Tuesday, November 13, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 12 Part 2

    Sumber: jtbc


    Do Jae dan Se Gye jalan-jalan untuk menghilangkan mabuk mereka. 

    "Kau merasa lebih baik setelah jalan sebentar?" Tanya Do Jae.

    "Itulah yang ingin kutanyakan padamu. Kau sudah sadar?"

    "Aku tidak mabuk."

    "Tapi kau tersenyum sepanjang waktu."


    Do Jae hanya merasa bahagia dan terkejut. Se Gye berterimakasih karena Do Jae sudah baik pada teman-temannya.

    "Tidak. Aku yang ingin berterima kasih padamu. Aku tidak berpikir bisa melakukannya dalam kehidupanku ini. Aku tidak berpikir.. bisa mendapatkan teman. Bukankah itu menarik? Melalui cinta, seseorang.. juga mendapatkan pertemanan baru."

    "Sebenarnya, keduanya selalu berjalan beriringan. Persahabatan juga wujud dari cinta."


    Yu Ri kembali menemui orang suruhannya, namun orang itu kembali belum bisa menemukan apapun. Se Gye tampaknya tidak memiliki anak. Se Gye mengencani seseorang, tapi Seo Do Jae orangnya. Lagi pula, sudah tersebar juga di internet.

    "Kau ingin menemuiku selarut ini untuk mengatakan itu kepadaku? Kau tidak melakukan tugasmu dengan benar." Sindir Yu Ri. 

    "Tapi ada satu hal yang mungkin bisa dianggap aneh."


    Yu Ri melihat rekaman CCTV di toilet saat pemakaman ibunya Se Gye. Ia mengingat kembali saat melihat Se Gye keluar dari sana, tapi tidak melihat Se Gye masuk.

    Ia juga ingat soal Woo Joo yang tiba-tiba muncul. Juga ingat perkataan Woo Mi pada Se Gye di lokasi syuting sebelum Woo Joo muncul, bahwa Se Gye selalu kurang stabil selama lima hari sebelum dan setelahnya.

    Yu Ri terpikir sesuatu, "Apa aku jadi gila karena menggali terlalu dalam? Tidak. Ada satu penjelasan yang masuk akal."


    Yu Ri masuk ke sebuah salon kecantikan dan disana ia melihat Se Gye. 

    "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Lihat, 'kan? Sudah kubilang kita akan segera bertemu kembali." Kata Yu Ri setelah mengucapkan salam.

    "Oh, kau kemari untuk menata rambutmu?"

    "Aku segera memulai acara reality show. Mereka akan mengikutiku selama 24 jam penuh."

    "Ah, begitu. Aku mungkin sudah membaca artikelnya."

    "Omong-omong, kau ingat aktor cilik.. yang mendadak muncul di set kita?"

    "Aktor cilik? Siapa?"

    "Ah, kau mungkin tidak tahu. Setelah kau mendadak menghilang, seorang anak tiba-tiba muncul entah dari mana, seolah menggantikanmu."

    Woo Mi datang mendekati mereka. Se Gye tersenyum, sihir itu tidak ada, seseorang tidak mungkin mendadak muncul dan lenyap.

    "Tepat sekali. Terdengar seperti sihir, 'kan? Tidak peduli sekeras apa pun aku mencoba, aku tidak dapat menemukan nama atau nomor ponselnya."


    Woo Mi menjawab pertanyaan Yu Ri soal anak itu. Woo Mi mengakuinya sebagai saudaranya, Yu Woo Joo. Woo Joo sedang tidak di Korea sekarang. Ada apa? Yu Ri ingin bertemu dengannya?

    "Presdir Yu. Bisa aku melakukannya? Dia sangat imut. Akan bagus kalau dia bisa muncul di reality show-ku."


    Tiba-tiba seseorang menyela, "Kenapa berisik sekali?" Orang itu lalu menoleh pada ketiganya dan ternyata ia adalah Sa Ra. 

    Sa Ra: Hei, kau! Kenapa kau berisik sekali?

    Yu Ri bertanya, "Kau... bicara padaku?"

    "Ah.. Apakah salon ini.. dalah milikmu? Bahkan meski iya, kau mengganggu pelangganmu sendiri."

    "Kau tidak mengenali aku?"

    "Aku belum pernah melihatmu. Aku tidak tahu siapa kau. Apa kau mau mengenalkan dirimu?"


