Saturday, November 10, 2018

Sinopsis The Beauty Inside Episode 11 Part 1

Sumber: jtbc


Se Gye pulang sambil membawa kardus, ia juga sedang bicara di telfon. 

"Oh, aku baru saja sampai. Tak apa. Tidak akan makan waktu lama. Kingkang? Kingkang masih di rumah Eun Ho."


Ternyata isi kardus itu adalah foto ibunya dan pot tanaman.

Se Gye: Ibu hidup dengan begitu disiplin. Ibu merapikan dengan baik, sampai tidak ada apa pun yang dapat dibersihkan. Tak apa. Hanya foto ibuku... dan tanaman bunganya.


Se Gye meletakkan pot bunga itu di luar dan membawa sisanya masuk. Se Gye menyudahi telfonnya.


Se Gye menatap rumahnya yang sepi, ia bergumam, "Tempat ini tampak begitu damai tanpa aku. Rumahku."


Kemudian setiap langkah Se Gye, ia melihat bayangan ibunya yang selalu memarahinya. 

"Kau membuat Ibu gila. Han Se Gye, kau benar-benar membuat Ibu gila. Kau makan makanan instan lagi? Ibu sudah menyuruhmu langsung mencuci piring setelah makan. Augh, bau."

Dalam bayangan Se Gye, ibu mencuci piring. Se Gye pun segera mencuci piringnya.


Kemudian setiap langkah Se Gye, ia melihat bayangan ibunya yang selalu memarahinya. 

"Kau membuat Ibu gila. Han Se Gye, kau benar-benar membuat Ibu gila. Kau makan makanan instan lagi? Ibu sudah menyuruhmu langsung mencuci piring setelah makan. Augh, bau."

Dalam bayangan Se Gye, ibu mencuci piring. Se Gye pun segera mencuci piringnya.


Se Gye kemudian membuka kulkas untuk mengecek lauknya dan ternyata masih sangat banyak.


Se Gye tiba-tiba mendengar suara mesin penyedot debu. Se Gye mendekat dan ia kembali melihat bayangan ibunya.

Ibu: Sudah Ibu suruh kau langsung meletakkan kaos kaki di keranjang cucian. Augh, jorok sekali. Han Se Gye, kau jorok sekali.

Nyatanya Se Gye hanya melihat ruangan kosong. Ia kemudian mengambil penyedot debu dan mulai membersihkan rumah.


Se Gye melihat bayangan ibu lagi, saat ini ibu sedang menonton drama. Ibu mengeluhkan drama sekarang yang begitu kentara.

Ibu: Putriku, kau tidak syuting drama?

Dan lagi-lagi ibu kembali menghilang.


Se Gye lelu tiduran di sofa sambil menonton video ibu dari ponselnya. 

"Putriku. Kau sudah makan malam?" Tanya ibu dalam videonya.

"Ya." Jawab Se Gye.

"Kau makan makanan instan lagi, 'kan? Kau harus menjaga kesehatanmu selagi bisa. Kau sudah mencuci piring setelah makan?"

"Ya, sudah."

"Kau sudah bersih-bersih? Cuci baju? Kau selalu menurut saat Ibu suruh, dasar bandel."

"Sudah semuanya."

"Berarti, sekarang kau akan tidur?"

"Ya."

"Selamat malam. Jangan memimpikan apa pun, tidurlah saja yang nyenyak."

"Ibu juga, selamat malam. Jangan memimpikan apa pun, tidurlah saja yang nyenyak."

"Hari ini, kau sudah bekerja keras. Putri Ibu yang cantik."

"Ibu juga selalu bekerja keras. Ibuku yang cantik."

"Semoga sukses untuk besok juga. Putriku, kau yang terbaik!"

"Hm. Aku akan melakukan yang terbaik juga besok. Karena putri Ibu adalah yang terbaik."

Dan Se Gye mulai memejamkan matanya.


Se Gye mulai syuting lagi, ia datang ke lokasi ditemani Woo Mi. Woo Mi sebenarnya aga khawatir sih, akankah Se Gye baik-baik saja? Se Gye menenangkan, ia akan baik-baik saja kok, pasti!


