Wednesday, November 14, 2018

Sinopsis The Smile Has Left Your Eyes Episode 11 Part 1

    Sumber: tvN


    Usai mendengar cerita Jin Kook itu, So Jung bertanya, bagaimana Jin Kook bisa memendamnya selama 25 tahun? Bagaimana Jin Kook hidup selama puluhan tahun itu?

    "Jin Kang. Aku punya Jin Kang."

    "Benar, kamu memiliki dia. Astaga. Garis takdir di antara manusia memang luar biasa. Jika anak itu tidak hilang di rumah sakit, Jin Kang tidak akan datang ke rumahmu."

    "Kamu benar. Mulanya, aku membujuk Ibu dan Jin, lalu membawa anak itu. Tapi dia tidak mau kudekati. Dia tidak mau tersenyum atau bicara. Sebenarnya aku takut. Aku ragu ini ide yang bagus."


    "Suatu hari, saat aku terbangun, dia menggenggam jariku. Dia begitu mungil, cantik, dan malang. Dia menggenggam erat jariku. Hatiku tergugah dibuatnya."


    Jin Kang tidak bisa tidur, waktunya sedikit. Moo Young penasaran, bagaimana Jin Kang tahu kalau Jin Kook bukan kakak kandungnya? 

    "Saat aku kelas 2 SMP, sekolah akan memberiku semacam beasiswa. Mereka menyuruhku menyerahkan dokumen. Tanggal lahirku tercatat di sana. Kurasa sekitar bulan Mei 1994. Itu aneh karena aku lahir pada bulan April 1990. Tapi yang tercatat tahun 1994. Aku berniat menanyai kakakku, tapi Kakak bertugas saat itu. Aku memikirkannya semalaman. Saat itu aku sadar. Rupanya begitu. Ternyata ini yang sebenarnya. Tapi terlalu banyak hal aneh sebelumnya. Sepertinya akan makin berat jika aku tidak menyadarinya."

    "Kamu pasti sangat terkejut saat itu."

    "Tentu saja. Aku sangat nakal. Kupendam kenakalanku tanpa memberi tahu siapa pun. Itu masa-masa yang menguras emosi. Hal yang menarik adalah.. aku mengetahuinya sehari sebelum pergi ke rumah sakit."


    Jin Kang mengaku pernah melakukan reservasi untuk menghilangkan bekas luka bakarnya, tapi setelah mengetahui soal kakaknya, ia rasa ia tidak boleh menghilangkannya. Jika menghilangkannya, ia tidak akan tahu siapa dirinya selamanya.


    Moo Young langsung memeluk Jin Kang.

    Jin Kang: Aneh. Kita kemari untuk memulihkan ingatanmu. Tapi aku serasa menemukan jati diriku di sini.


    Jin Kang akan menunjukkan sesuatu yang manis, ia mengecek ponselnya, tapi ternyata baterainya habis. Sayang sekali. Padahal itu sangat manis.

    "Apa yang sangat manis?" Tanya Moo Young. 

    "Aku. Fotoku saat kecil."

    "Kamu makin percaya diri."

    "Aku manis, bukan?"


    Jin Kook memanggil supir pengganti. So Jung berterimakasih karena supir itu masu datang kesana.


    Jin Kook mendapat telfon dari bosnya Jin Kang, CEO Hwang.

    "Maaf menelepon selarut ini. Ini Hwang Seon Hwa, presdir perusahaan Jin Kang. Maaf. Aku tidak tahu draf itu ada di meja. Aku telanjur meneleponmu selarut ini. Dia tidak bangun, ya? Dia bekerja semalaman kemarin karena harus ke kuil."


    Saat di mobil, Jin Kook menghubungi Geon, menanyakan jam selesainya investigasi Moo Young. 

    "Investigasinya ditunda. Dia menelepon dan mengaku berada di desa sekitar pukul 13.00 tadi."

    "Apa? Di mana tepatnya?"

    "Haesan."

    "Haesan?"

    "Bagaimana lagi? Kita tidak bisa menangkap dia di sana Jadi, investigasi ditunda besok. Ada apa? Bukan apa-apa."

    "Baik, sampai jumpa."


    So Jung khawatir, ada apa? 

    "Sepertinya Jin Kang pergi ke Haesan bersama Moo Young."

    "Ke Haesan? Bersama Moo Young?"

    "Ya. Aku harus bagaimana jika dugaanku benar?"


    Jin Kook buru-buru masuk rumah, ia langsung membuka pintu kamar Jin Kang, tapi tidak ada siapa-siapa. Jin Kook lemas seketika.


    Esoknya, Jin Kang dan Moo Young kembali dengan naik taksi. Moo Young enggan berpisah dengan Jin Kang, ia terus mengikuti Jin Kang, 

    "Kamu juga harus bergegas. Kamu terlambat kerja."


    Moo Young mengangguk, tapi ia tetap mengikuti Jin Kang.

    Jin Kang sampai harus mendorong Moo Young ke arah rumahnya, baru Moo Young pergi.

    Jin Kang: Pergilah. Aku akan mengirimimu pesan.

    Moo Young: Sampai jumpa.

    Tapi Moo Young tetep aja nengok-nengok ke Jin Kang.


    Jin Kang masuk diam-diam, berharap kakaknya gak denger, tapi Jin Kook kebangun juga oleh suara Jin Kang.

    Jin Kang: Kakak sudah bangun? Aku membangunkan Kakak? Bagaimana kencan Kakak dengan Tak Eonni kemarin?

    Jin Kook diam saja.

