Friday, November 30, 2018

Sinopsis Encounter Episode 2 Part 3

    Sumber: tvN


    Jin Hyeok membuatkan kopi untuk Manajer Kim. 


    Eun Joon terus memperhatikan Jin Hyeok karena Jin Hyeok sangat tampan. Ia meminta persetujuan Hye In. Hye In hanya tersenyum karena ia sudah mengenal Jin Hyeok sangat lama.

    "Sejak kapan kalian berteman?" Tanya Eun Joon.

    "Sejak kami masih SMP. Kami tinggal di lingkungan yang sama."

    "Tapi sudah tidak lagi?"

    "Tidak, aku sudah pindah."

    "Dengan penampilan itu, dia boleh sedikit kasar. Tapi sepertinya dia juga memiliki kepribadian yang sangat baik. Ya, bukan?"

    "Aku belum pernah melihat dia bertengkar dengan siapa pun. Tapi dia bisa sedikit keras kepala. Dia mengejar apa pun yang menarik minatnya."

    "Berarti aku akan menjadi umpan."

    "Apa?"


    Soo Hyun harus ke rumah di Banpo karena ibunya tiba-tiba memintanya untuk datang. Sekretaris Nam mengerti, pasti Nyonya sangat merindukan Soo Hyun.

    "Mana mungkin."

    "Pasti sudah lama sejak kali terakhir Anda bertemu dengannya karena Anda begitu sibuk dengan hotel di Kuba. Kudengar ayah Ibu akan ada di rumah hari ini. Jadi, habiskanlah waktu berkualitas dengan keluarga Anda."

    "Ahjusshi."

    "Ya.. A-apa?" Sekretaris Nam kaget dipanggil Ahjussi oleh Soo Hyun.

    "Sejak kapan keluarga kami pernah punya waktu berkualitas?"

    Sekretaris Nam tidak bisa menjawabnya. 


    Di rumah, Soo Hyun bicara dengan ayahnya. Ayah bertanya soal Soo Hyun yang pergi ke Kuba. 

    "Kamu pasti lebih sibuk karena pembukaan hotel di Sokcho. Pastikan kamu tetap sehat." Pesan Ayah.

    "Baik. Aku makan dan beristirahat dengan baik. Jangan khawatir."


    Ibu yang baru bergabung tiba-tiba menyala, "Dia hanya mendapat bisnis hotel dari perceraian ini. Seberapa sibuknya dia?"

    Ayah: Astaga, apa kamu benar-benar harus mengatakan itu?

    Soo Hyun: Aku harus segera pergi.

    Ibu: Apa terjadi sesuatu di pesta ulang tahun presdir?

    Soo Hyun: Tidak.

    Ibu: Cobalah mengingatnya. Apa kamu yakin tidak ada yang terjadi?

    Soo Hyun: Ya.

    Ibu: Lalu kenapa dia ingin menemui ibu lagi? Sungguh mengesalkan.

    Soo Hyun: Siapa yang ingin menemui Ibu? 

    Ibu: Ibu mertuamu.

    Soo Hyun: Aku sudah lama bercerai. Bisakah Ibu berhenti memanggil dia ibu mertua?

    Ibu: Masa bodoh. Menantu Jung meninggalkanmu seolah dia akan segera menikah lagi. Tapi ibu masih belum mendengar berita apa pun.

    Soo Hyun: Dia bukan menantu kalian lagi.

    Ibu: Ibu tidak berhati dingin seperti kamu. Ibu masih memiliki rasa sayang untuknya.


    Soo Hyun tidak mau mendengar lebih jauh, ia langsung pamit dengan ayahnya. Ayah berpesan agar Soo Hyun berjendara dengan hati-hati.


    Ibu terus saja mencecar Soo Hyun, apa Soo Hyun yakin tidak melakukan apa pun yang menyinggung perasaannya? Soo Hyun tidak tahan lagi, ia bahkan menggunakan banmal.

    "Ibu. Pernahkah aku melakukan sesuatu yang menyinggung perasaan seseorang? Sejak Ayah terjun di dunia politik, aku bahkan tidak bisa menguap. Tapi begitu aku menikah dengan keluarga itu, aku bahkan harus berhati-hati untuk tidak menghela napas terlalu keras. Bahkan sekarang, aku masih..."


