Monday, November 26, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 16 Part 3

    Sumber: jtbc


    Sementara itu, para pria yang sedang dalam perjalanan kembali dari membeli bir saling berbincang. Joo Hwan meminta Do Jae jujur jika Do Jae sedang berkencan dengan wanita lain.

    Eun Ho: Kau mengencani wanita lain, Hyeongnim?

    Do Jae: Tentu saja tidak! Hari itu, hari Se Gye berubah. Itu yang dia lihat.

    Eun Ho: Ah, begitu.

    Do Jae: Keparat ini bersikap berlebihan. Membuatku gila.

    Eun Ho: Kau harus berhati-hati. Bisa ada lebih banyak saksi seperti dia jika kalian keluar berkencan saat harinya tiba.

    Joo Hwan: Kalian berdua bicara apa, sih?

    Eun Ho: Sebenarnya, Se Gye berubah setiap sebulan sekali. Tapi kalau dipikir, belakangan ini tidak terjadi. Bukankah sudah sekitar dua bulan,  hyeongnim?

    Do Jae: Ya, kurasa begitu. Dua bulan sebelumnya lagi pun dia baik-baik saja.

    Joo Hwan: Kalian berdua mabuk berat sekarang. Astaga. Augh, mereka ini peminum yang buruk. Terus buat apa mereka minum?


    Sampai di rumah, Do Jae langsung memeluk Se Gye.

    Eun Ho langsung memeluk Sa Ra. 

    Woo Mi dan Joo Hwan hanya bisa iri menyaksikan kemesraan mereka. Joo Hwan langsung menyuruh mereka untuk segera pergi.


    Sa Ra mengantar Eun Ho ke kampus. Eun Ho bertanya Sa Ra akan pulang jam berapa hari ini?

    "Entahlah. Nanti kutelepon kalau sudah selesai. Tapi, aku mungkin juga tidak meneleponmu.

    "Ya."

    Eun Ho pun turun setelah mencium pipi Sa Ra.


    Setelah Sa Ra pergi, Eun Ho didekati seorang gadis, gadis itu memberinya minuman sambil gombalin Eun Ho.

    "Kau membuatku teringat pada minuman segar ini."

    Eun Ho mererimanya, lalu gadis itu pergi.

    Eun Ho: Kurasa aku masih memiliki pesona itu dalam diriku.


    Dan kayaknya Sa Ra lihat deh tadi, karena Sa Ra langsung kembali dan menyuruh Eun Ho naik mobilnya karena mereka harus pergi ke tempat lain sekarang.

    "Tapi, kau tidak boleh membawa serta itu. Tinggalkan di sana." Maksud Sa Ra adalah minuman itu, Eun Ho pun menurut.


    Sa Ra mengajak Eun Ho ke rumah Eun Ho untuk menemui orangtua Eun Ho. Tanpa kata pembuka, Sa Ra langusng minta ijin pada Ayah Ibu untuk menikahi Eun Ho. Eun Ho tahu ayah dan ibunya pasti bepikran buruk, ia pun segera menjelaskan kalau situasinya bukan seperti yang ayah ibu kira.

    Eun Ho lalu menanyakan maksud omongan Sa Ra tadi.

    Sa Ra: Dia membuat saya khawatir karena dia terlalu tampan, jadi saya harus melakukan sesuatu soal itu. Kemudian saya mengetahui restu semacam ini... Maksud saya, mendapatkan restu dari Anda akan membuat saya tenang.

    Ayah: Itu... Sebelum kami memberikan restu, setidaknya kami perlu tahu apa pekerjaanmu.

    Sa Ra: Ah, pekerjaan saya? Bisa dibilang... saya pewaris perusahaan? Dia bahkan tidak perlu menggerakkan satu jari pun. Saya akan memastikan impian Eun Ho.. menjadi kenyataan.

    Ibu: Maksudmu, menjadi Pendeta? (impian dan pendeta terdengar sama) Apa maksudmu? Kenapa menyinggung soal Pendeta?

    Sa Ra: Ya. Dia akan menjadi pengantin pria, dan saya mempelai wanitanya.


    Ayah dan ibu lega mendengarnya. A Ram langsung memberikan tepuk tangan untuk Sa Ra. 

    A Ram: Wuah, aku mendukungmu!

    Eun Ho memegangan tangan Sa Ra, "Kang Sa Ra-ssi. Aku bersamamu."

    Sa Ra tersenyum menatap Eun Ho.


    Di kantornya, Sa Ra menatap bunga itu dan itu membuat Sa Ra teringat akan doanya. Sa Ra pun berterimakasih pada Tuhan. 

    "Terima kasih telah memberi jawaban jelas atas tawaranku. Itu merupakan kesepakatan yang memuaskan. Aku akan memastikan untuk menepati janjiku sepanjang sisa usiaku. Tolong terus jaga aku."


    Se Gye menjalani pemotretan. Dan saat fotrografer sedang melihat hasil jepretannya, seseorang menyuruhnya keluar karena ada sesuatu untuknya.


    Ternyata ada truk makanan yang dikirim Do Jae. 

    "Han Se Gye-ssi, berbahagialah. Kekasih Han Se Gye, Seo Do Jae." Kalimat di bannernya.

    Woo Mi: Rumor kencan itu pasti membuatnya sangat terganggu.

    Se Gye: Astaga.

    Woo Mi: Gara-gara ini, aku akan sibuk dengan teleponku.

    Woo Mi langsung menelfon Reporter Park.


    Di kantor, Do Jae membuka kembali catatannya tentang Se Gye yang berubah menjadi beberapa wajah berbeda. Kingkang masih setia menemaninya.


    Se Gye menelfon, mengajaknya kencan. Ia akan menjemput ke kantor sekarang, jadi Do Jae tunggu saja.  


    Saat berhenti di lampu merah Se Gye melihat ada seorang nenek yang menyeberang tapi langkahnya susah banget. Se Gye meminggirkan mobilnya lalu turun untuk membantu nenek itu. Ia juga meminta maaf pada pengendara mobil lain karena telah sabar menunggu sampai nenek sampai di seberang jalan.


    Sebelum pergi, nenek menanyakan nama Se Gye. 

    "Han Se Gye."

    "Apa katamu?"

    "Han Se Gye, Nek. Han Se Gye."

    "Ya, terima kasih, Han Se Gye-ssi."


    Se Gye menyadari sesuatu saar melihat nenek itu berjalan.

    "Kenapa aku? Kenapa harus aku? Aku menghabiskan banyak waktu dalam kemarahan. Kemudian, aku menyadari.. bahwa yang membuatku marah adalah diriku sendiri. Takdir sedang mengajariku.. bahwa.. memang harus akulah orangnya. Semua wajah itu datang padaku.. dan menjadi berguna."


    "Jadi, ini saatnya.. untuk cinta. Mencintai diriku.. dan juga.. dirimu."

    0 komentar

    Post a Comment