Thursday, November 22, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 15 Part 2

    Sumber: jtbc


    Se Gye membawa Do Jae ke rumahnya. Ia terus bertanya, apa Do Jae beneran bisa melihatnya? Tapi Bagaimana mungkin?

    "Aku sudah berjanji padamu.. bahwa aku akan membereskan segalanya. Sudah kubilang aku akan mengurus semuanya, jika kondisiku membuatmu sedih."

    "Tapi katamu itu tidak bisa disembuhkan."

    "Prosentase kesuksesan operasinya sangat kecil, itu saja."

    "Seberapa kecil?"

    "Entahlah. Sekitar 20%? 10 tahun lalu hanya sekitar 5%."


    Se Gye langsung memukuli Do Jae karena khawatir Do Jae akan meninggal, "Kau gila, ya? Kau gila! Kenapa kau menjalaninya kalau nyawamu taruhannya?"

    "Kau yang gila. Bagaimana caramu bertahan hidup tanpa aku?"

    "Kenapa kau melakukan hal beresiko seperti itu untukku? Memang aku ini siapa?"

    "Kau? Aku sudah mempertaruhkan nyawaku dua kali untukmu. Balas budilah padaku sepanjang sisa usiamu. Aku melakukan semuanya untukmu, jadi kau jagalah aku sekarang, sepanjang sisa usia kita."

    "Aku akan menjagamu sepanjang sisa usia kita. Aku akan memberikan segala yang kau inginkan."

    "Kau akan menyesalinya. Ada sesuatu yang ingin kulakukan denganmu."

    "Apa itu?"

    Do Jae langsung mendekati Se Gye. Se Gye terus bertanya "apa itu?"


    Mereka nonton drama Se Gye. Do Jae fokus banget sampai menyuruh Se Gye diam saat Se Gye mengajaknya bicara.

    Do Jae: Kau tahu berapa lama aku sudah menantikan menonton ini bersamamu?

    Se Gye: Tatap aku.

    Do Jae: Sekarang, aku bisa menatapmu kapan saja.


    Se Gye memaksa Do Jae mantapnya bukan dirinya yang ada di drama. Dan terjadilah...


    Se Gye menunjukkan semua hasil rajutannya pada Do Jae. Ia tersenyum bahagia karena semuanya pas untuk Do Jae.

    Do Jae: Kurasa, kau memikirkan aku sepanjang hari, kecuali saat sedang tidur.

    Se Gye: Tidak, bahkan saat tidur pun, aku tetap memikirkanmu.


    Tiba-tiba Do Jae memeluk Se Gye dari belakang. Se Gye tanya kenapa. 

    "Hanya saja.. Aku ingin aromamu memenuhiku." Jawab Do Jae.

    "Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Aku menganggap pakaian ini sebagai dirimu, jadi aku memeluknya saat sedang tidur, setiap kali aku merindukanmu."


    Se Gye cerita soal ia yang lari ke jalan setelah membaca surat Do Jae. Tapi Do Jae tidak ada.

    "Hari di mana aku melarikan diri? Aku tidak yakin sanggup melihat sosokmu yang sedang menangis, jadi hari itu.. aku melarikan diri."

    "Apakah tidak masalah jika aku melakukan ini? Bersamamu seperti ini.. sangatlah tidak tahu malu."

    "Akulah yang tidak tahu malu. Aku mempertaruhkan nyawaku... dan sekarang memintamu bertanggung jawab atas hal itu."

    "Aku menyesal mengambil keputusan itu. Gara-gara aku pergi, aku tidak ada di sisimu selama masa-masa terberat dalam hidupmu. Aku sangat menyesalinya. Akibat pilihanku, aku hampir kehilangan semua orang, termasuk diriku sendiri dan kau. Aku sangat egois."

    "Tidak. Saat itu, kau... hanya terluka terlalu dalam."


    Do Jae sepertinya mimpi buruk. Se Gye menyadari itu, ia mencoba menenangkannya dan memeluknya dengan erat.

    Se Gye: Tak apa. Aku di sampingmu sekarang. 


    Saatnya Do Jae pulang, Se Gye mengantarnya sampai ke mobil. Do Jae memastikan agar Se Gye tidak melarikan diri lagi. 

    "Aku sudah janji tidak akan melarikan diri. Selamanya. Tapi, kalau kau ingin melarikan diri, kau bisa pergi kapan saja. Aku akan pergi menangkapmu. Aku akan mengejarmu sampai akhir dan menangkapmu."