    Soo Hyun sadar ia sudah kelewatan, ia pun minta maaf pada ayahnya. Ia sama sekali tidak mengkritik Ayah karena menjadi seorang politikus.

    Ayah: Baik, kamu sebaiknya beristirahat.

    Soo Hyun: Baik.


    Soo Hyun langsung pergi, tapi Ibu masih saja bicara bahkan meninggikan suaranya.

    "Pria seperti apa yang akan menyukai wanita dingin seperti dia? Ibu tidak menyalahkan Woo Suk karena meninggalkanmu."

    Ayah sampai harus menegur ibu, apa ibu terus akan melakukan ini? Barulah ibu berhenti.


    Soo Hyun lemas di tangga, ia pun berhenti untuk duduk. Ia menahan menangis. 


    Di mobil, Soo Hyun tidak mengatakan apapun.


    Woo Seok didatangi ibunya di kantor. Ibu bertanya apa Woo Seok tidak akan menikah lagi? Woo Seok mengatakan kalau ia sedang berpacaran dan perlahan mulai mengenal dia...

    "Apa namanya Soo Ah? Kamu tidak bisa menikahi dia. Keluarganya tidak cukup baik untukmu." Ibu langsung memotong perkataan Woo Seok.

    "Aku akan perlahan..."

    "Daripada dia, kamu akan jauh lebih baik dengan Cha Soo Hyun, putri seorang calon presiden."

    "Ibu."

    "Ibu ada janji penting. Mari kita bicarakan ini lagi nanti."

    Ibu langsung ergi tanpa mendengarkan jawaban Woo Seok.


    Selanjutnya Ibu Woo Seok menemui Ibu Soo Hyun. Ibu Woo Seok ingin membahas mengenai anak-anak, ia ingin membahas kemungkinan agar mereka bisa rujuk.

    "Aku juga berbicara tentang Menantu Jung dengan Soo Hyun. Aku pikir kita berdua memikirkan hal yang sama." Jawab Ibu Soo Hyun.


    Sampai di parkiran kantor, Soo Hyun menyuruh Sekretaris Nam pulang lebih awal karena ia punya banyak pekerjaan.

    "Tidak apa-apa. Tidak perlu terburu-buru." Jawab Sekretaris Nam.

    "Jika kamu menunggu, itu akan membuatku cemas."

    "Berarti aku akan pulang dan minum bir. Aku akan meninggalkan mobil di sini."


    Tim Humas makan malam bersama untuk menyambut Jin Hyeok. Eun Joon mulai melancarkan aksinya untuk mendekati Jin Hyeok. Ia mengambil gelas Jin Hyeok untuk membuatkan campuran minuman spesialnya.


    Han Gil menyela, ia membeberkan kelakuan Eun Joon pada yang lain. Eun Joon bahkan tidak pernah membuat campuran minuman untuk Manajer Kim, tapi Eun Joon membuatnya untuk pegawai baru. Ia sama sekali tidak mengerti perilaku seperti ini.

    Manajer Kim hanya tersenyum. Eun Joon menyuruh Han Gil lihat saja di cermin, aka Han Gil akan mengerti.

    Han Gil: Kurasa kamu tidak berhak mengatakan itu kepadaku.


    Eun Joon tidak menghiraukan Han Gil lagi karena ia sudah selesai membuat minumannya. Eun Joon langsung memberikannya untuk Jin Hyeok. Jin Hyeok tak kunjung menerimanya.

    Hye In membantu, ia berkata kalau Jin Hyeok tidak kuat minum alkohol. Tapi itu malah membuat Jin Hyeok menyambar gelasnya dan ia langsung meminumnya sekaligus.

    Han Gil tidak mau kalah, ia juga ingin membuatkan minuman untuk Jin Hyeok. Hye In menatap Jin Hyeok khawatir.


    Manajer Kim mengerti kalau Han Gil menyayangi bawahannya, ia lalu meminta gelas Han Gil, ia akan membuatkan campuran minuman untuk Han Gil yang sama persis.

    Semuanya senang mendengarnya, Hye In langsung memberikan gelas Han Gil pada Manajer Kim. 

