Monday, November 26, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 16 Part 2

    Sumber: jtbc


    Do Jae bersiap untuk berangkat kerja dan itu membuat Se Gye terbangun. Do Jae menyuruh Se Gye tidur lagi saja kalau lelah. 

    "Setelah kau berangkat." Jawab Se Gye.

    "Kalau terlalu membosankan di sini sendirian, kau mau ikut aku pergi kerja?"


    Se Gye menjawab sambil membantu Do Jae mengikat dasi. Se Gye berkata ia harus pergi ke suatu tempat untuk menemui seseorang. Se Gye salah mengikatnya jadi Do Jae mengikat dasinya sendiri. 

    "Menemui siapa?" Tanya Do Jae. 

    "Ada pokoknya."

    "Siapa? Seorang aktor? Lawan mainmu?"

    "Bukan. Kau salah. Seorang Unnie kenalanku."


    Yang dimaksud Se Gye adalah Sa Ra. Sat Se Gye sedang menyeruput kopinya Sa Ra bertanya, apa Se Gye putus dengan kakaknya? 

    "Apa, sih?"

    "Iya, 'kan? Menjadi seorang aktris memang tidak mudah. Ke mana pun kau pergi, gosip menyertai."

    "Tepat sekali. Aku bahkan tidak menyukai pria yang lebih muda. Kenapa harus dia, sih?"

    "Pria yang lebih muda. Apakah karena dia lebih muda?"

    "Apa maksudmu? Terjadi sesuatu antara kau dan Eun Ho?"

    "Dia terlalu bijaksana. Jika saling mencintai, bukankah seharusnya terus saling menghubungi? Tapi, karena khawatir aku sibuk, dia tidak melakukannya. Dia hanya meneleponku saat jam pulang kerja. Padahal tidak segala hal dapat kujelaskan padanya."

    "Kau ini sedang pamer padaku?"

    "Tidak. Hal ini sungguh membuatku terganggu. Aku bahkan tidak punya teman untuk membicarakan hal-hal seperti ini. Makanya aku ingin bertemu denganmu."

    "Kau ingin orang sibuk sepertiku mendengarkan masalah percintaanmu? Eun Ho itu selalu begitu. Dia terlalu baik dan manis pada semua orang..."

    "Jangan bilang begitu. Aku trauma dengan sikap baiknya pada semua orang. Dan juga, dia tersenyum pada semua orang. Sungguh, itu membuatku emosi."

    "Semestinya dia tidak tersenyum pada sembarang orang. Dia harus diberi pelajaran."


    Eun Ho sedang ada di perpustakaan. Tiba-tiba ada seorang gadis yang hendak mengajaknya bicara. Eun Ho langsung mengatakan kalau ia sudah punya pacar sebelum gadis itu bicara lebih jauh. Tapi ternyata gadis itu cuma mau mengatakan kalau Eun Ho menjatuhkan bolpoinnya.

    Sa Ra ternyata ada tak jah dari mereka, ia jelas mendengar semuanya dan itu membuatnya tersenyum. 


    Gantian Sa Ra yang digoda seorang mahasiswa. Mahasiswa itu bertanya apa Sa Ra sudah memiliki pacar?

    Eun Ho yang berjalan mendekat langsung merangkul Sa Ra dan menjawab kalau Sa Ra sudah memiliki pacar.


    Saat di mobil, Eun Ho masih cemberut, tapi saat Sa Ra bertanya kenapa Eun Ho marah, Eun Ho menjawab ia tidak marah. 

    "Memang salahku kalau aku menarik?" Tanya Sa Ra.

    "Pastinya bukan salahku."

    Sa Ra tersenyum lalu menjalankan mobilnya.


    Sa Ra mengnatar Eun Ho ke pemberhentian seperti biasa. 

    Eun Ho: Sekarang saat aku akan turun dari mobil, aku jadi merasa bersalah karena marah.

    Sa Ra: Kau benar-benar marah ternyata.

