Ibu Woo Seok menemui Ibu Soo Hyun. Ibu Woo Seok menitipkan hadiah untuk Soo Hyun. 

    "Aku tidak percaya kamu ingat hari ulang tahunnya."

    "Akan lebih baik jika Soo Hyun tahu bagaimana perasaan kita tentang dia. Sulit untuk membuat dia tahu."

    "Aku berbicara banyak hal dengannya."

    "Kamu juga harus membicarakan hal ini dengan suamimu. Kudengar dia menentang penggabungan kedua pihak."

    "Itu tidak mungkin."

    "Kuharap semuanya berjalan lancar sehingga keluarga kita mendapatkan apa yang kita inginkan."

    "Ya, tentu saja."

    "Dengan jumlah orang di Partai Moonhwa, mereka tidak akan bisa memenangkan pemilihan presiden. Meski kedua pihak bergabung, dia akan tetap menjadi pemimpinnya. Dan dia akan mencalonkan diri tanpa perlawanan untuk pemilihan."

    "Terima kasih, Ketua Kim."

    "Kamu bisa memperlakukanku seperti mertuamu."

    "Ah. Ya, tentu saja."



    Pagi-pagi Soo Hyun sudah menata rambutnya. Mi Jin bertanya, apa Soo Hyun akan pulang ke rumah ortnya? 

    "Ya, hadiah ulang tahun terbaik adalah tidak menggangguku. Tapi ibuku tidak tahu soal itu. Kamu mau ikut? Kamu sudah lama tidak bertemu ayahku."

    "Tidak usah. Aku ingin sekali bertemu ayahmu, tapi tidak dengan ibumu." Mi Jin langsung menutupi wajahnya, lagian ia ada janji sore ini.


    Ibu memberikan hadiah titipan dari ibunya Woo Seok saat mereka makan.  

    Ibu: Ini hadiah dari ibu mertuamu. Dia meminta ibu berikan ini kepadamu karena kamu selalu kedinginan. Apa kamu tidak bisa bersikap lebih lembut?

    Soo Hyun: Hubungan kita bukan untuk bertukar hadiah dengan satu sama lain. Kenapa Ibu menerimanya?

    Ibu: Karena mengingat sifatmu, ibu yang akhirnya sibuk. Apa artinya hadiah ini? Itu berarti dia menyukaimu dan kamu lebih baik menjaga sikap. Kenapa kamu memarahi dia di hari ulang tahunnya?



    Ayah: Dia akan sakit perut.

    Ayah lalu memberikan hadiahnya, sebuah buku puisi. Soo Hyun tak menyangka ayahnya juga suka puisi itu. 

    Ayah: Ya. Apa kamu menyukainya juga?

    Soo Hyun: Aku mulai menyukainya.

    Bukunya sama persis dengan buku dari Jin Hyek. 




    Jin Hyeok membantu ayah-ibunya berjualan. Saat itu Mi Jin menelfon. 

    "Bisakah kita bertemu sebentar? Aku akan pergi ke dekat rumahmu. Aku ingin bertemu denganmu di tempat yang tenang." Kata Mi Jin. 

    "Tempat yang tenang? Uhm.."

    Jin Hyeok berpikir.

    0 komentar

    Post a Comment