Wednesday, November 14, 2018

Sinopsis The Smile Has Left Your Eyes Episode 11 Part 2

    Sumber: tvN


    Moo Young mengirim pesan pada Jin Kang, menyuruhnya mengirim foto Jin Kang yang manis itu jika jika daya ponsel Jin Kang sudah terisi. Jin Kang tersenyum membacanya, ia lalu melihat fotonya bersama Jin Kook saat ia masih kecil.

    Tiba-tiba So Jung menelfon, mengajaknya bertemu.


    Sebenarnya, So Jung tidak ingn membuat Jin Kang tidak nyaman, tapi Jin Kook sedih seharian ini. Ia tidak pernah melihat Jin Kook sesedih ini. Ia memastikan, sungguh Jin Kang pergi ke Haesan kemarin? Jin Kang mengiyakan. 

    "Kakakmu memarahimu? Apa dia keterlaluan?"

    "Aku yang keterlaluan. Kuminta dia berhenti mengungkitnya karena aku muak."

    "Jin Kang-ah."

    "Aku tahu."

    "Baiklah. Kakakmu pasti tahu kamu tidak serius. Tapi Jin Kang. Walaupun dia tahu, itu tetap menyakitkan."

    "Apa dia.. sudah makan?"

    "Bagaimana denganmu? Kenapa aku bertanya? Kamu seperti kakakmu. Ayo. Mari makan bersama. Tidak apa-apa. Cepatlah. Ayo. Ayo kita makan lebih dahulu."


    Tapi Jin Kang diam saja. So Jung menasehati, perbuatan Jin Kang memang salah, tapi tidak apa-apa. Jin Kook pasti tahu kalau Jin Kang tidak bermaksud begitu. Tidak apa-apa, Jin Kang masih muda.

    "Tidak." Jawab Jin Kang. 

    "Sungguh. Itu tidak apa-apa. Dia selalu sedih karena kamu terlalu cepat besar. Ada apa? Kamu sungkan merepotkan kakakmu? Karena orang tua kalian tiada, sudah tugas dia mengurus adiknya. Tidak apa-apa. Sungguh."

    "Tapi aku tidak boleh menganggapnya biasa. Itu tidak pantas, So Jung. Aku tidak seharusnya menyusahkan kakakku."

    "Kamu bicara apa? Cepat berdiri. Ayo makan dahulu. Cepat, ambil tasmu."

    "Eonni, aku ingin bertanya. Baru kali ini kakakku begitu membenci seseorang. Dia sudah membenci Moo Young sebelum kami berpacaran. Tampaknya dia membenci Moo Young tanpa alasan. Kamu tahu sebabnya?"


    Geon selesai melakukan investigasi pada Moo Young.

    Geon: Investigasi polisi sudah tuntas. Kejaksaan akan memanggilmu besok. Lewat ponsel dan pos.

    Moo Young: Baik.

    Geon: Jangan mengubah jadwal interogasi oleh kejaksaan. Itu hanya akan merugikanmu.


    Saat keluar dari ruang interogasi, Moo Young membaca pesan dar Jin Kang. 

    "Aku akan pergi menemui So Jung. Aku pernah bercerita dia teman terdekat kakakku, bukan? Kakakku tahu aku ke Haesan bersamamu. Sikapku ke kakakku pagi ini keterlaluan. Mungkin itu sebabnya dia mengajakku "


    Moo Young membawa kopi kalengan, ia mengintip ruangan Jin Kook, tapi Jin Kook nya tidaka ada. Ia pun keluar.


    Di luar, Moo Young melihat poster perekrutan polisi, ia berhenti untuk membacanya.


    Dan ia akhirnya melihat Jin Kook. 

    Moo Young: Tadi aku mampir ke kantormu.

    Jin Kook: Kenapa?

    Moo Young: Ingin saja. Aku sekalian mampir selagi di sini.

