Friday, December 7, 2018

Sinopsis Encounter Episode 4 Part 1

    Sumber: tvN


    Episode 4


    Jin Hyeok tersenyum setelah mengatakan ia datang karena merindukan Soo Hyun. Tapi Soo Hyun malah menarik kakinya.



    Soo Hyun: Menyenangkan rasanya tahu bahwa seseorang merindukanku. Namun, kamu juga tahu ucapan itu sangat berbahaya, bukan? Aku akan berpura-pura tidak mendengarnya.

    Jin Hyeok: Dunia sangat besar dan luas. Ada begitu banyak negara, dan dari semuanya, kita bertemu di negara dan kota yang sama. Kita menghabiskan satu hari bersama. Dan setelah kembali, kita bahkan saling bertemu lagi sebagai pegawai dan bos. Setelahnya, kita juga menghabiskan hari yang singkat tapi menyenangkan. Semua ini.. koneksi yang mengesankan.

    Soo Hyun: Kim Jin Hyuk-ssi, caramu berbicara sungguh terdengar tidak nyaman. Rasanya aneh mendengarmu mengatakan kita menghabiskan satu hari bersama-sama.

    Jin Hyeok: Lalu seharusnya seperti apa? Kita tidak menghabiskan hari itu sendirian.

    Soo Hyun: Kamu.. cukup mengatakan...

    Jin Hyeok: Lihat itu? Kita memang menghabiskannya bersama.

    Soo Hyun: Mari makan supnya.



    Usai makan, Jin Hyeok khawatir Soo Hyun akan menyuruhnya pulang. Soo Hyun mengerti kalau Jin Hyeok pasti lelah, tapi ia tidak akan menyarankan Jin Hyeok untuk istirahat.

    Jin Hyeok: Tapi menurutku kita sebaiknya tetap minum secangkir kopi. Aku menemukan kafe yang sangat bagus. Suasananya sempurna. Ayo kita pergi.



    Mereka menimkati kopi sambil memandang pantai. Jin Hyeok mengambil inisiatif untuk memakaikan mantelnya pada Soo Hyun. Soo Hyun menolak, tapi ia memaksa, mengatakan kalau ia tidak kedinginan sama sekali karena Soo Hyun seperti pemanas baginya. Soo Hyun jelas tersenyum.



    Soo Hyun akan mengajak Jin Hyeok bicara tapi Jin Hyeok malah mengantuk. Soo Hyun mengambil kopi di tangan Jin Hyeok karena hampir tumpah dan tiba-tiba Jin Hyeok merebahkan kepala ke bahunya.



    Soo Hyun memulai curhatnya, "Aku tidak punya teman saat masih kecil. Aku ingin bermain dengan mereka, tapi ibuku melarang. Jika aku akrab dengan mereka, akhirnya aku harus menjauh lagi. Jadi, suatu saat, aku mulai berpikir bahwa semua itu tidak berguna. Karena rasanya sangat menyakitkan untuk berpisah dari teman yang akhirnya aku suka. Aku sempat lupa. Rasanya menyenangkan.. menjalani keseharian dengan seorang teman. Tapi hubungan yang merenggang.. dan kembali ke tahap di mana suatu hubungan tidak berarti rasanya tetap sangat menyakitkan. Karena itulah.. aku ingin berhenti."




    Jin Hyeok terbangun karena suara getar telfonnya, ia meminta maaf pada Soo Hyun karena gak sengaja ketiduran. Ia melihat ponselnya dan berkata hanya telfon iseng.

    Soo Hyun: Kepalamu pasti lebih besar daripada yang terlihat. Apa kamu tidak tahu bahu wanita sangat sensitif?

    Jin Hyeok lalu mengelus bahu Soo Hyun. Soo Hyun memberikn kopi Jin Hyeok. Mereka saling tersenyum, lalu meminum kopinya bersama.



