Monday, November 19, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 13 Part 2

    Sumber: jtbc


    Sepertinya Sa Ra mencari tahu keberadaan Eun Ho melalui telfon. Eun Ho menjawab kalau ia barusan dari toserba.

    A Ram tanya, siapa itu? Kenapa terus melaporkan keberadaannya sepanjang waktu? Eun Ho menjawab A Ram tidak perlu tahu. A Ram yakin Eun Ho memiliki pacar.


    Lalu datanglah Sa Ra. A Ram mengagumi mobil Sa Ra yang mewah banget. A Ram mengenalkan diri. Sa Ra ingat Eun Ho pernah bilang memiliki adik. Lalu Sa Ra meminta ijin meminjam Eun Ho sebentar.

    A Ram langsung mengijinkannya bahkan meinta Eun Ho cepat masuk mobil sebelum Sa Ra berubah pikiran. 

    A Ram: Eun Ho, semangat! Semoga berhasil, ya? Jangan sampai kau kehilangan dia atau kubunuh kau!


    Mereka berdua masuk ke sebuah restaurant dan tak disangka-sangka disana mereka melihat Se Gye dan Do Jae. Do Jae sangat terkejut melihat keduanya, ia sampai menjatuhkan sumpitnya.


    Do Jae bertnaya sejak kapan mereka bertemu. Eun Ho menjawab sejak pukul 6 sore. 

    Do Jae: Kau tahu bukan itu maksudku.

    Sa Ra: Oppa tidak berhak untuk memarahinya. Sejatinya, aku sedang memohon padanya sekarang.

    Se Gye: Hei, kenapa kau membuat wanita memohon? Aku tidak mengajarimu memperlakukan wanita seperti itu.

    Eun Ho: Kenapa kau bilang begitu? Sudah kujawab tidak saat kau tanya apa kita bisa jadi teman.

    Se Gye: Sudah kuduga. Aku memang guru yang baik.


    Do Jae memastikan, jadi mereka berdua sedang berkencan saat ini? Sejak kapan? Sa Ra menjawab sejak pukul 6 sore. Lalu Sa Ra bertanya pada Se Gye, apa yang Se Gye sukai dari kakaknya? Ia tidak habis pikir kenapa Se Gye menyukai dia.


    Se Gye: Dia memahamiku lebih dari siapapun juga. Dia tahu aku orang baik.

    Eun Ho: Apa katamu? Kau (Do Jae) pikir dia orang baik? Kau disihir ya olehnya?

    Do Jae: Lalu, kau sendiri? Apa yang kau sukai dari adikku?

    Eun Ho: Dia jahat, tapi itulah pesonanya.

    Do Jae: Apa katamu? Mungkin dia terdengar tidak berperasaan, tapi sebenarnya hatinya lembut.

    Sa Ra: Apa katamu? Aku memang jahat, kok.

    Se Gye: Aigoo, kalian menggemaskan sekali. Kakak adik ini memang bermasalah.

    Eun Ho: Begitulah. Mereka memang bermasalah.

    Dan mereka pun bersulang.


    Do Jae mengantar Se Gye pulang. Se Gye baru sempat menanyakan sal pertemuan keluarga Do Jae karena ada Eun Ho dan Sa Ra tadi.

    Do Jae: Seperti yang kau lihat, semua orang memahami dan berjalan dengan baik. Kakekku menangis. Dari semua orang, kakekku! Aku sendiri tidak menyangka dia akan menangis.

    Se Gye: Aigoo, aku senang akhirnya kau memberi tahu mereka.

    Do Jae: Kemudian aku mengatakan padanya, memintanya untuk membereskan masalah perusahaan karena terlanjur menangis untukku, tapi dia langsung meneriaki aku.

    Se Gye: Kau pantas untuk diteriaki. Kau selalu menginginkan solusi yang mudah, 'kan?

    Se Gye mengundang Do Jae untuk makan ramyeon dirumahnya.


