Sunday, November 11, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 11 Part 3

    Sumber: jtbc



    Direktur Kim mendatangi ruangan Sa Ra. 

    Direktur Kim: Aigoo, kelihatannya kau sangat sibuk.

    Sa Ra: Sudah tahu, tapi kau menerobos masuk seenaknya sendiri?

    Direktur Kim: Kau mulai lagi. Jangan mengatakan hal-hal yang mengecewakan. Jika kita bekerja untuk perusahaan yang sama, kita ibarat sebuah keluarga. Jika seorang anggota keluarga mampir begini, kau seharusnya senang. Aigoo. Kadang saat aku melihatmu, kau begitu dingin.

    Sa Ra: Omong kosong apa lagi sekarang?

    Direktur Kim: Choi Ki Ho. Dia kembali ke Korea.


    Sa Ra langsung mengangkat kepalanya.

    Direktur Kim: Kau tidak tahu? Aku tahu pernikahan ini bukan atas dasar cinta, tapi kau bahkan tidak tahu calon suamimu pulang. Tapi, aku sangat kagum dengan kepintaranmu. Kau sangat mengagumkan. Harus kukatakan, Presdir Choi.. merupakan pilihan terbaik untuk memperkuat pengaruhmu. Dia berasal dari konglomerat murni. Juga seorang putra tunggal. Tapi, buruk sekali karena dia seorang bajingan.

    Sa Ra: Direktur Kim (melototi Direktur Kim).

    Direktur Kim: Aigoo. Kau lebih dingin lagi sekarang. Kau membuatku takut. Sebaiknya aku pergi. Jangan dimasukkan ke dalam hati. Aku hanya mampir untuk menyampaikan kabar padamu, supaya kau tidak merasa kecewa. Aku datang dengan niat baik. Aku sibuk, jadi aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa. Aneh sekali. Kalau aku, seharusnya aku khawatir. Astaga.


    Eun Ho datang ke sebuah kelab karena ada yang membutuhkannya untuk supir pengganti. Petugas menyuruhnya masuk ke ruang VIP.


    Disanalah Choi Ki Ho berada, ia sedang minum dengan rekannya.

    Rekan: Kau benar-benar tidak waras. Besok kau bertemu calon istrimu.

    Ki Ho: Hei, meskipun pernikahannya direncanakan, semua itu tidak lebih dari urusan bisnis. Ini sama sekali bukan masalah. Kau pikir si jalang itu tidak tahu tentang kelakuanku? Semua ini karena ada hal yang dia perlukan dariku.

    Rekan: Wah, kau bicara seolah tidak dapat apa pun darinya. Kau hendak memanfaatkan Kang Sa Ra untuk menjatuhkan Grup Sunho.

    Ki Ho: Kau benar.

    Rekan: Sebelumnya, Seo Do Jae datang dan memakiku saat aku sedang marah. Kau seharusnya melihatnya. Kekacauan yang tidak boleh kau lewatkan. Dia hadiah pernikahan kecil yang dapat kau kendalikan.


    Eun Ho masuk, Ki Ho bertanya siapa Eun Ho. Eun Ho dengan remah mengenalkan diri sebagai supir pengganti, tapi Ki Ho jawabannya sombong banget. Ki Ho bahkan melemparkan kunci mobilnya ke kaki Eun Ho. 

    Ki Ho: Keluarlah dan nyalakan mobilnya.

    Rekan: Wah, Choi Ki Ho, kau tidak kehilangan temperamenmu itu.

    Ki Ho: Kenapa? Aku melakukan hal yang salah? Ada masalah?


    Saat menyetir untuk Ki Ho, Eun Ho mendengar Ki Ho bicara di telfon.

    Ki Ho: Aku hanya mencintaimu. Kang Sa Ra? Siapa Kang Sa Ra? Ah, benar. Siapa dia? Maksudmu, Kang Sa Ra dari One Air? Dia sangat menjengkelkan. Dia seharusnya mengibaskan ekornya padaku dan patuh. Oh-ho. Pernikahan ini tidak didasari cinta. Wanita itu terobsesi untuk mengalahkan kakaknya. Orang-orang ambisius semuanya sangat menyedihkan.

    Eun Ho kesal, ia sengaja menggoyangkan mobil untuk membalas Ki Ho.


    Se Gye bangun pagi ini, tapi tidak ada Do Jae disampingnya, ia tidak mencari, ia hanya membuka jendela dan menikmati pemandangan laut yang tersuguh di depannya.


    Tiba-tiba Do Jae memeluknya dari belakang dan memberinya kopi.

    Se Gye: Lihat dirimu. Kau seperti seorang ahli.

    Do Jae: Ahli?

    Se Gye: Kau tidak perlu tahu.

    Do Jae: Kau tidak lapar?

    Se Gye: Oppa, aku sangat lapar sekarang.

