Friday, November 30, 2018

Sinopsis Encounter Episode 1 Part 3

    Sumber: tvN


    Sekretaris Jang sampai di Pantai Malecon dengan taksi. Ia bertanya pada orang untuk memastikan memang disana Pantai Malcon itu. Orang itu membenarkan.


    Ji Hyeok menyerahan sepatu Soo Hyun dan Soo Hyun memakainya kembali.

    "Aku mau membalasmu." Kata Soo Hyun. 

    "Perbuatanku tidaklah berarti."

    "Aku masih berutang padamu."

    "Tidak masalah. Bahuku juga beruntung. Aku akan mengingatnya sebagai peristiwa menegangkan yang terjadi pada malam terakhirku di Kuba. Kalau begitu, aku pergi dahulu."


    Ji Hyeok sudah berbalik siap pergi tapi Soo Hyun menahannya, bertanya apa Ji Hyeok memiliki uang? Ji Hyeok berbalik dan tersenyum, ia balik nanya, memang berapa yang Soo Hyun butuhkan?

    Soo Hyun melihat orang-orang minum bir dari botolnya, ia pun menjawab, "Cukup untuk sebotol bir."


    Mendengarnya, Ji Hyeok ketawa. Soo Hyun heran, kenapa ketawa, ia beneran lho nanyanya. 

    "Hanya saja... Maksudku... Bir untuk saat ini tampaknya... Manis."

    Ji Hyeok kemudian menyuruh Soo Hyun menunggu, ia akan belikan birnya.


    Sepeninggal Ji Hyeok, Soo Hyun bergumam, "Manis? Kedengarannya bagus, tapi..." Dan Soo Hyun tersipu malu.


    Di Jalan, Ji Hyeok memeriksa dompetnya, ia bersyukur tidak menghabiskan semua uangnya. 


    Soo Hyun melihat Ji Hyeo dari atas, tapi saat Ji Hyeok balik melihatnya, ia langsung mengalihkan pandangan. Ji Hyeok hanya tersenyum karenanya.


    Soo Hyun berpikir, kira-kira berapa usia Ji Hyeok? Ji Hyeok seperti anggur hijau saja, lanjutnya.


    Setelah mendapat birnya, Soo Hyun meminumnya dengan cepat membuat Ji Hyeok ngeri. 

    "Kamu akan mabuk jika terus begitu." Ji Hyeok mengingatkan. 

    "Aku pasti lebih kuat minum alkohol daripada kamu."

    "Bagaimana kamu bisa tertidur tanpa uang? Itu bisa jadi bencana."


    Soo Hyun menjelaskan, ia datang untuk urusan bisnis. Ia minum pil tidur untuk tidur awal, tapi ia melihat foto tempat ini. Hari ini pasti hari yang aneh. Seorang pencopet mencuri semua uangku.

    "Wah.. Berarti ini hari yang berat." komentar Ji Hyeok.


    Ji Hyeok bertanya, apa Soo Hyun ingat dimana ia menginap? Kalu ingat, Soo Hyun bisa naik taksi di pintu masuk Morro Cabana. Ia akan mengantar ke sana. Lalu Ji Hyeok mengajak Soo Hyun turun dulu.


    Ji Hyeok memberikan tangannya sebagai pegangan, tapi Soo Hyun merasa aneh, ia hanya menatap Ji Hyeok. 

    Ji Hyeok mengisyaratkan untuk memegang tangannya. Soo Hyun pun melakukannya.


    Soo Hyun menepakkan kakinya dan ia merintih kesakitan karena kakinya tadi lecet. Ji Hyeok menyarankan untuk berjalan tanpa alas kaki.

    "Di sini?" Tanya Soo Hyun.

    "Ini terlalu jauh bagiku untuk menggendongmu."

    "Aku tidak pernah meminta itu."

    "Kondisi kakimu tampaknya buruk. Ada banyak turis yang berjalan bertelanjang kaki."

    "Aku belum melihat seorang pun."