    Eun Ho: Kau terus memberiku tumpangan sepanjang waktu. Kau pasti kelelahan.

    Sa Ra: Aku tidak melakukannya demi dirimu. Aku melakukannya demi diriku sendiri, jadi jangan khawatir. Dan juga, aku tidak akan bisa melakukannya... untuk beberapa waktu mendatang.

    Eun Ho: Kau tidak bisa melakukannya sementara waktu? Kenapa?

    Sa Ra: Karena aku sibuk.


    Sa Ra menyiapkan solusi, ia memberikan kunci mobil untuk Eun Ho. Sa Ra melarang Eun Ho merasa tidak nyaman, mobil itu sudah pernah dipakai kok. Sebenarnya kakek sering memberi Sa Ra mobil jadi ia memiliki banyak mobil. Ia menyuruh Eun Ho menggunakan mobil itu jika ia tidak bisa menjemput. Sa Ra menunjuk mobil di depan, itu adalah mobilnya.

    Eun Ho sampai bengong diberi hadiah mewah begitu. Ia juga lupa memberi kissu untuk Sa Ra sebelum turun. Sa Ra mengkodenya. Dan setelah mendapatkannya, Sa Ra menyuruh Eun Ho turun.


    Eun Ho: Harus kukatakan, aku mengencani seorang gadis yang luar biasa.


    Tiba-tiba Se Gye menelfon dan memarahinya untuk segera datang. Eun Ho sampai di rumah Se Gye dan langsung disuruh mengangkat kedua tangannya, ia disetrap.

    Se Gye: Beraninya kau membuat seorang wanita menunggu teleponmu? Tidak bisakah kau lebih sering meneleponnya? Apa yang sudah kuajarkan padamu?

    Eun Ho: Masalahnya adalah... dia sangat sibuk.

    Woo Mi: Oh-ho! Aku tidak mau dengar alasanmu. Begitukah yang kuajarkan padamu?

    Se Gye: Sadarkan dirimu! Sadar! Siapa yang menyuruhmu tersenyum pada semua orang?

    Woo Mi: Dia tersenyum? Pada semua orang? Kau benar-benar gila, ya. Kalau kau kekasihku, sudah kulenyapkan senyuman itu selamanya.

    Eun Ho: Aku tipe laki-laki yang sering tersenyum, mau bagaimana lagi?

    Se Gye: Kau sering tersenyum? Hei, sadarkan dirimu! Kau tersenyum di depan uang, bukan di depan kami.

    Eun Ho menurunkan tangannya, "Baiklah, baiklah. Anggap saja aku tidak akan tersenyum lagi. Bahkan meski aku tidak tersenyum, orang-orang tetap menyukaiku."

    Se Gye: Dia benar-benar sudah kehilangan akal rupanya. Kita harus mendudukkan dia di kursi renungan.

    Woo Mi: Kita harus menghukumnya. Dia perlu dihajar.

    Ketakutan, Eun Ho akhirnya kembali mengangkat tangannya, ia meminta maaf.


    Joo Hwan masuk ke ruangan Do Jae dan Kingkang langsung berlari ke pelukannya. 

    Do Jae: Kukira kau terlalu sibuk untuk makan siang bersamaku.

    Joo Hwan: Katakan yang sebenarnya padaku. 

    Do Jae: Berhentilah sok serius saat sedang menggendong anak anjing di lenganmu.

    Joo Hwan: Kau punya kekasih lain, 'kan?

    Do Jae: Apa maksudmu?

    Joo Hwan: Benar rupanya. Karena kau marah padaku.

    Do Jae: Kau tidak mengerti aku marah karena kau bicara omong kosong?

    Joo Hwan: Berhentilah pura-pura tidak mengerti. Seorang reporter memiliki fotomu dan bermaksud merilis artikel, tapi aku sudah membereskannya.


    Joo Hwan menunjukkan foto yang dimaksud dan Do Jae hanya bereaksi biasa saja, ia tidak terkejut sama sekali.