    Woo Seok menitipkan gaunnya pada resepsionis, ia akan meninggalkan catatan, tapi bingung mau menulis apa. Jadi ia membuka internet untuk mencari kata-kata yang tepat. 

    "Katakan apa jika tidak mau membuat seseorang terbebani menerima hadiah. Kami tidak menemukan hasil apa pun". Itulah kata yang ditemukan Woo Seok.



    Di parkiran, Woo Seok melihat Soo Hyun dan Jin Hyeok. 



    Jin Hyeok mmberikan Kue beras kentang pada Soo Hyun. Tadi ia membelinya dalam perjalanan ke hotel.

    "Terima kasih." Jawab Soo Hyun sambil menerima bungkusan itu.

    "Menyenangkan, bukan? Menyenangkan bisa makan sarapan dengan seorang teman daripada sendirian, bukan?"

    "Berhati-hatilah di jalan."

    Soo Hyun masuk ke dalam duluan. Jin Hyeok memastikan Soo Hyun benar-benar masuk, baru ia pergi


    Woo Seok tersenyum tipis melihat mereka.


    Soo Hyun mendapatkan hadiah dari Woo Seok. Dan pesan yang dditulis Woo Seok adalah, "Aku membelinya dalam perjalanan kemari". Sama dengan pesan Jin Hyeok.


    Tapi Soo Hyun membuka kue yang Jin Hyeok belikan. Ia tersenyum.



    Jin Hyeok menguap saat perjalanan. Dae Chan menelfon, ngomel-ngomel. 

    "Aku harus naik kereta bawah tanah dengan dua kantong bawang bombai. Orang-orang mengeluhkan baunya karena aku tidak naik truk. Jin Myung juga bilang akan bekerja di sini. Di mana dia? Kamu dan adikmu akan kupukul nanti."

    "Maafkan aku."

    "Di mana kamu? Kamu akan datang?"



    Soo Hyun kembali mendatangi Studio Seniman Jang, tapi Seniman Jang belum datang juga. Soo Hyun berpesan pada pegawainya jika ia menunggu, jadi Seniman Jang bisa menelfonnya.


    Woo Seok menelfon seseorang, menanyakan dimana Seniman Jang.



    Seniman Jang berada di kantor orang yang ditelfon Woo Seok itu karena diminta bertemu, mengeluhkan capek sembunyi. 



    Dan datanglah Woo Seok, berkomentar kalau Seniman Jang tidak perlu bersembunyi. Seniman Jang melirik temannya gak suka, ia tahu temannya yang mempertemukannya dengan Woo Seok. Temannya lalu meninggalkan mereka berdua.

    Woo Seok: Jangan marah padanya. Aku mengancamnya dengan galeri itu.

    Seniman Jang: Aku tidak punya pilihan lain. Kamu juga tahu, bukan? Ibumu adalah sponsorku. 

    Woo Seok: Ya. Aku tahu. 

    Seniman Jang: Ini akan membuat semuanya rumit.

    Woo Seok: Ibuku adalah sponsormu dan Cha Daepyo adalah penggemar beratmu. Aku meminta bertemu untuk bilang betapa Cha Daepyo mengagumi karyamu.

    Seniman Jan: Jung Daepyonim.




    Woo Seok: Aku mendapat sebuah pujian saat kami masih baru menikah. Aku ingat itu satu-satunya hal yang memberiku pujian. Kami pergi ke Spanyol bersama untuk perjalanan bisnis dan katanya dia ingin pergi ke Portugal. Tapi katanya dia ingin berkendara ke sana, bukan dengan pesawat. Rasanya tidak nyaman jika seorang sopir mengantar kami, jadi, dia bertanya apa bisa aku saja yang mengemudi. Kami menyewa sebuah mobil dan berkendara ke barat tanpa akhir. Kami menghadapi terik matahari saat mengarah ke barat, jadi, udaranya panas, walaupun AC-nya pada setelan paling dingin. Kami berkendara selama sekitar enam jam dan aku bertanya kenapa kami mengambil rute tersebut. Kurasa Cha Daepyo ingin mengikuti langkah yang kamu ambil untuk ke barat. Dia ingin melihat apa padang bunga matahari sungguh ada. Apa berkendara menuju arah matahari sungguh lebih panas daripada matahari? Akankah kami bisa mencium aroma bunga violet dari embusan angin di ujung barat benua tersebut? Dia membaca semua hal ini dari karyamu. Dia ingin melacak jejakmu. Sebesar itulah kekagumannya akan karyamu, Seniman Jang. Sokcho adalah kampung halamanmu, jadi, mungkin dia makin ingin memajang karyamu di sini.