    "Pria dan wanita tua di lingkungan rumahku mendaki dengan bertelanjang kaki."

    "Aku tidak bisa melakukannya."


    Ji Hyeok mengawali dengan mencopot sepatunya lebih dulu, "Melakukannya sebagai tim memberimu keberanian. Selain itu, rasanya tidak begitu sepi."

    "Benarkah itu?"

    "Tentang apa?"

    "Orang-orang di lingkungan rumahmu mendaki dengan bertelanjang kaki."

    "Seratus persen benar."


    Soo Hyun menatap ke laut sambil berkata, "Anggaplah aku di bawah pengaruh mantra. Disihir."


    AKhirnya mereka berjalan bertelanjang kaki dan orang-orang menertawakan. Ji Hyeok malu juga ternyata.


    Soo Hyun sih cuek, dan ia memulai pembicaraan. Soo Hyun bertanya, apa Ji Hyeok pelajar? Atau apa Ji Hyeok memiliki pekerjaan?

    "Aku menjual buah." Jawab Ji Hyeok.

    "Jadi, kamu penjual buah."

    "Penjual buah? Ah.. Kamu benar. Aku penjual buah."


    Soo Hyun juga menyinggung soal kamera Ji Hyeok yang terlihat sangat tua. 

    "Ini? Usianya 28 tahun sekarang."

    "Apa masih berfungsi?"

    "Tentu saja. Meskipun aku sudah memperbaikinya beberapa kali. Ini masih menghasilkan foto yang luar biasa, tapi hari ini dia terluka."

    "Kamu pasti menyukai model kamera itu. Apa mereka tidak membuatnya lagi?"

    "Mereka membuatnya. Bukannya aku yang menghargai ini. Teman ayahku mengelola studio fotografi, dan dia memberikan ini kepada ayahku ketika dia menutup tokonya. Waktunya sekitar saat aku lahir. Dia ingin ayahku mengambil banyak fotoku. Kamera ini sebenarnya yang paling disayangi oleh ayahku. Meskipun, dia tidak mengambil banyak fotoku. Katanya dia terlalu sibuk mencari nafkah untuk kami. Begitu aku mulai kuliah, aku memotret orang tuaku."


    Ji Hyeok tiba-tiba berhenti dan ia melihat kaki Soo Hyun. 


    Selanjutnya, Ji Hyeok dengan  ceria menunjukkan semuanya pada Soo Hyun dan tiba-tiba Ji Hyeok berhenti. 

    "Kenapa kamu berhenti?" Tanya Soo Hyun. 

    "Kita sampai di jalan utama, dan jalannya kasar dan kotor untuk dilalui tanpa alas kaki. Kamu bisa memakai ini ke hotel."


    Ji Hyeok menarik tangan Soo Hyun untuk melilih sandal, Soo Hyun terkejut dan menarik tangannya. 

    "Maafkan aku. Aku sungguh tidak sopan. Kakimu sepertinya juga..."

    "Tidak, bukan begitu."


    Lalu Soo Hyun maju untuk melihat-lihat. Ji Hyeok bertanya, berapa ukuran kaki Soo Hyun? Apa sekitar 230 mm? Ia menyuruh Soo Hyun memilih, ia yang bayarin.

    "Tidak perlu. Aku akan membayarmu untuk semuanya, termasuk bir dan sepatu."

    "Berarti aku akan mencatat semuanya agar kamu dapat mengembalikan uangku. Mana yang paling kamu sukai?

    "Aku hanya perlu berjalan sampai tiba di hotel, jadi, mari beli apa saja."

    "Apa saja? Harus memilih dari apa saja adalah hal tersulit untuk dilakukan."


    Ji Hyeok menemukan satu yang cocok. Ia bertanya, apa yang ia pilih terlihat sedikit lucu?

    "Aku meminta apa saja, jadi, tidak masalah."