    Jawaban Sa Ra itu sukses membuat Woo Mi dan Se Gye menahan senyumnya. Yu Ri kesal dong karena Sa Ra tidak mengenalinya.

    Yu Ri: Siapa orang ini? Siapa dia? Katanya hanya orang top yang datang kemari. Itu sebabnya aku memilih tempat ini.

    Sa Ra: Top? Siapa? Orang itu (Woo Mi)? Kalau dia (Se Gye), aku tahu.

    Yu Ri: Auh, aku pindah ke salon lain saja. Ayo.

    Yu Ri pun pergi dari sana.


    Kemudian Sa Ra mendekati Se Gye. Se Gye berkata kalau ia berhutang kembali pada Sa Ra. Sa Ra menjawab kalau ia tidak benar-benar berniat membantu Se Gye, hanya saja, terlalu berisik.

    "Apa kau sering kemari?" Tanya Se Gye.

    "Tidak, ini pertama kalinya. Tapi, kurasa aku tidak akan kembali kemari. Karena tidak nyaman."

    "Eun Ho.. pasti menunggu teleponmu."

    "Katakan padanya untuk menunggu sedikit lebih lama lagi. Dia harus menunggu.. sedikit lebih lama."

    Sa Ra pergi.


    Woo Mi terkejut, sungguh Eun Ho memilih seorang konglomerat? Se Gye belum bisa memastikannya. 

    "Ryu Eun Ho keparat itu! Sungguh.. Aku bangga sekali padanya." Kata Woo Mi.


    Eun Ho menunggu telfon Sa Ra. Tapi Sa Ra tidak juga menelfon. Eun Ho jadi malas-malasan btw.


    Eun Ho keluar kamat dan tiba-tiba keluarganya meneriakkan "SURPRISE!"

    "Ada apa ini?" Tanya Eun Ho heran. 

    Ibu: Ibu sudah mengambil keputusan. Ibu akan membiarkanmu melakukan yang kau inginkan.

    Ayah: Kita semua harus merayakan hari ini. Secara teknis, kau akan terlahir kembali.

    Ah Ram: Oppa, mulai hari ini kau berusia satu tahun. Perlakukan aku sebagai kakakmu. Tiup lilinnya.

    Eun Ho: Haruskah aku mempertimbangkan ulang untuk menjadi Pendeta?

    Semuanya jelas kaget. Eun Ho tidak menjelaskan, ia lalu pamit untuk bekerja paruh waktu.


    Ayah heran, apa yang terjadi pada Eun Ho? 

    Ibu: Menurutmu? Tuhan mendengarkan doa-doaku.

    A Ram: Matanya Oppa terlihat aneh tapi familier. Para lelaki menatapku seperti itu saat... Ryu Eun Ho! 

    Ayah: Kenapa? Kenapa?

    A Ram: Oppa... punya pacar, ya?

    Ibu: Apa? Omong kosong.

    A Ram: Tatapan matanya itu jelas, kok.


    Direktur Choi menemui Ki Ho, bertanya apa Ki Ho sudah menemui Sa Ra? Apakah ada masalah?

    "Bukankah kau yang ada masalah dengan Direktur Kang?"

    "Jangan mengatakan sesuatu yang mengecewakan seperti itu. Aku hanya mencoba membuatnya bekerja dengan lebih baik. Aku memberinya dorongan kecil untuk lebih memotivasinya. Jangan salah paham. Omong-omong, apakah Direktur Kang tidak berubah pikiran? Dia memikirkan hal yang sama denganmu?"

    "Memangnya penting yang dia pikirkan? Hal yang lebih penting adalah kita menjatuhkan Seo Do Jae dan membuat Direktur Kang mengambil alih posisinya. Setelah itu..."

    "Sssstt! Kita semua tahu yang akan terjadi selanjutnya, jadi jangan dibicarakan. Aku akan membantumu. Iya, 'kan? Tapi, soal kelemahan Seo Do Jae... Biarkan aku mengetahuinya juga, Presdir Choi. Kita berada di pihak yang sama, 'kan? Berhentilah menyembunyikannya dariku."

    "Kau akan tahu pada saat yang tepat."

    "Kau benar. Segala sesuatu memiliki waktu masing-masing."


    Sa Ra jalan bareng Ki Ho. Ki Ho menyinggung soal Sa Ra yang mengubah gaya rambutnya, karena dirinya? Sa Ra menegaskan, ia mengubah gaya rambutnya tidak untuk orang lain. 