    Han Gil: Tapi Kim Jin Hyeok-ssi adalah bintang dari acara hari ini. Jadi, kurasa...

    Eun Joon: Bu Kim, kamu memang generasi baru.


    Han Gil panik melihat campuran yang dibuat Manajer Kim, bisa-bisa nanti ia tidak bisa pulang. Manajer Kim berkata kalau Han Gil harus memberi contoh yang baik sambil memberikan hasil campurannya.

    Selanjutnya Manajer Kim mengajak semuanya bersulang untuk pegawai baru mereka, Kim Jin Hyeok. Hye In berbisik agar Jin Hyeok tidak minum banyak-banyak.

    "Jangan khawatir." Balas Jin Hyeok.


    Tapi Jin Hyeok mabuk juga pada akhirnya dan ia mulai berkeliling memberikan obat mabuk untuk semuanya. Jin Hyeok keknya sengaja membawanya di tas.

    Yang paling mabuk adalah Han Gil. Jin Hyeok membangunkannya untuk minum obatnya, tapi Han Gil gak bangun. Jin Hyeok punya cara lain.


    Ia menuang obatnya dalam sendok lalu menyuapkannya pada Han Gil. 


    Manajer Lee menyuruh Hye In mengambil foto, lalu mempermalukan Jin Hyeok dan Han Gil besok. 

    "Untuk apa?" Tanya Hye In.


    Manajer Kim menyudahi acara minum-minumnya. Ia mengajak semuanya pulang.

    Jin Hyeok engurus Han Gil. Dan Han Gil tiba-tiba memasukkan camilan sisa ke dalam saku jas Jin Hyeok, katanya agar bisa dimakan dirumah nanti. Jin Hyeok berterimakasih.


    Sementara itu, semuanya hanya tersenyum memperhatikan tingkah Jin Hyeok dan Han Gil itu. Klop banget pokoknya mereka berdua.

    Sekretaris Jang mengetuk pintu ruangan Soo Hyun. Menanyakan apa Soo Hyun gak mau pulang? Udah larut lho!

    "Ayo. Aku harus bangun supaya kamu bisa pulang juga."

    Sekretaris Jang akhirnya tersenyum. Tapi Soo Hyun memberi tugas lagi, "Jadwalkan pertemuan dengan tim desain Kuba. Aku perlu membuat beberapa perubahan."

    "Baik, aku akan menelepon mereka."


    Semuanya sudah naik taksi, tinggal Hye In dan Jin Hyeok. HYe In akan mengantar Jin Hyeok, tapi Jin Hyeok bilang gak usah karena rumah mereka berlawanan arah.

    Jin Hyeok langsung menyetop taksi untuk Hye In dan memaksa Hye In segera pulang padahal Hye In khawatir pada Jin Hyeok. 


    Jin Hyeok berjalan dan tiba-tiba mengucek matanya. Soo Hyun yang kebetulan lewat sana melihat Jin Hyeok. 

    Soo Hyun melewati Jin Hyuk begitu saja, tapi ia mulai berpikir, apa Jin Hyeok mabuk? 


    Tiba-tiba hujan turun. Jin Hyeok kedinginan, jadi ia berteduh di halte.


    Soo Hyun ternyata memutar mobilnya dan ia berhenti tepat di depan Jin Hyeok. Soo Hyun kemudian membunyikan klakson Jin Hyeok melihatnya. Jin Hyeok langsung mendekat melihat Soo Hyun. 

    "Daepyonin! Anda pulang sampai larut malam. Anda memang layak menjadi presdir."

    "Kamu tampaknya mabuk berat. Aku masih kesal kamu menolak tiket kelas bisnis. Masuklah ke mobil sekarang."

    "Setuju!"


    Jin Hyeok mengelap kaca jendela dengan dasinya dan itu membuat Soo Hyun tersenyum. Soo Hyun bertanya, apa tadi acara tim? Jin Hyeo membenarkan, ia minum begitu banyak, tapi mereka semua sangat kuat minum.

    Jin Hyeok melepas dasinya. Tapi ada yang menarik perhatian Soo Hyun, dasi Jin Hyeok ada resletingnya. 