    Sa Ra ketiduran di bahu Eun Ho. Eun Ho menatap Sa Ra, tapi Sa Ra menyadarinya. 

    "Rupanya kau tidak tidur. Lalu, kenapa kau bersandar di bahuku?"

    "Kenapa kau tidak melakukan apa pun.. padahal tahu aku tidak tidur?"

    "Kenapa kau tidak bertanya padaku.. apakah aku.. sudah mengambil keputusan.. menjadi Pendeta atau tidak?"

    "Jika dalam situasi seperti ini kau mengatakan bahwa kau memutuskan melakukannya, maka kau.. benar-benar bajingan."


    Eun Ho: Tidak baik-baik saja. Bagaimanapun, aku pria baik hati. Atau aku terlalu baik hati? Memikirkan untuk melepaskanmu pada Iblis bajingan sepertinya, benar-benar membuatku gila. Kurasa.. Aku terlalu baik hati.

    Sa Ra: Tidak. Kau sangat buruk. Kau sangat.. jahat.


    Do Jae juga mengatakan kondisinya pada semua karyawannya. 

    Do Jae: Aku pernah mengalami kecelakaan. Otakku cedera dan membuat kondisiku seperti ini. Aku tidak sekadar agak bingung. Tapi sama sekali tidak mampu mengenali wajah orang. Sebab itulah aku membuat kalian kesulitan dalam banyak hal. Mungkin, mulai sekarang situasinya akan lebih sulit lagi. Aku ingin minta maaf lebih dulu untuk hal itu. Aku merasa harus... memberi tahu langsung pada kalian.


    Semuanya merasa iba pada Do Jae, bahkan Timjangnim menangis. Mereka mencemaskan jika orang-orang direksi tahu kelemahan Do Jae ini. 


    Joo Hwan memuji Do Jae sudah melakukannya dengan baik. Do Jae menjawab kalau ia tidak berbuat banyak. Joo Hwan membenarkan, ialah yang selama ini mengerjakan semuanya.

    Do Jae: Yah, aku sepakat denganmu. Kau sudah bekerja dengan baik.

    Joo Hwan: Jangan menggunakan kata 'sudah'. Masih banyak hal yang harus kukerjakan.

    Do Jae: Mau bagaimana lagi? Bosmu terus memberimu banyak pekerjaan.

    Joo Hwan: Tidak masalah. Aku hanya berinvestasi untuk masa depanku. Kau harus menjadi Presdir agar aku bisa jadi direktur. Aku akan pastikan hal itu tidak menjadi masalah. Aku jenius. Aku kompeten.

    Do Jae: Kau masih belum menyerah akan impianmu?

    Joo Hwan: Itu bukan impian, tapi tujuan yang realistis. Dunia akan mulai terguncang sekarang. Apa langkah selanjutnya?

    Do Jae: Langkah selanjutnya adalah.... menunggu.


    Direktur Kim akhirnya mendengar soal kelemahan Do Jae. 

    Direktur Kim: Lagi pula, simtomnya tidak penting. Hal yang terpenting adalah dia mengidap penyakit. Seseorang yang sakit tidak bisa bertanggung jawab atas perusahaan. Jelas tidak bisa. Itu ide buruk. Kurasa inilah yang ingin Choi Ki Ho katakan padaku.


    Direktur Kim langsung menelfon Ki Ho, mengabari kalau Do Jae sudah mengungkapkan kelemahannya itu kesemua orang.

    Direktur Kim: Dia mengungkapkan kartu yang selama ini kau genggam. Direktur Seo sungguh seseorang yang layak dihormati. Aigoo. Kau pasti sangat kecewa. Makanya, kau seharusnya membagikannya denganku sejak awal.


    Ki Ho langsung menerobos masuk ruangan Sa Ra. Ki Ho marah besar pada Sa Ra. Sudah gila, ya?

    "Katamu, itu hadiah. Bukankah aku berhak membukanya di mana pun? Atau... itu sebuah bom? Kalau begitu, aku melemparkannya padamu. Aku... tidak akan menikahimu."