    Jin Kang: Oppa, gimbap Kakak sangat disukai. Kata presdirku, rasanya seenak gimbap di restoran.

    Jin Kook: Presdirmu menghubungiku. Dia tidak menemukan drafmu.

    Jin Kang: Benarkah? Begitu, ya. Aku sudah bilang akan menaruhnya di mejanya.


    Jin Kang pun meminta maaf karena sudah bohong, sebenarnya ia pergi ke Haesan kemarin bersama Moo Young.

    "Tidak perlu berbelit-belit. Katakan saja apa maumu. Jelas kakak sudah melarangmu. Kamu berjanji tidak akan menemuinya lagi."

    "Oppa. Aku menyukainya."

    "Berani sekali kamu! Kamu sudah gila? Bisa-bisanya kamu menyukai orang seperti dia?"

    "Salahkah menyukainya?"

    "Pikirmu itu masuk akal?"

    "Kenapa Oppa tidak mendengarkanku sama sekali?"

    "Tidak perlu. Tanyailah semua orang dan jawaban mereka sama. Tidak akan ada yang paham alasanmu memilihnya dibandingkan pria baik-baik seperti Cho Rong."

    "Aku tidak peduli pandangan orang lain. Aku tahu Oppa juga membencinya. Aku tidak meminta Oppa untuk segera memahamiku. Tapi ini salah. Oppa tidak mendengarkan pendapatku atau rencana dia mulai sekarang. Kenapa Oppa keras kepala?"

    "Lupakan semuanya. Yang telah berlalu biarlah berlalu. Paham? Cepat jawab!"


    Jin Kang tidak mau menjawabnya, ia akan masuk ke kamarnya. Jin Kook kesal karena Jin kang tidak mau mendengarkannya. Jin Kook bahkan mencengkeram lengan Jin Kang agar Jin Kang mau mendengarkannya. 

    "Oppa ini kenapa?"

    "Kamu sungguh... Kamu tidak seperti ini saat kecil dan remaja. Kamu serius tidak akan menuruti Oppa?  Walau Oppa memohon seperti ini? Siapa yang membesarkanmu sampai sekarang? Huh! Kamu tidak sadar kakak sangat frustrasi?"


    Jin Kang membentak kakaknya untuk berhenti. 

    "Aku bisa bilang apa saat Oppa bilang begitu? Aku bisa bilang apa saat aku merasa bersalah? Masa remaja? Oppa tahu apa? Aku selalu merasa bersalah. Aku sangat tidak enak hati melihat wajah atau punggung Oppa. Rasanya menyiksa. Begitulah masa remajaku."

    "Kamu..."

    "Aku tahu aku beban hidup Oppa. Aku berutang banyak kepada Oppa. Aku paham sekali. Jadi, tolong hentikan. Aku sudah cukup merasa bersalah. Berhentilah mengungkitnya."

    "Mengungkitnya?"

    "Benar."

    "Kamu... Dasar. Kamu bukan beban. Kamu bukan beban dan kakak tidak menagih... Jin Kang. Kamu tidak berpikir begitu, bukan?"

    "Aku sungguh berpikir begitu."

    "Rasanya menyiksa. Juga memuakkan."


    Jin Kang masuk kemarnya, ia membanting pintu, tapi di dalam ia menahan tangisnya.

    Sementara itu, Jin Kook memegangi dadanya, nyeri setelah mendengar pengakuan Jin Kang itu. Nyeri banget sampai Jin Kook tidak sanggup berdiri.


    Jin Kang ke kantor naik bis hari ini, Jin Kook tidak mengantarnya.


    Jin Kook menanyai Geon di kantor, jam berapa investigasi Moo Young? Geon menjawabnya sambil berbisik karena ada Lee Timjang disana, 

    "Pukul 16.00."


    Lee Timjang: Itu bukan urusanmu. Jangan ikut campur.

    Tapi Jin Kook malah membentak, "Kamu yang jangan ikut campur."

    "Berani sekali kamu..."

    "Apa salahnya seorang detektif menanyakan waktu investigasi tersangka?"

    "Tidak salah."

    Lee Timjang pun tidak bisa berkutik saat disemprot Jin Kook.


    So Jung menunggu Cho Rong di kantin. Cho Rong tahu apa yang mau ditanyakan So Jung, ia memberitahu So Jung kalau Jin Kook tidak mau makan sebelum So Jung bertanya apapun.

    Cho Rong: Omong-omong, ada masalah dengan Manajer Yoo? Seharian ini dia... Tingkahnya tidak seperti biasanya.

    So Jung: Selamat makan siang.

    Cho Rong: Ayo makan bersama. Kamu selalu mencemaskan Manajer Yoo.

    So Jung: Aku? Ada apa ini, Cho Rong? Kamu mencemaskanku?

    Cho Rong: Ya.

    So Jung: Terima kasih. Kudengar kamu dan Jin Kang berpisah.

    Cho Rong: Benar.

    So Jung: Astaga. Memang. Hidup itu tidak pernah adil. Tapi ketidakadilan itu sangat terasa dalam hubungan. Benar?

    Cho Rong: Ya. Kurasa begitu.

    So Jung: Astaga. Ini tidak adil, tapi aku bisa apa? Aku tidak bisa diam saja. Sampai jumpa.

    Cho Rong: Baiklah. Bicaralah dengannya.


    So Jung melihat Jin Kook duduk sendirian. Ia ragu mau menghampirinya atau tidak, ia hanya menatap sandwich yang ia bawa.

    0 komentar

    Post a Comment