    "Mereka menjual ini. Aku tidak tahu cara memakai dasi. Ini penyelamatku. Apa Anda ingin mencobanya? Ini sangat mudah. Anda hanya perlu menariknya ke atas dan ke bawah. Bukankah ini luar biasa?"

    "Aku ingin menanyakan sesuatu." 

    "Baik!"

    "Apa hanya itu setelan yang kamu punya?"

    "Kita berpapasan setiap kali aku memakai setelan ini."

    "Aku membeli setelan ini di penjahit teman ibuku. Aku mendapatkannya dengan penawaran beli satu gratis satu. Aku juga punya setelan abu-abu yang jauh lebih keren. Abu-abu. Ini biru tua. Tentu saja, kedua warna itu cocok untukku. Setelan sangatlah penting bagi pria. Bukankah begitu?"


    Soo Hyun menahan tawa mendengar ocehan Jin Hyeok itu. 


    Soo Hyun mengantar Jin Hyeok sampai di taman bermain. Jin Hyeok berterimakasih pada Soo Hyun karena ia bisa sampai rumah dengan selamat.

    "Aku hanya membalas jasamu di Kuba. Jangan dipikirkan."

    "Syukurlah. Anda harus berkendara pulang dan hujannya reda. Tapi Anda mungkin mengantuk dalam perjalanan pulang."


    Jin Hyeok punya ide, ia mengeluarkan cumi kering yang dibawakan Han Gil tadi. 

    Jin Hyeok: Kunyahlah ini sambil mengemudi. Cumi kering sangat pas saat kita merasa mengantuk. Cumi-cumi ini sangat sempurna untuk saat seperti ini dan rasanya sangat lezat. Aku simpan ini untuk sebelum tidur, tapi akan kuhadiahkan kepada Anda.

    Jin Hyeok menyuapi Soo Hyun tapi Soo Hyun menolaknya. Soo Hyun meminta Jin Hyeok meletakkannya ditelapak tangannya saja, nanti ia akan memakannya dalam perjalanan pulang. 


    Jin Hyeok kecewa, Soo Hyun pikir cuminya kotor kan? Karena tangan kotornya atau saku kotornya? Ia juga menyuwirnya dan ini menjadi lebih kotor.

    Soo Hyun: Tidak. Aku hanya kurang suka cumi-cumi.

    Jin Hyeok: Aku melihat pertunjukan salsa di Kuba tiga kali, tapi aku menonton lagi karena Anda, bahkan aku hafal tariannya. Aku hampir menari... Ah.. Aku memang menari.

    Soo Hyun: Berikan kepadaku. Aku akan memakannya.

    Jin Hyeok: (menggeleng) Jika Anda menyentuh ini, tangan Anda akan bau cumi-cumi. Buka mulut Anda dan aku akan menyuapi Anda.


    Soo Hyun pun memaksakan dirinya untuk membuka mulut. Jin Hyeok bertepuk tangan senang setelah berhasil memasukkan cumi itu ke mulut Soo Hyun.


    Jin Hyeok tiba-tiba mengagumi interior mobil Soo Hyun. Perjalanannya tadi juga sangat nyaman, kira-kira berapa harga mobil Soo Hyun ya? Daebak! Pasti sangat mahal.

    Soo Hyun hanya bengong melihat tingkah Jin Hyeok itu.


    Jin Hyeok akhirnya keluar juga dan menyuruh Soo Hyun segera pergi. lalu ia jalan kaki menuju rumahnya.


    Anehnya, Soo Hyun masih terus saja menggigit cumi itu. Tapi lama-lama ia ketawa juga, lalu mengambil cumi itu dari mulutnya. Soo Hyun bahkan sampai geleng-geleng mengingat tingkah mabuk Jin Hyeok tadi.


    Sampai di rumah, Soo Hyun menuju ruang pakaiannya untuk mengembalikan jam tangan yang ia pakai ke tempatnya. Dan perhatiannya tertuju pada jam yang ia kenakan ke Kuba. Jamnya masih disetting waktu sana sepertinya dan itu membuatnya tersenyum. 


    Lalu Soo Hyun menyesuaikan jam itu dengan waktu Korea.

    0 komentar

    Post a Comment