Sunday, November 11, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 11 Part 4

    Sumber: jtbc


    Sa Ra sampai di rumah dan langsung ada yang membunyikan bel, ternyata yang datang adalah Eun Ho. Sa Ra pun keluar untuk membukakan pintu. Eun Ho bertanya kenapa Sa Ra menyukainya.

    "Karena kau tampan."

    "Bernilai sebagai komoditas. Itukah maksudmu?"

    "Kau adalah.. orang yang paling tampan yang pernah kutemui seumur hidupku. Dan pria tampan itu.. bahkan mendengarkan aku. Dia datang saat aku membutuhkannya. Dia memastikan aku makan. Kadang, dia bahkan membuatku makan sesuatu yang sangat manis. Kenapa? Kau merasa terbebani?"

    "Kau sudah bertunangan, 'kan? Dengan pria bernama Choi Ki Ho? Kenapa kau bohong padaku?"

    "Aku tidak pernah berbohong padamu. Aku hanya.. menyembunyikannya darimu. Pada awalnya, kupikir tidak perlu memberitahumu. Setelah itu, aku tidak ingin mengatakan padamu."

    "Kau tidak tahu malu."

    "Aku tahu. Seperti itulah diriku."

    "Tapi, kenapa aku menyukainya?"


    Tepat saat itu Ki Ho datang. Sa Ra pun mengakhiri pembicaraannya dengan Eun Ho, ia menyuruh Eun Ho pulang, bicaranya dilanjutkan lain kalai saja.

    Eun Ho: APa? 

    Sa Ra: Kenapa kau tidak memberitahuku? Aku sedikit terkejut.

    Ki Ho: Aku senang mendengarnya. Aku ingin mengejutkanmu.

    Sa Ra: Ayo masuk. Kita bicara di dalam.


    Setelah Ki Ho masuk ke dalam, Sa Ra berkata pada Eun Ho kalau ia akan menghubungi Eun Ho. Eun Ho bisa kesana lagi saat itu.

    Sa Ra: Katamu, kau akan datang jika kutelepon. Jadi, datanglah saat aku meneleponmu.

    Sa Ra lalu menutup pintu dan berjalan masuk ke dalam. Eun Ho ditinggalkan.


    Ki Ho: Kau pasti sudah tahu aku kembali. Kau tidak tampak terlalu terkejut.

    Sa Ra: Sayangnya, aku sudah dengar.

    Ki Ho: Jadi, siapa pria itu?

    Sa Ra: Kau sungguh bertanya padaku.. dalam hubungan kita ini?

    Ki Ho: Sekali lagi, kau tidak mungkin menyerah akan ambisimu hanya karena bertemu seorang pria tampan. Kang Sa Ra yang kukenal bukan orang seperti itu. Sebab itulah aku memilihmu sebagai rekanku.

    Sa Ra: Jadi, kenapa kau kemari?

    Ki Ho: Kenapa? Memang aku butuh alasan untuk menemui tunanganku?

    Sa Ra: Begitu? Kalau begitu, kita sudah bertemu jadi cukup, 'kan?


    Sa Ra bangkit, tapi Ki Ho malah membahas Do Jae dan itu sukses menghentikan Sa Ra yang akan melangkah.

    Ki Ho: Kakakmu tetap tampak seperti bajingan setelah sekian lama. Oh.. Kau tidak setuju denganku? Apa kalian menjadi dekat?

    Sa Ra: Bukan seperti itu. Aku lelah. Pulanglah.

    Ki Ho: Tidak banyak waktu tersisa untuk Grup Sunho. Aku bisa pastikan itu menjadi milikmu. Aku juga akan terbantu jika Grup Sunho menjadi milik istriku.

    Sa Ra: Itu milikku, bukan milikmu.

    Ki Ho: Baiklah. Kalau kau bilang begitu. Aku membawakanmu hadiah.

    Sa Ra: Hadiah? Sejak kapan kau suka memberi hadiah?

    Ki Ho: Ini informasi yang akan kau sukai. Kelemahan Seo Do Jae.


    Eun Ho menghubungi Se Gye untuk menemaninya minum. Se Gye heran kenapa Eun Ho ingin minum dengannya begitu ia tiba di Seoul. ada apa?

    "Aku tidak punya teman minum yang lain. Maaf karena memintamu datang pada situasi seperti ini."