    "Aku akan kembali untukmu."

    "Tidak perlu. Aku yang akan pergi. Jadi, tunggu saja aku di sana."

    Do Jae mengerti, ia lalu masuk mobil dan pergi. Se Gye terus menatap mobil Do Jae sampai tak terlihat lagi.


    Se Gye kembali ke dalam, ia menatap rumahnya. Lalu ia menelfon Woo Mi. 

    "Aku akan kembali ke Seoul." Kata Se Gye mantap.


    Do Jae menemui ibunya dan mengatakan kalau ia kembali dari menemui Se Gye. Ibu menayakan kabar Se Gye. Do Jae menjawab kalau Se Gye tidak baik-baik saja.

    "Ya, Ibu pun berpikir begitu. Kau akan baik-baik saja? Dia meninggalkanmu. Kau tidak masalah dengan hal itu?"

    "Tidak. Ibu salah. Tidak seperti itu. Suatu saat... Suatu saat nanti akan kujelaskan."

    "Kau meminta Ibu datang kemari karena khawatir? Karena kau khawatir Ibu akan menentangmu dengan anak itu."

    "Hidupnya... dikelilingi oleh banyak kesalahpahaman. Dia bukan seseorang seperti itu. Tapi situasinya yang membuat dia tidak memiliki pilihan."

    "Lakukan sesuai keinginanmu. Ibu tidak akan ikut campur... dengan pilihan hidupmu lagi. Pasti ada alasan di balik keputusan yang kau buat. Ibu hanya akan melihat dari kejauhan... dan mengulurkan tangan ketika kau membutuhkannya."

    "Ibu."

    "Kau kembali dengan selamat sudah cukup untuk Ibu. Lakukan apa saja yang kau inginkan, apa pun itu."

    "Terima kasih."

    "Kalau begitu, kapan kau akan kembali bekerja?"

    Do Jae tersenyum.


    Do Jae kembali bekerja dan sekarang ia baik pangkat menjadi Presdir.


    Se Gye kembali ke rumahnya. Disana ia disambur Eun Ho. Eun Ho mengaku ia tidak baik-baik saja karena selama Se Gye tidak ada Woo  Mi terus-terusan merundungnya.

    Woo Mi yang datang dibelakang Se Gye tidak terima Eun Ho mengatainya begitu, ia pun berteriak. 

    Eun Ho: Lihat dia! Berteriak dan memakiku. Sungguh, aku sangat menderita tanpamu.

    Woo Mi: Dia memang minta dihajar. Aku sudah terlalu baik padanya. Kemari kau!


    Eun Ho langsung lari dan Se Gye hanya bisa tersenyum. Tapi akhirnya Woo Mi berasil memukul Eun Ho.

    Eun Ho: Lihat. Dia selalu memukul dan memarahiku. Dia adalah orang yang paling kubenci. Hanya kau (Se Gye) yang kumiliki. 

    Se Gye: Akhirnya aku merasa seperti di rumah.

    Eun Ho: Kau tampak kurus.

    Se Gye: Berkat masakan ibumu, aku bisa bertahan hidup. Tolong sampaikan rasa terima kasihku.

    Eun Ho: Bilang saja sendiri. Ibuku sangat merindukanmu. Dia bilang sedih sekali karena kehilangan teman main Go-Stop.

    Se Gye: Kurasa lebih baik aku ke sana dan membuatnya kehilangan cukup banyak uang.

    Woo Mi: Hei, apa yang akan kita lakukan setelah selesai beres-beres? Bagaimana kalau minum bersama?

    Eun Ho: Tidak. Aku ada janji lain.

    Woo Mi: Lihat, 'kan? Dia selalu seperti ini sejak berkencan. Dasar pengkhianat.

    Woo Mi beralih pada Se Gye tapi Se Gye ternyata juga memiliki janji.

    Woo Mi: Lihat kalian berdua! Kalian pikir aku tidak ada teman main? Aku juga harus pergi, tahu! Wah, sungguhan.

    Woo Mi lalu menelfon pacarnya dengan gaya imutnya.


    Eun Ho langsung lari dan Se Gye hanya bisa tersenyum. Tapi akhirnya Woo Mi berasil memukul Eun Ho.

    Eun Ho: Lihat. Dia selalu memukul dan memarahiku. Dia adalah orang yang paling kubenci. Hanya kau (Se Gye) yang kumiliki. 