    "Kau menyukai hadiah yang kuberikan padamu?" Tanya Ki Ho. 

    "Hadiah? Lebih tepat disebut bom."

    "Tergantung bagaimana kau memanfaatkannya."

    "Tergantung juga ke mana aku mengirimnya."

    "Kau sudah lupa? Kau yang duluan menghampiriku. Kau bilang ingin mengambil alih perusahaan itu."


    "Tahu. Aku memang bilang begitu. Tidak bisa dipercaya aku adalah orang seperti itu."

    "Apakah karena dia? Bajingan yang datang ke rumahmu hari itu?"


    Ki Ho mendorong Sa Ra sampai mengenai orang yang sedang jalan dan membawa kopi, kopinya tumpah mengenai baju orang itu dan sepatu Sa Ra. Tapi bukannya minta maaf, Ki Ho malah memberi beberapa lebar uang untuk orang itu. 

    Si Cowok kesal dan akan marah, tapi ceweknya mengajaknya pergi daripada ribut disana.


    Sa Ra: Kau tidak tahu cara minta maaf, ya?

    Ki Ho: Maaf untuk apa? Cukup beli sepasang sepatu baru.


    Tiba-tiba ada seseorang yang mengelap sepatu Sa Ra, Eun Ho lah orangnya. 

    Sa Ra: Kurasa, aku menata rambutku, agar dia dapat melihatku.

    Ki Ho: Kalian berdua sangat menyedihkan.

    Ki Ho pun langsung pergi dengan kesal.


    Eun Ho bertanya, kenapa Sa Ra tidak menelepon? Katanya akan meneleponku.

    "Kalau begitu, kutelepon sekarang."

    "Sekarang aku tidak bisa. Aku harus menjual semua tas itu."

    "Tidak akan ada masalah. Aku beli semuanya."

    Sa Ra mengulurkan kartu kredirnya setelah melihat semua tas yang Eun Ho pajang.


    Eun Ho mengajak Sa Ra minum di tempat biasa ia minum bareng Woo Mi dan Se Gye. EUn Ho tanya, apa benar Sa Ra tidak apa disana? Sa Ra balik nanya apa Eun Ho yang tidak apa disana? Apakah tidak masalah membawanya ke tempat camilan favorit?

    Sa Ra: Aku baru saja selangkah lebih dekat.. dengan kehidupan pribadimu sekarang.

    Eun Ho: Yah...

    Sa Ra: Kenapa kau harus muncul dan mengusap sepatuku saat itu? Pakaianmu jadi kotor.

    Eun Ho: Aku tinggal mencucinya saja.

    Sa Ra: Tidak akan bersih.

    Eun Ho: Kalau begitu, kubuang.


    Sa Ra tersenyum, kenapa Eun Ho mengeluarkan begitu banyak uang untuknya? Eun Ho merasa tidak masalah, ia tinggal cari uang lagi. Sa Ra kembali tersenyum, ia lalu menuang minuman, tapi sebelum meminumnya ia bertanya,

    "Kenapa kau ingin menjadi Pendeta?"

    "Tidak ada alasan."

    "Tidak ada alasan?"

    "Kenapa kau ingin menjadi wanita yang keren? Kenapa kau ingin menjadi berbakat? Seperti itulah perasaanku. Alasan? Sama sekali tidak ada. Itu impianku. Sejak sangat lama."

    "Itu bagus. Tidak memiliki alasan dan sebagainya."


    Sa Ra meminum minumannya tadi, bagianya, selalu memiliki sebuah alasan. Ia ingin bertahan dan tidak ingin diremehkan oleh orang lain. Semua alasan itu bercampur dan menjadikan dirinya yang sekarang. Menjadi sebuah kebiasaan.

    Sa Ra: Baiklah, aku mengerti. Aku akan pulang sekarang. Aku akan membiarkan Tuhan memilikimu.

    Eun Ho: Kenapa kau memutuskan siapa yang dapat memilikiku? Aku ingin menemukan alasan... mengapa impianku berubah menjadi dirimu.

    Sa Ra: Katamu, kau menyukai orang baik?

    Eun Ho: Ya.

    Sa Ra: Aku orang yang jahat. Aku bahkan berbohong padamu.

    Eun Ho: Aku tahu.

    Sa Ra: Apakah orang baik dan orang jahat.. bisa bersama? Haruskah kita berteman?

    Eun Ho: Pria dan wanita tidak bisa berteman.

    0 komentar

    Post a Comment