Friday, November 30, 2018

Sinopsis Encounter Episode 2 Part 2

    Sumber: tvN


    Soo Hyun membaca resume Jin Hyeok, "29 tahun? Dia masih muda."


    Soo Hyun membaca halaman selanjutnya dan ternyata tidak berbeda dengan cerita Jin Hyeok di Kuba.

    "Aku putra seorang pemilik toko buah. Ayahku menjual buah sejak aku lahir. Orang pikir aku pasti memakan banyak buah saat tumbuh besar, tapi putra pemilik toko buah sering kali tidak makan buah bagus. Aku beruntung bisa mencicipi buah yang rusak atau sedikit busuk dan tidak bisa dijual."

    Soo Hyun: Dia benar-benar penjaja buah.


    Ass. Manajer Park Han Gil memberikan bagan organisasi tim pada Jin Hyeok. Eun Jin menggunakan kesempatan itu untuk mengenalkan dirinya karena tadi belum sempat, namanya Koo Eun Jin.

    Jin Hyeok: Mohon bantuannya.

    Han Gil: Hati-hati. Manajer Kim sengaja tidak memperkenalkan dia.

    Mereka musuh nih kayaknya.


    Soo Hyun melanjutkan membaca.

    "Orang-orang tua di Hongjae-dong sudah seperti kakek nenekku sendiri. Mereka mengetahui segala hal tentangku. Aku memikirkan apa rahasia kesehatan dan ingatan mereka yang kuat. Kurasa mereka mendapat energi dari pegunungan karena selalu bertelanjang kaki saat naik gunung."

    Soo Hyun: Itu sungguhan?


    "Ada taman bermain tua di daerah tempat tinggalku. Setiap kali orang tuaku memarahiku saat aku kecil, aku selalu bersembunyi di sana dan menunggu hingga ibuku mencariku. Tiap kali aku banyak pikiran atau merasa senang, aku duduk di ayunannya dan menghabiskan waktu di sana."


    Hye In mengajari Jin Hyeok menggunakan mesin fotokopi. Karena di tempat kerja, Jin Hyeok pun menggunakan bahasa sopan, ia memanggil Hye In "Seonbaenim".


    "Aku menghabiskan sebagian besar hidupku di taman bermain itu karena tempat itu menenangkanku, mengajariku untuk tenang, dan menghilangkan kepedihanku. Aku yakin aspek inilah yang akan menghasilkan efek sinergi luar biasa bersama Hotel Donghwa."

    Soo Hyun: Taman bermain di Hongjae-dong.


    Soo Hyun berhenti saat tak sengaja melihat Jin Hyeok sedang telfonan di luar.


    Soo Hyun: Menurutmu siapa yang membuatnya tersenyum seceria itu?

    Sekretaris Jang: Kalau menurut firasatku, mungkin pacarnya.

    Soo Hyun: Firasatmu selalu salah.

    Sekretaris Jang: Tapi aku selalu yakin kalau urusan kencan. Pasti pacarnya. Dari ekspresinya, kurasa baru.. 35 hari mereka berpacaran.


    Soo Hyun melanjutkan jalannya, tapi masih sambil bicara. Soo Hyun kembali bertanya pada Sekretaris Jang, "Kalau kutanyai dia siapa yang bicara dengannya itu, apa itu menyedihkan?"

    "Ah.. Boleh kujawab sebagai teman?"

    "Tentu saja tidak."


    Jam kerja hari ini selesai. Manajer Lee menyarankan untuk minum-minum karena mereka kedatangan anggota baru, tapi Manajer Kim ada urusan lain, lain kali saja acaranya.


    Jin Hyeok melihat klise fotonya saat di Kuba dan ternyata ada fotonya Soo Hyun. Dan ia terus-terusan melihatnya, lalu tersenyum.


    Jin Hyeok membawanya naik bis. Dan selama perjalanan, ia mendengarkan musik itu.


    Soo Hyun disupiri oleh Sekretaris Nam, ia bertanya apa Sekretaris Nam sudah pernah ke Hongjae-dong? 

    "Tentu saja. Temanku sudah 10 tahun tinggal di sana."

    "Kudengar ada taman bermain yang sudah berusia 30 tahun di sana. Bukankah lingkungan itu tidak berkembang?"

    "Kedengarannya lingkungan itu berkelas."

    "Ada satu taman luar biasa di Kuba. Istri pemilik taman itu sangat menyayanginya dan aku bisa merasakan sejarah nyata taman itu. Aku hanya ingin tahu.. apa ada taman bermain tua seperti itu di Korea."