    Se Gye: Akhirnya aku merasa seperti di rumah.

    Eun Ho: Kau tampak kurus.

    Se Gye: Berkat masakan ibumu, aku bisa bertahan hidup. Tolong sampaikan rasa terima kasihku.

    Eun Ho: Bilang saja sendiri. Ibuku sangat merindukanmu. Dia bilang sedih sekali karena kehilangan teman main Go-Stop.

    Se Gye: Kurasa lebih baik aku ke sana dan membuatnya kehilangan cukup banyak uang.

    Woo Mi: Hei, apa yang akan kita lakukan setelah selesai beres-beres? Bagaimana kalau minum bersama?

    Eun Ho: Tidak. Aku ada janji lain.

    Woo Mi: Lihat, 'kan? Dia selalu seperti ini sejak berkencan. Dasar pengkhianat.

    Woo Mi beralih pada Se Gye tapi Se Gye ternyata juga memiliki janji.

    Woo Mi: Lihat kalian berdua! Kalian pikir aku tidak ada teman main? Aku juga harus pergi, tahu! Wah, sungguhan.

    Woo Mi lalu menelfon pacarnya dengan gaya imutnya.


    Se Gye mendatangi Do Jae di kantor, ia menunggu di lobi sampai Do Jae keluar.

    "Aku bermaksud menjemputmu." Kata Do Jae. 

    "Aku takut kau melakukannya, makanya aku kemari."

    Se Gye menunjukkan bunga yang ia bawa, "Aku terbiasa menerimanya."

    "Aku tidak tahu bagaimana reaksi yang tepat. Aku belum pernah menerima buket bunga."

    "Sebagai seseorang yang menerimanya hingga tak terhitung jumlahnya, ini bukan masalah besar. Cukup senyum yang lebar dan terima saja."

    "Kau ahli dalam membuatku gila."


    Do Jae menerimanya, lalu memberitahu kalau ia naik jabatan menjadi Presdir dan ini hari pertamanya sebagai Presdir.

    "Sungguh? Kalau begitu, bagus aku membawa bunga. Dan hadiah yang kau inginkan?"

    "Emm.. Bagaimana kalau makan ramyeon di rumahku?"

    Se GYe ketawa mendengarnya.


    Se Gye ke rumah Do Jae dan ternyata semua fotonya dipajang disana. Se Gye seakan gak percaya melihatnya.


    Do Jae menjelaskan, setelah Se Gye menghilang, ia ingin mengambil foto Se Gye untuk dikenang. Tapi, ia tidak tahu yang mana diri Se Gye. Kemudian, hal itu menyadarkannya. Mereka semua adalah Se Gye.

    "Kurasa, kau sudah melihat semuanya. Semua wajahku."

    "Aku sudah melihatnya. Dan aku bahagia bisa melihat semuanya."

    "Mungkin, mulai sekarang akan lebih sulit, karena kau sudah dapat mengenali wajahku. Tampaknya, aku hanya membuatmu menderita."

    "Tidak perlu khawatir. Bukan fisikmu yang membuatku jatuh cinta. Yang kucintai, adalah... yang ada di dalam dirimu."

    "Bagaimana bisa seseorang yang begitu luar biasa datang dalam kehidupanku?"

    "Tidak. Kaulah yang datang dalam kehidupanku. Kau yang datang... ke dalam hidupku."


    Mereka mendengarkan suara Se Gye yang sedang membaca buku. 

    "Kita duduk di kursi belakang ruang kelas... agar kita tidak tampak dari jendela. 'Bagaimana kau bisa tahu bahwa itu diriku?' Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Sambil menatapku, dia berkata. 'Tidak ada seorangpun selain dirimu yang akan menatapku seperti itu'."


    "Bagaimana kau bisa tahu aku mengerjakannya?" Tanya Se Gye.

    "Yah... Presdir Yu sudah lama menjadi sahabatmu, tapi sekarang dia pun juga sahabatku. Dan Eun Ho sudah seperti adikku sendiri. Begitu mereka memutuskan berteman dengan seseorang, mereka cenderung setia sampai akhir."

    "Kau benar."

    "Setiap kali aku merindukan suaramu, aku memutar ini. Aku bahkan berani taruhan sudah meninggalkan 300 komentar."

    "Kau tahu, saat kau mengajakku makan ramyeon, aku tidak berpikir akan melakukannya sungguhan."