    Do Jae: Wuah. Kau memang sangat ahli.

    Dan keduanya saling tersenyum.


    Saat matahari sudah agak tinggi, mereka jalan-jalan.

    Se Gye kembali tertarik dengan keramik magnet. Sementara Do Jae menemukan sesuatu, ia pergi tanpa pamit pada Se Gye.


    Se Gye menyadari Do Jae tidak disampingnya, ia bingung, ia panik, ia mencari Do Jae, tapi tidak ketemu. Apalagi disana semakin banyak orang.

    Se Gye melihat seseorang yang mirip Do Jae, ia menghampirinya, tapi dia bukan Do Jae. Se Gye semakin panik, aalagi orang-orang mulai mengenalinya dan mulai memotretnya.


    Sampai akhirnya Se Gye melihat Do Jae di dekat air mancur. Jantung Se Gye berdetak kencang, ia langsung berlari menuju Do Jae.


    Se Gye langsung menarik tangan Do Jae. Do Jae agak terkejut juga.

    Se Gye: Pasti begini rasanya bagimu untuk menemukanmu. Pasti membuatmu stres dan ketakutan. Mungkin, bahkan ada saat di mana kau salah mengenali orang tidak dikenal sebagai aku dan merasa kecewa. Tapi kau tetap tidak menyerah dan menemukan aku. Terima kasih. Terima kasih banyak.

    Do Jae: Kau tidak perlu berterima kasih. Sudah kubilang, aku melakukannya untuk diriku sendiri.


    Do Jae menunjukkan kalung yang baru ia beli. Niatnya ingin memberi Se Gye kejutan, tapi Se Gye justru merasa ketakutan. Do Jae meminta Se Gye memegang kalung itu sebentar, tapi ia belum memberikannya lho!

    Do Jae mencopot kalung Se Gye, lalu memakaikan kalung tadi untuk menggantikannya.

    Do Jae: Sekarang, aku bisa mengenalimu, tidak peduli bagaimanapun penampilanmu.


    Se Gye meletakkan kalung lamanya di air mancur dan ia menggandeng tangan Se Gye.

    Se Gye: Ayo kembali sekarang. Ke rumah.


    Sa Ra melihat ponselnya, menatap nama Ki Ho di daftar kontaknya. Lalu ia menatap bunga itu. Sa Ra menghela nafas.


    Akhirnya Sa Ra menghubungi Eun Ho. 

    "Di mana kau? Kutanya, di mana kau? Jangan membuatku bertanya sampai ketiga kali."

    "Aku di gereja."

    "Gereja yang mana?"


    Eun Ho mengaku oada Pendeta kalau ia belum yakin, tapi ia takut akan berakhir mengulur waktu lagi jika tidak memutuskan sekarang.

    "Julian. Kau tidak akan pernah tahu ke mana jalan yang belum kau susuri mengantarkanmu, terlepas dari tujuan awalnya. Bagaimana dengan mencoba.. jubah ini dulu?"

    "Tidak. Untuk layak mengenakan jubah, aku masih harus melalui beberapa tahun dan juga berdoa lebih teguh. Itu..."

    "Jika dapat membantumu menemukan jalanmu, Tuhan tidak akan pernah mengkritisimu karenanya."


    Akhirnya Eun Ho pun memakai jubah Pastor itu. Ia menatap dirinya di cermin. Kebetulan saat itu Sa Ra datang.

    Sa Ra: Kenapa? Kau tidak bisa memalingkan muka.. karena cocok sekali denganmu?

    Eun Ho tidak menjawabnya, ia lalu mendekat pada Sa Ra.


    Sa Ra tampak kecewa. Jelas-jelas tadi ia tanya dimana Eun Ho, itu artinya ia akan datang kesana. Dan inikah.. yang ingin Eun Ho tunjukkan padanya?

    "Aku hanya ingin memastikan sesuatu."

    "Kau yakin bukan untuk.. mengujiku? hah! Apa kau bahkan tahu.. apa yang telah kukorbankan untuk datang kemari?"

    "Apa yang kau korbankan? Katakan padaku. Apa yang kau korbankan untuk datang kemari?"

    "Kenapa aku harus mengatakannya padamu?"

    "Aku harus mendengarnya untuk memutuskan.. apakah aku harus menyerah atas sesuatu."

    "Lupakan. Sejak awal, itu bukan permainan yang dapat kumenangkan. Kupikir, Tuhan itu baik, tapi Dia lebih perhitungan dari yang kukira. Apakah Dia tidak mengabulkannya karena aku tidak memiliki keyakinan pada-Nya? Atau.. Dia sedang menghukumku.. karena aku jahat?"


    Sa Ra pergi dan Eun Ho memegangi dadanya melihat punggung Sa Ra yang semakin menjauh.

    0 komentar

    Post a Comment