    "Apa Anda membacanya di sebuah artikel?"

    "Tidak. Ada yang menceritakannya kepadaku."

    "Mungkin Anda mau mampir ke sana?"

    "Tidak, tidak perlu."


    Tapi nyatanya, Soo Hyun mampir kesana beneran dan ia main ayunan.


    Jin Hyeok lewat sana dan melihat Soo Hyun, ia pun memanggilnya, Daepyonim?

    Soo Hyun menoleh. Jin Hyeok langsung jalan mendekat. Soo Hyun mendesah pelan, ia merasa kepergok sepertinya. 


    Jin Hyuk pikir tadi hanya orang yang mirip dengan Soo Hyun tapi terynata Soo Hyun beneran.

    "Di antara surat lamaran semua pegawai baru... Aku membaca namamu di surat lamaranmu. Aku menyukai caramu menggambarkan taman bermain ini. Aku terus memikirkannya... Aku tidak akan bisa tidur kalau penasaran akan sesuatu." Jelas Soo Hyun. 

    "Ah.. Taman bermain ini? Aku menuliskannya karena ini tempat favoritku."


    Canggung lagi, mereka sama-sama diam seperti saat di Kuba. Dan kali ini pun Jin Hyeok yang memulai duluan. Jin Hyeok berkata kalau ia sangat cemas. Ia terkejut saat tahu teman yang ia kenal di negara lain ternyata seorang presdir di tempat kerjanya yang baru.

    "Aku juga terkejut." Jawab Soo Hyun.

    "Aku tidak mau Anda berpikir aku membantu karena tahu siapa Anda atau kalau kenangan indah itu ternyata kurencanakan. Aku cemas Anda akan meragukan niatku."

    "Kalau begitu, kamu tidak perlu cemas lagi. Aku sudah tahu kamu bukan orang yang seperti itu."

    Jin Hyeok tersenyum, Soo Hyun membalasnya. Soo Hyun lalu pamit karena Jin Hyeok tampaknya dalam perjalanan pulang.



    Tapi Jin Hyeok memanggil Soo Hyun. Jin Hyuk ternyata sudah mencuci klise yang ia ambil di Kuba dan ada foto Soo Hyun juga. 

    "Asal Anda tahu saja, aku tidak sengaja mengambilnya." Lanjut Jin Hyeok. 

    Jin Hyeok mengeluarkannya, "Mau melihatnya?"

    Tapi Jin Hyeok baru ingat tidak ada meja lampu disana. Ia berpikir dan ia teringat ada satu di jalan sana. 


    Lagi-lagi krena terlalu semangat, Jin Hyeok tanpa sadar menarik tangan Soo Hyun untuk pergi kesana. Reaksi Soo Hyun masih sama. Jin Hyeok pun minta maaf, ia hanya teringat kenangan di Kuba dan itu membuatnya lupa.

    Soo Hyun tersenyum, "Ke arah mana?"

    Jin Hyeok tak menyangka Soo Hyun mau ikut dengannya. Ia pun menunjukkan arahnya sambil tersenyum.


    Sekretaris Nam yang  menunggu di mobil bertanya-tanya melihat Soo Hyun bersama Jin Hyeok. Apa Jin Hyeok itu teman yang menceritakan tempat ini pada Soo Hyun?

    Pelan-pelan, Sekretaris Nam mengikuti mereka dengan mobil.


    Meja lampu yang dimaksud Soo Hyun adalah mesin capit boneka. Lalu ia menunjukkan bagaimana melihat klise menggunakan loupe. Soo Hyun menirukan Jin Hyeok yang lebih dulu melihatnya.

    Setelah melihatnya, Soo Hyun merasa dirinya lebih cantik saat dilihat langsung. Jin Hyeok kemudian berjanji akan memperlihatkannya lagi setelah mencetaknya.

    Jin Hyeok: Seharusnya Anda tidak tampak lebih cantik jika dilihat langsung.

    Soo Hyun: Jika ya, berarti fotoku jelek.


    Tiba-tiba Soo Hyun bertanya, apa Jin Hyeok punya uang? Jin Hyeok kembali tersenyum sambil mengiyakan. 

    "Tidak bisa pakai kartu untuk mesin ini." Jelas Soo Hyun.

    "Ibu mau boneka?"

    "Ya, aku belum pernah memainkannya."

    "Permainan ini membuat ketagihan. Biar kuperlihatkan caranya dahulu. Perhatikan baik-baik. Aku mahir memainkannya. Kita harus mengarahkan tepat ke pusat gravitasi boneka yang kita inginkan. Yang berkepala besar akan terlepas kalau kita capit badannya."