    "Apa? Kau mengharapkan sesuatu yang lain?"

    "Tidak."

    "Seperti itu rupanya tatapan mata yang bergairah."

    "Tidak, kok!"

    "Kau seharusnya menunjukkan lebih jelas."

    "Hei, sungguh tidak seperti itu!"

    "Wah, aku benar rupanya."


    Do Jae meminta Se Gye menginap malam ini. Se Gye yang sedang membahas ramyeon tersedak karena Do Jae tiba-tiba menanyakannya. 

    "Apa ada prosedur tertentu yang harus dilalui sebelum mengatakannya? Bukankah katamu semua itu hanya soal waktu?" Tanggapan DO Jae.

    Se Gye mengubah pembicaraan, ia menanyakan poster dirinya yang ada disana, untuk apa sebenarnya? 

    "Bukannya sudah jelas? Kekasihku."

    "Apa maksudmu? Akulah kekasihmu!"


    "Ah.. Aku punya permintaan."

    "Permintaan? Apa itu? Katakan saja. Aku akan mengabulkannya."

    "Aku ingin menonton film. Salah satu film-mu. Aku ingin menonton film baru yang kau bintangi. Hanya mendengarkan suaramu saja tidak lagi membuatku puas. Kau akan mengabulkannya?"

    Se Gye mengangguk. 


    Se Gye menginap pada akhirnya. 


    Woo Mi melakukan pekerjaannya dengan baik. Mencarikan Se Gye film yang bagus.


    Se Gye melakukan syuting dengan lancar. 

    Woo Mi sangat senang Se Gye mulai syuting lagi.

    Woo Mi: Tahu tidak sudah berapa lama aku menantikan kesempatan untuk berkata seperti ini?


    Tapi ada juga yang gak suka Se Gye kembali. Mereka mengejek Se Gye yang kembali padahal sudah mengumumkan mau pensiun. Woo Mi akan menegur mereka tapi Se Gye malah membungkuk pada mereka. Merea pun jadi gak enak lalu pergi.

    Se Gye menjelaskan, "Bisa apa lagi? Aku layak mendapatkannya. Aku harus bertanggung jawab atas tindakanku."


    Do Jae datang menjemput Se Gye. Kebetulan SUtradara mengatakan kalau syuting hari ini selesai.

    Woo Mi: Dia pria yang aneh. Jika dia mengekorimu lebih lama lagi, perusahaannya bisa bangkrut.


    Do Jae memberi Se Gye kontrak model. Ia ingin Se Gye menjadi model T Road Air.

    "Seharusnya kau berikan pada Presdir Yu, bukan aku."

    "Presdir Yu itu terlalu pemilih. Dia bahkan menolak memeriksanya meski kami berteman. Aku membutuhkan bantuan kekasihku. Pujilah aku di depannya."

    "Apakah ini termasuk penyuapan?"

    "Kalau iya, kau akan melaporkan aku?"


    Se Gye meminta bolpen Do Jae. Do Jae memberikannya dan Se Gye langsung menandatanganinya.

    Do Jae: Aigo.. Ingat yang pernah kukatakan? Bukankah aku pernah bilang periksa dulu kontraknya dengan saksama sebelum tanda tangan?

    Se Gye lalu melihat halaman terakhir.

    "Jika pihak pertama meminta, maka pihak kedua harus menemani pihak pertama dalam perjalanan bisnis. Selama menemani dalam perjalanan bisnis tersebut, pihak kedua harus mengenakan gaun berwarna merah."

    Se Gye ketawa, "Lagi? Kapan?"

    "Entahlah, kapan saja. Kapan syutingnya akan selesai?"

    "Kenapa kau masih terobsesi dengan gaun warna merah? Kan tidak perlu lagi."

    "Sebenarnya, tipe idealku adalah wanita yang mengenakan gaun warna merah."

    "Tidak bisa dipercaya. Pakaianmu hari ini cukup mendekati."

    "Ini pink!"


    Mereka kembali memindahkan semua foto ke tempat semula. Dan di figura utama, mereka memajang foto mereka berdua.


    Se Gye: Lihat wajah itu. Atau wajah itu. Aku bisa berubah menjadi salah satu dari mereka. Kau akan tetap baik-baik saja bersamaku?

    Do Jae: Kita sudah pernah melalui hal ini. Percayakan hidupmu... kepadaku.

    0 komentar

    Post a Comment