    "Aigoo. Kau bisa memintaku datang kapan saja. Aku sangat ingin menghiburmu."

    Eun Ho akan minum lagi, Se Gye semakin heran dibuatnya karena Eun Ho tidak biasanya banyak minum. 

    "Aku.. menetapkan pilihan dan pergi menemuinya. Tapi, aku malah diusir. Pintunya tertutup tepat di depanku. Aku berdiri di depan pintu itu selama beberapa saat. Tapi, pintunya tidak terbuka. Tidak peduli selama apa pun aku menunggu. Itu membuatku.. memahami yang dia rasakan. Astaga." Cerita Eun Ho.

    "Kau mabuk, ya?"

    "Ya."

    "Bagaimana perasaannya? Dia menyukaimu?"

    Eun Ho mengangguk. 


    "Hei. Aku bicara berdasarkan pengalaman. Jangan menyimpulkan sendiri. Maksudku, tidak apa berpikir, tapi kau harus menyampaikan isi pikiranmu padanya. Sesegera mungkin. Jika tidak, akan menyakitkan."

    "Dia akan terluka?"

    "Lihat dirimu. Tidak bisa diharapkan. Kau lebih peduli padanya dibanding dirimu sendiri. Cinta pertamamu tampaknya begitu intens."

    "Cinta? Aku belum yakin. Selama 10 tahun aku menggenggam impian itu. Tidak bisa kupercaya, aku menyerah begitu mudah."

    "Hei, bagaimanapun itu masih sebatas impian. Apa masalahnya kalau impianmu berubah? Tidak akan ada yang mengkritikmu. Kalaupun ada, aku dan Woo Mi tidak akan tinggal diam. Kenapa Kang Sa Ra harus secantik itu?"

    "Hei. Bagaimana kau bisa tahu?"

    "Apa?"

    "Kang Sa Ra."

    "Mana mungkin aku tidak tahu? Mereka berdua memiliki banyak masalah. Dia dan kakaknya."

    "Iya, 'kan? Memang banyak."


    Yu Ri menemui orang suruhannya untuk mendengarkan laporan hasil menguntit Se Gye. Tapi orang itu belum mendapatkan banyak informasi.

    "Tidak, aku yakin soal ini. Aku tahu, dia menyembunyikan sesuatu. Entah seorang anak atau masalah lainnya. Teruslah menggali. Jika kau menemukan bukti, aku akan membayarmu sebanyak yang kau mau."

    "Aku akan menghubungimu."


    Se Gye menjalani pemotretan. Fotografer mengagumi Se Gye yang terlihat bahagia seperti biasanya. Sepertinya Se Gye selalu tampak bahagia setiap kali bertemu dengannya. Boleh ia tebak? Ia rasa itu L-O-V-E. Love.

    Se Gye: Entahlah. Mungkin karena aroma parfumnya menenangkan?


    Saat istirahat, Woo Mi membicarakan Eun Ho, ia dengar semalam Eun Ho mabuk berat. Se Gye mengoreksi, bukan mabuk berat, cuma sakit cinta.

    "Hei. Kalian berbagi rahasia selagi aku tidak ada?"

    "Siapa tahu? Itu rahasia."

    "Wah, jahat sekali. Sakit rasanya."

    "Siapa suruh kau mengabaikan teman-temanmu dan menemui kekasihmu?"

    "Tidak bisa dipercaya. Kau sendiri? Kau pergi wisata diam-diam--"

    "Tutup mulutmu."

    "Tutup mulut buat apa? Jika terus begini, kau akan berakhir menikahinya."

    "Sudah kubilang tutup mulut!"

    "Kau mungkin akan menikah."

    "Menurutmu begitu?"


    Orang suruhan Yu Ri ada disana, Se Gye mulai merasa ada sesuatu, tapi ia tidak bilang pada Woo Mi.


    Se Gye baru mengaku pada Woo Mi saat mereka dalam perjalanan pulang. Se Gye mengaku merasakan yang aneh. Woo Mi kaget, apa? ada apa? APa Se Gye akan berubah lagi? 

    "Tidak, bukan perasaan itu." Jawab Se Gye.

    "Lalu apa? Kau tidak enak badan? Demam atau semacamnya?"

    "Bukan itu juga. Hanya saja.. Bagaimanapun, rasanya ada yang aneh. Seolah.. seseorang sedang mengawasiku."