    "Bagaimana bisa kau setenang ini? Ah.. Sekarang aku mengerti. Inilah sebabnya Han Se Gye juga mengencani pria lain."

    "Bukan begitu."

    "Lalu bagaimana dengan Kingkang? Ah! Aku mengerti. Kau tidak putus dengan dia karena Kingkang.  Yah, Kingkang memang menggemaskan."

    "Sudah kubilang kau salah paham."


    Joo Hwan menemui Woo Mi dan ia kaya merasa bersalah banget gitu, ia sampai tidak bisa menatap Woo Mi, tidak sepert Joo Hwan yang biasanya selalu percaya diri. 

    "Rasanya berat mengatakan ini padamu." Kata Joo Hwan memulai pembicaraan.

    "Ya. Aku sudah dengar yang hendak kau katakan."

    "Ya, kau juga sudah mendengarnya. Aku takut Presdir yang duluan selingkuh darinya. Kupikir itu sebabnya Han Se Gye bertemu secara intensif dengan aktor itu."

    "Itu tidak benar."

    "Aku tidak tahu soal Han Se Gye, tapi aku yakin Presdir selingkuh. Augh! Aku meminta maaf mewakili dirinya. Aku mendapatkan foto dia mengencani wanita lain..."

    "Wanita lain? Apakah rambutnya sepanjang ini... dan tinggi badannya segini? Itukah wanita yang kau maksud?"

    "Sudah kuduga kau juga melihat dia."

    "Sebagaimana kau tahu, Presdir kami adalah pria yang sangat tampan. Aku sungguh tidak bisa berkata-kata."

    "Mari luruskan faktanya. Se Gye juga sangat cantik, kalau kau tidak menyadarinya."


    "Makanya itu. Hatinya pasti hancur berkeping-keping, dan aku sungguh mengkhawatirkannya."

    "Kenapa kau terus bicara seolah Se Gye dicampakkan?"

    "Maafkan aku. Ini merupakan masalah serius, aku semestinya menjaga omonganku. Aku bodoh sekali. Bagaimanapun, kita harus memprioritaskan posisi Se Gye, 'kan?"

    "Sudah kubilang bukan seperti itu!"

    "Ya. Aku pun sampai putus asa mengharapkan hal itu tidak benar."

    "Aku bisa gila. Aku bahkan tidak bisa mengatakan yang sebenarnya."

    "Aku mengerti. Tidak perlu. Aku tahu betapa sulitnya untuk dia. Itu sebabnya... Aku memikirkan sebuah ide cemerlang untuk mereka."

    Joo Hwan meminta kerja sama dari Woo Mi dalam hal ini.


    Ide Joo Hwan adalah untuk mengadakan pesta dan ia mengundang smeua orang, Do Jae, Se Gye, Woo Mi, Eun Ho dan Sa Ra. Dan semua membawakan hadiah.


    Woo Mi: Ini cuma muslihat licikmu untuk mendapatkan hadiah pindahan, 'kan?

    Se Gye yang mendengarnya bertanya apa maksud Woo Mi, tapi Woo Mi memintanya melupakan perkataannya. 

    Sa Ra: Katamu, impianmu adalah membeli sebuah rumah. Promosimu membuatnya terwujud. Oppa, kau memberinya gaji tinggi, ya?

    Do Jae: Aku menaikkan gajinya setiap kali terjadi insiden.

    Eun Ho: Ah.. Aku iri.

    Se Gye: Kau mau naik gaji juga?


    Eun Ho: Tidak. Aku tidak tahu yang akan kau suruh padaku setelah menaikkan gajiku. Terakhir kali, dia bahkan menyuruhku mencuri.

    Do Jae: Mencuri?

    Se Gye: Bukan apa-apa. Seseorang menyimpan ponselku, jadi aku bercanda dengan menyuruhnya mengambilkannya.

    Do Jae: Oh, yang itu?

