Sunday, November 11, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 11 Part 2

    Sumber: jtbc


    Eun Ho lewat di depan toko bunga dan ia langsung ingat pada Sa Ra. Sa Ra bilang kalau ia mendapatkan tanaman sebagai hadiah ulang tahunnya dan tanaman itu memiliki arti, "Kebahagiaan yang ditakdirkan terjadi".


    Eun Ho pun masuk ke dalam, bertanya pada pemilik toko apa ada sebuah tanaman yang berarti "Kebahagiaan yang ditakdirkan terjadi"?

    "Ah, pasti maksudmu marigold, ya?" Tanya pemilik.

    "Marigold?"

    "Tapi, menariknya adalah, marigold memiliki dua arti."


    Sa Ra di kantornya browsing mengenai Arti Marigold, ada dua artinya "Kebahagiaan yang ditakdirkan terjadi" dan "Sebuah cinta yang sedih" tergantung jenisnya.

    Sa Ra: Sudah kuduga. Arti yang kedua... lebih cocok untukku.


    Eun Ho menunggu Sa Ra di lobi seperti biasa, ia datang dengan membawa bunga itu karena terus mengusiknya. 

    "Apa ini?" Tanya Sa Ra.

    "Bahkan meski bukan aku, kebahagiaanmu pasti.. akan datang."

    "Kau datang jauh-jauh kemari untuk mengatakannya? hah.. Inilah sebabnya, aku tidak menyukai orang baik. Jika kau merasa terganggu, lupakan yang kukatakan. Saat itu, aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Karena kau baik padaku, maka hari itu terjadi begitu saja. Aku tidak biasanya seceroboh itu. Semestinya aku tidak mengatakannya."


    Sa Ra melewati Eun Ho, tapi Eun Ho tiba-tiba mengatakan kalau ia sudah mendaftarkan aplikasinya ke seminari. Sa Ra langsung menghentikan langkahnya.

    "Adakah sesuatu... yang ingin kau katakan padaku?" Tanya Eun Ho saat Sa Ra menoleh padanya.

    "Tidak ada." Sa Ra melanjutkan jalannya.


    Eun Ho bergumam, "apa.. yang kuharapkan untuk kudengar darinya?"


    Se Gye dan Yu Ri melakukan adegan terakhir, mereka melakukan adu tembak. Semuanya tersenyum setelah adegan itu usai.


    Se Gye langsung menghampiri Sutradara, ia mengucapkan terimakasih banyak untuk segalanya. Ia ingin berterima kasih karena memberinya kesempatan ini dan memercayainya.

    "Melihatmu, aku mulai berpikir.. bahwa mungkin akulah yang sudah berubah. Kau selalu sama. Tapi aku menghakimimu berdasarkan yang orang lain katakan. Maafkan aku. Terima kasih.. sudah memberiku kesempatan kedua. Senang bekerja sama lagi denganmu." Ucap Sutradara dan mengakhirinya dengan mengulurkan tangan.


    Se Gye menyambutnya dengan kedua tangannya, ia membungkuk berterimakasih. 


    Selanjutnya, Se Gye menghampiri Yu Ri, mengatakan kalau mereka kita tidak akan bertemu untuk sementara waktu. Se Gye mengajak berjabat tangan. Yu Ri menyambutnya sambil menjawab,

    "Siapa tahu? Mungkin kita akan segera bertemu lagi."


    Se Gye lalu mendapat telfon, dari Do Jae (Paman). Do Jae bertanya, sudah selesai kah? 

    "Kau menakutkan. Bagaimana kau bisa tahu?"

    "Aku kan sudah menunggu sangat lama untuk hari ini."

    "Di mana aku harus menemuimu?"

    "Di sini."


    Se Gye melihat sekitar dan ia melihat Do Jae berdiri disamping mobil dengan membawa sebuket bunga.


    Se Gye langsung berlari ke pelukan Do Jae. 


    Do Jae mengajak Se Gye naik pesawat, ia bahkan menyewa satu kabin di kelas bisnis untuk mereka berdua.

    Se Gye: Sungguh? Kau sungguh menyewa semuanya?

    Do Jae mengangguk.

    Se Gye: Pacarku sangat mengagumkan.

    Do Jae: Pacarmu memang sangat mengagumkan.

    Do Jae lalu duduk diikuti Se Gye.


    Setelah keduanya duduk, masuklah tiga orang, pilot dan dua pramugari.

    Pilot: Selamat sore, Direktur Seo. Saya Kapten Baek Min Seok, penanggung jawab penerbangan hari ini. Kami akan melakukan yang terbaik untuk membuat perjalanan Anda menyenangkan.