    "Kau sudah kehilangan akal. Aku membantumu karena merasa kasihan padamu. Bisa-bisanya kau berbuat begini? Kau tidak menyadari yang paling menakutkan."

    "Aku menyadarinya. Aku hampir bergabung denganmu. Itulah yang paling menakutkan."

    "Lebih baik kau berhenti pura-pura. Aku bersikap lunak padamu karena kau seorang wanita, tahu!?"


    Ki Ho akan memukul Sa Ra, untunglah Eun Ho datang tepat waktu dan bisa menahan tangan Ki Ho. 

    Ki Ho: Siapa orang ini? Apa yang terjadi di antara kalian?

    Sa Ra: Aku yang menyuruhnya kemari. Karena ada yang harus kukirim pergi.

    Ki Ho: Aku tidak ingin memercayainya, tapi kurasa itu kebenarannya. Semua ini gara-gara seorang pria? Kang Sa Ra, kau?

    Sa Ra: Kau sungguh percaya semua ini hanya karena seorang pria? Ada banyak pria yang terlibat dalam hal ini.

    Ki Ho pergi dengan kesal.


    Eun Ho bertanya, apa Sa Ra baik-baik saja? Sa Ra menjawab tidak. Sebenarnya Sa Ra ingin menunjukkan apa yang sudah ia buang, makanya ia menyuruh Eun Ho kesana.

    Eun Ho: Aku.. juga ingin membuang sesuatu.

    Sa Ra: Kalau begitu, lakukan.


    Selanjutnya, Ki Ho mendatangi Do Jae. Ki Ho mengancam untuk membatalkan kontrak karena Sa Ra berkata tidak akan menikahinya. Tapi Do Jae dengan santai mempersilahkan Ki Ho melakukannya. 

    "Kau tampaknya tidak memahami situasinya. Kau mengidap sebuah penyakit. Kau tidak tahu hal itu dapat mencederai bisnismu?"

    "Mana aku tahu?"


    Do Jae mencari kontrak mereka di laci, ia menemukannya lalu memberikannya pada Ki Ho, Ki Ho bisa membawanya. Do Jae menunjukkan kemarahannya, ia menggedor meja dan Ki Ho agak terkejut. 

    Do Jae: Kontrak kita dibatalkan. Selama ini aku hanya main-main, tapi aku bukanlah seseorang yang dapat kau permainkan.

    Ki Ho: Apa? Kau selama ini hanya main-main?

    Do Jae: Kau pikir apa alasanku selama ini bersikap lunak padaku? Karena kau bisa membantuku? Karena aku takut padamu? Tidak sama sekali. Hanya ada satu alasan. Adikku. Sekarang, karena adikku sudah mencampakkanmu, kau yakin masih ada alasan untukku.. mempertahankanmu?

    Ki Ho: Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?

    Do Jae: Sampah harus diperlakukan selayaknya sampah.


    Do Jae bersiap seolah akan mmukul Ki Ho. Ki Ho sudah mundur ketakutan.

    Do Jae: Hei. Menurutmu kenapa aku memiliki akuarium yang muat menampung seseorang.. di dalam kantorku?

    Ki Ho melotot ketakutan. Tapi nyatanya Do Jae tidak melakukan apapun, ia hanya menggertak Ki Ho, lalu ia membukakan pintu untuk Ki Ho. 

    "Enyah! Jangan pernah kembali lagi. Jika kau berani dekat-dekat adikku lagi, mati kau! Tidak hanya kau saja. Perusahaanmu juga akan tamat."


    Se Gye tetap menghadiri acara penandatanganan walaupun Woo Mi menyuruhnya membatalkannya.

    Se Gye: Ini waktu terbaik untukku.Lebih baik bagiku menunjukkan wajahku pada mereka. Penggemarku akan merasa lega jika dapat melihat wajahku. 

    Woo Mi: Itu karena kau menyulitkan mereka selama bertahun-tahun ini.

