Thursday, December 6, 2018

Sinopsis Encounter Episode 3 Part 2

    Sumber: tvN


    Manajer Kim mengingatkan Sekretaris Nam karena makan ramyeon diusianya saat ini, bisa mati lho! Sekretaris Nam menganggap ramyeon itu hanya camilan. 

    "Soal Daepyonim... Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Manajer Kim.

    "Aku juga tidak tahu. Pak Cha pasti juga sangat cemas."

    "Reporter Cha juga kejam. Dia memanfaatkan putrinya untuk alasan politik."

    "Jangan mengatakan seperti itu."

    "Aku tidak peduli. Aku lebih suka saat sebelum dia menjadi anggota kongres. Saat kamu dan kakakku masih reporter, begitu juga dengan anggota kongres Cha. Dahulu kalian bertiga seperti Avengers. Kamu masih mau makan ramyeon setelah skandal cinta ramyeon itu?"

    "Aku penasaran seenak apa rasanya hingga mereka jauh-jauh ke sana."



    Manajer Kim malah menghela nafas panjang. Ia mengaku sudah melakukan hal gila. Ia menyewa detektif swasta untuk menginta suaminya. Ia merasa suaminya punya wanita lain.

    "Omong kosong macam apa ini? Putrimu sudah SMP."

    "Kamu pikir hanya orang tua tanpa anak saja yang selingkuh? Kamu bahkan tidak pernah tahu."

    "Kamu yakin?"

    "Tidak, karena itu kusewa detektif swasta."

    "Kapan dia berikan hasilnya?"

    "Entahlah. Dia harus melakukan sesuatu yang membuatnya tertangkap basah."

    "Dasar! Selera makanku hilang."

    "Kenapa kamu marah karena urusan orang lain?"

    "Kalian berdua bukan orang lain!"


    Reporter berkumpul di depan rumah Soo Hyun. Bahkan saat Soo Hyun sudah masuk rumah, mereka masih saja tetap disana.


    Soo Hyun kebanyakan diam selama di rumah.




    Ibu membuatkan sup daging sapi untuk Jin Hyeok. Tiba-tiba anggota keluarga mereka yang terakhir datang, adiknya Jin Hyeok, Kim Jin Myung. Jin Myung mengira ibu membuat sup daging sapi karena ia pulang. Tapi semuanya heran melihat Jin myung pulang.

    Jin Hyeok: Kenapa kamu di sini?

    Jin Myung: Apa? Tidak bisa kupercaya. Kalian tidak tahu bahwa aku sudah bebas wamil?

    Ayah: Ah.. Rupanya hari ini.

    Jin Myung: Kemarin.

    Ayah: Lalu kenapa baru pulang?

    Jin Myung: Semalam aku minum-minum bersama rekan-rekan prajuritku. Ibu, berikan aku sup.

    Jin Hyeok: Sikapmu seolah baru kembali dari pasar swalayan saja.

    Jin Myung: Aku tidak mau ibu terlalu senang dan memasak berlebihan, tapi ini terlalu sunyi.



    Ibu kebingungan karena supnya sudah habis. Seharusnya Jin Myung memberi kabar kalau sudah bebas wamil. 

    Jin Myung: Ibu membuat tteok untuk Kakak, tapi kenapa tidak ada sup untukku?

    Ibu: Nasinya juga habis.

    Jin Myung: Nasi? Ada ramyeon, bukan? Kakak sudah bekerja?

    Ibu: Hei, kakakmu dapat pekerjaan di perusahaan besar.

    Jin Myung: Aku bangga padamu, Kak. Berikan aku uang jajan.

    Jin Hyeok: Tidak ada.

    Jin Myung: Tapi pekerjaan Kakak bagus.

    Jin Hyeok: Aku belum dapat gaji.

    Ayah: Berhentilah mengganggu kakakmu. Cepat makan ramyeon-nya. Kamu harus bekerja.

    Jin Myung: Ayah tahu upah per jam sudah naik, bukan?

    Jin Hyeok: Aku bekerja cuma-cuma.

    Jin Myung: Aku akan bersikap baik pada anak keduaku.

    Ibu: Hei, kamu harus punya anak kedua seperti dirimu sendiri. Kakakmu tidak pernah terlibat masalah, tapi kamu membuat ibu ke sekolah nyaris tiap hari. Sekarang kamu sudah dewasa?