    Eun Ho: Itu bukan candaan, kok. Waktu itu, dia benar-benar serius. Dia bilang Hyeongnim membawa ponselnya, lalu menyuruhku pergi mencurinya darimu.

    Sa Ra: Kau mencurinya? Tapi, buat apa juga kau menyimpan ponselnya?

    Do Jae: Sebenarnya, dia kehilangan ponselnya, dan aku yang menemukannya.

    Se Gye: Semua itu masa lalu. Kita bertengkar seperti orang gila karenanya.


    Joo Hwan hanya tersenyum mendengarkan percakapan mereka. Woo Mi tanya, senang ya? 

    Joo Hwan: Aku yakin rencanaku berhasil. Mereka tampak sangat manis sekarang. Mereka perlu melalui krisis untuk memperkuat hubungan mereka.

    Do Jae: Hei, sudah kubilang kau salah paham.

    Se Gye: Aku tidak butuh krisis lain dalam hidup.


    Woo Mi: Omong-omong, karena kita semua berkumpul di sini, aku ingin mengatakan sesuatu.

    Woo Mi menunjukkan undangan pernikahannya. Ia akan menikah. Se Gye bersorak, ia menanyakan apa yang WOo Mi inginkan sebagai hadiah pernikahan? Ia akan memberikan apa saja.

    Woo Mi membagikan undangan pada smeuanya sambil bilang mau hadiah apa dari mereka.

    Se Gye -> Pengering rambut
    Do Jae -> mesin cuci
    Sa Ra -> lemari es
    Eun Ho -> sebuah rumah
    Joo Hwan -> mobil

    Semuanya menyelamati Woo Mi kecuali Eun Ho. 


    Eun Ho: Kau tahu sedang melibatkan diri dalam hal apa? Setelah menikah, kau tidak bisa membatalkannya.

    Woo Mi: Kau minta dihajar di depan kekasihmu, ya?

    Sa Ra: Oh, jangan mengkhawatirkan aku. Aku orang yang cuek kalau sudah soal pertemanan.

    Se Gye: Aku pernah bertemu kekasihnya Woo Mi. Dia kelihatan baik.

    Woo Mi: Baik? Cuma 'baik'? Kau tahu tidak seberapa tampan calon suamiku?

    Eun Ho: Hei, lalu kenapa tidak pernah kau kenalkan padaku?

    Do Jae: Ah.. Pria yang pernah berpapasan dengan kita itu?

    Sa Ra: Ah.. dia.

    Joo Hwan: Ah..

    Eun Ho: Apa-apaan? Kenapa tidak kau kenalkan padaku?


    Selanjutnya adalah permainan go-stop. Sa Ra memenangkan permainan dan Se Gye kalah telak. Tapi keadaan bisa berubah seketika.


    Se Gye menghubungi Do Jae lewat video call, mengatakan kalau ia sungguh merindukan Do Jae.

    "Mau bagaimana lagi? Kau harus tetap kuat."

    "Tapi aku merindukanmu... Amat sangat."

    "Aku juga merasakan hal yang sama."

    "Tidak bisakah kita bertemu lagi?"

    "Aku tahu itu berat. Aku akan segera ke sana. Aku mencoba yang terbaik."

    "Seo Do Jae-ssi... Berjanjilah kau akan kembali untukku."

    Do Jae mengangguk.


    Woo Mi yang ada di belakangnya mengingatkan kalau Do Jae hanya pergi membeli minuman dengan yang lain. 

    Se Gye: Cepatlah kembali. Cepat kembali sekarang juga! Dunia ini sangat kejam. Kenapa begitu ingin memisahkan kita? Kenapa?

    Woo Mi: Hei, aku malu sekali untuk menatap Sa Ra sekarang. Kau mempermalukan aku.

    Tapi nyatanya Sa Ra juga sama dengan Se Gye, ia juga merindukan kekasihnya, Ryu Eun Ho. 

    Woo Mi: Aku bisa gila. Ini membuatku merinding.

    0 komentar

    Post a Comment