Se Gye menyapa semua staf dengan sopan. Ia tahu SUtradara sengaja memundurkan jadwal karena dirinya, ia meminta maaf akan hal itu, dan juga terima kasih sudah datang untuk mengantar kepergian Ibunya.

Sutradara: Aku yang ingin berterima kasih padamu karena datang hari ini. Jangan terlalu memaksakan dirimu. Katakan jika kau merasa berat. Baiklah. Ayo mulai.


Se Gye melakukan adegannya dengan sempurna. Semua staf memujinya yang sangat profesional. 

Yu Ri iri degan pujian itu.


Dalam perjalanan pulang, Yu Ri membaca semua artikel tentang Se Gye. Dan ia kembali ingat kejadian di toilet waktu ia melayat ibu Se Gye. DImana ia melihat Se Gye keluar tapi tidak melihat Se Gye masuk. 


Yu Ri: Ada yang aneh. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi.

Manajer: Kenapa? Apa yang terjadi? Apa itu?

Yu Ri: Memangnya kita berteman? Kenapa kau bicara padaku? Mengemudi sajalah.

Yu Ri lalu menelfon seseorang, ia meminta orang itu untuk membuntuti seseorang.


Se Gye mentraktir Eun Ho dan Woo Mi malam ini untuk berterimakasih. Mereka bebas pesan apa saja. 

Eun Ho: Kau tidak perlu berterima kasih pada kami untuk segala hal. Kita kan teman.

Se Gye: Kalian tidak tahu kecuali kuberi tahu. Ada banyak hal penting yang tidak akan pernah kalian ketahui kecuali seseorang memberitahukan pada kalian. Jika tidak kukatakan, kalian tidak akan pernah mengetahuinya sampai mati. Selalu ingat baik-baik, karena kalian akan merasakan bahwa nasehatku amat bermanfaat dalam kehidupan. Hei, katakan apa pun yang kalian pikirkan dan rasakan. Sesegera mungkin.

Woo Mi: Hei! Aku mencintaimu.

Se Gye: Mendadak sekali. Ada apa denganmu?

Woo Mi: Katamu kita harus mengatakan segalanya.

Eun Ho: Hei, aku juga mencintaimu.

Se Gye: Auh, kalian berdua benar-benar. Kau sedang butuh uang, ya?

Eun Ho: Hei, aku bahkan bekerja sebagai supir pengganti belakangan ini. Aku punya banyak uang.

Se Gye: Dari semua pekerjaan, kau memilih menjadi supir pengganti? Haruskah aku memberimu uang? Berapa banyak? 100 juta cukup?


Obrolan mereka disela oleh kedatangan bibi pemilik warung yang membawakan pesanan mereka, omelet. Bibi juga memberikan satu porsi gratis untuk mereka. Bibi sudah hafal dengan mereka bertiga.


Se Gye mencoba omeletnya dan rasnaya sungguh enak. Ia membandingkannya dengan masalan ibunya. 

Se Gye: Aku penasaran dengan rahasia bibi itu. Ibuku buruk sekali saat membuat omelet gulung. Sebenarnya sangat sulit membuat ini.

Se Gye tidak sadar mengatakannya dan saat ia melihat Woo Mi dan Eun Ho, kedunaya terdiam, Se Gye baru sadar kalau ucapannya merusak suasana. Se Gye pun meminta maaf. 

Se Gye: Aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa, hanya saja omelet ini sangat enak sampai bilang begitu.

Eun Ho: Rupanya benar.

Se Gye: Apa maksudmu?

Eun Ho: Seseorang bilang, bahwa kau akan bersikap seolah kau baik-baik saja, tapi sebenarnya sama sekali tidak.

Woo Mi: Kau malang sekali. Aku sedih karenamu.


Woo Mi langsung memeluk Se Gye.

Se Gye: Hei, hei, aku sungguh baik-baik saja.

Eun Ho: Biarkan dia memelukmu sebentar. Jangan pura-pura tegar.

Se Gye berkaca-kaca.


Se Gye memberi kabar pada Do Jae dalam perjalanan pulangnya. Do Jae mengerti Se Gye habis minum-minum dari suaranya.

"Kau minum banyak?"

"Cuma sedikit."

"Kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja. Aku melakukannya lebih baik dari dugaanku. Sungguh."

"Jika saja bisa, aku akan berada di sisimu sepanjang hari, mulai pagi hingga malam."

"Kau sudah lama tidak mengatakannya."

"Tapi teman-temanmu, mereka sudah mencintaimu lebih lama dibanding aku, jadi aku harus memberimu waktu bersama mereka. Sayang sekali. Aku berharap lekas bertemu denganmu."


Se Gye: Hentikan. Kau itu pintar atau berhati dingin? Aku akan segera menyelesaikan syting filmnya. Setelah itu, sejak bangun hingga tidur kembali, kita dapat menghabiskan waktu bersama. Selamat malam. Aku akan meneleponmu besok.

Do Jae: Selamat malam.


Ibu datang ke kantor Do Jae dan Do Jae bisa langsung mengenalinya. Ibu berkata akan memastikan para reporter tidak merilis berita apa pun soal kedatangan Do Jae ke pemakaman ibu Se Gye.

"Ibu tidak perlu melakukannya." Jawab Do Jae. 

"Apa maksudmu tidak perlu? Dia sedang berduka. Jika rumor menyebar, dia akan melalui waktu yang sangat berat."

"Aku seharusnya lebih bijaksana. Terima kasih, Ibu."

"Anak itu, apa kau mencintainya?"

"Ya."

"Dia tahu tentang kondisimu?"

"Tahu."

"Lalu, apa yang kau tunggu? Setelah ayahmu mendadak berkemas dan meninggalkan negara ini, Ibu hanya fokus pada pekerjaan dan dirimu. Tapi kemudian, kau cedera. Ibu tidak bisa melakukan apa pun saat itu. Ibu merasa tidak berdaya. Saat itulah, dunia Ibu runtuh. Ketika kau siuman, Profesor Kang mengatakan pada Ibu, bahwa jika kau adalah cahaya dalam kehidupan Ibu, dia ingin turut ambil bagian di dalamnya. Ketika Ibu mendengarnya, Ibu mengetahui bahwa kami akan terus bersama sepanjang sisa usia. Dalam momen apa pun, bahkan yang paling menyakitkan. Ada banyak hal yang lebih penting dibanding pekerjaan. Ibu melewatkan... banyak hal penting itu. Pergilah padanya. Kau harus... menjaganya dengan baik. Jangan menahan dirimu dan jangan menunggu giliranmu. Bahkan jangan mencoba berpikir rasional. Jika cintamu untuknya sejati, kau harus melakukannya."


Mendengar ucapan ibu itu, Do Jae langsung bangkit untuk menemui Se Gye.

Ibu menatap punggung Do Jae, ia bergumam kalau Do Jae itu bodoh sama seperti dirinya.


Se Gye heran melihat Do Jae mendadak muncul di rumahnya. Do Jae menjawab kalau ia bodoh, makanya ia baru datang.


Do Jae langsung memeluk Se Gye dan Se Gye mulai menangis.

"Bagaimana... Kupikir aku baik-baik saja, tapi tampaknya tidak. Kurasa, aku sangat tersiksa."


Do Jae menemani Se Gye seterusnya. Se Gye bertanya, ia jahat sekali, kan? Do Jae gak ngerti, kenapa Se Gye bilang begitu? 

"Aku hanya memikirkan diri sendiri. Aku berpikir hanya diriku yang terluka dan satu-satunya yang menderita. Kau juga terluka. Kau juga melalui waktu yang sulit, tapi aku menambah bebanmu."

Do Jae: Jika kau tahu seberapa egois cintaku untukmu, kau akan sangat terkejut. Aku mencintaimu untuk kebaikanku sendiri. Ketika aku sedang bersamamu, aku merasa normal dan baik-baik saja. Aku merasa sangat baik-baik saja, selayaknya pria normal.. menjalani kehidupan yang biasa. Kau berhak jahat padaku. Kau juga boleh menjadi jelek. Aku akan tetap mencintaimu. Bahkan meski kau tidak cantik, kau sempurna.. sebagai dirimu apa adanya.

Se Gye: Aku mencintaimu.

Do Jae: Aku juga mencintaimu, bagaikan sebuah keajaiban.

0 komentar

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar yha kawan..
Dan bagi kawan2 yang main Twitter boleh kok follow akun kami @Diana_Recap