    "Mengawasimu? Mungkinkah reporter membuntutimu?"

    "Mungkin."

    "Hei, kau sebaiknya hati-hati untuk sementara waktu. Saat punya firasat buruk, hal terbaik adalah menyembunyikan diri. Aku akan tanya Reporter Park dan mencari tahu yang membuntuti kita. Hei. Omong-omong, ibu mertuamu adalah wanita yang mengagumkan."

    "Dia bukan ibu mertuaku. Belum."

    "Tidak ada satu artikel pun tentangmu belakangan ini. Aku tanya Reporter Park, dan dia bilang ibu mertuamu memblokir semua media. Aku senang dia memihakmu. Tapi, kurasa aku yang sedang sakit sekarang. Apa hanya aku yang merasa kedinginan? Kenapa tubuhku rasanya gemetaran sekarang?"


    Se Gye lalu memberikan mantelnya untuk Woo Mi. Woo Mi tersanjung diperlakukan dengan spesial oleh Se Gye. Tapi itu langsung sirna saat Se Gye menrima telfon dari Do Jae.


    Do Jae: Apa kau ingin makan sesuatu?

    Se Gye: Ya. Bahkan kalaupun tidak ada, aku akan mengada-adakannya.

    Do Jae: Aku senang mendengarnya. Jika kau bilang tidak, aku berniat memaksamu memakan sesuatu. Kau ingin makan apa?

    Se Gye: Emmm.... 

    Do Jae: Cepat pilih sesuatu.

    Se Gye: Ah, sushi.

    Do Jae menoleh ke kursi sebelah dan ternyata ia sudah membeli sushi. 

    Do Jae: Karena kau memilih menu yang luar biasa, kita akan lekas bertemu.

    Se Gye: Sungguh? Aku bangga pada diriku sendiri. Lalu, kenapa kita tidak... membicarakan tentang hari di mana kita bertengkar di restoran sushi?

    Do Jae: Soal itu, kau yang memprovokasiku.


    Se Gye masuk duluan saat mereka sampai, ia harus ganti baju. Woo Mi memakai mantel Se Gye karena dingin.


    Do Jae sampai, ia keluar dari mobil dengan membawa sushi tadi. Do Jae melihat Woo Mi sedang mengeluarkan sesuatu dari bagasi, tapi ia pikir itu adalah Se Gye karena mantel Se Gye yang dipakai Woo Mi. Se Gye memakai mantel itu saat mereka berlibur kemarin. 

    Do Jae memanggil nama Se Gye. Woo Mi menoleh, mereka saling tatap, tapi Do Jae tetap belum sadar kalau itu Woo Mi.

    Do Jae: Kau sedang menungguku? Atau kau menunggu sushi-mu? Tidak peduli apa pun itu. Sedang apa kau? Ayo ke dalam.

    Woo Mi: Oh.. Seo Do Jae-ssi. Seo Do Jae-ssi, aku--

    Do Jae: Presdir Yu. Maafkan aku. Di sini gelap, aku salah orang.

    Do Jae lalu menitipkan sushi itu pada Woo Mi untuk diberikan pada Se Gye dan ia pamit.

    Do Jae masuk lagi ke mobilnya, meninggalkan Woo Mi yang masih terkejut dengan situasi ini. Do Jae ngebut btw.


    Joo Hwan membuka catatan Do Jae tentang orang-orang terdekatnya dan ia menemukan catatan tentang Se Gye dengan wajah berbeda-beda. Joo Hwan heran, apaan semua itu? 


    Do Jae berhenti di depan rumahnya dan ia mendapat telfon dari Se Gye. 

    Se Gye: Kau baik-baik saja? Woo Mi mengatakan semuanya padaku. Aku akan menjelaskan pada Woo Mi...


    Tapi tiba-tiba ada mobil datang dari arah depan. Do Jae tidak bisa menjawab Se Gye karena silau lampu mobil.


    Ternyata itu adalah Sa Ra. Sa Ra turun dar mobilnya dan langsung menghampiri Do Jae. Ia bahan membuka pintu mobil Do Jae, lalu melemparkan sebuah amplop. 

    "Sedang apa kau?" Tanya Do Jae. 

    "Apakah itu benar? Katakan yang sebenarnya! Kau sungguh tidak bisa mengenali wajah orang?"

    0 komentar

    Post a Comment