    Ji Hyeok pun meletakkannya di depan kaki Soo Hyun. Soo Hyun memakainya dan Ji Hyeok melihatnya cukup bagus dikenakan Soo Hyun. Soo Hyun hanya tersenyum.


    Sekretaris Jang mencari di sepanjang Pantai Malcon, tapi Soo Hyun tidak ada disana. Ia mulai putus asa, namun ia mencoba mencari lagi.


    Tanpa Sekretaris Jang tahu, Soo Hyun berjalan dibelakangnya. 


    Saat berjalan, Soo Hyun memegangi perutnya dan Ji Hyeok menyadari itu. Soo Hyun bertanya, apa Ji Hyeok punya uang lagi? 

    "Ya, uangku cukup."

    "Cukup untuk apa?"

    "Cukup mengisi perut kosongmu dengan makanan ringan."


    Jadi mereka masuk ke sebuah kafe untuk makan makanan ringan. Soo Hyun mencicipinya dan ternyata lebih enak daripada di hotel.

    "Aku pikir kamu merasa seperti itu karena merasa lapar."

    "Cita rasaku tidak sesederhana itu."

    Ji Hyeok kembali tertawa.


    Soo Hyun melihat poster pertunjukan tari salsa, ia bertanya lagi pada Ji Hyeok, apa Ji Hyeok masih punya uang? Cukup untuk membeli dua tiket ke pertunjukan salsa? Ji Hyeok tersenyum sambil berpikir sebelum akhirnya ia mengangguk.


    Ji Hyeok mengeluarkan sebuah wadah berbentuk tabung, ternyata ia menyimpan uangnya disana. Melihat itu membuat Soo Hyun ketawa.

    Ji Hyeok pun memasukkan uangnya kembali. Soo Hyun panik, Apa yang Ji Hyeok lakukan? Kenapa memasukkannya kembali?

    "Kamu tertawa saat aku kurang lucu, dan itu membuatku jengkel."

    "Kamu juga tertawa tadi. Kamu tertawa karena berkata aku manis. Aku pun sama."


    Itu membuat Ji Hyeok tersenyum.

    Soo Hyun: Apa itu yang disebut uang saku?

    Ji Hyeok: Ini uang saku anak muda.

    Soo Hyun: Berarti aku ini apa?

    Ji Hyeok: Yang kukatakan lebih lucu daripada ucapanmu. Kamu tidak perlu berwajah serius.

    Soo Hyun: Aku pikir itu tidak lucu.

    Ji Hyeok: Apa kamu tidak ingin menonton pertunjukan salsa?

    Soo Hyun: Jangan lupa untuk menerima tanda terima untuk semuanya.

    Ji Hyeok: Tentu saja. Kamu harus mengembalikan uangku.

    Soo Hyun: Bagaimana kalau kita minum secangkir kopi lagi?

    Ji Hyeok tersenyum lalu mengiyakan.


    Ji Hyeok membawa Soo Hyun ke tempat pertunjukkan, tapi Soo Hyun ragu dengan tempatnya. 

    "Apa kamu yakin kita tidak tersesat? Apa ini tempat diadakannya pertunjukan salsa?"

    Ji Hyeok mengangguk yakin, lalu mengajak Soo Hyun masuk. 


    Ternyata di dalam beda banget dengan penampakan luarnya. Soo Hyun sampai melongo. Ji Hyeok puas melihat ekspresi Soo Hyun itu.


    Mereka duduk di satu meja yang kosong dan menikmati pertunjukkan sambil minum cola.

    Ji Hyeok: Sangat bagus, bukan?

    Soo Hyun: Ya.


    Orang-orang pada berdiri untuk menari bersama pasangan masing-masing. Ji Hyeok mengajak Soo Hyun bergabung juga. Soo Hyun membutuhkan keberanian yang kuat pada awalnya.

    Tapi lama-lama ia nyaman juga menari mengikuti musik sambil berpasangan dengan Ji Hyeok. Pokoknya isinya ketawa-tawa sampai musik habis.


    0 komentar

    Post a Comment