    Se Gye tetap disambut hangat oleh para penggemarnya. Dan acaranya berjalan dengan lancar. Ia tetap dicintai para penggemarnya walaupun skandal yang dibuatnya tidak ada habisnya.


    Se Gye: Aku wanita yang beruntung. Dicintai oleh begitu banyak orang tanpa sebuah alasan.

    Do Jae: Aku seorang pria yang beruntung. Dicintai seorang wanita yang dicintai banyak orang tanpa sebuah alasan.

    Se Gye mempertanyakan awal mula Do Jae mengidap penyakitnya. Do Jae mulai bercerita.

    Do Jae: menjelaskan  Ayah kandungku adalah seorang pemahat. Dia adalah.. seseorang yang begitu bebas. Ketika dia masih bersama dengan ibuku, dia pergi sendirian ke Eropa. Baik aku maupun ibuku, ditinggalkan begitu saja. Tapi, meskipun dia telah mengecewakan kami, dia tetaplah ayahku. Dan selama kami menjalani hidup kami tanpanya, aku mendengar kabar dia sedang sakit. Sebelum dia meninggal, dia bilang ingin bertemu denganku.

    Kilas Balik.. 


    Sebelum Do Jae ke rumah sakit ayahnya, ia mampir sebentar ke hotel. Saat itu ia melihat seorang nenek berlari dan akan tertabrak mobil. Do Jae langsung berlari menyelamatkannya. Ia pun akhirnya yang tertabrak.

    Nenek itu adalah Se Gye. 


    Do Jae langsung dibawa ke rumah sakit. Dioperasi.


    Ibu baru sampai saat Do Jae selesai dioperasi dan terbaring tak sadarkan diri. Ibu menangis memanggil Do Jae.


    Do Jae sempat koma beberapa hari. Ibu tidak bisa berbuat banyak, ia hanya menunggui Do Jae disampingnya. 



    Suatu hari ibu kembali dengan pakaian serba hitam. 

    Ibu: Bangunlah, agar kau dapat melihat ayahmu.


    Sampai akhirnya Do Jae membuka matanya. Ibu akhirnya bisa tersenyum, tapi senyumnya langsung hilang saat Do Jae tidak mengenalinya.

    Kilas Balik selesai..


    Se Gye tiba-tiba terbangun dan berkata harus pulang setelah mendengar cerita Do Jae itu. 

    Se Gye: A..Ada hal yang harus kulakukan. Maafkan aku.

    Do Jae menawarkan diri untuk mengnatar Se Gye pulang tapi Se Gye tidak mau, ia  bisa sendiri. Ia lupa... ia lupa melakukan sesuatu.

    Do Jae: Kurasa memiliki kekasih yang terkenal adalah hal yang buruk. Hati-hati di jalan. Telepon aku sesampainya di rumah.

    Se Gye langsung pergi.


    Di mobil, Se Gye menangis sampai sesenggukan, ia tahu sekarang kalau dirinyalah penyebab Do Jae mendapat penyakit itu

    "Apa yang harus kulakukan? Aku merasa bersalah. Apa yang harus kulakukan sekarang?"


    Se Gye langsung masuk ruang fotonya sesampanya di rumah, ia membanting semua foto-fotonya, ya gak semua sih, tapi beberapa.

    "Aku tidak layak untuk bersamanya. Bagaimana bisa aku tersenyum? Bagaimana bisa aku berbahagia? Aku tidak pantas untuk semua itu."

    Tangan Se Gye sampai luka-luka.


    Do Jae menghubungi Se Gye. Se Gye mengangkatnya. 

    "Kau sampai di rumah dengan selamat? Aku semestinya mengantarmu. Aku terus merasa menyesal membiarkanmu pergi seperti itu."

    Tapi Se Gye tidak menjawab sampai Do Jae harus memanggil Se Gye. 

    "Seo Do Jae-ssi, dengarkan aku baik-baik. Kau seperti itu gara-gara aku."

    "Apa maksudmu?"

    "Gara-gara akulah kau jadi seperti itu."

    0 komentar

    Post a Comment