Tuesday, November 20, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 14 Part 2

    Sumber: jtbc


    Do Jae minum dengan Eun Ho diluar, tiba-tiba Do Jae bertanya apa tuhan itu ada? 

    "Bagi yang meyakininya, iya."

    "Jika Tuhan sungguh ada, apakah tak apa jika aku membencinya? Aku baru saja mengatakan sesuatu.. yang tidak layak didengar oleh seseorang yang mencintai Tuhan."

    "Aku bisa memahami alasanmu membenci Tuhan. Ketika melihat Se Gye, aku pun sedikit membenci-Nya. Kenapa Tuhan harus membuatnya begitu menderita? Tapi, saat melihat dirimu, aku merasakan hal yang sama. Kenapa Tuhan harus membuatmu begitu menderita?"

    "Aku... bahkan tidak dapat mengenali wajahku sendiri di kaca. Han Se Gye-ssi bagaikan sebuah cermin untukku. Kenapa aku? Kenapa harus aku? Kenapa aku harus mengidap penyakit ini? Kesalahan apa yang telah kulakukan? Semua yang Han Se Gye katakan.. sama persis dengan yang.. biasa aku katakan."

    "Tuhan mungkin juga memikirkan hal yang sama."

    "Aku marah pada-Nya. Jika Ia memang berpikir demikian."

    "Marahlah pada-Nya sesuka hatimu. Aku akan menggantikanmu berdoa dan merenungi diri. Anggaplah hadiah untuk Hyeong.. karena sudah mentraktirku minum."

    "Jangan memanggilku 'Hyeong', tapi 'Hyeongnim'."

    "Baiklah, Hyeongnim."

    Lalu mereka bersulang.


    Se Gye menahan diri untuk tidak menangis.

    "Jangan menangis. Jangan berpikir untuk menangis. Kau tidak berhak untuk menangis. Kau telah menghancurkan hidupnya. Siapa kau berhak menangis? Jangan menangis.. sepanjang sisa usiamu."


    Eun Ho cerita kalau ia habis minum dengan Do Jae dan itu membua Se Gye terkejut. Eun Ho melanjutkan, itu karena Do Jae bilang tidak punya teman minum. 

    Se Gye: Jangan menemuinya.

    Eun Ho: Ya. Dia memiliki kebiasaan buruk saat mabuk. Dia bersikap sok imut saat mabuk.

    Se Gye: Tidak, bukan soal minum bersama. Mulai sekarang, jangan temui dia.

    Woo Mi: Hei. Sudah kuduga, ada yang aneh. Kau putus dengan Seo Do Jae?

    Eun Ho: Mereka tidak putus, kok. Hyeongnim sangat tergila-gila padanya. Dia sangat mencintainya sampai hatinya terasa sakit.


    Eun Ho mendapat pesan dan harus cepat pergi. Se Gye berkata akan memberi Eun Ho uang, kali ini ia sungguh-sungguh, Eun Ho tinggal bilang butuh berapa, ia akan memberikannya.

    Eun Ho: Wah, kau sangat aneh hari ini. Apakah sudah hampir harinya? Perubahan suasana hatimu sangat drastis ketika harinya semakin dekat.

    Woo Mi: Tidak, masih banyak waktu tersisa.

    Eun Ho menitipkan Se Gye pada Woo Mi karena ia benar-benar harus pergi.


    Se Gye menanyakan jadwal selanjutnya. Woo Mi mengingatkan kalau Se Gye bekerja terlalu keras. Apa yang terjadi? benar-benar berpisah? Se Gye bekerja sekeras ini untuk melupakan perpisahan itu?

    Woo Mi: Aku tidak akan bertanya lebih jauh karena tampaknya kau tidak ingin membicarakannya. Ada satu lagi yang tersisa. Pemutaran perdana film. Kudengar, Chae Yu Ri tidak datang. Mereka memohon-mohon sekarang karena membutuhkan kehadiranmu di sana. Hei, dia pasti sangat takut padamu sekarang.

    Se Gye: Itu artinya, aku punya sedikit waktu luang, 'kan?

    Woo Mi: Kenapa? Kau mau pergi ke suatu tempat?

    Se Gye: Hm, aku mau menjenguk ibuku.


    Eun Ho ternyata datang ke rumah Sa Ra. Sa Ra sedang sakit dan meminta Eun Ho membawakan obat. Eun Ho khawatir, ia mengajak Sa Ra ke RS.

    "Kalau aku ke rumah sakit, perusahaan akan terpengaruh. Lebih spesifiknya, harga saham kami akan anjlok."

    "Kau kan kaya raya. Tidak punya dokter keluarga? Suruh saja dokternya kemari."

    "Kurasa, kau terlalu banyak menonton drama. Aku kan tidak butuh dioperasi. Aku baik-baik saja. Kondisiku akan membaik setelah minum obat. Tapi, kau lihat, aku tidak bisa memikirkan orang lain untuk dihubungi, jadi aku meneleponmu. Terima kasih. Pergilah." 

    "Kau sudah makan sesuatu? Apotekernya bilang kau harus makan sesuatu sebelum minum obatnya."

    "Apa kau hanya terlalu rajin dalam pekerjaanmu? Atau secara alami kau memang mudah khawatir?"


    Eun Ho pun memasak bubur untuk Sa Ra dan saat Sa Ra makan, ia terus menatap Sa Ra. Sa Ra senang ada seseorang menatapnya saa makan, itu mengurangi rasa kesepiannya. 


    Sa Ra: Aku sangat bagus dalam mengerjakan segala sesuatu seorang diri, itulah kekuatanku. Tapi saat jatuh sakit, aku hanya dapat mengasihani diri sendiri. 

    Eun Ho: Barusan, hal ini terlintas di benakku. "Wanita ini... tidak bisa hidup tanpa aku. Seseorang yang ditakdirkan untuk kuselamatkan.. mungkin adalah dirinya."



    Se Gye bicara dengan ibunya.

    Se Gye: Aku senang melihat Ibu tersenyum seperti itu. Ibu. Karena Ibu di sini, bisakah sekarang kukatakan Ibu tinggal di Seoul? Aku.. menemui Ibu karena aku tidak akan bisa sering berkunjung sementara waktu ini. Ibu bilang aku bisa melakukannya, tapi pada akhirnya aku gagal. Maafkan aku, Bu. Maafkan aku.


    Se Gye selanjutnya meminta bertemu dengan Ibunya Do Jae. Kebetulan Se Gye datang, ada yang ingin ibu berikan untuk Se Gye. Tapi Se Gye menolaknya. 

    "Aku hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih. Bahkan meski kau mengetahui kondisi Do Jae, kau memutuskan untuk tetap di sisinya dan mencintai dia. Aku sungguh berterima kasih."


    Se Gye tiba-tiba berlutut di depan ibu. Se Gye memberitahu ibu kalau ia sudah memutuskan untuk berpisah dari Do Jae. 

    "Ini karena kondisinya. Karena kondisinya, aku tidak bisa tetap bersamanya." Jawab Se Gye saat ibu bertanya alasanya.

    "Jangan meninggalkan dia, kumohon. Kau tidak boleh meninggalkan dia. Do Jae akhirnya bisa tersenyum lagi dan bahagia. Dia akhirnya belajar untuk peduli dengan dirinya. Kumohon."

    "Seperti yang Anda pernah katakan, aku hanya kelemahan baginya. Tolong jaga dia agar dia tidak terluka. Agar dia tidak menderita. Maafkan aku. Ini semua... Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf."


    Lalu datanglah Do Jae. Do Jae membantu Se Gye berdiri, ia meminta maaf pada ibu, berkata akan menjelaskan nanti, lalu mengajak Se Gye keluar.


    Se Gye berkata ingin minta maaf pada ibunya Do Jae. Ia tahu mereka tidak bisa menjelaskan semuanya padanya, tapi ia tetap ingin... minta maaf padanya. Fakta bahwa mereka berdua harus hidup seperti ini merupakan kesalahannya. Ia sudah menghancurkan hidup seseorang. Ia memporak-porandakan hidup Do Jae.


    Do Jae langsung memeluk Se Gye, "Kubilang aku akan kembali, tapi aku tidak bisa. Maafkan aku. Sebenarnya aku ke sana. Aku ke sana untuk menemuimu, tapi aku takut kau akan mengatakannya. Karena aku takut kau akan mengatakan sesuatu yang tidak ingin kudengar, aku tidak bisa menghampirimu. Aku tidak bisa.. bicara padamu. Jika aku bisa, aku akan mencoba menyelesaikan segalanya. Tapi aku tidak bisa kembali ke masa lalu, atau menarik kembali yang telah terjadi. Maupun membuatmu melupakan segalanya.. atau juga menghapus semua ingatanku. Tidak ada... yang dapat kulakukan."


    "Ada sesuatu yang dapat kau lakukan." Se Gye mendorong Do Jae, "Lupakan... tentangku. Lupakan... tentang kita. Bahkan meski aku bertahan di sisimu, kau tidak akan bisa bahagia. Aku akan tersiksa dan kau tidak akan bisa mengabaikannya. Lalu kita akan menderita bersama. Selama... kita bersama, kita tidak akan bisa bahagia. Masa lalu, masa kini, dan masa depan kita... telah kuhancurkan. Jadi, kumohon. Aku memohon tanpa tahu malu padamu. Mari... kita berpisah. Pergilah... dariku."


    Do Jae kembali memeluk Se Gye.


    Saat di rumah, Do Jae mencoba mengingat bagaimana wajah Se Gye ketika tersenyum, tapi ia tidak bisa. Do Jae menyapu geas yang ada di meja, semuanya pecah di lantai.


    Se Gye datang ke Pemutaran pertama filmnya dan ia mendapat sambutan meriah dari para reporter.

    Ternyata Do Jae juga datang. 


    Se Gye bahkan harus duduk disamping Do Jae. Do Jae melihat tangan Se Gye masih diplaster.  

    Do Jae: Tanganmu. Apakah... belum sembuh sepenuhnya?

    Se Gye tidak menjawabnya, ia malah pergi dari ruang bioskop. Do Jae mengejarnya sampai ke parkiran.


    Do Jae menegaskan, bahkan meski orang lain, ia tetap akan membantunya. Kebetulan saja itu adalah Se Gye. Dan menyelamatkan Se Gye... merupakan hal terbaik yang pernah ia lakukan.

    Do Jae: Katamu kau menyadari yang kau inginkan setelah merenungkannya. Untukku, itu dirimu.

    Se Gye: Tapi hal yang kau renungkan disebabkan olehku.

    Do Jae: Aku baik-baik saja. Aku...


    Se Gye: Tolong jangan baik-baik saja! Jangan tersenyum padaku. Jangan mengkhawatirkan aku. Kenapa kau begitu baik? Kenapa...

    Do Jae: Aku tahu. Jika kita tetap bersama, kita akan merasa bahagia sekarang dan di kemudian hari, tetapi juga kadang menderita. Aku akan mengurus semuanya. Aku akan menanggung segalanya. Aku berjanji.

    Se Gye: Ini adalah takdir. Takdir yang kejam. Aku menyesalinya. Aku sangat menyesalinya.

    Do Jae: Jika kau ingin meninggalkan aku, tatap mataku.. dan katakan.. kau tidak mencintaiku.

    Tapi Se GYe tidak bisa melakukannya.

    Do Jae: Lihat? Kau... Kau mencintaiku.

    Se Gye: Tidak. Aku... tidak mencintaimu. Sejak hari pertama kita bertemu, selalu seperti itu. Bahkan di kali kedua pertemuan kita. Selalu seperti ini.

    Do Jae: Kenapa... terdengar seakan kau menyatakan cinta?

    Se Gye pergi meninggalkan Do Jae.


    Se Gye mengatakan pada Woo Mi kalau ia berencana pensiun. Ah.. Woo Mi sekarang mengerti  kenapa Se Gye meminta jadwalnya diperpadat, Kenapa? Apa lagi masalahnya kali ini?

    "Akulah masalahnya. Woo Mi. Kau ingat saat pertama kali aku berubah? Apa kau ingat.. saat aku mengatakan padamu.. aku terlibat kecelakaan? Pria itu... Pria yang hampir tewas gara-gara aku... adalah Seo Do Jae."

    "Apa?"

    "Do Jae... menjadi sakit gara-gara menyelamatkan aku. Dia mencoba menyelamatkan aku... sehingga mengalami kecelakaan. Dia menghabiskan 10 tahun terakhir seperti itu. Dan dia harus menghabiskan sepanjang sisa hidupnya... seperti itu gara-gara aku."


    Woo Mi: Se Gye-ya. Sadarkan dirimu! Itu bukan salahmu. Itu sebuah kecelakaan. Jangan menyalahkan diri sendiri. Itu bukan salahmu.

    Se Gye: Woo Mi-ya, itu sebabnya aku tidak bisa... tersenyum lagi di hadapan orang-orang. Aku membenci diriku sendiri karenanya. Aku jijik pada diriku sendiri.

    Woo Mi: Baiklah, mari kita lakukan sesuai keinginanmu. Jika itu yang kau butuhkan agar bisa bahagia, mari kita lakukan. Pensiun. Itu bukan masalah sama sekali. Kau berhak atas hidupmu. Dirimulah yang utama dibanding hal lain. Baiklah. Mari kita akhiri saja semuanya. Aku akan tetap membantumu.

    Woo Mi memeluk sahabatnya itu.


    Woo Mi memasukkan koper-koper ke dalam mobil dan saat itu Do Jae datang. Do Jae berkata harus bertemu Se Gye. 

    "Maafkan aku. Aku tidak bisa mengizinkanmu menemui Se Gye. Aku sudah dengar semuanya dari Se Gye. Aku mengerti pasti berat juga untukmu. Aku tahu. Tapi, Se Gye perlu sedikit ruang untuk bernapas. Aku tidak tahan melihatnya kesakitan. Aku sungguh minta maaf."


    Se Gye ternyata melihat Do Jae dari jendela. Ia melihat Do Jae kembali ke mobilnya.

    "Selamat tinggal. Jaga dirimu."


    Saat semua orang heboh soal Se Gye yang memutuskan pensium di punvak karirnya. Do Jae memikirkan tawaran Dokter Oh soal operasi itu.   


    Joo Hwan datang membawa kabar soal Se Gye. Do Jae membacanya, lalu Se Gye menelfon.


    Do Jae: Di mana kau saat ini?

    Se Gye: Maafkan aku tidak menepati janji... untuk tidak melarikan diri.

    Do Jae: Kutanya di mana kau!

    Se Gye: Kau... tidak akan bisa menemukanku. Aku tidak akan lagi hidup sebagai Han Se Gye. Aku akan terus berubah menjadi orang lain dan dilupakan. Memang seharusnya seperti ini sejak semula. Inilah hal yang tepat untuk dilakukan.

    Do Jae: Aku akan ke sana sekarang. Aku akan menemuimu sekarang juga. Katakan saja, di mana kau berada.

    Se Gye: Kau ingat kesepakatan kita? Klausul terakhir. Lupakan aku. Itulah kesepakatan kita.

    Do Jae: Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya? Mana mungkin aku bisa lupa?

    Se Gye: Ini adalah kata-kata terakhirku padaku sebagai seorang Han Se Gye. Aku sangat... mencintaimu.

    Se Gye memutus telfon.


    Do Jae langsung pergi ke rumah Se Gye bahkan sampai melupakan jas dan mantelnya. Ia kesana, tapi kosong. Se Gye sudah tidak ada di rumah. Semuanya kosong.


    Cuma ruang foto yang masih seperti sebelumnya, masih berantakan. Do Jae menatap figura yang akan Se Gye gunakan untuk memajang foto wajah aslinya sebelum meninggal. 

    Ia melihat pantulan wajahnya disana. Do Jae menangis sejadi-jadinya.

    0 komentar

    Post a Comment