    Jin Myung: Ibu, aku tidak terlibat masalah. Itu karena putra ibu ini anak baik. Ada yang mau kutanyakan, Ibu. Mana ramyeon-ku?

    Ibu: Kita juga tidak punya ramyeon.

    Jin Myung: Astaga. Mana mungkin tidak ada ramyeon di rumah?

    Ibu: Makanya, mulai sekarang beri kabar lebih dahulu saat kamu sudah bebas wamil.

    Jin Myung: Itu konyol. Ibu mau aku jalani wamil dua kali?

    Ibu pun memberikan supnya untuk dimakan Jin Myung.



    Sekretaris Jang memberi kabar buruk. Lukisan Seniman Jang dijadwalkan tiba di Sokcho  besok, tapi mereka dapat kabar lukisan itu tidak bisa dikirim.

    "Kamu sudah menghubungi Seniman Jang?" Tanya Soo Hyun.

    "Aku terus menghubunginya, tapi ponselnya mati. Kita sudah memesan tur seni untuk hotel di Seoul, Cheongju, Busan, dan Sokcho. Tur di Sokcho perlu kubatalkan? Akan dibuka dalam dua pekan."

    "Tidak. Apa pun yang terjadi, lukisan Seniman Jang harus ada. Kita sudah mengurusnya selama dua tahun."

    "Kurasa kita tidak bisa mendapatkannya. Aku sudah merasa Ketua Kim dalangnya. Kenapa dia terus ikut campur dengan urusan mantan menantunya? Kurasa dia membalasmu karena artikel belakangan ini."

    "Ini bukan kali pertamanya."

    "Sepertinya aku perlu mengunjungi studio Seniman Jang di Sokcho."

    "Sekarang?"

    "Ini tidak bisa via telepon."

    "Biar kuminta Sekretaris Nam menyiapkan mobil."

    "Tidak, biar aku sendiri yang ke sana. Banyak yang kupikirkan, jadi, sebaiknya aku mengemudi saja."



    Saat keluar, Soo Hyun berpapasan dengan Jin Hyeok dkk. Mereka saling memberi hormat sebagai bos dan pegawai.



    Hye In berbisik agar Jin Hyeok tidak ikut campur.

    Han Gil: Lihat Daepyonim. Dia tidak goyah sama sekali.

    Jin Hyeok hanya menatap Soo Hyun.



    Sekretaris Nam mendatangi Jin Hyeok. Ia mengenalkan diri sebagai Sekretaris Nam. Jin Hyeok langsung memberi hormat. Sekretaris Nam mengajak Jin Hyeok makan siang bareng.



    Sekretaris Nam membawa Jin Hyeok ke restoran pinggir jalan, tapi Jin Hyeok kelihatan lahap banget makannya.

    "Kamu suka makanannya?" Tanya Sekretaris Nam.

    "Aku bahkan lebih suka harganya. Harga di semua restoran dekat sini sangat mahal, karenanya aku selalu makan di kantin perusahaan. Makanan di sana juga enak."

    "Daepyonim sangat ketat soal makanan para pegawai."

    "Dia memang luar biasa."



    Soo Hyun datang ke studio Seniman Jang tapi kata pegawainya Seniman Jang sudang bepergian. 

    "Kapan dia kembali?"

    "Aku tidak tahu. Kurasa setelah akhir pekan ini."



    Soo Hyun memberikabar Sekretaris Jang, tampaknya Seniman Jang sengaja menghindarinya, bepergian itu cuma alasan.

    "Sepertinya aku harus lebih lama di sini. Kurasa dia tidak akan datang di akhir pekan. Bagaimanapun, aku akan terus berkunjung ke studionya." Lanjut Soo Hyun. 

    "Kamu akan berakhir pekan di sana tanpa barang bawaan apa pun?"

    "Tidak masalah. Aku akan beli dari sini saja. Jangan cemas. Lokasinya dekat pantai. Aku juga bisa beristirahat. Tolong hubungi hotel di Sokcho dan pesankan kamar untukku.




    Woo Seok menemui ibunya untuk menanyakan soal ibunya yang menemui Soo Hyun. Woo Seok meminta ibuny melupakan saja masalah ini, lucu juga melihat Soo Hyun bertindak sedikit gila.

    "Itu bukan gila, tapi murahan. Bodoh sekali dia. Ibu pikir dia memahami ibu, tapi ternyata dia malah bicara denganmu."

    "Soal pekerja baru itu. Jangan sentuh dia. Masalah besar bisa terjadi kalau dia dipecat saat baru mulai kerja. Ibu juga keterlaluan membuat dia terlihat seperti penguntit."

    "Dia bukan orang penting, seperti debu yang tidak terlihat. Ibu tidak memedulikannya. Soo Hyun selalu berlagak hebat, jadi, semoga kali ini dia merendah."

    "Ibu belakangan ini sangat sibuk. Untuk apa buang tenaga mengurus hal seperti ini?"

    "Bukankah sudah jelas? Ibu mau kalian berdua rujuk."

    "Ibu."

    "Ibu sudah bicara dengan ibunya. Sebaiknya kita bersiap."

    "Aku tidak mau."



    Ibu tahu kenapa Woo Seok masih melajang. Woo Seok jelas menunggu Soo Hyun. Kenapa ingin melepas genggamannya pada 'benda' itu?

    "Dia bukan benda." Tegas Woo Seok.

    "Dia bilang tidak mau rujuk?"

    "Memangnya apa gunanya memaksanya kembali ke sini?"

    "Kita tidak memaksanya. Ibu tidak mau melihatnya terus merajuk. Kita buat dia kembali ke sini atas keinginan sendiri. Karena hotelnya sukses, dia pikir sekarang dia hebat. Kita harus buktikan dia salah dan menjadikannya istri penakut. Begitu hotel hilang dari tangannya, dia akan sadar dan kembali padamu."

    "Hotel Donghwa... Jangan ikut campur."

    "Sepertinya kamu meminta ibu tidak mengusik Soo Hyun."

    "Aku berharap kita tidak pernah beradu argumen soal ini."

    Woo Seok langsung permisi.



    Hotel sangat sepi karena mereka belum buka dan cuma ada dua pegawai. Apa Soo Hyun tidak masalah? Apa perlu dipanggilkan yang lain?

    "Tidak, aku suka suasana tenang. Tolong siapkan kamarku saja." Tolak Soo Hyun.



    Soo Hyun masuk kamarnya, ia menyalakan TV dan acaranya membahas soal dirinya. Soo Hyun pun mematikannya.




    Soo Hyun berpikir sebentar, lalu ia menelfon ayahnya. 

    "Ayah juga ingin meneleponmu, tapi tidak bisa karena tidak tahu bagaimana keadaanmu." Jawab Ayah.

    "Maafkan aku."

    "Apa yang harus disesali? Ayah yang mendorongmu menjadi sorotan, jadi, ayah yang seharusnya meminta maaf."

    "Pihak Ayah akan bicara tentang ini. Apa yang akan Ayah lakukan?"

    "Tidak, itu tidak akan ada di agenda. Kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Pastikan saja kamu tidak lupa makan."




    Sekretaris Jang meminta bantuan Sekretaris Nam untuk mengantarkan pakaian Soo Hyun ke Sokcho, ia sebenarnya mau kesana sendiri tapi harus menemani ibunya menemui dokter hari ini.

    Sekretaris Nam: Aku bisa pergi, jadi, jangan khawatir. Hanya ini saja?

    Sekretaris Jang: Dia bilang akan membeli apa yang dia butuhkan di sana, tapi kita berdua tahu dia tidak akan membelinya. Artikel berita juga tidak membantu.

    Sekretaris Nam: Aku akan mengurus ini, jadi, kamu fokus saja membantu ibumu hari ini.




    Sekretaris Nam menghubungi Jin Hyeok, mengajaknya melakukan perjalanan bisnis.



    Sekretaris Nam meminta Jin Hyeok yang mengemudikan mobil. 

    Jin Hyeok: Mari kita bicara di jalan. Daepyonim akan bosan sekarang.

    Jin Hyeok langsung tersenyum lebar.




    Jin Myung terus mengganggu Dae Chan, ia minta resep karena mau membuka toko kedua dari Moon Snail Chan. Tapi Dae Chan tidak menyetujuinya.

    Tapi Jin Myung tidak menyerah walau Dae Chan terus menolaknya. 

    "Kamu membuatku gila. Apa kamu akan terus menggangguku?" Kesal Dae Chan.

    "Tolong ajari aku resepnya. Aku butuh pekerjaan sekarang."

    "Terserah. Lakukan apa yang kamu inginkan."

    Dae Chan langsung mengunci pintunya.

    0 komentar

    Post a Comment