    Jin Hyeok memperlihatkan kemahirannya, tapi ia gagal terus, berkali-kali. Akhirnya Soo Hyun minta gantian, ia mau mencobanya.

    Sekretaris Nam terus memperhatikan mereka.


    Tanpa disangka Soo Hyun berhasil mendapatkan boneka dalam sekali coba.

    Soo Hyun: Aku menemukan bakat lainku.

    Jin Hyeok: Padahal aku yang paling hebat memainkannya, tapi sepertinya aku gugup berada di dekat Daepyonim. Sungguh. 

    Soo Hyun: Jadi, kamu gugup karena aku bosmu?

    Jin Hyeok: Tidak, karena wanita cantik... (OOPS) Ya, benar. Ibu adalah bosku. Bos di posisi paling atas.



    Soo Hyun mengambil bonekanya dan memberikannya untuk Jin Hyeok, "Boneka yang didapatkan wanita cantik ini adalah hadiah untukmu."

    Saatnya Soo hyun pergi. Jin Hyeok berterimakasih atas bonekanya.


    Sebelum masuk mobil, Soo Hyun bertanya pada Jin Hyeok yang mengantarnya sampai mobil, dengan siapa Jin Hyeok berbicara sekitar pukul 12.42 tadi siang?

    "Apa? Ah.. Tadi siang? Wanita yang kusukai."

    "Begitu rupanya. Aku penasaran karena kamu tampak senang. Sampai nanti."

    Soo Hyun pun masuk mobil dan Sekretaris Nam segera menjalankan mobilnya.


    Jin Hyeok bergumam sendirian, "Sekitar pukul 12.42? Luar biasa. Ini aneh. Setiap kali bersama dia, aku merasa janggal."


    Sekretaris Nam memberanikan diri bertanya, siapa orang tadi? 

    "Pegawai baru di hotel kita."

    "Pegawai baru? Begitu rupanya."


    Usai mengantar Soo Hyun, Sekretaris Nam bertemu dengan Manajer Kim. 

    Manajer Kim: Makin banyak pegawai tampan yang bergabung di hotel. Luar biasa.

    Sekretaris Nam: Kamu membeli dispenser air baru?

    Manajer Kim: Apa kamu pikir aku sedang membahas kualitas air yang lebih baik? Saat kamu mencemari kolam renang, pegawai baru telah memurnikannya dengan wajah mereka yang lebih cantik dan lebih tampan. Itulah maksudku. Ada satu pegawai baru di timku dan dia membuat situasi di kantor menjadi ceria.

    Sekretaris Nam: Semua orang sama saja.

    Manajer Kim: Datanglah ke kantor kapan-kapan. Kamu bisa berdiri di sampingnya sementara aku membandingkan kalian.

    Sekretaris Nam: Dahulu aku juga bersinar cerah di masa kejayaanku.


    Manajer Kim: Aku ada di sana sejak hari pertama. Jangan berbohong. Aku lihat betapa banyak hancurnya dirimu sepanjang hidupmu. Sejak kamu berusia 20-an sampai sekarang. Bagaimana kamu bisa begitu konsisten?

    Sekretaris Nam: Itulah kehidupan seorang reporter. Kami begadang semalaman meliput berita dan menulis artikel.

    Manajr Kim: Kamu berhenti menjadi reporter lebih dari 30 tahun yang lalu, jadi, kenapa kamu masih seperti ini?

    Sekretaris Nam: Lebih baik aku tidur daripada mendengarkan ini.

    Manajer Kim: Aku belum menghabiskan birku.

    Sekretaris Nam: Maka habiskanlah.

    Manajer Kim: Duduklah kembali. Aku tidak ingin terlihat seperti wanita galau.


    Di ruangan pakaiannya, Soo Hyun melihat baju merah yang ia kenakan di Kuba waktu itu, juga melihat sandal yang dibelikan jin Hyeok. 

    Soo Hyun jadi penasaran di mana sepatunya.


    Jin Hyeok meletakkan sepatu Soo Hyun di mejanya. Lalu ia meletakkan boneka pemberian Soo Hyun di samping sepatu. 


    Soo Hyun meletakkan sandal itu di almari sepatunya.


    Jin Hyeok bekerja dan sesekali ia menengok kebelakang, melihat sepatu dan bonekanya.


    Soo Hyun juga sedang bekerja, tapi ia berhenti untuk melamun. Soo Hyun mengangkat kakinya diatas ranjang, memeluknya sambil menatap ke luar.

    0 komentar

    Post a Comment