    Seniman Jang luluh dengan kata-kata Woo Seok itu.


    Seniman Jang akhirnya menghubungi Soo Hyun, menyuruh Soo Hyun mengambil lukisan itu tapi dengan syarat, ia tidak akan menerima uang untuk itu.

    "Maaf, tapi bisa kamu beri tahu aku alasannya?"

    "Ini hanya hadiah untuk seorang penggemar. Kamu melakukan tur hingga jauh ke barat."



    Setelahnya, Woo Seok menemui ibunya. Ibu heran, Apa Woo Seok harus melakukan itu?

    "Berhentilah melakukan hal seperti itu. Dahulu dia menantu Ibu."

    "Persis seperti itulah maksud ibu. Dia pernah menjadi anggota keluarga ini. Berani sekali dia membuat rumor tanpa berpikir. Karena itulah ibu menghukumnya."

    "Kita tidak lagi berhak melakukan itu kepadanya. Bahkan saat dia menjadi keluarga kita pun, kita tidak boleh memperlakukan dia seperti itu."

    "Jika dia menjadi bagian dari keluarga ini lagi, ibu berniat bersikap baik kepadanya. Jangan khawatir."

    "Ibu. Aku dan Soo Hyun yang menentukan apa kami ingin kembali bersama."

    "Masalah ini melibatkan dua keluarga. Ayahnya yang tidak tahu apa pun bahkan tidak becus dalam bekerja. Ayah dan anak sama saja. Ibu akan mengurus semuanya. Kamu fokus saja pada Taegyeong."


    "Soo Hyun bukan benda mati. Dia berhak untuk memilih jalan hidupnya sendiri."

    "Lalu? Apa itu alasanmu menyia-nyiakan hidupmu?"

    "Aku yang berhak menentukan apa kami akan kembali bersama. Jangan lakukan apa pun. Ini kali terakhirku mengatakan ini. Jika Ibu terus melakukan ini, aku akan menjalani hidupku sendiri."

    "Apa sebenarnya inti dari hidupmu?!"

    "Setidaknya, aku tidak akan hidup sebagai anggota keluarga Taegyeong."



    Jin Hyeok sampai di rumah Dae Chan, ia minta ijin tidur di kamar Dae Chan sebentar, ia tidak bisa tidur di rumah. 

    Dae Chan: Hei. Kamu membawa mobilku di malam hari dan bahkan tidak menelepon. Apa kamu pikir ini penginapan?

    Tapi Jin Hyeok tidak menjawab, ia nggeoyor ke kamar.

    Dae Chan: Dia bersikap mencurigakan.



    Di kamar, Jin Hyeok tidak tidur, hanya berbaring. Sebenarnya ia mendengar semua curhatan Soo Hyun tadi, ia sama sekali tidak tidur. 

    "Aku sempat lupa. Rasanya menyenangkan menjalani keseharian dengan seorang teman. Tapi hubungan yang merenggang dan kembali ke tahap di mana suatu hubungan tidak berarti rasanya tetap menyakitkan. Karena itulah aku ingin berhenti."


    Jin Hyeok bergumam sebelum tidur, "Aku mendengar setiap perkataanmu, Cha Soo Hyun-ssi."

    1 komentar: