Thursday, November 8, 2018

Sinopsis The Smile Has Left Your Eyes Episode 9 Part 2

Sumber: tvN


Jin Kang menghubungi seseorang, tapi tidak diangkat.


Sementara itu, kepolisian sedang bersiap melakukan konferensi pers. SO Jung melihat dari dekat pintu dan saat itu Jin Kang menelfonnya.


So Jung khawatir karena suara Jin Kang terdengar lesu. Jin Kang bertanya dengan hati-hati.

"Omong-omong, apakah orang yang kemarin ditangkap.. adalah.. Kim Moo Young?"

"Kamu menonton berita, ya? Hmm.. Benar. Dia Kim Moo Yung."

"Benarkah dia membunuh korban?"

"Ya. Tapi kurasa itu bohong."

"Bohong?"

"Sebentar lagi akan diberitakan. Bukan dia pelakunya."


Jin Kang super lega mendengarnya, ia akhirnya bisa bernafas dengan lega.


Moo Young menelfon rekan kerjanya, meminta untuk mengatakan pada Bos dan rekannya yang lain. 


Usai menutup telfon, ia minta ijin untuk menelfon satu kali lagi. Petugas memberinya ijin, ia menulis nomor tujuan-nya di daftar, tapi tidak menyelesaikannya, ia tidak jadi menelfon.


Usai konferensi reporter mengejar pimpinan untuk meminta keterangan lebih lanjut. 

Jin Kook muncul dan Lee Timjang langsung mengancamnya.

"Aku tidak akan diam saja. Aku akan mendesakmu hingga kamu mengundurkan diri."

Tapi Jin Kook diam saja. 


Hwang Geon menanyakan riwayt panggilan ponsel Mo Young, apa sudah siap? Cho Rong mengatakan sudah. 

"Sudah diurutkan dari yang sering berhubungan dengannya?" Tanya Hwang Geon lagi.

"Ya."

"Tunggu apa lagi? Cepat serahkan agar aku bisa menyusun daftar saksi."

Cho Rong menyerahkannya dan ia menawarkan diri untuk membuat daftar saksi dari riwayat di ponsel Kim Moo Young. Hwang Geon dengan senang hati mengijinkan Cho Rong melakukannya.


Cho Rong melihat ada nomor yang ia kenal, ia mencarinya di kontak ponselnya dan itu adalah nomor Jin Kang.

Cho Rong: Ini membuatku gila.


CEO Hwang, Jin Kang dan So Yeon tiba dan mereka melihat Noona yang akan masuk mobil. Namanya Jang Sw Ran. 


Jin Kang dan Sekretaris saling lirik.


CEO Hwang berbisik, karena Woo Sang sekarang sudah tiada jadi semua sahamnya pasti berpindah tangan kepada adiknya.

"Dia kakak, bukan adiknya." Koreksi So Yeon.

"Sungguh?"

"Jang Se Ran adalah kakak dari Jang Woo Sang. Dia kembali setelah bercerai beberapa tahun lalu. Mereka memperebutkan hak manajemennya. Akhirnya dia menang dengan cara ini."

"Tetap saja, adiknya wafat. Kakaknya tidak akan memikirkan itu."

"Mungkin saja. Dia berbeda dari kita."

"Tapi kamu ada benarnya."

Jin Kang hanya mendengarkan saja, tidak ikut bicara.


Sekretaris Choi memberitahu kalau bank menelfon tentang cek yang diberikan kepada Kim Moo Young.

"Kenapa? Ada masalah?" Tanya Se Ran.

"Tidak juga. Tampaknya dia mengirimkannya ke panti asuhan secara anonim. Karena jumlahnya terlalu besar, panti asuhan menanyakannya."

"Dia mendonasikan satu juta dolar ke panti asuhan?"

"Ya. Panti Asuhan Jamyung di Haesan. Di sanalah dia tumbuh hingga berumur 10 tahun."

"Benarkah? Hmm... Apa aktivitas dia akhir-akhir ini?"


Cho Rong menemui Moo Young, memperlihatkan nomor Jin Kang dalam daftar itu. 

"Kamu tahu nomor ini, bukan? Kita pernah bertemu di depan rumah Jin Kang. Kini aku tahu kenapa dia sangat gelisah saat itu. Kelihatannya, kamu membuatnya panik, membahayakannya, atau membuatnya menangis. Atau kamu.. menjadikan dia saksi kasus pembunuhan. Kamu tidak berhak melakukan itu. Jika kamu tulus sedikit saja kepadanya, berhentilah menghubunginya." Pinta Cho Rong.


CEO Hwang dan kedua pegawainya minum besama. Mereka membahas mengenai kabar Se Ran yang akan membuka pub di Seongsu-dong

CEO Choi: Baiklah. Itu akan menjadi pub dan pembuatan bir terbesar di Korea. Apa rencana kita?

Jin Kang: Ayo.

So Yeon: Kita menangi proyek ini.

CEO Hwang: Itu baru bawahanku.

Dan mereka minum untuk menyemangati mereka sendiri. Tapi mereka malah membahas soal pacar Jin Kang. 


So Yeon: Sejujurnya, alkohol terasa seperti madu saat pacarku menyusahkanku.

Jin Kang: Ini bukan karena dia.

CEO Hwang: Apa? Pacarmu bersinar seperti namanya, Cho Rong. Tapi dia kesal saat pekerjaannya tidak lancar?

Jin Kang: Bukan begitu. Aku tidak mau bicara lagi.

CEO Hwang: Ada apa lagi?

So Yeon: Walau dia tidak begitu, tidak asyik jika pria terlalu supel.

CEO Hwang: Wanita seperti dia akan menikah dengan pria yang mapan.

Jin Kang: Pria mapan itu seperti apa?

CEO Hwang: Itu keahlianku. Mendekatlah. Pria mapan menghasilkan uang dengan ketekunannya, tampangnya biasa saja, dan kebodohannya bisa kamu toleransi. Orang yang bodoh itu bagus.

So Yeon: Apa? Orang yang jelek dan bodoh?

CEO Hwang: Pria tampan sadar dirinya tampan. Pria jelek lebih baik.

Jin Kang: Pria yang miskin, tampan, dan rumit itu yang terburuk, bukan?

CEO Hwang: Tentu. Aku tinggal dengan pria seperti itu. Jika bertemu dengan pria seperti itu, larilah. Camkan ucapanku.

So Yeon: Astaga. Kamu begitu mencintainya hingga menikah dengannya.

CEO Hwang: Maka itu, aku yakin dengan nasihatku. Pikirmu orang berbuat salah karena tidak tahu itu buruk? Terkadang, sudah terlambat untuk mundur. Semua hal ada waktunya sendiri. Selagi masih bisa mundur, jika berbalik dan berlari secepat mungkin, kamu bisa melanjutkan hidupmu.

Jin Kang: Woah.. Aku bisa melakukan itu. Lariku cepat.

Dan mereka mengakhirinya dengan bersulang kembali.


Jin Kang pulang dalam keadaan mabuk dan membuak kakaknya kesusahan. 

Jin Kang: Oppa, ingat saat aku juara pertama di hari olahraga? Setiap ikut lomba, aku akan juara pertama dan lenganku distempel.

Jin Kook: Astaga. Hanya itukah yang bisa kamu banggakan? Kamu masih ingat lenganmu distempel saat SD?

Jin Kook lalu mematikan lampu dan menutup pintu, ia menyuruh Jin Kang untuk cepat tidur.


Tapi sebenanya Jin Kang masih sadar. Ia bergumam kalau ia butuh tidur.


Paginya, Jin Kook masuk ke kamar Jin Kang dengan membawakan minuman, tapi Jin Kang tidak ada di kamar. 


Jin Kang bersepeda, ia memikirkan perkataan CEO Hwang untuk lari sebelum terlambat. 


Moo Young di masukkan ke dalam sel. Seseorang memanggilnya.


Jin Kang berhenti saat melihat kucing, ia kembali ingat Moo Young dan kucingnya. Jin Kang berhenti sebentar, tapi kemudian mengayuh sepedanya lagi. Tapi Jin Kang masih belum bisa tidak memikirkan Moo Young.


Akhirnya Jin Kang sampai di kantor polisi.


Jin Kang berhenti lalu memutar balik sepedanya, tepat saat itu Cho Rong ada di depannya. 

"Jin Kang-Ssi. Kamu bersepeda?"

"Ya."

"Aku baru dari sauna."

"Mau bertemu dengan Manajer Yoo?"

"Tidak usah. Aku hanya berolahraga. Ini hari Sabtu."

"Baiklah. Kamu jadi makan malam tempo hari? Maaf aku tidak bisa datang."

"Tidak apa-apa. Tenang saja. Aku tahu kamu sibuk. Aku menonton berita."

"Begitulah tugas polisi. Tapi sebentar lagi selesai. Ayo makan bersama setelah selesai. Ayo menonton bioskop juga."

"Tentu."

Jin Kang lalu pamit.


Tapi Jin Kang kembali, ia mengejar Cho Rong yang akan masuk. 

"Cho Rong-ssi. Daripada menonton bioskop, ayo lakukan hal lain. Kamu punya daftar 100 aktivitas yang ingin kamu lakukan. Ayo pilih yang paling asyik."

"Emmm.. Bagaimana jika kita ke pantai?"

"Boleh. Ide bagus."

Dan Jin Kang kembali pamit.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap