Tuesday, November 20, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 14 Part 1

    Sumber: jtbc


    Se Gye meminta Do Jae mendengarkannya baik-baik. Se Gye mengatakan kalau ialah penyebab Do Jae menjadi seperti sekarang.

    "Ketika aku berubah untuk pertama kalinya, aku mengalami sebuah kecelakaan. Kala itu, aku sedang berlibur di Eropa bersama Woo Mi. 10 tahun yang lalu. Sekarang.. Sekarang aku mengerti. Sekarang aku mengingat semuanya. Wajah pria yang kulihat sebelum aku tidak sadarkan diri... Maafkan aku. Maafkan aku. Semua itu salahku. Semuanya gara-gara aku." Se Gye menjelaskannya sambil menangis.

    Do Jae langsung menyambar mantelnya, ia buru-buru ke rumah Se Gye.


    Se Gye terus menangis, merasa benar-benar bersalah pada Do Jae.


    Do Jae ngebut menju rumah Se Gye. Bahkan ia berlari saat menuju pintu rumah Se Gye setelah turun dari mobilnya. 


    Ia memencet bel, tidak ada jawaban, ia pun menggedor sambil memanggil-anggil Se Gye. 

    Se Gye sebenarnya tepat berada di balik pintu tapi ia hanya diam saja.

    Do Jae: Han Se Gye-ssi. Temui aku dan mari bicara. Apa pun yang hendak kau katakan, tatap aku dan katakan lagi. Jangan menghindarinya! Han Se Gye-ssi!


    Se Gye pun membuka pintu, pertama yang Do Jae lihat adalah luka di tangan Se Gye. 

    Se Gye menjelaskan semuanya, bahwa nenek itu adalah dirinya saat pertama kali berubah. 

    "Orang yang coba untuk kau selamatkan.. dan berakhir menghancurkan hidupmu. Orang yang telah membuatmu tersiksa selama 10 tahun itu.. adalah aku. Tapi, aku tidak tahu apa pun.. dan tertawa di sampingku seolah tidak terjadi apa pun. Aku bahagia di sisimu. Maafkan aku. Maafkan aku. Aku mengatakan akan membuatmu bahagia, tapi aku tidak bisa melakukannya sekarang. Aku tidak berhak."

    "Aku... Aku bisa... memahami segalanya."

    "Menurutmu... kita akan baik-baik saja... sepanjang sisa usia kita? Bisakah kita melewatkannya? Bisakah kita melupakan segalanya? Apa menurutmu kita bisa hidup seperti itu? Seo Do Jae-ssi, apa kau pikir kau dapat melakukannya? Bahkan meski kau mengatakan kau sanggup, tidak denganku. Aku tidak berani melakukannya."

    "Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apa yang sebaiknya kita lakukan?"

    "Do Jae-ssi. Kita."

    "Tunggu. Sebentar saja. Sebentar saja. Aku akan kembali nanti. Saat aku kembali, kau bisa mengatakannya padaku."


    Do Jae lalu memberikan saputangan untuk Se Gye, ia berpesan agar Se Gye tidak terlalu banyak menangis dan tidak terlalu menyiksa diri. Do Jae kemudian pergi.


    Se Gye kembali menangis dan terus mengurung diri di ruangan foto.


    Do Jae membuka kembali catatan perkembangan kondisinya dari tahun ke tahun.

    (28 Maret 2011)


    Dokter mengatakan ada sebuah cara yang mungkin dapat menyembuhkan kondisi Do Jae. Ada seorang dokter yang melakukan penelitian tentang penyakit Do Jae dan mendapatkan beberapa hasil yang sukses. Dia tertarik dengan kasus Do Jae.

    Do Jae: Aku ingin bertemu dengan dokter itu. Di mana dokternya sekarang? Di mana pun dia, aku akan menemuinya.

    Dokter: Masalahnya, kemungkinkan sembuh total sangat langka. Aku bisa bilang hanya sekitar 5%. Dan aku bahkan tidak berani menjamin kondisinya dapat disembuhkan. Bahkan mungkin dapat memburuk. Setelah operasi, atau bahkan dalam proses operasi, kau bisa meninggal dunia. Apa kau masih menginginkannya?

    Ibu langsung melarang Do Jae melakukannya, Do Jae harus hidup.

    Dokter: Jika tidak ingin bertaruh dengan harapan tersebut, maka tidak ada jalan lain. Kondisimu tidak tersembuhkan. Berpikirlah demikian dan melanjutkan kehidupanmu juga akan lebih mudah untukmu.


    Do Jae mencari kontak Dokter Oh setelah mengingat kejadian itu.


    Esoknya Do Jae menemui ibunya. Ia mengajak ibunya makan siang berdua. 

    "Ibu minta maaf. Ibu mengira dengan menyembunyikannya.. merupakan satu-satunya hal yang dapat dilakukan. Ibu pikir dengan menyembunyikan kekuranganmu akan menjadi satu-satunya cara untuk melindungimu sepenuhnya. Ibu berpikir seperti itu, bagaikan orang bodoh."

    "Jangan bilang begitu. Ibu... sudah melakukan yang terbaik untuk melindungiku."

    "Hubunganmu dan Se Gye berjalan lancar, 'kan?"


    Do Jae tiba-tiba membahas kejadian 10 tahu lalu, "10 tahun lalu... Jika aku tidak pernah mengalami kecelakaan 10 tahun lalu, akan menjadi seseorang seperti apa aku saat ini? Tapi, aku tetap tidak menyesali.. telah menyelamatkan nyawa orang itu."

    "Ibu menyesali yang telah Ibu lakukan. Ibu mengajarimu untuk membantu mereka yang membutuhkan dan selalu berinisiatif lebih dulu. Ibu terus menyesali.. telah membesarkanmu seperti itu."


    Pada Joo Hwan, Do Jae juga membicarakan masa lalu, ia mempertanyakan apa Joo Hwan ingat kali pertama bertemu dengannya?

    "Haruskah aku melebih-lebihkan atau menyederhanakannya?"

    "Beri tahu faktanya saja."

    "Sebuah bencana. Saat itu kau masih muda, sedang sakit, dan berduka. Kala itu, kau sangat sensitif. Kau marah dan meneriaki aku jika latihannya tidak berjalan lancar. Ada hari-hari di mana kau menolak untuk melihat .maupun mengenali apa pun."

    "Benar, dulu aku seperti itu."

    "Kali pertama kau berhasil mengenaliku, aku sangat tersentuh. Aku berpikir, "Dia akan bertahan hidup. Dia tidak akan mati"."

    "Apakah... saat itu aku sangat menderita?"

    "Jika ada sebuah kompetisi untuk mencari orang yang paling tangguh, maka kau tidak akan kalah. Aku sangat menghormatimu. Kau sudah melewati 10 tahun kehidupan seperti itu."

    "10 tahun. Kau benar. Sudah 10 tahun berlalu."

    "Aku senang kau berhasil. Bukankah bagus tetap bertahan hidup? Kau bahkan memiliki seorang kekasih sekarang. Kau menamai ikan itu Han Se Gye, 'kan? Seperti itulah cinta. Bahkan di dunia di mana setiap orang tampak sama, hanya sosok istimewa yang kau cintai yang tampak menawan."


    Se Gye kembali menonton drama pertamanya yang hits. Woo Mi sampai heran karena Se Gye menonton semua episode-nya. Se Gye berkata ia menonton untuk yang terakhir kalinya. 

    "Terakhir kali apanya? Kau terus berkata begitu selama bertahun-tahun. Bagaimana bisa kau mengulang film debutmu selama 10 tahun berturut-turut?"


    Se Gye tiba-tiba bertanya apakah perusahaan Woo Mi akan kesulitan tanpa dirinya? Woo Mi menebak Se Gye akan menikah tapi Se Gye membantahnya. Woo Mi lega mendengarnya.

    "Kau lelah? Kau butuh istirahat? Aku bisa memberimu sedikit liburan. Katakan saja yang kau inginkan."

    Se Gye mengajak Woo Mi melakukan semua iklan yang tersisa dan menerima semua tawaran iklan yang ada.

    Woo Mi: Kau pasti benar-benar akan menikah. Kau jadi gila soal uang. Kalau begitu, mari mulai dengan perusahaan kekasihmu. Aku tidak akan bersikap lunak meski itu perusahaan kekasihmu. Kita akan menyelesaikan yang tersisa dan berhenti di sana. Jika mereka ingin kau memperbarui kontrak, aku akan minta kenaikan honor. Kenapa? Kau tidak senang?


    Se Gye: Bukan begitu. Aku harus melakukannya. Aku harus mengakhirinya dengan baik, terutama dengan mereka.

    Woo Mi: Tentu saja, karena itu kan perusahaan kekasihmu.


    Do Jae mengubah catatannya. 

    "Bahkan jika kau memahami situasinya, memahami sosok orang tersebut merupakan hal yang berbeda."


    Joo Hwan datang mengabarkan situasi yang buruk. Direktur Kim meminta rapat direksi digelar. Do Jae sudah menduganya. Joo Hwan bertanya apa yang harus mereka lakukan. 

    "Ayo pergi. Bagaimanapun, aku memerlukan seseorang untuk menyelesaikannya."


    Sebelum Do Jae datang, Dorektur Kim menghasut semuanya untuk memusuhi Do Jae. 

    Direktur Kim meremehkan Do Jae saat Do Jae datang, ia memperlakukan Do Jae seolah penyakit Do Jae itu parah banget. 

    "Direktur Seo. Ini aku, Direktur Kim. Di sini. Apa kau bahkan mengenaliku? Aku tidak tahan lagi dengan kelakuanmu. Kau mengatakan hal itu padaku?"

    Do Jae langsung memecat Direktur Kim. 

    "Apa?"

    "Kau tidak beruntung. Kau selalu bertingkah setiap kali suasana hatiku sedang buruk."

    "Direktur Seo, kau tampaknya tidak paham bagaimana sistem sebuah perusahaan. Kau pikir bisa memecat seorang direktur semudah itu? Ada prosedur yang harus ditaati saat memecat seorang direktur."

    "Kau dipecat tanpa melalui prosedur. Olehku. Aku selalu bisa menemukan alasan. Entah suap atau kesepakatan rahasia, aku akan selalu dapat menemukan alasan itu. Jadi, jangan khawatir, cukup enyah saja dari hadapanku."

    "Direktur Seo! Jika kau memiliki ambisi, kau seharusnya bijak dalam memihak. Aku sudah berulang kali memperingatkanmu. Kenapa kau terus memancing amarahku?"

    "Apa? Memancing amarahmu? Kau pikir Ketua akan tinggal diam?"


    Ternyata Kakek datang dan Do Jae langsung menyadarinya, ia berkata kalau kakeknya akan tinggal diam sambil menunjuk kakek. 

    Direktur Kim langsung mengadu pada kakek tapi kakek jelas memihak Do Jae.

    "Siapa kau? Aku... tidak ingin siapa pun yang tidak bekerja untuk perusahaanku memanggilku Ketua."

    Dan semua orang tidak ada yang memihak Direktur Kim. Direktur Kim dipecat dari perusahaan tanpa hormat.


    Kakek mengajak Do Jae minum kopi. Do Jae bertanya kenapa kakek datang tiba-tiba?

    "Kau pikir aku cuma duduk saja sepanjang waktu dan tidak tahu apa-apa tentang urusan perusahaan? Setidaknya, aku punya 100 mata-mata di perusahaan ini."

    "Rupanya Kakek memata-mataiku."

    "Bagaimana kau bisa tahu itu aku?"

    "Aku kan tidak mengatakan apa-apa. Aku bisa langsung mengenali Kakek bahkan dari kejauhan. Tidak banyak sosok kakek yang berpakaian sangat bagus."

    "Bagaimana dengan aktris itu?"

    "Aku tidak tahu."

    "Aigoo. Ini sebabnya kau dicampakkan. Sekarang karena aku sudah menghabiskan kopiku, aku mau pergi."


    Do Jae heran, apa kakeknya tidak akan bilang, 'dasar bodoh', hari ini?

    "Tidak. Kau tidak bodoh. Yah... Kadang kala memang kau bodoh."

    Kakek pergi sambil tersenyum.


    Joo Hwan masuk setelah Kakek pergi, ia lega memihak Do Jae karena akhirnya kakek juga memihak Do Jae. 

    Joo Hwan: Ah, bagaimana bisa Direktur Kim bodoh sekali dalam memihak? Aih, rekan kerja yang menyusahkan.

    Joo Hwan kecewa karena kakek tidak menghabiskan kopinya padahal ia membuanya dengan usaha keras. Do Jae tersenyum, mengatakan kalau kopi Joo Hwan tidak enak. 


    Joo Hwan: Kudengar kekasihmu ada jadwal pemotretan. Kau tidak ke sana?

    Do Jae tidak menjawabnya.


    Se Gye melakukan pemotretan. Ia bersikap profesional, tidak menunjukkan kesedihannya.


    Woo Mi diberitahu kalau Yu Ri tidak datang di pemutaran pertama filmnya.  

    "Bagaimana bisa aktris utamanya melewatkan pemutaran perdana filmnya? Rumor dia berubah aneh ternyata benar. Malang sekali dia."


    Saat berbalik, Woo Mi melihat Do Jae berdiri tak jauh darinya. Do Jae ternyata sedang melihat Se Gye. 


    Woo Mi pun menyapa Do Jae, ia menduga Do Jae datang untuk bertemu Se Gye, ia menawari untuk memanggilkan Se Gye. 

    "Tidak perlu. Aku... hanya ingin melihat dia."

    "Ah."

    "Apakah Han Se Gye... memasang ekspresi seperti itu sepanjang waktu?"

    "Dia tidak tampak bahagia. Apakah dia lelah karena pemotretan?"

    Do Jae melihat luka di tangan Se Gye yang ternyata belum sembuh.


    Woo Mi membahas soal Se Gye yang belakangn jarang menyentuh ponselnya. Hari ini tidak bertemu Do Jae? Se Gye menjawab tidak. 

    "Harus kukatakan, dia benar-benar seorang profesional. Apakah karena kau sedang bekerja? Dia datang tapi bahkan tidak mengajakmu bicara."

    "Apa maksudmu?"

    "Seo Do Jae tidak meneleponmu? Dia datang ke studio hari ini dan melihatmu bekerja."

    "Woo Mi, turunkan aku di sini."


    Se Gye melanjutkan perjalanannya menggunakan taksi. Ternyata Se Gye kembali ke kantor Do Jae. Ia datang untuk melihat Do Jae dari kejauhan, tapi saat Do Jae mulai mendekat, ia bersembunyi.

    Se Gye berkaca-kaca karena hanya bisa melihat Do Jae dari kejauhan. 


    Se Gye: Buat apa aku datang kemari? Untuk apa?

    0 komentar

    Post a Comment