    Jin Kook: Kenapa kamu mengabaikan ucapanku? Sudah kubilang jangan temui adikku lagi.

    Moo Young: Haruskah? Tidak bisakah kamu menyetujuinya?


    Moo Young lalu membahas soal perekrutan itu, ia tertarik. "Aku pernah bilang cita-citaku saat kecil adalah menjadi polisi. Bagaimana? Aku yakin bisa berhasil."


    "Kamu yakin bisa berhasil? Tampaknya kamu tidak paham. Pintar saja tidak cukup untuk menjadi polisi. Untuk menjadi polisi, kamu harus menjadi manusia, bukan pembunuh. Kamu pembunuh. Kebetulan kamu dipidana karena melindungi pelaku dan merusak bukti, tapi jangan berpura-pura lupa. Siapa penyebab Seung Ah tewas? Siapa yang menghasut Yu Ri? Beraninya kamu.. mendekati Jin Kang? Bedebah sepertimu tidak boleh merusak hidupnya. Tidak akan kubiarkan. Jadi, jangan berlagak. Jangan ganggu adikku."

    "Tadi, aku pasti berusaha menyenangkanmu. Pasti karena itu aku sangat malu sekarang. Baiklah. Aku paham. Kita tidak bisa berdamai. Aku salah menilai karena kamu kakak kekasihku. Tapi kamu dan Jin Kang orang yang berbeda. Kamu hanya kakaknya."

    "Hanya kakaknya? Kamu tidak takut apa pun, ya? Tidak ada yang berarti bagimu. Jadi, kamu bisa seenaknya. Tapi aku bisa melakukan apa saja karena ada yang kutakuti. Karena takut adikku akan tersakiti, akan kuhalalkan segala cara. Artinya, mulai sekarang aku tidak akan sekadar bicara."

    "Apa pun yang kamu lakukan, masa bodoh. Aku akan tetap menemuinya. Terserah kamu mau apa. Berbuatlah sesukamu, aku pun begitu. Jika tidak akan sekadar bicara, aku penasaran kamu akan berbuat apa."

    Moo Young ini gak ada takutnya, ia melenggang dengan biasa.


    Jin Kang menunggu Moo Young di depan sambil tiduran dan memikirkan kata-kata So Jung.

    So Jung: Tidak bisakah kamu berubah pikiran? Mungkin ada alasan yang tidak kita ketahui.

    Jin Kang: Misalnya apa? Ada dugaan?

    So Jung: Aku? Tidak ada. Katamu dia membenci Moo Young sejak awal. Kurasa itu agak aneh. Jin Kang-ah. Tidak bisakah kamu... Sejujurnya, aku juga tidak menyukai Kim Moo Young. Kurasa kalian tidak cocok.


    Jin Kang pusing, ia menutup matanya. Tiba-tiba Moo Young ikutan berbaring disampingnya. Jin Kang merasakannya dan ia menyapanya.

    "Kamu datang."

    "Ya, aku datang."


    Mereka saling tersenyum dan saling berpegangan tangan.


    Moo Young memberi Jin Kang makan, ia tak menyangka Jin Kang baru makan sekarang seharian ini. 

    "Aku tidak sempat. Aku pulang ke rumah, tapi tidak sanggup membuka pintu depan. Untunglah aku kemari. Makan menjadi lebih enak saat bersamamu."

    "Kamu sangat mencemaskannya?"

    "Tentu saja. Dia sedih seharian."

    "Runyam sekali."

    "Apanya? Karena kakakku tidak menyetujuinya? Begitulah perangai kakakku."


    Moo Young diam saja. Jin Kang harap waktu berlalu begitu cepat. Ia harap semua ini segera usai, agar Jin Kook bisa langsung menyukai Moo Young.

    "Entahlah." Jawab Moo Young. 

    "Kenapa?"

    "Sepenting itukah? Kita bukan anak kecil yang butuh persetujuannya."