    Do Jae: Terima kasih sebelumnya.


    Ketiganya kembali bertugas dan pesawat pun take off.

    Se Gye bertanya, inikah saatnya mengatakan, "Aku belum pernah melihat seorang pilot menyapa penumpang."

    Do Jae menjawab, "Begitukah? Aku terbiasa dengan hal itu."

    Se Gye gak bisa nahan tawa, karena itu adalah percakapan mereka saat pertama kali terbang bersama.


    Se Gye: Ini lucu sekali. Aku tidak menyangka kita akan menjadi seperti ini.

    Do Jae: Aku mungkin seharusnya sudah tahu. Karena aku merasa gugup. Ketika kau menyandarkan kepalamu di bahuku, bahkan membalik halaman pun aku tidak sanggup.

    Se Gye: Sungguh?

    Do Jae: Aih, seharusnya itu jadi rahasia.

    Se Gye tertawa bahagia. 


    Se Gye mengulanginya, ia menyenderkan kepalanya di bahu Do Jae, bagaimana? Sekarang Do Jae juga merasa gugup? 

    "Sekarang.. giliranmu untuk merasa gugup."


    Do Jae menyuruh Se Gye melihat ke jendela.

    Do Jae: Sapalah.. Ibumu. Ini adalah titik terdekat dengan langit.

    Se Gye berkaca-kaca.


    Narasi Do Jae: Aku ingat saat pertama kali membeli ikan. Ketika ikan itu berenang di akuarium berwarna biru, mereka tampak seolah sedang terbang di langit. Aku terbiasa duduk di depan akuarium.. dan menatap ikan itu dalam waktu lama.


    Ada saat di mana aku pikir hanya itu yang kumiliki di dunia ini. Duniaku yang aneh, di mana segalanya tampak sama. 

    Se Gye mengajak Do Jae bergandnegan tangan.

    "Dan seorang wanita aneh masuk... ke duniaku yang aneh."


    Se Gye: Aku mendadak teringat ayahku. Ibuku bilang bahwa ayahku.. mendadak muncul entah dari mana.. dan bersikap begitu baik. Dia tiba-tiba membuatnya jatuh cinta.. lalu mendadak menghilang. Kau juga sama seperti itu. Kau mendadak muncul dalam kehidupanku, dan tiba-tiba bersikap begitu baik. Kau mendadak membuatku jatuh cinta.

    Do Jae: Aku tidak akan menghilang.


    Se Gye: Sungguh?

    Do Jae: Sebab itu, kau juga sebaiknya tidak menghilang. 

    Kuharap kau tetap menjadi aneh.. seperti dirimu saat ini. Tidak peduli seaneh apa pun itu, aku hanya berharap kau bahagia.


    Mereka juga main ke pantai, disana, Do Jae memotret Se Gye. Tapi Se Gye juga mau memotret Do Jae.

    "Sekali lagi. Kelihatan bagus. Lihatlah." Kata Se Gye.


    Do Jae pun melihat hasil jepretan Se Gye. Ia menyukainya.

    Jika kau bahagia, ku akan ikut bahagia.


    Malamnya, mereka membuat api unggun. Se Gye cerita saat ia berubah menjadi Woo Joo. 

    "Ibuku dan aku.. menghabiskan waktu bersama seperti saat aku masih kecil. Ibuku dan aku makan bersama, menonton TV bersama, dan tidur bersama. Saat itu, aku tidak tahu. Kurasa, kenangan itu ditujukan untuk saat ini."

    "Ada banyak momen yang baru kau sadari setelah hal itu berlalu."

    "Bagaimana menurutmu kita akan mengingat momen ini saat waktu telah berlalu? Emmm... Kuharap aku akan mengingat momen ini sebagai kenangan terindah."

    "Mungkin saja bukan kenangan terindah."

    "Kenapa? Kau akan membuatku lebih bahagia?"

    Do Jae mengangguk. Se Gye tersenyum.


    Se Gye: Aku akan menjadi lebih bahagia. Ibuku ingin aku hidup bahagia. Dia tidak ingin aku menangis.. dan menjalani kehidupanku dalam kesedihan. Aku akan lebih banyak tersenyum.. dan juga mencintai.

    Do Jae: Apa kau sedang mendeklarasikan cintamu padaku?

    Se Gye: Ya. Aku akan membuatmu bahagia. Aku akan terus membuatmu bahagia dalam waktu yang lama. Sangat bahagia hingga momen itu tidak terlupakan.

    Keduanya saling tersenyum, kemudian bersamaan menatap bintang-bintang di langit.

    0 komentar

    Post a Comment