    "Tidak ada yang berkata begitu. Bukan itu maksudku."

    "Aku benci hal yang runyam. Kamu adalah kamu.. dan orang itu adalah orang itu."


    Jin Kang kaya gak percaya, jadi bagi Moo Young kakaknya itu cuma "orang itu" bagi Moo Young? 

    "Kenapa? Tidak boleh?" Tanya Moo Young. 

    "Kamu kejam sekali."

    "Memang."

    "Dia bersikap begitu karena tidak mengenalmu. Dia tidak tahu sekeras apa upayamu."

    "Aku tidak peduli anggapan kakakmu tentangku. Mungkin kamu tidak tahu, tapi aku sudah terbiasa ditolak. Ini tidak berarti bagiku. Jangan memaksaku. 


    Jin Kang tambah kecewa, "Kamu selalu menyebutnya "kakakmu". Kenapa kamu seperti lepas tangan.. walaupun tahu semuanya? Mungkin orang lain tidak, tapi kamu tahu semuanya. Kamu tahu kakakku penting bagiku. Kamu tahu, tapi tega sekali berkata begitu?"

    Jin Kang hampir menangis, ia langsung pamit dan Moo Young mengucapkan selamat tinggal. Jin Kang pun tanpa pikir lagi langsung keluar.


    Di luar, Jin Kang menangis. Ia langsung pergi.


    Moo Young masih melanjutkan makannya. Tapi ia tidak bisa diam, ia menyambar jaketnya lalu keluar mencari Jin Kang. Ia berlari ke rumah Jin Kang karena tidak menemukan Jin Kang di jalan.

    Moo Young menghubungi Jin Kang, tapi Jin Kang tidak mengangkatnya. Moo Young juga tidak bisa megetuk pintu, jadi ia dengan putus asa kembali ke rumahnya karena mobil Jin Kook ada di luar, artinya orangnya ada di rumah.


    Moo Young lega saat melihat Jin Kang masih ada di rumahnya.

    Jin Kang: Pembohong. Mustahil ada yang bisa terbiasa. Bagaimana ada yang tidak peduli ditolak? Sikapmu menyakitiku. Padahal aku membelamu.

    Moo Young langsung memeluk Jin Kang.

    Moo Young: Aku menelepon karena kukira kamu pergi.

    Jin Kang: Kamu sungguh menyusahkan. Kamu pergi sejauh apa tadi?

    Moo Young: Ke rumahmu.

    Jin Kang: Kamu berlari?

    Moo Young: Ya.

    Jin Kang: Berlari kencang?

    Moo Young: Ya.

    Jin Kang: Jangan mengulanginya. Kamu berjanji akan mencegahku saat aku akan pergi?

    Moo Young: Ya.

    Jin Kang: Ah.. Aku haus. Aku menahan tidak minum agar terlihat marah tadi.


    Moo Young langsung menggendong Jin Kang dan membawanya masuk ke dalam.  


    Moo Young menurunkan Jin Kang diatas kulkas, lalu mengambilkan minum.

    "Kamu tidak punya cangkir?"

    "Tidak."

    "Benar juga, bukan hanya itu. Kamu juga tidak punya microwave atau penanak nasi. Juga mesin cuci. Kini aku paham kenapa kucing itu kabur."

    "Apa maksudmu?"


    Jin Kang menjelaskannya sambil berkeliling, "Dia pikir ini bukan rumah. Nyaris tidak ada isinya. Mana mungkin dia pikir ini rumah?"

    "Tapi ini rumah."

    "Hei. Kamu punya uang? Kamu punya uang, bukan?"

    "Uang? Sedikit, tapi ada. Kenapa?"

    "Baguslah."

    "Kenapa? Aku menjadi takut."

    "Tidak. Aku tidak bisa bilang."

    "Ada apa?"

    "Aku tidak bisa bilang. Rahasia. Untuk sekarang, rahasia."

    0 komentar

    Post a Comment